Road trip Sumatra pertama kalinya, mengenal budaya kampung leluhur lebih dekat
Posted by: Johanna Sari

Perjalanan ini sebenarnya tidak terlalu matang dalam perencanaannya. Informasi mengenai rute pejalanan darat lintas Sumatra tidak terlalu banyak bisa saya dapat. Bertanya ke beberapa teman juga tidak terlalu banyak memberikan gambaran detail yang bisa saya dapatkan untuk membuat rencana. Info yang bisa saya dapatkan hanya sekedar tips-tips untuk perjalanan keluarga pada umumnya. Tapi cukup membantu karena sejujurnya saya sendiri belum pernah melakukan perjalanan yang cukup panjang dengan keluarga.

Sebelum berangkat saya mempersiapkan cooller box dan ikan kering untuk di perjalanan. Ikan teri kering, kecap dan abon untuk persediaan kalau sulit mendapatkan makanan. Selain itu, galon aqua dan termos penyimpanan air panas untuk minum di perjalanan.

Hari pertama kami memilih untuk berangkat malam hari sekitar pukul 19.00, supaya kami bisa melewati Lahat, daerah Lampung yang rawan, pada siang hari. Tidak terlalu was-was.

Menyeberang dari Jawa ke Sumatra dengan ferry

Beruntungnya, di Merak kami tidak harus mengalami antrian panjang. Hanya perlu menunggu kapal bersandar dan kami langsung masuk antrian menuju kapal. Anak-anak yang masih tidur pun terpaksa kami bangunkan karena harus turun dari mobil dan masuk ke ruang pengunjung. Meskipun begitu, mereka malah merasa senang punya pengalaman naik kapal dan langsung antusias melihat pemandangan laut. Di dalam kapal juga disediakan televisi yang memutar film. Sayangnya, film itu tidak cocok ditonton anak-anak.

Awalnya, kami berencana untuk menginap dulu di Lampung. Tetapi setelah kami tidur sebentar di pom bensin, suami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Tadinya kami ingin menyusuri pantai supaya bisa menikmati pemandangannya. Namun, kami terlanjur salah jalan dan enggan untuk balik lagi. Kami pun meneruskan perjalanan melalui melalui daerah Liwa menuju Krui.

Hari sudah mulai malam namun kami tidak menemukan tempat makan untuk beristirahat. Jalan sangat gelap karena tidak ada lampu penerangan jalan. Pak suami yang menyetir sudah tidak kuasa menahan kantuk. Parkir di depan rumah penduduk pun menjadi pilihan tak terelakan. Giliran saya yang berjaga, berusaha tidak ikut terlelap. Khawatir jika terjadi sesuatu. Sesaat setelah kantuk hilang, kami melanjutkan perjalanan hingga terang dan melewati tanda “Taman Nasional Bukit Barisan”.

Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju Bengkulu. Sepanjang jalan kami bisa menikmati keindahan panorama pantai yang sangat indah. Di Bengkulu, kami memutuskan untuk mencari penginapan dekat pantai. Anak-anak pun puas bermain di sepanjang pantai.

Mesin jahit Bendera Pusaka di rumah Ibu Fatmawati, Bengkulu

Hari kedua di Bengkulu, kami mengunjungi tempat bersejarah yaitu benteng Malbrogh, rumah pengasingan Bung Karno dan rumah tinggal ibu Fatmawati. Kota Bengkulu tidak terlalu luas sehingga tidak perlu waktu lama untuk mengeksplorasinya. Saat itu bulan puasa, kami kesulitan mencari rumah makan yang buka untuk menyantap makan siang. Rencana ingin mencicipi tempoyak pun batal.

Dari Bengkulu, kami menuju Bukit Tinggi, Sumatra Barat. Di sini, kami hanya mengunjungi beberapa tempat, yaitu Jam Gadang dan Benteng Van Der Wijk. Anak-anak merasa senang di Benteng Vander Wijk karena ada beberapa binatang yang bisa dilihat. Kalau saya senang di benteng ini karena bisa melihat kota Bukit Tinggi dari atas.

Jam Gadang Bukit Tinggi

Perjalanan di lanjutkan ke Sumatra Utara. Sepanjang perjalanan antara Sumatra Barat dan Sumatra Utara, kami menemui banyak penjual durian. Tak melewatkan kesempatan itu, kami pun mencicipi durian berukuran sedang, hanya 20.000 rupiah saja. Murah dan rasanya mantapsss !

