(Tips) Ke Seoul bersama anak-anak
Posted by: Cut Fika

Kalau di Jepang ada Disneyland dan Universal Studio, Korea Selatan punya Everland dan Lotte World untuk tempat tujuan wisata dengan anak-anak. Namun, atas saran beberapa teman yang mayoritas tidak terlalu terkesan dengan kedua tempat ini (dan harga tiket masuknya) dan berhubung ini pertama kalinya kami ke Korea Selatan, maka diputuskan bahwa tujuan perjalanan kali ini lebih ke mendatangi tempat wisata wajib dan kuliner ke restoran dan kafe-kafe lucu.

Untuk tulisan kali ini, saya hanya akan berbagi tips untuk familygoers yang ingin plesiran ke Seoul dan sekitarnya.

Jakarta – Seoul PP

Waktu perjalanan Jakarta – Seoul kurang lebih 7 jam. Pilihlah armada dengan jadwal penerbangan malam sehingga sampai di Seoul di pagi hari untuk menghemat biaya penginapan satu malam. Untuk penerbangan pulang, pilih jadwal setelah jam check out. Jangan pilih terlalu pagi karena bisa bikin frustasi kalau ada faktor x (baca: ketinggalan airport bus atau kereta atau kena macet).

Kami berangkat dari Bandara Internasional Soekarno Hatta kurang lebih jam 12 malam dan tiba di Incheon International Airport sekitar jam 9 pagi. Seoul 2 jam lebih awal dari Jakarta. Karena anak saya, Aidan, sudah bisa makan table food, maka makanan instant di botol untuk bayi 6-8 bulan yang diberikan oleh Asiana Airlines ditolaknya mentah-mentah. Jadilah saya membawa makanan sendiri dari rumah. Lebih aman bepergian dengan bayi yang sudah bisa makan memang membawa makanan sendiri dari rumah, comfort food.

Dari Bandar Udara ke Tempat Penginapan

Ada banyak alternatif transportasi dari bandar udara ke tempat penginapan, antara lain:
1. Airport transfer dari hotel
Ini yang paling praktis tentunya, tinggal duduk manis di mobil sampai hotel dan tidak perlu susah payah angkat koper. Tentunya harganya paling mahal diantara semua pilihan transportasi.

2. Taxi
Tidak direkomendasikan karena harganya yang mahal. Jarak dari airport ke pusat kota cukup jauh, jadi biaya yang dikeluarkan juga besar, sekitar 100.000 KRW (Won) atau 1.300.000 IDR.

3. Kereta
Stasiun kereta terletak di lantai B1. Ada tiga jenis kereta, KTX, Express Train dan All-stop Train. Untuk ke pusat kota Seoul, gunakan Express Train dan All-stop Train dengan tujuan akhir stasiun Seoul, sedangkan untuk ke kota lain bisa dengan kereta cepat KTX.
KTX sebenarnya transit juga di stasiun Seoul, tapi kalau tidak buru-buru harus sampai pusat kota lebih baik gunakan dua pilihan kereta lainnya karena harga tiketnya tentunya jauh lebih murah. Sesuai dengan namanya, Express Train lebih cepat sampai daripada All-stop train yang berhenti di setiap stasiun.

4. Airport Limousine Bus
Pilihan terakhir ini adalah pilihan paling murah. Waktu perjalanan dengan bis kurang lebih 1 jam ke pusat kota Seoul, tentunya tergantung kondisi lalu lintas ya (Seoul juga kenal macet lho). Selain lebih murah, kelebihan menggunakan bis adalah bisa menikmati pemandangan selama perjalanan dan bisa langsung turun persis di depan tempat penginapan (ini dibahas di bagian penginapan). Biaya Airport Limousine Bus untuk dewasa adalah KRW 10.000/orang atau sekitar 130.000 IDR, sedangkan anak umur 7 tahun ke bawah masih gratis. Untuk informasi lengkap mengenai jadwal, harga tiket, dan rute perjalanan bisa kunjungi situs resminya di Info Airport Limousine Bus. Kalau sudah browsing tapi masih tidak yakin juga, familygoers bisa langsung datang ke bagian tourist information.

Dengan pertimbangan harga dan kemudahan, pilihan transpotasi kami jatuh ke Airport Limousine Bus.

Tempat Menginap

Hotel dan AirBnB di Seoul menurut saya agak mahal, karena itu tidak heran kalau banyak yang memilih tinggal di guest house. Selain karena harganya yang relatif paling murah, juga karena lokasinya kebanyakan dekat dengan lokasi keramaian (baca: tempat belanja).

