Winter babymoon yang hangat di Bulgaria
Posted by: Ratih Janis

Musim dingin adalah saat yang paling dinanti untuk babymoon road trip terakhir saya dan suami, sangat spesial karena si kakak juga turut serta bersama kami. Bulgaria, sebuah negeri di Balkan menjadi salah satu destinasi babymoon road trip kami. Setelah perjalanan yang cukup panjang sampailah kami di sana disambut udara dingin dan salju yang terlihat jelas menjadi penghias negeri sejauh mata memandang. Ini dia yang saya tunggu-tunggu, sudah lama saya tidak mengalami musim dingin bersalju seperti ini. Sampai di Sofia saya dan keluarga menginap di Hotel Favorit yang dekat dengan Central Bus Station dan tidak jauh dari pusat kota.

Berjalan melewati salju di Sofia

Setelah istirahat, suami mengajak saya dan si kakak untuk jalan kaki ke pusat kota. Kebetulan jarak hotel ke pusat kota hanya sekitar 1,2 km. Kami pun membawa stroller karena melihat salju di jalanan sekitar hotel tidak tebal. Tapi ternyata semakin dekat ke pusat kota salju makin tebal. Saya dan suami tertawa tebahak-bahak mengingat karena kami sempat sok tahu. Beberapa saat setelah tiba di Sofia ketika masih dalam bus saya dan suami melihat seorang bapak menarik anaknya di atas sledge dan kami berkomentar “baik banget bapaknya nyeneng-nyenengin anaknya narik sledge…kan berat banget…bukannya bawa stroller aja ya…”

Bermain salju di tengah Kota Sofia

Nah, ternyata si bapak itu yang benar, memang ketika tidak ada salju menarik sledge itu berat, tapi ketika salju tebal stroller menjadi tidak berguna karena rodanya akan tergelincir. Jadilah si kakak jalan kaki atau di gendong saat kami pergi ke pusat kota. Setelah melihat-lihat pusat kota kami kembali ke hotel dengan menggunakan taksi karena cuaca semakin dingin. Dipenghujung hari, KFC menjadi penyelamat kami dari rasa lapar karena kami tiba kembali di hotel sudah terlalu malam dan dapur restoran sudah tutup.

Pemandangan saat bangun di pagi hari

Esok harinya ketika bangun, Sofia masih diselimuti salju tebal dan udara masih sangat dingin. Tapi kondisi ini tidak menyurutkan niat saya untuk pergi ke Plovdiv. Si kakak pun terlihat ceria dan senang melihat salju masih tebal, karena itu berarti ia masih punya banyak kesempatan untuk bermain salju. Setelah sarapan dan bersiap-siap kami pun segera menuju ke Central Bus Station untuk membeli tiket bus Sofia-Plovdiv. Ternyata informasi yang saya dapatkan online cukup valid walaupun diterjemahkan seadanya dengan google translate. Perjalanan Sofia – Plovdiv memakan waktu sekitar 2 jam.

Si kakak yang merasa kepanasan di -19°C

Saat sampai kami sempat mencari minuman hangat terlebih dahulu di sebuah kedai sekaligus membaringkan si kakak dijejeran bangku-bangku karena ia masih tertidur. Setelah ia bangun kami segera jalan kaki mengikuti arah pada lembaran peta yang sempat saya ambil dari hotel. Tadinya saya sempat membayangkan kalau kami akan langsung tiba di kota kuno, tapi ternyata bus berhenti di luar pusat kota. Jaraknya tidak terlalu jauh, namun udara dingin membuat saya yang sedang hamil lebih cepat lagi merasa lapar.

