Serasa naik pesawat di kabin first class. Begitu rasanya naik kereta Argo Bromo Luxury.
Posted by: Sheika Rauf

Akibat kenaikan harga pesawat yang liar, saya beralih ke moda transportasi lain untuk mudik ke Surabaya kali ini. Mobil dan kereta pun mulai dipertimbangkan plus minus nya. Lalu ketika mobil dicoret dari pilihan, mulailah saya hunting tiket kereta.

Dari beberapa pilihan kereta, saya melihat satu persatu tampilan dan fasilitas kereta, juga review dari travelers lain. Sampailah pada kereta Argo Bromo Luxury yang menarik perhatian saya. Ternyata kereta ini masih baru karena baru pertama kali diluncurkan pada Juni tahun 2018 oleh PT KAI. Jadi wajar kalau banyak yang belum tahu tentang keberadaan kereta ini.

Pertama kali lihat fotonya, saya langsung bergumam “kami harus coba kereta ini.” Melihat harganya yang tidak murah, Rp 1.200.000 untuk harga normal dan Rp 900.000 untuk harga promo, maka kami putuskan untuk naik kereta ini saat pergi atau pulang nya saja, bukan keduanya. Takutnya tagihan kartu kredit membengkak.

Setelah melihat jadwal yang tersedia, ternyata kami berjodoh dengan jadwal kepulangan dari ke Surabaya ke Jakarta saja, sementara untuk keberangkatan tidak ada pilihan lagi kecuali kereta eksekutif Gumarang. Kebetulan !

Baru traveling kali ini kami merasakan ingin cepat pulang karena ingin cepat-cepat merasakan kereta Argo Bromo Luxury. Zola, anak saya, tentunya yang paling bersemangat. Waktu yang dinanti pun tiba. Setelah 5 hari kami long weekend di Surabaya, saatnya kembali ke Jakarta dengan menumpang kereta Argo Bromo Luxury. Yeay !

Kami naik dari Stasiun Pasar Turi di Surabaya dengan keberangkatan pukul 20.00 WIB. Pas ! Kami bisa tidur semalaman di kereta dengan memanfaatkan kursi duduk empuk yang bisa direbahkan hingga nyaris 180 derajat, sebelum tiba di Stasiun Gambir Jakarta keesokan pagi nya. Perjalanan dengan kereta ini membutuhkan waktu 9 jam.

Argo Bromo Luxury

Seperti hal nya pesawat terbang, pramugari kereta menyambut kami di depan pintu gerbong. Pramugari ini juga stand by duduk di dalam gerbong kereta luxury untuk membantu penumpang. Ia juga yang memberikan kami selimut, penutup mata, makan malam dan snack sampai handuk hangat untuk menyegarkan wajah. Jika membutuhkan bantuan, seperti saya yang saat itu membutuhkan head set, jangan ragu menghubungi mbak pramugari ini, apalagi jika bawa anak. Beberapa penumpang yang bersama kami saat itu membawa anak, bahkan bayi. Memang kereta ini memiliki fasilitas memadai dan sangat nyaman untuk bepergian bersama anak. Bukan hanya pramugari, di gerbong yang sama juga duduk seorang security berseragam lengkap untuk memastikan keamanan kereta.

Begitu masuk, mata kami langsung membelalak wah saat melihat jejeran tempat duduk setara first class di pesawat. Masing-masing orang bisa merebahkan tubuhnya dengan cukup lega dan nyaman. Untuk penumpang yang membawa anak bayi dan batita, kursi ini cukup untuk menampung satu dewasa dan satu anak kecil. Namun jika anaknya sudah berusia 4 tahun ke atas, lebih baik diberikan kursi sendiri.

Di setiap bilik kursi ini dilengkapi dengan fasilitas TV dengan pilihan hiburan. Sayangnya, pilihannya masih sangat sedikit, film box office nya saja hanya satu dan saya gak begitu familiar dengan judul filmnya. Film anak-anak pun tidak banyak pilihan yang bisa ditonton. Sisi baiknya adalah kami bisa tidur lebih cepat karena tidak ada film menarik yang bisa ditonton.

Argo Bromo Luxury, kereta first class

Makan malam sebelum tidur

Makan malam dan snack yang sudah disediakan

Karena gak ada hiburan yang seru, Zola pun bisa tidur lebih cepat

Di setiap kursi disediakan kotak kecil tempat menyimpan barang berharga lengkap dengan kunci. Selama tidur, handphone dan dompet bisa diletakkan di laci sementara kita tertidur. Tas dan laptop berukuran cukup besar, tidak cukup diletakkan di dalam kotak. Cukup diletakkan di tempat penyimpanan di bawah TV saja. Masing-masing tempat duduk juga dilengkapi dengan meja lipat untuk makan. Selesai makan, sampah bisa dibuang di tempat sampah tertutup di laci paling bawah. Nantinya beberapa saat sebelum kereta sampai di tujuan, petugas akan mengumpulkan sampah-sampah penumpang.