Ada beberapa pertimbangan kami dalam memilih tempat menginap di Seoul :

1. Halte Airport Limousine Bus
Apabila mempertimbangkan untuk pergi dari dan ke airport dengan menggunakan airport bus, carilah informasi dulu di halte mana saja bus ini akan berhenti dan juga lokasi tempat penginapan.

2. Halte bis dan stasiun kereta
Pastikan jarak halte bis dan stasiun kereta terdekat adalah paling jauh 5 menit jalan kaki. Setelah seharian jalan-jalan, bisa dipastikan kaki pegel linu dan maunya cepat sampai tempat penginapan.

3. Lokasi tujuan wisata
Sebisa mungkin cari tempat penginapan yang dekat dengan tujuan wisata, contohnya: Gyeongbokgung Palace atau surga belanja di Myeongdong.

4. Tempat makan
Nah buat kami ini yang paling penting. Tempat penginapan harus memiliki banyak pilihan tempat makan di sekitarnya yang bisa diakses kapan saja dengan jalan kaki.

Dari empat hal di atas, maka pilihan tempat menginap jatuh pada Avantree Hotel. Selain itu, kebetulan di tanggal yang kami pilih, ada potongan harga yang cukup signifikan. Kalau dibandingkan dengan Guest House yang kalau dari fotonya mirip gang senggol alias sempit, lebih baik menginap di hotel ini dengan perbedaan harga yang beda tipis, berkat adanya diskon. Kebayang kan kalau kami menginap di Guest House yang isinya tiga orang dewasa dengan satu anak laki-laki berusia tujuh tahun dan satu anak laki-laki yang usia nya hampir dua tahun. Kedua nya hampir tidak pernah diam.

Salah satu tujuan favorit turis, terletak di belakang hotel kami

Kamar yang kami pilih memiliki satu queen bed dan satu single bed dengan luas yang cukup nyaman untuk jumlah rombongan kami, beserta empat koper besar dan tiga koper kabin. Kamar mandi bersih dan pelayanannya juga oke.

Convenient store yang buka sampai larut malam ada di lantai satu. Jadi kalau perlu apapun dan kapanpun bisa langsung mampir ke sini.  Di depan hotel persis ada halte Airport Limousine Bus. Stasiun kereta juga bisa ditempuh hanya sekitar 7-10 menit jalan kaki. Insadong, kawasan ramai turis, hanya berjarak 5 menit jalan kaki melalui pintu keluar di belakang hotel. Gyeongbokgung Palace dan Hanok Bukchon Village, kastil populer itu, dicapai hanya 10-15 menit berjalan kaki. Mau ke pusat perbelanjaan Myeongdong dekat, hanya 10 – 15 menit jalan kaki. Itulah yang membuat kami jatuh cinta dan tidak salah pilih hotel !

Cari tempat makan enak ? Banyak ! Mulai dari jajanan kaki lima, restoran tradisional, bahkan warung tenda seperti yang ada di drama korea. Singkatnya, hotel ini amat sangat direkomendasikan, terutama untuk keluarga. Soal lokasi penginapan, saya lebih memilih Insadong daripada Myeongdong. Suasana Myeongdong lebih hiruk pikuk sampai jam 4 pagi. Agak kurang nyaman untuk tempat istirahat untuk keluarga.

Oh ya, di lobi hotel juga tersedia timbangan koper. Ini penting buat saya. Belajar dari pengalaman kami kemarin, peraturan satu koper maksimal 23 kg diberlakukan secara tegas, jadi tidak ada kata maaf untuk kelebihan bagasi. Dengan adanya timbangan di hotel, kelebihan bagasi bisa dicegah sebelum sampai ke airport. Jadi lebih nyaman deh.

Ini timbangan koper yang ada di lobi hotel dan berjasa menyelamatkan kami dari kelebihan bagasi *abaikan anak-anak yang tiduran di atas timbangan*

Transportasi
Transportasi dalam kota menggunakan kereta dan bis lokal. Alat pembayarannya menggunakan e-card yang disebut T-Card. Bisa dibeli di convenient store dan diisi ulang di tempat yang sama atau di stasiun kereta manapun.

