Pengalaman Traveling ke Bromo Bersama Anak
Posted by: Indah Puji Ilmi

Sejak lama saya sering melihat Bromo yang keren lewat foto atau youtube. Pingin rasanya melihat langsung matahari terbit, berada di  padang pasir, naik kuda,  dan penasaran ingin merasakan dinginnya yang menurut cerita menusuk tulang. Maka awal tahun 2019 saya sekeluarga, suami (Yasir) dan kedua anak saya Alvah (14) dan  Fazha (17),  memutuskan liburan di Bromo yang katanya  perlu nyali  untuk  menikmatintya.

Kami memutuskan perjalanan dengan mobil, sekalian mencoba jalur lintas tol trans Jawa yang baru diresmikan.  Waktu tempuh dari Kuningan Jawa Barat, tempat saya tinggal, diperkirakan  7 hingga 8 jam.  Ternyata perjalanan tidak terasa melelahkan karena di kiri dan kanan jalan tol kami disuguhi pemandangan yang menawan. Saat  melewati tol Semarang-Bawen-Salatiga saya ternganga menyaksikan kombinasi ngarai hijau, Gunung Merpati dan Merbabu.

Dan saat perut lapar kami berhenti  di rest area, menikmati  bekal  buatan Ibu yang juga ikut dengan kami, berupa nasi uduk, ayam goreng, tahu,  tempe, lalapan, dan sambal. Yummm.

Menjelang Mojokerto, Jawa Timur, kami dag-dig-dug karena bahan bakar semakin menipis. Salah kami tidak mengisi bahan bakar penuh karena mengira akan mudah menemukan SPBU di jalan tol yang  ternyata belum semua rest area ada SPBU-nya. Akhirnya kami memutuskan keluar tol untuk mengisi bahan bakar.  Kami lega ketika  petugas tol mengatakan SPBU hanya berjarak 5 menit saja.

Ahamdulliah   anak – anak  menikmati perjalanan yang lumayan panjang tanpa rewel.  Untuk  mengusir  bosan sepanjang jalan kami memutar musik kesukaan. Sesekali kami bernyanyi bersama, terutama jika  ada lagu yang kami hapal dengan baik. Cape bernyanyi kami  menikmati makanan ringan dan  teh  hangat yang dibawa dari rumah.

Sore hari kami tiba di  Gets Hotel,  Malang yang kami pesan 1 minggu sebelumnya. Oh, ya,  untuk memudahkan mengeksplor  Bromo kami juga menggunakan biro perjalanan  yang kami peroleh melalui browsing di internet. Setelah membaca review dan harga yang ditawarkan kami  memutuskan menggunakan Nusantartrip Travel dengan paket Trip Bromo Midnight.

Baru tidur beberapa jam,  kami harus bangun karena  dijemput petugas dari biro perjalanan  pukul 12 malam. Untungnya anak-anak tidak sulit dibangunkan dan diminta untuk siap-siap. Kami memang menjelaskan kepada mereka bahwa perjalanan akan dimulai pukul 12, jadi mereka harus tidur sore dan siap dibangunkan. Sebelum tidur masing-masing sudah siap dengan pakaian yang akan dipakai guna melindungi diri dari udara dingin,.

Kami sungguh lupa meminta hotel menyiapkan sarapan yang bisa kami bawa seperti yang disarankan beberapa teman.

Jip Off Road Tunggangan Kami Di Bromo

Di tengah keheningan kota Malang mobil yang kami tumpangi meluncur menuju ke Bromo. Dua jam kemudian kami  tiba di rest area  untuk berganti kendaraan berupa  jeep off road.

Pukul 2 pagi, udara dengan temperatur 15 derajat celsius benar-benar menusuk tulang. Untung tubuh kami dari kepala hingga kaki sudah ‘dibungkus’ hangat.

Ini adalah  pengalaman pertama kami  menggunakan jip off road  menembus kabut dan angin kencang untuk mengejar  matahari terbit  di Bukit Cinta. Sayangnya kami tidak bisa melihat  matahari terbit dengan sempurna karena  tertutup kabut tebal. Setelah puas mengabadikan momen-momen cantik   kami  sarapan di warung yang banyak berjejer di Bukit Cinta yang menawarkan jagung bakar, roti bakar, pop mi , dan  bermacam gorengan yang cukup untuk mengganjal perut sebelum memulai petualangan lain karena Bromo bukan hanya menyuguhkan matahari terbit.

Kekecewaan kami terbayar, karena perjalanan selanjutnya disuguhi pemandangan unik berupa hamparan pasir, Gunung Bromo, Gunung Batok dan  Pura Luhur Poten.