Selfie karena yang lain sibuk memberi makan burung-burung

Tak lama kami sampai di Old Town Plovdiv yang merupakan salah satu kota tertua di Eropa yang sudah ada jauh sebelum Rome dan Athens. Plovdiv adalah kota tua yang masih terjaga bukan hanya secara fisik tapi juga secara sosial. Di kota ini selama ratusan tahun penduduk kota yang berasal dari berbagai suku bangsa dan agama hidup dengan damai bersama-sama. Hal ini yang sepertinya membuat Plovdiv terpilih menjadi European Capitals of Culture tahun 2019. Setelah berkeliling Old Town Plovdiv dan sampai di Nebet Tepe, saya sempat terjatuh sampai si kakak menjadi khawatir dan langsung menggandeng saya dengan tangan kecilnya lalu berusaha menuntun saya berjalan sambil berkata…”mom hati-hati…yang diinjek saljunya bukan esnya yang licin…”. So sweet… dia benar sudah siap jadi kakak.

Nebet Tepe tempat saya terjatuh

Tak terasa hari semakin larut dan tiba waktunya untuk kembali ke Sofia. Kami segera mencari taksi untuk ke Bus Station Plovdiv dan mencari tiket bus kembali ke Sofia. Ternyata hampir saja kami terlewat jadwal bus terakhir Plovdiv – Sofia. Tidak sampai 30 menit setelah membeli tiket, bus pun segera berangkat menuju Sofia. Cuaca dingin dan salju masih sangat tebal, untungnya di dalam bus sangat hangat. Saat kami tiba kembali di Sofia sudah tengah malam, tadinya saya sempat berpikir menunggu taksi untuk kembali ke hotel. Namun suami punya perhitungan lain, akan terlalu lama kalau menunggu dalam ketidakpastian dan udara bisa saja menjadi lebih dingin dari -21°C.

Permainan menjatuhkan es sambil mencari taksi

Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kaki ke hotel yang untungnya hanya berjarak 300 meter dari Central Bus Station. Si kakak sudah tertidur dari saat masih dalam bus, badannya hangat dalam balutan jaket dan pelukan bapaknya. Ia pun tetap nyenyak dalam gendongan bapaknya selama perjalanan menuju hotel. Sementara saya dan suami juga tetap hangat dengan sedikit berolahraga jalan kaki walaupun sempat beberapa kali melewati tumpukan-tumpukan salju setinggi betis orang dewasa. Hal yang menyenangkan saat musim dingin bersalju adalah walaupun dingin tapi rasanya tidak sebeku ketika musim dingin yang tidak bersalju.

Suasana Central Bus Station Sofia ssat tengah malam

Tiba di hotel kami pun segera beristirahat setelah hari yang panjang berjalan-jalan di cuaca bersalju. Esok paginya setelah sarapan, taksi yang akan mengantar kami ke bandara pun telah siap. Inilah saatnya untuk mengucapkan “sampai berjumpa lagi” kepada Balkan yang membuat saya jatuh hati. Benar-benar petualangan yang seru…bertemu orang-orang baru, suasana yang berbeda, makanan enak dan budaya yang menarik. Salah satu yang meresap di sanubari…beberapa kali selama berada di Balkan terdengar suara adzan dari masjid-masjid lokal yang dikumandangkan dengan indah dan meneduhkan hati. Walaupun Islam adalah agama minoritas namun kebebasan pemeluknya sangat dihormati tidak berbeda dengan pemeluk agama-agama lain. Masjid berdiri di pusat kota sejajar dan bersebelahan dengan gereja (Katholik atau Orthodoks) dan sinagoga (Yahudi). Semua perbedaan itu adalah bagian penting dari sejarah dan masa depan masyarakatnya. Perbedaan adalah sebuah keindahan jika dipandang dari kacamata yang positif. Sampai bertemu lagi Balkan yang cantik.