T-Card bisa dibeli di 7eleven dan gambarnya lucu-lucu

Halte bis di korea ada yang di pinggir jalan, ada juga yang di tengah jalan semacam trans jakarta

Perlu dicatat bahwa pembelian dan isi ulang T-card hanya bisa dengan pembayaran tunai. Ada satu hari di mana saldo T-card tidak cukup dan kita kehabisan uang tunai, jadi terpaksa jalan kaki sejauh 30 menit menurut peta (tau dong kalau si peta ini suka boong) sambil gendong anak 12 kg, lelaaahhhh kak 😀

Sementara transportasi luar kota bisa menggunakan shuttle bus atau KTX. Untuk shuttle bus, tiketnya bisa dibeli di tempat-tempat tertentu tergantung tujuan. Ada beberapa shuttle bus yang tiketnya bisa dibeli online. Jadi, saran saya belilah rajinlah browsing dan belilah tiket secara online dari negara asal.

Makanan

Sama seperti di Jakarta, di Seoul banyak sekali jajanan pinggir jalan, mulai dari yang murah, seperti gorengan persis seperti kue bantal isi kacang merah (KRW 1.000 atau sekitar 13.000 IDR untuk dua buah), sampai yang mahal seperti cheesy grilled lobster (KRW 15.000 atau sekitar 195.000 IDR). Untuk harga makanan di restoran harganya hampir sama dengan restoran Korea di Jakarta, alias mahal.

Kalau punya anak tipe ‘picky eater’, pasti sulit menyesuaikan lidah dengan rasa makanan Korea. Sebaiknya pilih tempat menginap dengan dapur pribadi supaya bisa masak atau pilih restoran dengan rasa makanan yang sudah familiar dengan lidahnya. Restoran cepat saji atau restoran barat biasanya lebih familiar di lidah anak-anak.

Rata-rata rasa makanan di Korea Selatan sedikit pedas. Kalau tidak pedas, jadinya hambar, contohnya menu rice soup di salah satu restoran bintang lima, penampakannya semacam bubur setengah jadi dan rasanya semacam air cucian beras. Kecewa !

roti bantal favorit tinggal jalan 5 menit dari hotel

Stroller or no stroller

Seoul adalah kita yang tidak stroller friendly. Akses tangganya yang cukup curam dan panjang, juga lift yang diperuntukan untuk kursi roda biasanya selalu penuh, membuat stroller tidak direkomendasikan di sini. Stroller juga mempersulit hidup kalau moda transportasi kebanyakan menggunakan transportasi umum. Biasanya bis dan kereta selalu padat. Jangan harap ada perlakuan istimewa dari penumpang lain agar stroller bisa lewat, malah nanti kena tabrak kanan dan kiri tanpa permintaan maaf.

mayoritas situasi di kereta seperti ini. jadi, kalau boleh saran bawa carrier aja biar lebih praktis.

Uang Tunai

Kalau lagi jalan-jalan, saya dan suami terbiasa hanya membawa uang tunai secukupnya. Kami lebih nyaman menggunakan kartu kredit sebagai alat pembayaran untuk alasan keamanan. Selain itu, nilai tukar mata uang asing di kartu kredit bank tertentu kadang di bawah nilai tukar di tempat penukaran uang.

Kecuali kalau ada rencana shopping till you drop di Myeongdong atau mencoba makanan di setiap jajanan kaki lima, saya sangat menyarankan bawa uang tunai agak banyak. ATM di Seoul yang bisa melayani penarikan uang oleh bank asing hanya ATM global dan ATMN ini sulit sekali ditemukan.

Itinerary

Sesungguhnya rajin pangkal pintar bisa dibuktikan untuk plesiran ke Korea Selatan. Banyak yang tidak bisa bahasa Inggris, bahkan gak paham bahasa tubuh (yang ada mereka bingung kita ngapain). Saya pernah pakai trik ketik di google translate, kemudian ditunjukkan ke orang lokal. Hasilnya, mereka malah pasang muka kebingungan. Jadi, jurus anti nyasar yang paling efektif adalah siapkan itinerary selengkap dan sedetail mungkin. Kalau ada tempat tertentu yang mau dituju, siapkan screen shot atau print out alamat tempat tersebut untuk memudahkan nanya jalan jika tiba-tiba nyasar. Kalau nyasarnya di daerah ramai turis masih gampang karena ada petugas berbaju merah dengan badge di baju “tourist information” untuk tempat bertanya.

