Sensasi Bermalam bersama bocah di laut Kepulauan Komodo
Posted by: Annisa Rahmania

Kapal yang berlayar di Kepulauan Komodo

Daerah mana yang ingin sekali kamu kunjungi di Indonesia ? Kalau saya ingin sekali ke Kepulauan Komodo. Beruntung, setelah menunggu bertahun-tahun, perjalanan ke Kepulauan Komodo pun bisa terlaksana. Lalu, apa sih menariknya Kepulauan Komodo ? Di Kepulauan Komodo sudah tentu kita bisa melihat binatang purba Komodo yang sudah terkenal seantero jagat. Pemandangan di Kepulauan Komodo juga ciamik. Namun, bukan hanya itu yang membuat saya kepengen ke Kepulauan Komodo, melainkan pengalaman untuk melakukan live on boat (lob).

Rumah mengapung
Inilah keunikan wisata di Kepulauan Komodo. Selain disuguhi pemandangan gugusan pulau yang indah, di sini kami juga bisa merasakan pengalaman bermalam di rumah mengapung, kapal kayu yang disulap menjadi sebuah rumah mengapung di laut. Karena lokasi antarpulaunya sungguh berjauhan, wisatawan tidak bisa melakukan islands hopping dengan menggunakan kapal nelayan kecil seperti di tempat wisata laut pada umumnya. Di Kepulauan Komodo, kita harus menggunakan kapal kayu besar untuk berkeliling karena jarak antarpulau bisa mencapai 2 jam perjalanan.

Untuk mendukung keperluan wisata, tersedialah kapal kayu yang disulap menjadi tempat akomodasi sekaligus membawa wisatawan berkeliling Kepulauan Komodo. Di kapal ini tersedia dua buah kamar tidur berisi tempat tidur tingkat, lengkap dengan bantal dan selimut. Satu kamar bisa menampung 2-4 orang. Tersedia fasilitas AC di dalam kamar, namun fungsinya tidak terlalu dibutuhkan karena karena angin laut sudah jauh lebih semriwing.

Kamar tidur di dalam kapal

Kamar tidur dilengkapi AC

Untuk toilet, wisatawan tak perlu khawatir karena kondisi toilet sudah sangat layak. Ada dua buah kamar mandi yang dilengkapi WC duduk dan shower. Mandi dan ‘nongkrong’ pun bisa santai.

Meski sempit, toilet dilenkapi WC duduk dan shower

Soal makanan juga tidak perlu risau karena ada dapur lengkap dengan kompor serta perlengkapan memasak hingga bahan-bahan makanan. Jadi, saat jam makan tiba, seorang ABK (anak buah kapal) yang bertugas sebagai koki akan memasakan makanan untuk penumpangnya.

Tentu saja menu yang disajikan bukan menu ala kadarnya, melainkan cukup memenuhi kriteria makanan bergizi, mulai dari nasi, sayur, lauk-pauk berupa ikan atau ayam, hingga buah-buahan. Tersedia juga bahan-bahan pembuat teh dan kopi sehingga setiap kali ingin meminumnya, kita tinggal meraciknya.

Dapur di bagian belakang kapal

Menu bergizi yang disediakan ABK

Bahan-bahan untuk dimasak ini ada yang dibawa dari pelabuhan, ada juga yang langsung diambil dari laut, seperti ikan dan aneka seafood lainnya. Jadi, rasa dagingnya masih segar dan nggak terasa amis. Kata orang “ikan baru mati sekali”, alias tidak membutuhkan waktu lama untuk penyimpanannya. Sebagai orang yang nggak suka seafood, di kapal ini, saya jadi bisa makan ikan dan sebangsanya dengan lahap. Jadi, soal akomodasi, nggak perlu khawatir !

Si kecil dan gelombang
Ini memang bukan pertama kalinya bagi keluarga kami untuk naik kapal. Saat si kecil berusia satu tahun, kami sekeluarga pernah naik kapal ke Kepualauan Seribu dan ke kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Saat si kecil berusia 2 tahun, kami sekeluarga menyeberangi Selat Malaka untuk main ke Malaysia.

