Tracking bersama keluarga di air terjun Tiu Kelep, Senaru, Rinjani, Lombok Utara
Posted by: Vatey Wardhani

Bertekad untuk mengurangi penggunaan gadget pada saat liburan, saya dan suami berencana untuk mengajak anak -anak tracking ke gunung setelah itu belok ke pantai.

Tujuan kami kali ini adalah menjelajahi Lombok Utara dan Timur. Kami sengaja memilih dua spot tracking yang berbeda, yakni air terjun Tiu Kelep di kaki Gunung Rinjani (Senaru, Lombok Utara) dan bukit di wilayah Pantai Tanjung Beloam Lombok Timur. Setelah gunung lalu ke pantai. Lengkaplah penjelajahan kami ini.
Setelah mencari informasi di spot turis di Senaru Rindjani, kami memutuskan menggunakan guide selama tracking. Ini tentunya berhubungan dengan alasan keamanan untuk kami semua. Saya membawa tiga anak, Kyo (8 tahun), Hagia (5 tahun), dan Lana (2 tahun). Dengan adanya guide resmi ini, perjalanan kami lebih terjamin aman, tidak nyasar karena ada guide yang sudah menguasai medan, mengingat pengalaman naik gunung kami yang masih minim.
 Air Terjun Tiu Kelep
Perjalanan dimulai setelah sarapan pukul 08.00 untuk menghidari keramaian dan menikmati air terjun lebih lama. Kebetulan pada hari itu masyarakat Lombok sedang merayakan Lebaran ketupat yang jatuh 7 Hari setelah lebaran. Biasanya pada lebaran ketupat, masyarakat akan berkeliling untuk silaturahmi dan melakukan jalan-jalan ke tempat wisata. Ini yang membuat kami berangkat lebih pagi sebelum terjebak keramaian.
Jarak tracking dari tempat kami menginap sekitar 4.5 km pulang pergi dengan kondisi naik turun masuk kawasan hutan lindung di wilayah taman nasional Gunung Rinjani. Ada tiga air terjun di wilayah ini, yaitu air terjun Sindang Gile, Tiu Kekep dan Jenggala. Sindang Gile dilewati sebelum menuju Tiu Kelep. Sementara air terjun Jenggala tidak jadi dikunjungi karena medannya cukup sulit jika membawa anak-anak dan harus membawa peralatan mendaki.
Awalnya saya sempat deg-deg an karena air terjun Tiu Kelep ini letaknya cukup tersembunyi di dalam hutan mengingat kami belum pernah punya pengalaman tracking. Medan hutan ini basah dengan batu-batuan yang cukup curam, serta licin dan ditumbuhi lumut. Saya takut anak-anak rewel sampai mogok di tengah jalan karena kelelahan. Tapi ternyata hal yang saya khawatirkan tidak terjadi. Anak-anak cukup antusias melihat pemandangan sekitar yang masih hijau dan segar. Bau hutan basah dan lumut menyertai kami sepanjang perjalanan. Sesekali kami berhenti untuk mengatur nafas sambil melihat anak-anak sekitar yang sedang bermain di sekitar saluran irigrasi  yang menjadi jembatan penghubung menuju air terjun.

Muka bahagia liat air terjun

Monyet yang masih berkeliaran selama perjalanan juga menambah antusiasme anak anak. Maklum lah, mereka jarang melihat hewan berkeliaran bebas. Guide kami mengingatkan agar tidak membawa makanan dalam genggaman karena mengundang monyet untuk merebutnya.
Medan tersulit adalah  menyebrangi sungai menuju air terjun Tiu Kelep. Aliran air setinggi betis yang cukup deras dan batu sungai yang licin ditambah saya mengendong Lana, tentunya ini menjadi tantangan tersendiri. Saya harus menjaga keseimbangan dengan baik agar kami berdua tidak jatuh. Untungnya kami berjalan bersama guide sehingga banyak anak- anak suku Sasak di sana yang membantu memegangi tangan turis untuk menyebrang.