Itulah tips ala keluarga saya untuk traveling ke Korea. Itinerary dibahas di tulisan berikutnya ya 🙂

Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Cut Fika




(Tips) Ke Seoul bersama anak-anak
Posted by: Cut Fika

Kalau di Jepang ada Disneyland dan Universal Studio, Korea Selatan punya Everland dan Lotte World untuk tempat tujuan wisata dengan anak-anak. Namun, atas saran beberapa teman yang mayoritas tidak terlalu terkesan dengan kedua tempat ini (dan harga tiket masuknya) dan berhubung ini pertama kalinya kami ke Korea Selatan, maka diputuskan bahwa tujuan perjalanan kali ini lebih ke mendatangi tempat wisata wajib dan kuliner ke restoran dan kafe-kafe lucu.

Untuk tulisan kali ini, saya hanya akan berbagi tips untuk familygoers yang ingin plesiran ke Seoul dan sekitarnya.

Jakarta – Seoul PP

Waktu perjalanan Jakarta – Seoul kurang lebih 7 jam. Pilihlah armada dengan jadwal penerbangan malam sehingga sampai di Seoul di pagi hari untuk menghemat biaya penginapan satu malam. Untuk penerbangan pulang, pilih jadwal setelah jam check out. Jangan pilih terlalu pagi karena bisa bikin frustasi kalau ada faktor x (baca: ketinggalan airport bus atau kereta atau kena macet).

Kami berangkat dari Bandara Internasional Soekarno Hatta kurang lebih jam 12 malam dan tiba di Incheon International Airport sekitar jam 9 pagi. Seoul 2 jam lebih awal dari Jakarta. Karena anak saya, Aidan, sudah bisa makan table food, maka makanan instant di botol untuk bayi 6-8 bulan yang diberikan oleh Asiana Airlines ditolaknya mentah-mentah. Jadilah saya membawa makanan sendiri dari rumah. Lebih aman bepergian dengan bayi yang sudah bisa makan memang membawa makanan sendiri dari rumah, comfort food.

Dari Bandar Udara ke Tempat Penginapan

Ada banyak alternatif transportasi dari bandar udara ke tempat penginapan, antara lain:
1. Airport transfer dari hotel
Ini yang paling praktis tentunya, tinggal duduk manis di mobil sampai hotel dan tidak perlu susah payah angkat koper. Tentunya harganya paling mahal diantara semua pilihan transportasi.

2. Taxi
Tidak direkomendasikan karena harganya yang mahal. Jarak dari airport ke pusat kota cukup jauh, jadi biaya yang dikeluarkan juga besar, sekitar 100.000 KRW (Won) atau 1.300.000 IDR.

3. Kereta
Stasiun kereta terletak di lantai B1. Ada tiga jenis kereta, KTX, Express Train dan All-stop Train. Untuk ke pusat kota Seoul, gunakan Express Train dan All-stop Train dengan tujuan akhir stasiun Seoul, sedangkan untuk ke kota lain bisa dengan kereta cepat KTX.
KTX sebenarnya transit juga di stasiun Seoul, tapi kalau tidak buru-buru harus sampai pusat kota lebih baik gunakan dua pilihan kereta lainnya karena harga tiketnya tentunya jauh lebih murah. Sesuai dengan namanya, Express Train lebih cepat sampai daripada All-stop train yang berhenti di setiap stasiun.

4. Airport Limousine Bus
Pilihan terakhir ini adalah pilihan paling murah. Waktu perjalanan dengan bis kurang lebih 1 jam ke pusat kota Seoul, tentunya tergantung kondisi lalu lintas ya (Seoul juga kenal macet lho). Selain lebih murah, kelebihan menggunakan bis adalah bisa menikmati pemandangan selama perjalanan dan bisa langsung turun persis di depan tempat penginapan (ini dibahas di bagian penginapan). Biaya Airport Limousine Bus untuk dewasa adalah KRW 10.000/orang atau sekitar 130.000 IDR, sedangkan anak umur 7 tahun ke bawah masih gratis. Untuk informasi lengkap mengenai jadwal, harga tiket, dan rute perjalanan bisa kunjungi situs resminya di Info Airport Limousine Bus. Kalau sudah browsing tapi masih tidak yakin juga, familygoers bisa langsung datang ke bagian tourist information.

Dengan pertimbangan harga dan kemudahan, pilihan transpotasi kami jatuh ke Airport Limousine Bus.

Tempat Menginap

Hotel dan AirBnB di Seoul menurut saya agak mahal, karena itu tidak heran kalau banyak yang memilih tinggal di guest house. Selain karena harganya yang relatif paling murah, juga karena lokasinya kebanyakan dekat dengan lokasi keramaian (baca: tempat belanja).