Di Sumatra Utara lebih mudah menemukan warung makan yang tetap buka pada bulan puasa. Tentunya ini sangat memudahkan kami yang tidak berpuasa. Tujuan utama kami di Sumatra Utara, yakni kota Balige, tempat leluhur saya berasal. Malam itu kami menginap di rumah salah seorang teman lama saya.

Keesokan harinya, saya mengajak anak-anak mengunjungi kampung leluhur. Sudah menjadi kewajiban kami sebagai orang tua untuk mengenalkan tempat asal leluhur kami. Anak-anak pun sangat tertarik melihat rumah panggung yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Mereka memperhatikan rumah adat itu hingga ke celah-celah kayu. Kebetulan saat itu, ada yang sedang menjemur padi hasil panen. Anak-anak dengan senang hati “membantu” (karena hasilnya malah jadi berantakan).

Tujuan berikutnya adalah menyebrang ke Pulau Samosir. Kami berencana menginap di sana. Ternyata, di saat seperti ini (liburan jelang lebaran), untuk menyebrang membutuhkan waktu seharian karena kapal-kapal harus mengantri. Padahal untuk menyeberang nya saja hanya diperlukan waktu sekitar 45 menit. Akhirnya kami pun tiba pada malam hari dan mencari penginapan di daerah Tuk-Tuk. Ada baiknya melakukan reservasi penginapan dulu karena di musim liburan begini semua penginapan sudah fully booked.

Jadwal ferry menuju Pulau Samosir

Hari kedua baru kami bisa menjelajah pulau samosir. Kami mampir ke pertunjukan Si Gale-Gale. Saat itu ada 2 boneka Si Gale-Gale yang menampilkan pertunjukan. Kami diajak menari (manortor) bersama Si Gale-Gale. Disediakan ulos yang bisa digunakan gratis. Menurut kebiasaan, sambil menari kami menyelipkan uang di jari boneka Si Gale-Gale. Uang receh kertas sangat diperlukan di sini.

Setelah itu, kami mengunjungi Makam Raja Sidabutar. Masuk ke sini harus mengenakan ulos yang bisa dipinjam di pintu masuk. Kami didampingi juru kunci yang menceritakan mengenai makam leluhurnya, tentang simbol warna adat batak yaitu merah, hitam, dan putih, juga gambar simbol cicak dan dua pasang buah dada yang selalu menghiasi rumah adat. Dari sini, kami jadi kaya pengetahuan.

Pertunjukan Si Gale-Gale

Setelah dari Samosir, kami menuju Medan untuk mengunjungi keluarga. Tapi kali ini tidak melalui jalur laut, melainkan jalur darat, lewat daerah Tele. Beberapa orang tidak menyarankan melalui  daerah itu karena jalannya sempit dan berliku. Setelah bertanya sana-sini, ternyata tempat tersebut cenderung aman dilalui jika hari masih terang. Benar saja ! Pemandangan sangat indah dengan udara sejuk menjadi bonus kali ini.

Kami singgah di daerah Panatapan, Tele. Kita bisa masuk dan naik ke menara pandang untuk melihat Pulau Samosir dan Danau Toba dari atas. Inilah akhir dari wisata road trip kami di Sumatra, sebelum beranjak ke Jakarta. Tidak ada lagi tempat yang kami singgahi dalam perjalanan pulang. Namun kami sempat menikmati buah nanas dan durian di daerah Lampung. Nanasnya sangat manis dan enak buat saya yang bukan penikmat buah nanas. Sementara duriannya lebih enak daripada durian yang kami beli dalam perjalanan dari Sumatra Barat ke Sumatra Utara.

Inilah tips ala saya, belajar dari perjalanan kami kali ini :

  1. Kami tidak harus menginap di hotel. Pom Bensin kami jadikan tempat peristirahatan. Jok belakang mobil kami lepas 1 baris dan diganti kasur, sehingga anak-anak bisa tidur dengan nyaman. Kadang saat istirahat pun orang tua bisa cukup nyaman tidur di sini.
  2. Untuk daerah lintas barat sebaiknya membawa ikan kering (seperti rendang, abon atau ikan teri)  dan nasi untuk bekal satu kali makan, karena agak sulit menemukan tempat makan di daerah sini. Tidak perlu membawa terlalu banyak, apalagi untuk makanan mudah busuk. Untuk daerah lintas Timur tidak perlu khawatir karena banyak tersedia tempat makan dan mini market.


Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Johanna Sari

 

Road trip Sumatra pertama kalinya, mengenal budaya kampung leluhur lebih dekat
Posted by: Johanna Sari

Perjalanan ini sebenarnya tidak terlalu matang dalam perencanaannya. Informasi mengenai rute pejalanan darat lintas Sumatra tidak terlalu banyak bisa saya dapat. Bertanya ke beberapa teman juga tidak terlalu banyak memberikan gambaran detail yang bisa saya dapatkan untuk membuat rencana. Info yang bisa saya dapatkan hanya sekedar tips-tips untuk perjalanan keluarga pada umumnya. Tapi cukup membantu karena sejujurnya saya sendiri belum pernah melakukan perjalanan yang cukup panjang dengan keluarga.

Sebelum berangkat saya mempersiapkan cooller box dan ikan kering untuk di perjalanan. Ikan teri kering, kecap dan abon untuk persediaan kalau sulit mendapatkan makanan. Selain itu, galon aqua dan termos penyimpanan air panas untuk minum di perjalanan.

Hari pertama kami memilih untuk berangkat malam hari sekitar pukul 19.00, supaya kami bisa melewati Lahat, daerah Lampung yang rawan, pada siang hari. Tidak terlalu was-was.

Menyeberang dari Jawa ke Sumatra dengan ferry

Beruntungnya, di Merak kami tidak harus mengalami antrian panjang. Hanya perlu menunggu kapal bersandar dan kami langsung masuk antrian menuju kapal. Anak-anak yang masih tidur pun terpaksa kami bangunkan karena harus turun dari mobil dan masuk ke ruang pengunjung. Meskipun begitu, mereka malah merasa senang punya pengalaman naik kapal dan langsung antusias melihat pemandangan laut. Di dalam kapal juga disediakan televisi yang memutar film. Sayangnya, film itu tidak cocok ditonton anak-anak.

Awalnya, kami berencana untuk menginap dulu di Lampung. Tetapi setelah kami tidur sebentar di pom bensin, suami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Tadinya kami ingin menyusuri pantai supaya bisa menikmati pemandangannya. Namun, kami terlanjur salah jalan dan enggan untuk balik lagi. Kami pun meneruskan perjalanan melalui melalui daerah Liwa menuju Krui.

Hari sudah mulai malam namun kami tidak menemukan tempat makan untuk beristirahat. Jalan sangat gelap karena tidak ada lampu penerangan jalan. Pak suami yang menyetir sudah tidak kuasa menahan kantuk. Parkir di depan rumah penduduk pun menjadi pilihan tak terelakan. Giliran saya yang berjaga, berusaha tidak ikut terlelap. Khawatir jika terjadi sesuatu. Sesaat setelah kantuk hilang, kami melanjutkan perjalanan hingga terang dan melewati tanda “Taman Nasional Bukit Barisan”.

Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju Bengkulu. Sepanjang jalan kami bisa menikmati keindahan panorama pantai yang sangat indah. Di Bengkulu, kami memutuskan untuk mencari penginapan dekat pantai. Anak-anak pun puas bermain di sepanjang pantai.

Mesin jahit Bendera Pusaka di rumah Ibu Fatmawati, Bengkulu

Hari kedua di Bengkulu, kami mengunjungi tempat bersejarah yaitu benteng Malbrogh, rumah pengasingan Bung Karno dan rumah tinggal ibu Fatmawati. Kota Bengkulu tidak terlalu luas sehingga tidak perlu waktu lama untuk mengeksplorasinya. Saat itu bulan puasa, kami kesulitan mencari rumah makan yang buka untuk menyantap makan siang. Rencana ingin mencicipi tempoyak pun batal.

Dari Bengkulu, kami menuju Bukit Tinggi, Sumatra Barat. Di sini, kami hanya mengunjungi beberapa tempat, yaitu Jam Gadang dan Benteng Van Der Wijk. Anak-anak merasa senang di Benteng Vander Wijk karena ada beberapa binatang yang bisa dilihat. Kalau saya senang di benteng ini karena bisa melihat kota Bukit Tinggi dari atas.

Jam Gadang Bukit Tinggi

Perjalanan di lanjutkan ke Sumatra Utara. Sepanjang perjalanan antara Sumatra Barat dan Sumatra Utara, kami menemui banyak penjual durian. Tak melewatkan kesempatan itu, kami pun mencicipi durian berukuran sedang, hanya 20.000 rupiah saja. Murah dan rasanya mantapsss !