Pemandangan hutan basah sepanjang perjalanan

Setelah berjalan kurang lebih 50 menit, akhirnya kami sampai juga di air terjun Tiu Kelep. Tiu dalam bahasa Sasak artinya adalah kolam atau pusaran air sedangkan Kelep artinya adalah terbang atau meluap. jadi Tiu Kelep kira-kira adalah kolam yang berada diatas dan airnya berterbangan atau meluap. Melihat air terjun yang indah dan sangat deras, anak -anak cukup terkesima dan langsung tidak sabar untuk mandi. Guide mengingatkan kami untuk tidak mandi terlalu jauh di sekitar kiri air terjun karena pusaran nya yang kuat. Jadi kami hanya diperbolehkan mandi di bagian sebelah kanan air terjun. Mandi di air terjun ini diyakini dapat memberikan khasiat awet muda loh.
Oh ya karena perjalanan yang naik turun, kaki Hagia tidak terbiasa menggunakan sandal gunung. Akibatnya, kakinya lecet, sehingga saat pulang menuju  air terjun Sindang Gile, Hagia harus di gendong. Namun karena perjalanannya menanjak dan licin, Hagia pun mengerti, ada kala nya dia harus turun, tidak terus menerus digendong. Di air terjun Sindang Gile, kami tidak banyak menghabiskan waktu karena hari sudah siang dan pengunjung juga cukup ramai.

meringis

Sayang anak..sayang anak

Air Terjun Tiu Kelep

Total yang kami habiskan untuk perjalanan pulang balik hotel dan air terjun sekitar 3 jam, ditambah bermain di air terjun selama 2 jam.

Anak-anak cukup menikmati perjalanan tanpa drama yang berarti. Tujuan liburan kali ini pun tercapai dan anak-anak bawa pulang pengalaman baru dan langka sekembali nya ke kota. ♥

Muka bahagia setelah liat air terjun

Hutan basah disekitar perjalanan

 

Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Vatey Wardhani

 

Tracking bersama keluarga di air terjun Tiu Kelep, Senaru, Rinjani, Lombok Utara
Posted by: Vatey Wardhani

Bertekad untuk mengurangi penggunaan gadget pada saat liburan, saya dan suami berencana untuk mengajak anak -anak tracking ke gunung setelah itu belok ke pantai.

Tujuan kami kali ini adalah menjelajahi Lombok Utara dan Timur. Kami sengaja memilih dua spot tracking yang berbeda, yakni air terjun Tiu Kelep di kaki Gunung Rinjani (Senaru, Lombok Utara) dan bukit di wilayah Pantai Tanjung Beloam Lombok Timur. Setelah gunung lalu ke pantai. Lengkaplah penjelajahan kami ini.
Setelah mencari informasi di spot turis di Senaru Rindjani, kami memutuskan menggunakan guide selama tracking. Ini tentunya berhubungan dengan alasan keamanan untuk kami semua. Saya membawa tiga anak, Kyo (8 tahun), Hagia (5 tahun), dan Lana (2 tahun). Dengan adanya guide resmi ini, perjalanan kami lebih terjamin aman, tidak nyasar karena ada guide yang sudah menguasai medan, mengingat pengalaman naik gunung kami yang masih minim.
 Air Terjun Tiu Kelep
Perjalanan dimulai setelah sarapan pukul 08.00 untuk menghidari keramaian dan menikmati air terjun lebih lama. Kebetulan pada hari itu masyarakat Lombok sedang merayakan Lebaran ketupat yang jatuh 7 Hari setelah lebaran. Biasanya pada lebaran ketupat, masyarakat akan berkeliling untuk silaturahmi dan melakukan jalan-jalan ke tempat wisata. Ini yang membuat kami berangkat lebih pagi sebelum terjebak keramaian.
Jarak tracking dari tempat kami menginap sekitar 4.5 km pulang pergi dengan kondisi naik turun masuk kawasan hutan lindung di wilayah taman nasional Gunung Rinjani. Ada tiga air terjun di wilayah ini, yaitu air terjun Sindang Gile, Tiu Kekep dan Jenggala. Sindang Gile dilewati sebelum menuju Tiu Kelep. Sementara air terjun Jenggala tidak jadi dikunjungi karena medannya cukup sulit jika membawa anak-anak dan harus membawa peralatan mendaki.
Awalnya saya sempat deg-deg an karena air terjun Tiu Kelep ini letaknya cukup tersembunyi di dalam hutan mengingat kami belum pernah punya pengalaman tracking. Medan hutan ini basah dengan batu-batuan yang cukup curam, serta licin dan ditumbuhi lumut. Saya takut anak-anak rewel sampai mogok di tengah jalan karena kelelahan. Tapi ternyata hal yang saya khawatirkan tidak terjadi. Anak-anak cukup antusias melihat pemandangan sekitar yang masih hijau dan segar. Bau hutan basah dan lumut menyertai kami sepanjang perjalanan. Sesekali kami berhenti untuk mengatur nafas sambil melihat anak-anak sekitar yang sedang bermain di sekitar saluran irigrasi  yang menjadi jembatan penghubung menuju air terjun.