Kotak kecil tempat menyimpan barang berharga

TV persis di depan kursi masing-masing penumpang

Tempat sampah ada di dekat kursi

Jika masih merasa lapar atau haus, ruang restorasi juga tersedia seperti di kereta pada umumnya. Namun letaknya cukup jauh karena kita perlu melewati beberapa gerbong eksekutif lebih dulu sebelum mencapai ruang restorasi yang berada hampir di paling ujung kereta. Di ruang restorasi ini dijual aneka camilan dan minuman, juga makanan cepat saji.

Ruang restorasi

Ruang restorasi

Penumpang tidak perlu khawatir dengan toilet yang kotor. Di kereta ini, semua toilet adalah toilet duduk dan sangat diperhatikan kebersihannya, bukan toilet jongkok berbahan alumunium yang biasa ditemui di toilet umum di dalam kereta. Toilet ini berada dalam satu gerbong namun terpisahkan pintu. Jadi bau-bau dari toilet tidak akan tercium sampai gerbong. Sayangnya, tidak ada meja tempat ganti popok di toilet ini. Semoga nanti bisa ditambahkan oleh KAI.

Toilet di Argo Bromo

Sepanjang perjalanan, lampu digelapkan untuk menambah kenyamanan tidur para penumpang. Hanya tersisa lampu di sisi pinggir saja untuk membantu penumpang tetap bisa melihat saat terbangun ingin ke toilet dan lain sebagainya. Zola tidur sangat nyenyak di kereta ini. Untungnya dia tidak begitu peduli dengan goncangan dan suara gesekan rel dengan roda kereta yang sebenarnya bisa mengganggu tidur selama kereta berjalan. Goncangan ini seperti turbulence hebat di pesawat. Bedanya, kami bisa tetap santai tidak perlu khawatir berlebihan, tidak seperti goncangan di pesawat yang selalu membuat deg-degan.

Mudah-mudahan suatu hari goncangan bisa dikurangi, bahkan dihilangkan, dan gerbong kereta bisa lebih kedap dari suara-suara gesekan antara rel dan roda kereta ini. Itu saja kekurangan dari kereta ini dan sepertinya memang membutuhkan teknologi yang lebih canggih lagi untuk mencapainya. Sejauh ini saja, kami sudah salut dengan kemajuan Kereta Api Indonesia. Bravo !

Argo Bromo luxury

 



Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sheika Rauf


Ibu dari si bocah petualang Zola, yang hobi traveling dan menulis. Selama saya masih mampu, saya akan mengajak anak saya melihat dunia ini lebih luas lagi.


Serasa naik pesawat di kabin first class. Begitu rasanya naik kereta Argo Bromo Luxury.
Posted by: Sheika Rauf

Akibat kenaikan harga pesawat yang liar, saya beralih ke moda transportasi lain untuk mudik ke Surabaya kali ini. Mobil dan kereta pun mulai dipertimbangkan plus minus nya. Lalu ketika mobil dicoret dari pilihan, mulailah saya hunting tiket kereta.

Dari beberapa pilihan kereta, saya melihat satu persatu tampilan dan fasilitas kereta, juga review dari travelers lain. Sampailah pada kereta Argo Bromo Luxury yang menarik perhatian saya. Ternyata kereta ini masih baru karena baru pertama kali diluncurkan pada Juni tahun 2018 oleh PT KAI. Jadi wajar kalau banyak yang belum tahu tentang keberadaan kereta ini.

Pertama kali lihat fotonya, saya langsung bergumam “kami harus coba kereta ini.” Melihat harganya yang tidak murah, Rp 1.200.000 untuk harga normal dan Rp 900.000 untuk harga promo, maka kami putuskan untuk naik kereta ini saat pergi atau pulang nya saja, bukan keduanya. Takutnya tagihan kartu kredit membengkak.

Setelah melihat jadwal yang tersedia, ternyata kami berjodoh dengan jadwal kepulangan dari ke Surabaya ke Jakarta saja, sementara untuk keberangkatan tidak ada pilihan lagi kecuali kereta eksekutif Gumarang. Kebetulan !

Baru traveling kali ini kami merasakan ingin cepat pulang karena ingin cepat-cepat merasakan kereta Argo Bromo Luxury. Zola, anak saya, tentunya yang paling bersemangat. Waktu yang dinanti pun tiba. Setelah 5 hari kami long weekend di Surabaya, saatnya kembali ke Jakarta dengan menumpang kereta Argo Bromo Luxury. Yeay !

Kami naik dari Stasiun Pasar Turi di Surabaya dengan keberangkatan pukul 20.00 WIB. Pas ! Kami bisa tidur semalaman di kereta dengan memanfaatkan kursi duduk empuk yang bisa direbahkan hingga nyaris 180 derajat, sebelum tiba di Stasiun Gambir Jakarta keesokan pagi nya. Perjalanan dengan kereta ini membutuhkan waktu 9 jam.

