Traveling Bersama Anak di Malang Menggunakan Private Tour
Posted by: nunu kusumawardani

Saat libur sekolah Marsha, putri kami yang berusia 10,  kami memutuskan untuk berlibur di Malang,  menggunakan private tour. Ternyata seru banget; kami memetik apel, mandi di bawah air terjun, berendam air panas, paralayang, ke  museum angkut, main di  alun-alun dan puas kulineran. Untuk mengunjungi itu semua  kami tinggal duduk manis karena sudah termasuk sewa mobil,  bensin, driver , sekali snack, tiket wisata, air mineral dan parkir.

Hari Pertama​

Dari Jakarta ke Malang  kami memilih naik kereta api Bima, memakan waktu sekitar 15 jam, berangkat pukul 16.30 tiba di Malang pukul 09.00. Begitu sampai Malang, Marsha  langsung berteriak lapar! Tour guide kami, Hafid,  mengajak  sarapan khas Malang, Rawon dan Soto di Warung Rampal. Kedua makanan ini masih  dimasak menggunakan kayu bakar.

Bumbu rawon terasa ringan, dagingnya empuk. Pelengkap makan rawonnya ada berbagai macam, tapi favorit baru saya adalah Tempe Mendol khas Malang.

​Setelah perut kenyang, kami siap menjelajah! Tujuan pertama kami adalah Coban Rondo,  sekitar 12 KM dari kota Malang.

Bisa main air di bawah air terjun

Daya tarik utama lokasi wisata ini adalah air terjun. Jalan menuju sana bagus. Udaranya sejuk. Tempatnya masih alami dan dihuni oleh monyet.  Seekor monyet menghampiri Marsha  yang sedang makan roti. Karena kaget dan takut ia  langsung melempar rotinya  yang tepat ditangkap monyet dan dibawa lari.

​Usai  berfoto-foto kami nyemplung ke sungai kecil di bawah air terjun. Brrr… airnya dingin!  Lumayan menghilangkan kantuk dan lelah perjalanan dari semalam.

Destinasi selanjutnya adalah  Taman Labirin. Kami ‘terjebak’.  Sulit  menemukan pusat dan jalan keluar labirin, meski Hafid sudah mengarahkan dari atas menara pandang. Menurutnya, ia juga bingung karena  setiap 2 minggu pengelola mengubah jalan di dalam labirin.​

Terjebak di labirin

Kami  kemudian makan siang di Café Sawah Pujon,  kafe di tengah sawah dengan view pegunungan yang keren. Kafe dan area wisata ini dikelola oleh pemuda kampung sekitar dengan memanfaatkan hasil bumi petani  untuk bahan baku, dan merekrut penduduk sekitar sebagai pekerja.

​Setelah makan siang kami melanjutkan perjalanan menuju wisata Paralayang Batu. Selain menawarkan pemandangan kota Batu dari puncak Gunung Banyak, tempat ini juga menyediakan fasilitas olahraga paralayang.

Bisa tandem paralayang

Kalau ingin mencoba Paralayang, familygoers bisa tandem bersama instruktur profesional yang beberapa di antaranya  atlet paralyang andalan Jawa Timur. Kami tidak mencoba paralayang mengingat tubuh masih lelah.

​Kami kemudian turun ke kota Batu dan  istirahat  di hotel. Menjelang malam, Hafid  mengantar kami makan malam di area alun-alun batu. Ramainya!  Banyak pedagang aneka makanan dan atraksi permainan untuk anak. Kami tidak berlama-lama di sini karena ingin segera beristirahat.

Hari Kedua

Kami berangkat pagi-pagi untuk  memetik apel. Hafid mengajak kami ke kebun petani di lereng gunung. Sepanjang perjalanan kami melihat  kebun jambu biji (sayangnya sedang tidak berbuah), aneka syuran dan yang membuat  saya girang adalah  kebun lemon! Buahnya yang kuning menggoda untuk dipetik.​

Bisa makan apel sepuasnya

Di  kebun apel petugas memberi kami satu plastik. Kami boleh makan apel sepuasnya di tempat. Tapi apel yang dipetik akan ditimbang. Harganya per kg Rp.30.000

Ternyata pohon apel malang pendek. Kami pegal harus merunduk-runduk di bawah dahannya. Tapi rasa pegal terbayar setelah mengunyah  apel malang  yang rasanya segar.  Apel hasil petikan kami  ditimbang. Hasilnya bisa dibeli.  Tidak pun tidak apa-apa.