Namun, baru kali ini kami sekeluarga menghabiskan malam terombang-ambing di lautan. Rasanya campur aduk ; ada rasa khawatir si kecil akan mabuk laut dan rasa was-was kapal akan mengalami gangguan sehingga terjadi hal yang tak diinginkan.

Beruntung, cuaca juga cukup cerah sehingga kapal bisa berlayar dengan aman. Pada malam hari, kapal merapat ke teluk sehingga gelombang sama sekali tidak terasa. Bukan hanya saya, si kecil pun bisa tidur dengan nyaman. Ia sama sekali tidak mabuk laut.

Meski demikian, ada beberapa saat ketika gelombang terasa kuat, terutama saat kapal melewati selat. Goyangan kapal terasa tidak stabil. Saat itu, saya hanya bisa mendekap si kecil sambil menggunakan babycarrier. Setidaknya, kalau ada hal buruk terjadi, si kecil terus menempel dengan saya.

Alhamdulillah, hingga akhir perjalanan dan sampai kembali ke pelabuhan, pelayaran kami berjalan lancar. Sebagai info saja, beberapa hari setelah pelayaran kami, ada sebuah kapal karam menabrak karang karena kuatnya gelombang. Beruntung tidak ada korban jiwa karena penumpang keburu dibawa ke daratan menggunakan kapal kecil sebelum kapal utama bocor. Hii…ngeri ya membayangkannya ! Petualangan kali ini cukup menegangkan buat kami.

Kapal-kapal yang sedang bersandar

Saya dan si kecil

Seputar lob
Berminat mengajak keluarga merasakan sensasi live on boat ? Ada beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua sebelum mengajak anak-anak bermalam di kapal. Misalnya, tentukan musim berlayar yang aman. Untuk mengetahuinya, kita bisa bertanya langsung dengan pemilik agen tur yang kontaknya beredar di internet.

Pastikan juga semua anggota keluarga dalam keadaan sehat saat berlayar. Maklum, selama pelayaran kita tidak akan bertemu dengan dokter apalagi klinik. Kalau salah satu anggota dalam keadaan tidak fit, kita tentunya tak bisa menikmati petualangan dengan maksimal.

Kalau soal harga, biaya paket lob bergantung dengan jenis kapal dan waktu pelayaran. Ada kapal dengan jenis kabin dan dek. Kapal berjenis kabin contohnya seperti kapal yang saya gunakan—dilengkapi kamar. Sedangkan kapal dek tidak dilengkapi kamar, berarti para penumpang tidur bersama di lantai.

Calon penumpang bisa memilih waktu berlayar dan tujuan wisata. Ada kapal yang berlayar selama 2H1M dan 3H2M dengan titik awal Pelabuhan Bajo dan kembali ke Pelabuhan Bajo, ada juga kapal yang berlayar selama 4H3M dengan titik awal Pelabuhan Bajo dan berakhir di Lombok atau sebaliknya. Tempat wisata yang dikunjungi juga berbeda-beda, tentunya disesuaikan dengan durasi pelayaran. Semakin lama berlayar, semakin banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi. Paling tidak, wisata andalan seperti trekking melihat komodo, berkunjung ke Pantai Pink, dan mendaki bukit di Pulau Padar ada dalam daftar wisata di setiap pelayaran, baik yang 2H1M maupun yang 4H3M.

Pantai Pink

Saya sendiri memilih perjalanan singkat selama dua hari semalam karena membawa si kecil. Bagi saya, bentangan alam di Nusa Tenggara juga setipe. Jadi, pelayaran selama dua hari satu malam saya rasa sudah lebih dari cukup. Karena pergi bersama teman dan keluarga, saya bisa menyewa kapal privat dengan harga per orang lebih murah dibandingkan harga dari agen tur. Harga kapal privat tipe kabin berkisar Rp 7-9 juta dengan kapasitas mencapai 10 orang. Padahal, harga paket lob bagi individu yang bergabung dalam tur mencapai 1,2 juta per orang dengan durasi pelayaran yang sama.

Itulah berbagai hal seputar hidup di rumah mengapung. Sensasinya sungguh membuat jantung terombang-ambing !