Argo Bromo Luxury

Seperti hal nya pesawat terbang, pramugari kereta menyambut kami di depan pintu gerbong. Pramugari ini juga stand by duduk di dalam gerbong kereta luxury untuk membantu penumpang. Ia juga yang memberikan kami selimut, penutup mata, makan malam dan snack sampai handuk hangat untuk menyegarkan wajah. Jika membutuhkan bantuan, seperti saya yang saat itu membutuhkan head set, jangan ragu menghubungi mbak pramugari ini, apalagi jika bawa anak. Beberapa penumpang yang bersama kami saat itu membawa anak, bahkan bayi. Memang kereta ini memiliki fasilitas memadai dan sangat nyaman untuk bepergian bersama anak. Bukan hanya pramugari, di gerbong yang sama juga duduk seorang security berseragam lengkap untuk memastikan keamanan kereta.

Begitu masuk, mata kami langsung membelalak wah saat melihat jejeran tempat duduk setara first class di pesawat. Masing-masing orang bisa merebahkan tubuhnya dengan cukup lega dan nyaman. Untuk penumpang yang membawa anak bayi dan batita, kursi ini cukup untuk menampung satu dewasa dan satu anak kecil. Namun jika anaknya sudah berusia 4 tahun ke atas, lebih baik diberikan kursi sendiri.

Di setiap bilik kursi ini dilengkapi dengan fasilitas TV dengan pilihan hiburan. Sayangnya, pilihannya masih sangat sedikit, film box office nya saja hanya satu dan saya gak begitu familiar dengan judul filmnya. Film anak-anak pun tidak banyak pilihan yang bisa ditonton. Sisi baiknya adalah kami bisa tidur lebih cepat karena tidak ada film menarik yang bisa ditonton.

Argo Bromo Luxury, kereta first class

Makan malam sebelum tidur

Makan malam dan snack yang sudah disediakan

Karena gak ada hiburan yang seru, Zola pun bisa tidur lebih cepat

Di setiap kursi disediakan kotak kecil tempat menyimpan barang berharga lengkap dengan kunci. Selama tidur, handphone dan dompet bisa diletakkan di laci sementara kita tertidur. Tas dan laptop berukuran cukup besar, tidak cukup diletakkan di dalam kotak. Cukup diletakkan di tempat penyimpanan di bawah TV saja. Masing-masing tempat duduk juga dilengkapi dengan meja lipat untuk makan. Selesai makan, sampah bisa dibuang di tempat sampah tertutup di laci paling bawah. Nantinya beberapa saat sebelum kereta sampai di tujuan, petugas akan mengumpulkan sampah-sampah penumpang.

Kotak kecil tempat menyimpan barang berharga

TV persis di depan kursi masing-masing penumpang

Tempat sampah ada di dekat kursi

Jika masih merasa lapar atau haus, ruang restorasi juga tersedia seperti di kereta pada umumnya. Namun letaknya cukup jauh karena kita perlu melewati beberapa gerbong eksekutif lebih dulu sebelum mencapai ruang restorasi yang berada hampir di paling ujung kereta. Di ruang restorasi ini dijual aneka camilan dan minuman, juga makanan cepat saji.

Ruang restorasi

Ruang restorasi

Penumpang tidak perlu khawatir dengan toilet yang kotor. Di kereta ini, semua toilet adalah toilet duduk dan sangat diperhatikan kebersihannya, bukan toilet jongkok berbahan alumunium yang biasa ditemui di toilet umum di dalam kereta. Toilet ini berada dalam satu gerbong namun terpisahkan pintu. Jadi bau-bau dari toilet tidak akan tercium sampai gerbong. Sayangnya, tidak ada meja tempat ganti popok di toilet ini. Semoga nanti bisa ditambahkan oleh KAI.

Toilet di Argo Bromo

Sepanjang perjalanan, lampu digelapkan untuk menambah kenyamanan tidur para penumpang. Hanya tersisa lampu di sisi pinggir saja untuk membantu penumpang tetap bisa melihat saat terbangun ingin ke toilet dan lain sebagainya. Zola tidur sangat nyenyak di kereta ini. Untungnya dia tidak begitu peduli dengan goncangan dan suara gesekan rel dengan roda kereta yang sebenarnya bisa mengganggu tidur selama kereta berjalan. Goncangan ini seperti turbulence hebat di pesawat. Bedanya, kami bisa tetap santai tidak perlu khawatir berlebihan, tidak seperti goncangan di pesawat yang selalu membuat deg-degan.

Mudah-mudahan suatu hari goncangan bisa dikurangi, bahkan dihilangkan, dan gerbong kereta bisa lebih kedap dari suara-suara gesekan antara rel dan roda kereta ini. Itu saja kekurangan dari kereta ini dan sepertinya memang membutuhkan teknologi yang lebih canggih lagi untuk mencapainya. Sejauh ini saja, kami sudah salut dengan kemajuan Kereta Api Indonesia. Bravo !

Argo Bromo luxury

 



Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sheika Rauf


Ibu dari si bocah petualang Zola, yang hobi traveling dan menulis. Selama saya masih mampu, saya akan mengajak anak saya melihat dunia ini lebih luas lagi.