Ada beberapa pertimbangan kami dalam memilih tempat menginap di Seoul :

1. Halte Airport Limousine Bus
Apabila mempertimbangkan untuk pergi dari dan ke airport dengan menggunakan airport bus, carilah informasi dulu di halte mana saja bus ini akan berhenti dan juga lokasi tempat penginapan.

2. Halte bis dan stasiun kereta
Pastikan jarak halte bis dan stasiun kereta terdekat adalah paling jauh 5 menit jalan kaki. Setelah seharian jalan-jalan, bisa dipastikan kaki pegel linu dan maunya cepat sampai tempat penginapan.

3. Lokasi tujuan wisata
Sebisa mungkin cari tempat penginapan yang dekat dengan tujuan wisata, contohnya: Gyeongbokgung Palace atau surga belanja di Myeongdong.

4. Tempat makan
Nah buat kami ini yang paling penting. Tempat penginapan harus memiliki banyak pilihan tempat makan di sekitarnya yang bisa diakses kapan saja dengan jalan kaki.

Dari empat hal di atas, maka pilihan tempat menginap jatuh pada Avantree Hotel. Selain itu, kebetulan di tanggal yang kami pilih, ada potongan harga yang cukup signifikan. Kalau dibandingkan dengan Guest House yang kalau dari fotonya mirip gang senggol alias sempit, lebih baik menginap di hotel ini dengan perbedaan harga yang beda tipis, berkat adanya diskon. Kebayang kan kalau kami menginap di Guest House yang isinya tiga orang dewasa dengan satu anak laki-laki berusia tujuh tahun dan satu anak laki-laki yang usia nya hampir dua tahun. Kedua nya hampir tidak pernah diam.

Salah satu tujuan favorit turis, terletak di belakang hotel kami

Kamar yang kami pilih memiliki satu queen bed dan satu single bed dengan luas yang cukup nyaman untuk jumlah rombongan kami, beserta empat koper besar dan tiga koper kabin. Kamar mandi bersih dan pelayanannya juga oke.

Convenient store yang buka sampai larut malam ada di lantai satu. Jadi kalau perlu apapun dan kapanpun bisa langsung mampir ke sini.  Di depan hotel persis ada halte Airport Limousine Bus. Stasiun kereta juga bisa ditempuh hanya sekitar 7-10 menit jalan kaki. Insadong, kawasan ramai turis, hanya berjarak 5 menit jalan kaki melalui pintu keluar di belakang hotel. Gyeongbokgung Palace dan Hanok Bukchon Village, kastil populer itu, dicapai hanya 10-15 menit berjalan kaki. Mau ke pusat perbelanjaan Myeongdong dekat, hanya 10 – 15 menit jalan kaki. Itulah yang membuat kami jatuh cinta dan tidak salah pilih hotel !

Cari tempat makan enak ? Banyak ! Mulai dari jajanan kaki lima, restoran tradisional, bahkan warung tenda seperti yang ada di drama korea. Singkatnya, hotel ini amat sangat direkomendasikan, terutama untuk keluarga. Soal lokasi penginapan, saya lebih memilih Insadong daripada Myeongdong. Suasana Myeongdong lebih hiruk pikuk sampai jam 4 pagi. Agak kurang nyaman untuk tempat istirahat untuk keluarga.

Oh ya, di lobi hotel juga tersedia timbangan koper. Ini penting buat saya. Belajar dari pengalaman kami kemarin, peraturan satu koper maksimal 23 kg diberlakukan secara tegas, jadi tidak ada kata maaf untuk kelebihan bagasi. Dengan adanya timbangan di hotel, kelebihan bagasi bisa dicegah sebelum sampai ke airport. Jadi lebih nyaman deh.

Ini timbangan koper yang ada di lobi hotel dan berjasa menyelamatkan kami dari kelebihan bagasi *abaikan anak-anak yang tiduran di atas timbangan*

Transportasi
Transportasi dalam kota menggunakan kereta dan bis lokal. Alat pembayarannya menggunakan e-card yang disebut T-Card. Bisa dibeli di convenient store dan diisi ulang di tempat yang sama atau di stasiun kereta manapun.