Dalam perjalan pulang, kami kembali melewati  kebun lemon.  Kami minta Hafid berhenti saat melihat Ibu sedang memetik lemon. Kami senang ketika ia membolehkan kami memetik lemon dan membelinya. Jadilah ada agenda tambahan memetik lemon!

Tujuan selanjutnya kami bebas memilih;  Jatim Park 1, 2 atau 3 atau ke Pemandian Air Panas Cangar. Kami memilih pemandian air panas.  Marsha sedang tak  ingin bermain  di amusment park. Takut kecapaian karena besok pagi kami harus bangun untuk  melihat matahari terbit di Bromo (cerita perjalanan lengkap ke Bromo saya tulis lain kali ya, hehehe).

​Pemandian air panas terletak di area Taman Hutan Rakyat R. Soerjo. Dalam perjalanan menuju lokasi, kami melewati ladang dan perkebunan penduduk yang subur, juga pemandangan gunung Welirang yang cantik.

Kandungan belerang  air panas alami ini cukup tinggi, tapi baunya tidak terlalu  tercium.  Alam sekitarnya  cukup liar. Beberapa ekor monyet terlihat turun dan meminta makanan para pengunjung.

​Museum Angkut yang diresmikan  9 maret 2014, merupakan destinasi kami selanjutnya. Di Musium ini Marsha belajar lebih banyak tentang sejarah transportasi di Indonesia dan dunia. Kami  berfoto dengan latar belakang koleksinya yang mengagumkan. Siapkan memori dan baterai  ponsel, ya! Karena banyak spot foto keren.

Hari Ketiga

Hari terakhir di Malang, kami diajak menjelajahi Kampung Warna-Warni  Jodipan, yang paling instagramble di Malang. Kampung di pinggir sungai Brantas ini tadinya adalah wilayah kumuh. Lalu sekelompok mahasiswa datang dan melakukan  KKN di lokasi ini, dengan sponsor perusahaan cat lokal.

Kampung yang tadinya kumuh, berubah menjadi colourfull dan menjadi lokasi wisata hits. Bahkan jadi lokasi syuting film juga!  Masyarakat kini semakin sadar  wisata, mereka menjaga agar kampung tetap rapi, bersih dan nyaman bagi wisatawan.

Banyak juga penduduk  yang memiliki usaha, mulai dari membuka warung jajanan di teras rumah, sampai membuka rumah makan. Tiket masuk kampung Rp. 3000 dan bisa ditukar gantungan kunci hasil karya ibu-ibu setempat.

Di  seberang kampung warna-warni, ada Kampung Arema! Seluruh bangunan (sampai atapnya) dicat biru! Rupanya kampung sebelah tak mau kalah. Mereka mengecat bangunan dengan cat biru, warna kebanggaan klub sepak bola kesayangan warga Malang, Arema.

Karena matahari terik sekali, kami hanya melihat kampung Arema dari atas jembatan, Tiba-tiba Marsha nyeletuk, “Kalau punya rumah di situ, lalu ada teman  mau main, dan rumahku bercat biru,  temanku pasti pusing, ya, Mi? Semua rumah catnya biru!” Hahaha…benar juga.

Toko es krim dan kue legendaris

Rasanya senang sekali usai berpanas ria, Hafid mengajak kami makan es krim  di  toko kue legendaris Toko Oen.  Toko yang buka tahun 1922 ini  milik pengusaha Tionghoa keturunan Belanda, Nyonya Liem Goe Nio. Alat pembuat es krimnya masih asli buatan Italia yang didatangkan tahun 1920! Menikmati lezatnya es krim sambil duduk di kursi kuno, membuat kami betah.