Muka bahagia liat air terjun

Monyet yang masih berkeliaran selama perjalanan juga menambah antusiasme anak anak. Maklum lah, mereka jarang melihat hewan berkeliaran bebas. Guide kami mengingatkan agar tidak membawa makanan dalam genggaman karena mengundang monyet untuk merebutnya.
Medan tersulit adalah  menyebrangi sungai menuju air terjun Tiu Kelep. Aliran air setinggi betis yang cukup deras dan batu sungai yang licin ditambah saya mengendong Lana, tentunya ini menjadi tantangan tersendiri. Saya harus menjaga keseimbangan dengan baik agar kami berdua tidak jatuh. Untungnya kami berjalan bersama guide sehingga banyak anak- anak suku Sasak di sana yang membantu memegangi tangan turis untuk menyebrang.

Pemandangan hutan basah sepanjang perjalanan

Setelah berjalan kurang lebih 50 menit, akhirnya kami sampai juga di air terjun Tiu Kelep. Tiu dalam bahasa Sasak artinya adalah kolam atau pusaran air sedangkan Kelep artinya adalah terbang atau meluap. jadi Tiu Kelep kira-kira adalah kolam yang berada diatas dan airnya berterbangan atau meluap. Melihat air terjun yang indah dan sangat deras, anak -anak cukup terkesima dan langsung tidak sabar untuk mandi. Guide mengingatkan kami untuk tidak mandi terlalu jauh di sekitar kiri air terjun karena pusaran nya yang kuat. Jadi kami hanya diperbolehkan mandi di bagian sebelah kanan air terjun. Mandi di air terjun ini diyakini dapat memberikan khasiat awet muda loh.
Oh ya karena perjalanan yang naik turun, kaki Hagia tidak terbiasa menggunakan sandal gunung. Akibatnya, kakinya lecet, sehingga saat pulang menuju  air terjun Sindang Gile, Hagia harus di gendong. Namun karena perjalanannya menanjak dan licin, Hagia pun mengerti, ada kala nya dia harus turun, tidak terus menerus digendong. Di air terjun Sindang Gile, kami tidak banyak menghabiskan waktu karena hari sudah siang dan pengunjung juga cukup ramai.

meringis

Sayang anak..sayang anak

Air Terjun Tiu Kelep

Total yang kami habiskan untuk perjalanan pulang balik hotel dan air terjun sekitar 3 jam, ditambah bermain di air terjun selama 2 jam.

Anak-anak cukup menikmati perjalanan tanpa drama yang berarti. Tujuan liburan kali ini pun tercapai dan anak-anak bawa pulang pengalaman baru dan langka sekembali nya ke kota. ♥

Muka bahagia setelah liat air terjun

Hutan basah disekitar perjalanan

 

Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Vatey Wardhani