 

Tulisan ini pernah di-publish di blog pribadi penulis www.ratihjanis.com

Related Links


Share This | | |

2 responses to “Winter babymoon yang hangat di Bulgaria”

  1. […] mencoba menginap di hotel alternatif yang memiliki review baik. Kebetulan dalam road trip saat babymoon ke Sofia, Bulgaria saya mendapatkan bahwa Hotel Favorit memiliki nilai excellent 8,9. Jadi tanpa ragu-ragu saya pun […]

  2. Deddy says:

    Jadi pengen kesini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Ratih Janis

 

Winter babymoon yang hangat di Bulgaria
Posted by: Ratih Janis

Musim dingin adalah saat yang paling dinanti untuk babymoon road trip terakhir saya dan suami, sangat spesial karena si kakak juga turut serta bersama kami. Bulgaria, sebuah negeri di Balkan menjadi salah satu destinasi babymoon road trip kami. Setelah perjalanan yang cukup panjang sampailah kami di sana disambut udara dingin dan salju yang terlihat jelas menjadi penghias negeri sejauh mata memandang. Ini dia yang saya tunggu-tunggu, sudah lama saya tidak mengalami musim dingin bersalju seperti ini. Sampai di Sofia saya dan keluarga menginap di Hotel Favorit yang dekat dengan Central Bus Station dan tidak jauh dari pusat kota.

Berjalan melewati salju di Sofia

Setelah istirahat, suami mengajak saya dan si kakak untuk jalan kaki ke pusat kota. Kebetulan jarak hotel ke pusat kota hanya sekitar 1,2 km. Kami pun membawa stroller karena melihat salju di jalanan sekitar hotel tidak tebal. Tapi ternyata semakin dekat ke pusat kota salju makin tebal. Saya dan suami tertawa tebahak-bahak mengingat karena kami sempat sok tahu. Beberapa saat setelah tiba di Sofia ketika masih dalam bus saya dan suami melihat seorang bapak menarik anaknya di atas sledge dan kami berkomentar “baik banget bapaknya nyeneng-nyenengin anaknya narik sledge…kan berat banget…bukannya bawa stroller aja ya…”

Bermain salju di tengah Kota Sofia

Nah, ternyata si bapak itu yang benar, memang ketika tidak ada salju menarik sledge itu berat, tapi ketika salju tebal stroller menjadi tidak berguna karena rodanya akan tergelincir. Jadilah si kakak jalan kaki atau di gendong saat kami pergi ke pusat kota. Setelah melihat-lihat pusat kota kami kembali ke hotel dengan menggunakan taksi karena cuaca semakin dingin. Dipenghujung hari, KFC menjadi penyelamat kami dari rasa lapar karena kami tiba kembali di hotel sudah terlalu malam dan dapur restoran sudah tutup.

Pemandangan saat bangun di pagi hari

Esok harinya ketika bangun, Sofia masih diselimuti salju tebal dan udara masih sangat dingin. Tapi kondisi ini tidak menyurutkan niat saya untuk pergi ke Plovdiv. Si kakak pun terlihat ceria dan senang melihat salju masih tebal, karena itu berarti ia masih punya banyak kesempatan untuk bermain salju. Setelah sarapan dan bersiap-siap kami pun segera menuju ke Central Bus Station untuk membeli tiket bus Sofia-Plovdiv. Ternyata informasi yang saya dapatkan online cukup valid walaupun diterjemahkan seadanya dengan google translate. Perjalanan Sofia – Plovdiv memakan waktu sekitar 2 jam.

Si kakak yang merasa kepanasan di -19°C

Saat sampai kami sempat mencari minuman hangat terlebih dahulu di sebuah kedai sekaligus membaringkan si kakak dijejeran bangku-bangku karena ia masih tertidur. Setelah ia bangun kami segera jalan kaki mengikuti arah pada lembaran peta yang sempat saya ambil dari hotel. Tadinya saya sempat membayangkan kalau kami akan langsung tiba di kota kuno, tapi ternyata bus berhenti di luar pusat kota. Jaraknya tidak terlalu jauh, namun udara dingin membuat saya yang sedang hamil lebih cepat lagi merasa lapar.