Saking betahnya,  kami nyaris ketinggalan kereta pulang ke Jakarta!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Related Links


Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



nunu kusumawardani

 

Traveling Bersama Anak di Malang Menggunakan Private Tour
Posted by: nunu kusumawardani

Saat libur sekolah Marsha, putri kami yang berusia 10,  kami memutuskan untuk berlibur di Malang,  menggunakan private tour. Ternyata seru banget; kami memetik apel, mandi di bawah air terjun, berendam air panas, paralayang, ke  museum angkut, main di  alun-alun dan puas kulineran. Untuk mengunjungi itu semua  kami tinggal duduk manis karena sudah termasuk sewa mobil,  bensin, driver , sekali snack, tiket wisata, air mineral dan parkir.

Hari Pertama​

Dari Jakarta ke Malang  kami memilih naik kereta api Bima, memakan waktu sekitar 15 jam, berangkat pukul 16.30 tiba di Malang pukul 09.00. Begitu sampai Malang, Marsha  langsung berteriak lapar! Tour guide kami, Hafid,  mengajak  sarapan khas Malang, Rawon dan Soto di Warung Rampal. Kedua makanan ini masih  dimasak menggunakan kayu bakar.

Bumbu rawon terasa ringan, dagingnya empuk. Pelengkap makan rawonnya ada berbagai macam, tapi favorit baru saya adalah Tempe Mendol khas Malang.

​Setelah perut kenyang, kami siap menjelajah! Tujuan pertama kami adalah Coban Rondo,  sekitar 12 KM dari kota Malang.

Bisa main air di bawah air terjun

Daya tarik utama lokasi wisata ini adalah air terjun. Jalan menuju sana bagus. Udaranya sejuk. Tempatnya masih alami dan dihuni oleh monyet.  Seekor monyet menghampiri Marsha  yang sedang makan roti. Karena kaget dan takut ia  langsung melempar rotinya  yang tepat ditangkap monyet dan dibawa lari.

​Usai  berfoto-foto kami nyemplung ke sungai kecil di bawah air terjun. Brrr… airnya dingin!  Lumayan menghilangkan kantuk dan lelah perjalanan dari semalam.

Destinasi selanjutnya adalah  Taman Labirin. Kami ‘terjebak’.  Sulit  menemukan pusat dan jalan keluar labirin, meski Hafid sudah mengarahkan dari atas menara pandang. Menurutnya, ia juga bingung karena  setiap 2 minggu pengelola mengubah jalan di dalam labirin.​

Terjebak di labirin

Kami  kemudian makan siang di Café Sawah Pujon,  kafe di tengah sawah dengan view pegunungan yang keren. Kafe dan area wisata ini dikelola oleh pemuda kampung sekitar dengan memanfaatkan hasil bumi petani  untuk bahan baku, dan merekrut penduduk sekitar sebagai pekerja.

​Setelah makan siang kami melanjutkan perjalanan menuju wisata Paralayang Batu. Selain menawarkan pemandangan kota Batu dari puncak Gunung Banyak, tempat ini juga menyediakan fasilitas olahraga paralayang.

Bisa tandem paralayang

Kalau ingin mencoba Paralayang, familygoers bisa tandem bersama instruktur profesional yang beberapa di antaranya  atlet paralyang andalan Jawa Timur. Kami tidak mencoba paralayang mengingat tubuh masih lelah.

​Kami kemudian turun ke kota Batu dan  istirahat  di hotel. Menjelang malam, Hafid  mengantar kami makan malam di area alun-alun batu. Ramainya!  Banyak pedagang aneka makanan dan atraksi permainan untuk anak. Kami tidak berlama-lama di sini karena ingin segera beristirahat.

Hari Kedua

Kami berangkat pagi-pagi untuk  memetik apel. Hafid mengajak kami ke kebun petani di lereng gunung. Sepanjang perjalanan kami melihat  kebun jambu biji (sayangnya sedang tidak berbuah), aneka syuran dan yang membuat  saya girang adalah  kebun lemon! Buahnya yang kuning menggoda untuk dipetik.​

Bisa makan apel sepuasnya

Di  kebun apel petugas memberi kami satu plastik. Kami boleh makan apel sepuasnya di tempat. Tapi apel yang dipetik akan ditimbang. Harganya per kg Rp.30.000

Ternyata pohon apel malang pendek. Kami pegal harus merunduk-runduk di bawah dahannya. Tapi rasa pegal terbayar setelah mengunyah  apel malang  yang rasanya segar.  Apel hasil petikan kami  ditimbang. Hasilnya bisa dibeli.  Tidak pun tidak apa-apa.

