(tips) Traveling ke Vietnam ala dewasa bersama dua balita
Posted by: Admin

Perjalanan ini menjadi pengalaman yang tidak terlupakan, membawa dua balita 3 tahun 7 bulan dan 14 bulan ke Vietnam di penghujung tahun 2015. Meskipun traveling ini membawa anak-anak, namun bagi kami bukan berarti menuruti tujuan wisata anak-anak seperti ke taman hiburan tematik (amusement park), kebun binatang, atau sejenisnya. Kalau mau ke tempat-tempat tersebut, rasanya tidak perlu jauh-jauh kami terbang ke Vietnam, bukan ? Perjalanan wisata ini tetap sesuai dengan keinginan orangtuanya namun tetap memperhatikan kebutuhan dan kebahagiaan anak-anak. Itu berarti kami datang ke Vietnam untuk melihat situs warisan budaya dunia-nya, menikmati denyut kehidupan kota-kota yang kami kunjungi, melihat objek wisata menarik di setiap kota, namun anak-anak tetap menikmati traveling ini, dan orangtua pun senang.

Selama dua minggu, kami menjelajahi lima kota, tiga kali menaiki penerbangan jarak pendek, naik kereta, naik kapal, naik bis, serta perjalanan darat yang kalau ditotalkan bisa berjam-jam. Terdengar melelahkan, namun kami bersyukur anak-anak bersikap manis hampir setiap saat, meski tantrum karena faktor lelah dan keluar dari kebiasaannya tetap tidak terhindarkan, terutama pada beberapa hari terakhir.

Perjalanan kami dimulai di Hanoi, ibu kota Vietnam. Dari situ kami melanjutkan naik pesawat ke kota Hue. Dari Hue, kami berganti moda transportasi mobil sewaan menuju ke terus ke Hoi An, salah satu destinasi wisata yang cukup populer di kalangan turis. Perjalanan ke sini membutuhkan waktu kurang lebih 4 jam perjalanan. Setelah itu, kami menuju ke Ho Chi Minh City dengan pesawat terbang via Dalat untuk efisien waktu. Rata-rata lama penerbangan domestik memakan waktu kurang lebih 1 – 1,5 jam.

Di kota Hue (sumber foto : Pungky Utami / familygoers)

Di depan stasiun KA Dalat yang ikonik (sumber foto : Pungky Utami / familygoers)

Danau Xuan Huong, Dalat (sumber foto : Pungky Utami / familygoers)

Hoi An (sumber foto : Pungky Utami / familygoers)

Inilah tips saya untuk traveling ke Vietnam :

Logistik, apa saja yang dibawa ?

  • Stroller dan carrier
    Karena kami banyak berjalan kaki, lightweight stroller dan baby carrier sangat berjasa. Biasanya si adik pakai stroller dan si kakak jalan kaki. Kalau si kakak sudah kelelahan jalan kaki, giliran dia duduk atau tidur siang di stroller dan si adik digendong pakai carrier.
  • Persediaan makanan dan susu
    Meski si adik sudah melewati masa MPASI, kami tetap membawa buah segar seperti apel dan pisang, puree buah kemasan untuk bayi dan susu secukupnya untuk anak-anak, karena ternyata susu kemasan yang dijual di Vietnam terlalu manis untuk standar lidah saya.
  • Tisu basah untuk bayi (tanpa parfum)
  • Nursing apron atau kain penutup
    Karena si kecil masih menyusu saat itu, apron atau kain penutup memungkinkan kegiatan menyusui berlangsung dimanapun, di taman maupun di atas kereta.