Related Links


Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Annisa Rahmania

 

Sensasi Bermalam bersama bocah di laut Kepulauan Komodo
Posted by: Annisa Rahmania

Kapal yang berlayar di Kepulauan Komodo

Daerah mana yang ingin sekali kamu kunjungi di Indonesia ? Kalau saya ingin sekali ke Kepulauan Komodo. Beruntung, setelah menunggu bertahun-tahun, perjalanan ke Kepulauan Komodo pun bisa terlaksana. Lalu, apa sih menariknya Kepulauan Komodo ? Di Kepulauan Komodo sudah tentu kita bisa melihat binatang purba Komodo yang sudah terkenal seantero jagat. Pemandangan di Kepulauan Komodo juga ciamik. Namun, bukan hanya itu yang membuat saya kepengen ke Kepulauan Komodo, melainkan pengalaman untuk melakukan live on boat (lob).

Rumah mengapung
Inilah keunikan wisata di Kepulauan Komodo. Selain disuguhi pemandangan gugusan pulau yang indah, di sini kami juga bisa merasakan pengalaman bermalam di rumah mengapung, kapal kayu yang disulap menjadi sebuah rumah mengapung di laut. Karena lokasi antarpulaunya sungguh berjauhan, wisatawan tidak bisa melakukan islands hopping dengan menggunakan kapal nelayan kecil seperti di tempat wisata laut pada umumnya. Di Kepulauan Komodo, kita harus menggunakan kapal kayu besar untuk berkeliling karena jarak antarpulau bisa mencapai 2 jam perjalanan.

Untuk mendukung keperluan wisata, tersedialah kapal kayu yang disulap menjadi tempat akomodasi sekaligus membawa wisatawan berkeliling Kepulauan Komodo. Di kapal ini tersedia dua buah kamar tidur berisi tempat tidur tingkat, lengkap dengan bantal dan selimut. Satu kamar bisa menampung 2-4 orang. Tersedia fasilitas AC di dalam kamar, namun fungsinya tidak terlalu dibutuhkan karena karena angin laut sudah jauh lebih semriwing.

Kamar tidur di dalam kapal

Kamar tidur dilengkapi AC

Untuk toilet, wisatawan tak perlu khawatir karena kondisi toilet sudah sangat layak. Ada dua buah kamar mandi yang dilengkapi WC duduk dan shower. Mandi dan ‘nongkrong’ pun bisa santai.

Meski sempit, toilet dilenkapi WC duduk dan shower

Soal makanan juga tidak perlu risau karena ada dapur lengkap dengan kompor serta perlengkapan memasak hingga bahan-bahan makanan. Jadi, saat jam makan tiba, seorang ABK (anak buah kapal) yang bertugas sebagai koki akan memasakan makanan untuk penumpangnya.

Tentu saja menu yang disajikan bukan menu ala kadarnya, melainkan cukup memenuhi kriteria makanan bergizi, mulai dari nasi, sayur, lauk-pauk berupa ikan atau ayam, hingga buah-buahan. Tersedia juga bahan-bahan pembuat teh dan kopi sehingga setiap kali ingin meminumnya, kita tinggal meraciknya.

Dapur di bagian belakang kapal

Menu bergizi yang disediakan ABK

Bahan-bahan untuk dimasak ini ada yang dibawa dari pelabuhan, ada juga yang langsung diambil dari laut, seperti ikan dan aneka seafood lainnya. Jadi, rasa dagingnya masih segar dan nggak terasa amis. Kata orang “ikan baru mati sekali”, alias tidak membutuhkan waktu lama untuk penyimpanannya. Sebagai orang yang nggak suka seafood, di kapal ini, saya jadi bisa makan ikan dan sebangsanya dengan lahap. Jadi, soal akomodasi, nggak perlu khawatir !

Si kecil dan gelombang
Ini memang bukan pertama kalinya bagi keluarga kami untuk naik kapal. Saat si kecil berusia satu tahun, kami sekeluarga pernah naik kapal ke Kepualauan Seribu dan ke kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Saat si kecil berusia 2 tahun, kami sekeluarga menyeberangi Selat Malaka untuk main ke Malaysia.