T-Card bisa dibeli di 7eleven dan gambarnya lucu-lucu

Halte bis di korea ada yang di pinggir jalan, ada juga yang di tengah jalan semacam trans jakarta

Perlu dicatat bahwa pembelian dan isi ulang T-card hanya bisa dengan pembayaran tunai. Ada satu hari di mana saldo T-card tidak cukup dan kita kehabisan uang tunai, jadi terpaksa jalan kaki sejauh 30 menit menurut peta (tau dong kalau si peta ini suka boong) sambil gendong anak 12 kg, lelaaahhhh kak 😀

Sementara transportasi luar kota bisa menggunakan shuttle bus atau KTX. Untuk shuttle bus, tiketnya bisa dibeli di tempat-tempat tertentu tergantung tujuan. Ada beberapa shuttle bus yang tiketnya bisa dibeli online. Jadi, saran saya belilah rajinlah browsing dan belilah tiket secara online dari negara asal.

Makanan

Sama seperti di Jakarta, di Seoul banyak sekali jajanan pinggir jalan, mulai dari yang murah, seperti gorengan persis seperti kue bantal isi kacang merah (KRW 1.000 atau sekitar 13.000 IDR untuk dua buah), sampai yang mahal seperti cheesy grilled lobster (KRW 15.000 atau sekitar 195.000 IDR). Untuk harga makanan di restoran harganya hampir sama dengan restoran Korea di Jakarta, alias mahal.

Kalau punya anak tipe ‘picky eater’, pasti sulit menyesuaikan lidah dengan rasa makanan Korea. Sebaiknya pilih tempat menginap dengan dapur pribadi supaya bisa masak atau pilih restoran dengan rasa makanan yang sudah familiar dengan lidahnya. Restoran cepat saji atau restoran barat biasanya lebih familiar di lidah anak-anak.

Rata-rata rasa makanan di Korea Selatan sedikit pedas. Kalau tidak pedas, jadinya hambar, contohnya menu rice soup di salah satu restoran bintang lima, penampakannya semacam bubur setengah jadi dan rasanya semacam air cucian beras. Kecewa !

roti bantal favorit tinggal jalan 5 menit dari hotel

Stroller or no stroller

Seoul adalah kita yang tidak stroller friendly. Akses tangganya yang cukup curam dan panjang, juga lift yang diperuntukan untuk kursi roda biasanya selalu penuh, membuat stroller tidak direkomendasikan di sini. Stroller juga mempersulit hidup kalau moda transportasi kebanyakan menggunakan transportasi umum. Biasanya bis dan kereta selalu padat. Jangan harap ada perlakuan istimewa dari penumpang lain agar stroller bisa lewat, malah nanti kena tabrak kanan dan kiri tanpa permintaan maaf.

mayoritas situasi di kereta seperti ini. jadi, kalau boleh saran bawa carrier aja biar lebih praktis.

Uang Tunai

Kalau lagi jalan-jalan, saya dan suami terbiasa hanya membawa uang tunai secukupnya. Kami lebih nyaman menggunakan kartu kredit sebagai alat pembayaran untuk alasan keamanan. Selain itu, nilai tukar mata uang asing di kartu kredit bank tertentu kadang di bawah nilai tukar di tempat penukaran uang.

Kecuali kalau ada rencana shopping till you drop di Myeongdong atau mencoba makanan di setiap jajanan kaki lima, saya sangat menyarankan bawa uang tunai agak banyak. ATM di Seoul yang bisa melayani penarikan uang oleh bank asing hanya ATM global dan ATMN ini sulit sekali ditemukan.

Itinerary

Sesungguhnya rajin pangkal pintar bisa dibuktikan untuk plesiran ke Korea Selatan. Banyak yang tidak bisa bahasa Inggris, bahkan gak paham bahasa tubuh (yang ada mereka bingung kita ngapain). Saya pernah pakai trik ketik di google translate, kemudian ditunjukkan ke orang lokal. Hasilnya, mereka malah pasang muka kebingungan. Jadi, jurus anti nyasar yang paling efektif adalah siapkan itinerary selengkap dan sedetail mungkin. Kalau ada tempat tertentu yang mau dituju, siapkan screen shot atau print out alamat tempat tersebut untuk memudahkan nanya jalan jika tiba-tiba nyasar. Kalau nyasarnya di daerah ramai turis masih gampang karena ada petugas berbaju merah dengan badge di baju “tourist information” untuk tempat bertanya.

Itulah tips ala keluarga saya untuk traveling ke Korea. Itinerary dibahas di tulisan berikutnya ya 🙂

Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Cut Fika