Aktivitas, meskipun kegiatan jalan-jalan kami berkisar dari situs yang satu ke situs yang lain, tentunya kami mengalokasikan waktu untuk menikmati kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak, seperti

  • Traditional water puppet show
    Pertunjukan wayang yang dimainkan di atas air ini sukses membuat anak-anak senang. Durasinya yang kurang lebih 1 jam bisa ditolerir oleh anak-anak karena penyajiannya menarik, meski bahasanya menggunakan bahasa Vietnam.
  • Memanfaatkan taman-taman kota
    Di setiap kota, kami menyempatkan waktu di pagi atau sore hari di taman agar anak-anak bisa sekedar berlarian atau bersenang-senang di playground.
  • Gunakan transportasi umum
    Anak-anak sangat suka naik kendaraan umum. Kami mengikuti day trip naik bis dari Hoi An ke My Son Sanctuary naik bis. Lalu pulangnya kami memutuskan naik kapal untuk memberikan pengalaman yang berbeda pada anak-anak. Benar saja, keduanya senang sekali naik kapal. Di Dalat, untuk mencegah si kakak yang mulai menampakkan gejala tantrum, kami memutuskan pergi ke stasiun kereta api untuk melihat lokomotif. Ternyata sesampainya disana, ada kereta api yang dikhususkan untuk turis, menempuh rute sepanjang 7 kilometer saja dan kembali lagi ke stasiun. Akhirnya, semua senang…selamat tinggal tantrum :).
  • Makan
    Salah satu hal menarik dan efektif untuk menghibur anak-anak adalah mengajak mereka makan. Kapan lagi mereka bisa makan kentang goreng sesukanya kalau bukan saat liburan? :p
  • Bermain dan bernyanyi
    Ketika anak-anak mulai bosan, biasanya kami mencari tempat teduh untuk kemudian bermain sebentar sambil bernyanyi plus makan makanan ringan. Setelah suasana hati anak-anak membaik, barulah kegiatan melihat-lihat dilanjutkan kembali.

 

Dengan strategi seperti ini, kami berhasil menginjakkan kaki di empat dari total delapan situs warisan budaya dunia di Vietnam, menikmati Dalat Flower Festival yang semarak dan berburu kuliner halal di Ho Chi Minh City. Menghapus beberapa tujuan potensial dari daftar, seperti desa terapung di sungai Mekong, Cu Chi Tunnel, Ha Long Bay, dan Sapa adalah konsekuensi dari perjalanan wisata dengan anak-anak kecil. Tapi, yang terpenting, semua anggota keluarga senang dan bahagia 🙂

Selamat merencanakan wisata ke Vietnam bersama si kecil 🙂

Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Admin




(tips) Traveling ke Vietnam ala dewasa bersama dua balita
Posted by: Admin

Perjalanan ini menjadi pengalaman yang tidak terlupakan, membawa dua balita 3 tahun 7 bulan dan 14 bulan ke Vietnam di penghujung tahun 2015. Meskipun traveling ini membawa anak-anak, namun bagi kami bukan berarti menuruti tujuan wisata anak-anak seperti ke taman hiburan tematik (amusement park), kebun binatang, atau sejenisnya. Kalau mau ke tempat-tempat tersebut, rasanya tidak perlu jauh-jauh kami terbang ke Vietnam, bukan ? Perjalanan wisata ini tetap sesuai dengan keinginan orangtuanya namun tetap memperhatikan kebutuhan dan kebahagiaan anak-anak. Itu berarti kami datang ke Vietnam untuk melihat situs warisan budaya dunia-nya, menikmati denyut kehidupan kota-kota yang kami kunjungi, melihat objek wisata menarik di setiap kota, namun anak-anak tetap menikmati traveling ini, dan orangtua pun senang.

Selama dua minggu, kami menjelajahi lima kota, tiga kali menaiki penerbangan jarak pendek, naik kereta, naik kapal, naik bis, serta perjalanan darat yang kalau ditotalkan bisa berjam-jam. Terdengar melelahkan, namun kami bersyukur anak-anak bersikap manis hampir setiap saat, meski tantrum karena faktor lelah dan keluar dari kebiasaannya tetap tidak terhindarkan, terutama pada beberapa hari terakhir.

Perjalanan kami dimulai di Hanoi, ibu kota Vietnam. Dari situ kami melanjutkan naik pesawat ke kota Hue. Dari Hue, kami berganti moda transportasi mobil sewaan menuju ke terus ke Hoi An, salah satu destinasi wisata yang cukup populer di kalangan turis. Perjalanan ke sini membutuhkan waktu kurang lebih 4 jam perjalanan. Setelah itu, kami menuju ke Ho Chi Minh City dengan pesawat terbang via Dalat untuk efisien waktu. Rata-rata lama penerbangan domestik memakan waktu kurang lebih 1 – 1,5 jam.