Di Sumatra Utara lebih mudah menemukan warung makan yang tetap buka pada bulan puasa. Tentunya ini sangat memudahkan kami yang tidak berpuasa. Tujuan utama kami di Sumatra Utara, yakni kota Balige, tempat leluhur saya berasal. Malam itu kami menginap di rumah salah seorang teman lama saya.

Keesokan harinya, saya mengajak anak-anak mengunjungi kampung leluhur. Sudah menjadi kewajiban kami sebagai orang tua untuk mengenalkan tempat asal leluhur kami. Anak-anak pun sangat tertarik melihat rumah panggung yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Mereka memperhatikan rumah adat itu hingga ke celah-celah kayu. Kebetulan saat itu, ada yang sedang menjemur padi hasil panen. Anak-anak dengan senang hati “membantu” (karena hasilnya malah jadi berantakan).

Tujuan berikutnya adalah menyebrang ke Pulau Samosir. Kami berencana menginap di sana. Ternyata, di saat seperti ini (liburan jelang lebaran), untuk menyebrang membutuhkan waktu seharian karena kapal-kapal harus mengantri. Padahal untuk menyeberang nya saja hanya diperlukan waktu sekitar 45 menit. Akhirnya kami pun tiba pada malam hari dan mencari penginapan di daerah Tuk-Tuk. Ada baiknya melakukan reservasi penginapan dulu karena di musim liburan begini semua penginapan sudah fully booked.

Jadwal ferry menuju Pulau Samosir

Hari kedua baru kami bisa menjelajah pulau samosir. Kami mampir ke pertunjukan Si Gale-Gale. Saat itu ada 2 boneka Si Gale-Gale yang menampilkan pertunjukan. Kami diajak menari (manortor) bersama Si Gale-Gale. Disediakan ulos yang bisa digunakan gratis. Menurut kebiasaan, sambil menari kami menyelipkan uang di jari boneka Si Gale-Gale. Uang receh kertas sangat diperlukan di sini.

Setelah itu, kami mengunjungi Makam Raja Sidabutar. Masuk ke sini harus mengenakan ulos yang bisa dipinjam di pintu masuk. Kami didampingi juru kunci yang menceritakan mengenai makam leluhurnya, tentang simbol warna adat batak yaitu merah, hitam, dan putih, juga gambar simbol cicak dan dua pasang buah dada yang selalu menghiasi rumah adat. Dari sini, kami jadi kaya pengetahuan.

Pertunjukan Si Gale-Gale

Setelah dari Samosir, kami menuju Medan untuk mengunjungi keluarga. Tapi kali ini tidak melalui jalur laut, melainkan jalur darat, lewat daerah Tele. Beberapa orang tidak menyarankan melalui  daerah itu karena jalannya sempit dan berliku. Setelah bertanya sana-sini, ternyata tempat tersebut cenderung aman dilalui jika hari masih terang. Benar saja ! Pemandangan sangat indah dengan udara sejuk menjadi bonus kali ini.

Kami singgah di daerah Panatapan, Tele. Kita bisa masuk dan naik ke menara pandang untuk melihat Pulau Samosir dan Danau Toba dari atas. Inilah akhir dari wisata road trip kami di Sumatra, sebelum beranjak ke Jakarta. Tidak ada lagi tempat yang kami singgahi dalam perjalanan pulang. Namun kami sempat menikmati buah nanas dan durian di daerah Lampung. Nanasnya sangat manis dan enak buat saya yang bukan penikmat buah nanas. Sementara duriannya lebih enak daripada durian yang kami beli dalam perjalanan dari Sumatra Barat ke Sumatra Utara.

Inilah tips ala saya, belajar dari perjalanan kami kali ini :

  1. Kami tidak harus menginap di hotel. Pom Bensin kami jadikan tempat peristirahatan. Jok belakang mobil kami lepas 1 baris dan diganti kasur, sehingga anak-anak bisa tidur dengan nyaman. Kadang saat istirahat pun orang tua bisa cukup nyaman tidur di sini.
  2. Untuk daerah lintas barat sebaiknya membawa ikan kering (seperti rendang, abon atau ikan teri)  dan nasi untuk bekal satu kali makan, karena agak sulit menemukan tempat makan di daerah sini. Tidak perlu membawa terlalu banyak, apalagi untuk makanan mudah busuk. Untuk daerah lintas Timur tidak perlu khawatir karena banyak tersedia tempat makan dan mini market.


Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Johanna Sari