Selfie karena yang lain sibuk memberi makan burung-burung

Tak lama kami sampai di Old Town Plovdiv yang merupakan salah satu kota tertua di Eropa yang sudah ada jauh sebelum Rome dan Athens. Plovdiv adalah kota tua yang masih terjaga bukan hanya secara fisik tapi juga secara sosial. Di kota ini selama ratusan tahun penduduk kota yang berasal dari berbagai suku bangsa dan agama hidup dengan damai bersama-sama. Hal ini yang sepertinya membuat Plovdiv terpilih menjadi European Capitals of Culture tahun 2019. Setelah berkeliling Old Town Plovdiv dan sampai di Nebet Tepe, saya sempat terjatuh sampai si kakak menjadi khawatir dan langsung menggandeng saya dengan tangan kecilnya lalu berusaha menuntun saya berjalan sambil berkata…”mom hati-hati…yang diinjek saljunya bukan esnya yang licin…”. So sweet… dia benar sudah siap jadi kakak.

Nebet Tepe tempat saya terjatuh

Tak terasa hari semakin larut dan tiba waktunya untuk kembali ke Sofia. Kami segera mencari taksi untuk ke Bus Station Plovdiv dan mencari tiket bus kembali ke Sofia. Ternyata hampir saja kami terlewat jadwal bus terakhir Plovdiv – Sofia. Tidak sampai 30 menit setelah membeli tiket, bus pun segera berangkat menuju Sofia. Cuaca dingin dan salju masih sangat tebal, untungnya di dalam bus sangat hangat. Saat kami tiba kembali di Sofia sudah tengah malam, tadinya saya sempat berpikir menunggu taksi untuk kembali ke hotel. Namun suami punya perhitungan lain, akan terlalu lama kalau menunggu dalam ketidakpastian dan udara bisa saja menjadi lebih dingin dari -21°C.

Permainan menjatuhkan es sambil mencari taksi

Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kaki ke hotel yang untungnya hanya berjarak 300 meter dari Central Bus Station. Si kakak sudah tertidur dari saat masih dalam bus, badannya hangat dalam balutan jaket dan pelukan bapaknya. Ia pun tetap nyenyak dalam gendongan bapaknya selama perjalanan menuju hotel. Sementara saya dan suami juga tetap hangat dengan sedikit berolahraga jalan kaki walaupun sempat beberapa kali melewati tumpukan-tumpukan salju setinggi betis orang dewasa. Hal yang menyenangkan saat musim dingin bersalju adalah walaupun dingin tapi rasanya tidak sebeku ketika musim dingin yang tidak bersalju.

Suasana Central Bus Station Sofia ssat tengah malam

Tiba di hotel kami pun segera beristirahat setelah hari yang panjang berjalan-jalan di cuaca bersalju. Esok paginya setelah sarapan, taksi yang akan mengantar kami ke bandara pun telah siap. Inilah saatnya untuk mengucapkan “sampai berjumpa lagi” kepada Balkan yang membuat saya jatuh hati. Benar-benar petualangan yang seru…bertemu orang-orang baru, suasana yang berbeda, makanan enak dan budaya yang menarik. Salah satu yang meresap di sanubari…beberapa kali selama berada di Balkan terdengar suara adzan dari masjid-masjid lokal yang dikumandangkan dengan indah dan meneduhkan hati. Walaupun Islam adalah agama minoritas namun kebebasan pemeluknya sangat dihormati tidak berbeda dengan pemeluk agama-agama lain. Masjid berdiri di pusat kota sejajar dan bersebelahan dengan gereja (Katholik atau Orthodoks) dan sinagoga (Yahudi). Semua perbedaan itu adalah bagian penting dari sejarah dan masa depan masyarakatnya. Perbedaan adalah sebuah keindahan jika dipandang dari kacamata yang positif. Sampai bertemu lagi Balkan yang cantik.

 

Tulisan ini pernah di-publish di blog pribadi penulis www.ratihjanis.com

Related Links


Share This | | |

2 responses to “Winter babymoon yang hangat di Bulgaria”

  1. […] mencoba menginap di hotel alternatif yang memiliki review baik. Kebetulan dalam road trip saat babymoon ke Sofia, Bulgaria saya mendapatkan bahwa Hotel Favorit memiliki nilai excellent 8,9. Jadi tanpa ragu-ragu saya pun […]

  2. Deddy says:

    Jadi pengen kesini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Ratih Janis