Di kota Hue (sumber foto : Pungky Utami / familygoers)

Di depan stasiun KA Dalat yang ikonik (sumber foto : Pungky Utami / familygoers)

Danau Xuan Huong, Dalat (sumber foto : Pungky Utami / familygoers)

Hoi An (sumber foto : Pungky Utami / familygoers)

Inilah tips saya untuk traveling ke Vietnam :

Logistik, apa saja yang dibawa ?

  • Stroller dan carrier
    Karena kami banyak berjalan kaki, lightweight stroller dan baby carrier sangat berjasa. Biasanya si adik pakai stroller dan si kakak jalan kaki. Kalau si kakak sudah kelelahan jalan kaki, giliran dia duduk atau tidur siang di stroller dan si adik digendong pakai carrier.
  • Persediaan makanan dan susu
    Meski si adik sudah melewati masa MPASI, kami tetap membawa buah segar seperti apel dan pisang, puree buah kemasan untuk bayi dan susu secukupnya untuk anak-anak, karena ternyata susu kemasan yang dijual di Vietnam terlalu manis untuk standar lidah saya.
  • Tisu basah untuk bayi (tanpa parfum)
  • Nursing apron atau kain penutup
    Karena si kecil masih menyusu saat itu, apron atau kain penutup memungkinkan kegiatan menyusui berlangsung dimanapun, di taman maupun di atas kereta.

Aktivitas, meskipun kegiatan jalan-jalan kami berkisar dari situs yang satu ke situs yang lain, tentunya kami mengalokasikan waktu untuk menikmati kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak, seperti

  • Traditional water puppet show
    Pertunjukan wayang yang dimainkan di atas air ini sukses membuat anak-anak senang. Durasinya yang kurang lebih 1 jam bisa ditolerir oleh anak-anak karena penyajiannya menarik, meski bahasanya menggunakan bahasa Vietnam.
  • Memanfaatkan taman-taman kota
    Di setiap kota, kami menyempatkan waktu di pagi atau sore hari di taman agar anak-anak bisa sekedar berlarian atau bersenang-senang di playground.
  • Gunakan transportasi umum
    Anak-anak sangat suka naik kendaraan umum. Kami mengikuti day trip naik bis dari Hoi An ke My Son Sanctuary naik bis. Lalu pulangnya kami memutuskan naik kapal untuk memberikan pengalaman yang berbeda pada anak-anak. Benar saja, keduanya senang sekali naik kapal. Di Dalat, untuk mencegah si kakak yang mulai menampakkan gejala tantrum, kami memutuskan pergi ke stasiun kereta api untuk melihat lokomotif. Ternyata sesampainya disana, ada kereta api yang dikhususkan untuk turis, menempuh rute sepanjang 7 kilometer saja dan kembali lagi ke stasiun. Akhirnya, semua senang…selamat tinggal tantrum :).
  • Makan
    Salah satu hal menarik dan efektif untuk menghibur anak-anak adalah mengajak mereka makan. Kapan lagi mereka bisa makan kentang goreng sesukanya kalau bukan saat liburan? :p
  • Bermain dan bernyanyi
    Ketika anak-anak mulai bosan, biasanya kami mencari tempat teduh untuk kemudian bermain sebentar sambil bernyanyi plus makan makanan ringan. Setelah suasana hati anak-anak membaik, barulah kegiatan melihat-lihat dilanjutkan kembali.

 

Dengan strategi seperti ini, kami berhasil menginjakkan kaki di empat dari total delapan situs warisan budaya dunia di Vietnam, menikmati Dalat Flower Festival yang semarak dan berburu kuliner halal di Ho Chi Minh City. Menghapus beberapa tujuan potensial dari daftar, seperti desa terapung di sungai Mekong, Cu Chi Tunnel, Ha Long Bay, dan Sapa adalah konsekuensi dari perjalanan wisata dengan anak-anak kecil. Tapi, yang terpenting, semua anggota keluarga senang dan bahagia 🙂

Selamat merencanakan wisata ke Vietnam bersama si kecil 🙂

Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Admin