Namun, baru kali ini kami sekeluarga menghabiskan malam terombang-ambing di lautan. Rasanya campur aduk ; ada rasa khawatir si kecil akan mabuk laut dan rasa was-was kapal akan mengalami gangguan sehingga terjadi hal yang tak diinginkan.

Beruntung, cuaca juga cukup cerah sehingga kapal bisa berlayar dengan aman. Pada malam hari, kapal merapat ke teluk sehingga gelombang sama sekali tidak terasa. Bukan hanya saya, si kecil pun bisa tidur dengan nyaman. Ia sama sekali tidak mabuk laut.

Meski demikian, ada beberapa saat ketika gelombang terasa kuat, terutama saat kapal melewati selat. Goyangan kapal terasa tidak stabil. Saat itu, saya hanya bisa mendekap si kecil sambil menggunakan babycarrier. Setidaknya, kalau ada hal buruk terjadi, si kecil terus menempel dengan saya.

Alhamdulillah, hingga akhir perjalanan dan sampai kembali ke pelabuhan, pelayaran kami berjalan lancar. Sebagai info saja, beberapa hari setelah pelayaran kami, ada sebuah kapal karam menabrak karang karena kuatnya gelombang. Beruntung tidak ada korban jiwa karena penumpang keburu dibawa ke daratan menggunakan kapal kecil sebelum kapal utama bocor. Hii…ngeri ya membayangkannya ! Petualangan kali ini cukup menegangkan buat kami.

Kapal-kapal yang sedang bersandar

Saya dan si kecil

Seputar lob
Berminat mengajak keluarga merasakan sensasi live on boat ? Ada beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua sebelum mengajak anak-anak bermalam di kapal. Misalnya, tentukan musim berlayar yang aman. Untuk mengetahuinya, kita bisa bertanya langsung dengan pemilik agen tur yang kontaknya beredar di internet.

Pastikan juga semua anggota keluarga dalam keadaan sehat saat berlayar. Maklum, selama pelayaran kita tidak akan bertemu dengan dokter apalagi klinik. Kalau salah satu anggota dalam keadaan tidak fit, kita tentunya tak bisa menikmati petualangan dengan maksimal.

Kalau soal harga, biaya paket lob bergantung dengan jenis kapal dan waktu pelayaran. Ada kapal dengan jenis kabin dan dek. Kapal berjenis kabin contohnya seperti kapal yang saya gunakan—dilengkapi kamar. Sedangkan kapal dek tidak dilengkapi kamar, berarti para penumpang tidur bersama di lantai.

Calon penumpang bisa memilih waktu berlayar dan tujuan wisata. Ada kapal yang berlayar selama 2H1M dan 3H2M dengan titik awal Pelabuhan Bajo dan kembali ke Pelabuhan Bajo, ada juga kapal yang berlayar selama 4H3M dengan titik awal Pelabuhan Bajo dan berakhir di Lombok atau sebaliknya. Tempat wisata yang dikunjungi juga berbeda-beda, tentunya disesuaikan dengan durasi pelayaran. Semakin lama berlayar, semakin banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi. Paling tidak, wisata andalan seperti trekking melihat komodo, berkunjung ke Pantai Pink, dan mendaki bukit di Pulau Padar ada dalam daftar wisata di setiap pelayaran, baik yang 2H1M maupun yang 4H3M.

Pantai Pink

Saya sendiri memilih perjalanan singkat selama dua hari semalam karena membawa si kecil. Bagi saya, bentangan alam di Nusa Tenggara juga setipe. Jadi, pelayaran selama dua hari satu malam saya rasa sudah lebih dari cukup. Karena pergi bersama teman dan keluarga, saya bisa menyewa kapal privat dengan harga per orang lebih murah dibandingkan harga dari agen tur. Harga kapal privat tipe kabin berkisar Rp 7-9 juta dengan kapasitas mencapai 10 orang. Padahal, harga paket lob bagi individu yang bergabung dalam tur mencapai 1,2 juta per orang dengan durasi pelayaran yang sama.

Itulah berbagai hal seputar hidup di rumah mengapung. Sensasinya sungguh membuat jantung terombang-ambing !

Related Links


Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Annisa Rahmania