Dalam perjalan pulang, kami kembali melewati  kebun lemon.  Kami minta Hafid berhenti saat melihat Ibu sedang memetik lemon. Kami senang ketika ia membolehkan kami memetik lemon dan membelinya. Jadilah ada agenda tambahan memetik lemon!

Tujuan selanjutnya kami bebas memilih;  Jatim Park 1, 2 atau 3 atau ke Pemandian Air Panas Cangar. Kami memilih pemandian air panas.  Marsha sedang tak  ingin bermain  di amusment park. Takut kecapaian karena besok pagi kami harus bangun untuk  melihat matahari terbit di Bromo (cerita perjalanan lengkap ke Bromo saya tulis lain kali ya, hehehe).

​Pemandian air panas terletak di area Taman Hutan Rakyat R. Soerjo. Dalam perjalanan menuju lokasi, kami melewati ladang dan perkebunan penduduk yang subur, juga pemandangan gunung Welirang yang cantik.

Kandungan belerang  air panas alami ini cukup tinggi, tapi baunya tidak terlalu  tercium.  Alam sekitarnya  cukup liar. Beberapa ekor monyet terlihat turun dan meminta makanan para pengunjung.

​Museum Angkut yang diresmikan  9 maret 2014, merupakan destinasi kami selanjutnya. Di Musium ini Marsha belajar lebih banyak tentang sejarah transportasi di Indonesia dan dunia. Kami  berfoto dengan latar belakang koleksinya yang mengagumkan. Siapkan memori dan baterai  ponsel, ya! Karena banyak spot foto keren.

Hari Ketiga

Hari terakhir di Malang, kami diajak menjelajahi Kampung Warna-Warni  Jodipan, yang paling instagramble di Malang. Kampung di pinggir sungai Brantas ini tadinya adalah wilayah kumuh. Lalu sekelompok mahasiswa datang dan melakukan  KKN di lokasi ini, dengan sponsor perusahaan cat lokal.

Kampung yang tadinya kumuh, berubah menjadi colourfull dan menjadi lokasi wisata hits. Bahkan jadi lokasi syuting film juga!  Masyarakat kini semakin sadar  wisata, mereka menjaga agar kampung tetap rapi, bersih dan nyaman bagi wisatawan.

Banyak juga penduduk  yang memiliki usaha, mulai dari membuka warung jajanan di teras rumah, sampai membuka rumah makan. Tiket masuk kampung Rp. 3000 dan bisa ditukar gantungan kunci hasil karya ibu-ibu setempat.

Di  seberang kampung warna-warni, ada Kampung Arema! Seluruh bangunan (sampai atapnya) dicat biru! Rupanya kampung sebelah tak mau kalah. Mereka mengecat bangunan dengan cat biru, warna kebanggaan klub sepak bola kesayangan warga Malang, Arema.

Karena matahari terik sekali, kami hanya melihat kampung Arema dari atas jembatan, Tiba-tiba Marsha nyeletuk, “Kalau punya rumah di situ, lalu ada teman  mau main, dan rumahku bercat biru,  temanku pasti pusing, ya, Mi? Semua rumah catnya biru!” Hahaha…benar juga.

Toko es krim dan kue legendaris

Rasanya senang sekali usai berpanas ria, Hafid mengajak kami makan es krim  di  toko kue legendaris Toko Oen.  Toko yang buka tahun 1922 ini  milik pengusaha Tionghoa keturunan Belanda, Nyonya Liem Goe Nio. Alat pembuat es krimnya masih asli buatan Italia yang didatangkan tahun 1920! Menikmati lezatnya es krim sambil duduk di kursi kuno, membuat kami betah.

Saking betahnya,  kami nyaris ketinggalan kereta pulang ke Jakarta!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Related Links


Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



nunu kusumawardani