Pagi itu, kami  berpapasan dengan Masyarakat Tengger yang akan melakukan acara adat ritul tolak bala dalam perjalanan menuju kawah Bromo. Hampir  90 persen masyarakat Tengger menganut   Agama Hindu.

Alva kemudian dengan gagahnya meminta keliling Gunung Batok naik kuda dengan sewa Rp.150 ribu. Tak terasa, sudah satu jam kami ‘bermain di sekitar kaki Gunung Bromo.

Selanjutnya kami diajak ke Bukit Teletabis, melewatu  savana yang dipenuhi ilalang putih seperti kapas yang menari nari centil ditiup angin.  Kami berteriak  kaget lalu tertawa berderai ketika  jeep yang kami  tumpangi melewati  jalanan berlubang, yang menimbulkan goyangan cukup kencang. Tapi pak supir mengemudikan jip dengan terampil membuat kami tenang.

Woww…Kami berteriak serempak ketika tiba di  Bukit Teletabies. Rasanya seperti di  negeri dongeng, bukit, tebing, rumput hijau dan langit yang sungguh biru. Keren abis. Anak-anak berlarian riang.

Penampakan Tebing di Bukit Teletabis

Dalam perjalanan pulang, kami mampir di Padang Pasir berbisik yang katanya merupakan tempat syuting film Pasir Berbisik. Sejauh mata melihat pasir hitam yang ada. Terasa hangat saat duduk atau berbaring di atasnya. Namun kala angin bertiup   pasir pun  berterbangan. Brrrr, kami pun menggigil kedinginan.

Saat matahari semakin meninggi, perjalanan kami di Bromo berakhir dan kami kembali ke rest area tempat mobil kami diparkir.  Kami terkejut melihat kanan-kiri jalan ternyata jurang yang sebelumnya tidak kelihatan karena pagi masih gelap. Namun mata kami terhibur menyaksikan terasering  kebun sayuran sepertki kentang, daun bawang, kubis dan wortel.  Dan ‘kejutan’ masih berlanjut ketika dalam perjalanan kembali ke hotel kami menyaksikan pohon apel yang ditanam penduduk di pekaranganruma  tengah berbuat lebat.

Alhamdilillah, akhirnya saya bisa menikmati Bromo sesungguhnya, tidak hanya melihatnya di foto atau di youtube. Bersyukur luar biasa karena bisa menikmatinya bersama, suami, anak-anak, dan Ibu tercinta.

Dari pengalaman saya sebelum berangkat sebaiknya lakukan ini:
1. Pesan hotel dan biro perjalanan  sebelum keberangkatan untuk menghindari full booking
2. Memesan agen perjalanan profesional
3. Jika menggunakan mobil isi bahan bakar penuh tidak di semua rest area tol trans Jawa tersedia SPBU
4. Isi E-Tol minimal 600 ribu sekali perjalanan
5. Persiapkan bekal makanan dan minuman yang cukup
6. Siapkan  jaket, sarung tangan, topi hangat,  dan kaos kaki.

 Biaya dari Kuningan Jawa Barat
1. Tol PP Rp. 1000.000
2. Bahan Bakar (Pertalite) Rp. 1000.000
3. Biro perjalanan  (Trip Bromo Night) Rp. 350.000/org/max 6 org (4 Destinasi)
4. Hotel (relative)



Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Indah Puji Ilmi

 

Pengalaman Traveling ke Bromo Bersama Anak
Posted by: Indah Puji Ilmi

Sejak lama saya sering melihat Bromo yang keren lewat foto atau youtube. Pingin rasanya melihat langsung matahari terbit, berada di  padang pasir, naik kuda,  dan penasaran ingin merasakan dinginnya yang menurut cerita menusuk tulang. Maka awal tahun 2019 saya sekeluarga, suami (Yasir) dan kedua anak saya Alvah (14) dan  Fazha (17),  memutuskan liburan di Bromo yang katanya  perlu nyali  untuk  menikmatintya.

Kami memutuskan perjalanan dengan mobil, sekalian mencoba jalur lintas tol trans Jawa yang baru diresmikan.  Waktu tempuh dari Kuningan Jawa Barat, tempat saya tinggal, diperkirakan  7 hingga 8 jam.  Ternyata perjalanan tidak terasa melelahkan karena di kiri dan kanan jalan tol kami disuguhi pemandangan yang menawan. Saat  melewati tol Semarang-Bawen-Salatiga saya ternganga menyaksikan kombinasi ngarai hijau, Gunung Merpati dan Merbabu.

Dan saat perut lapar kami berhenti  di rest area, menikmati  bekal  buatan Ibu yang juga ikut dengan kami, berupa nasi uduk, ayam goreng, tahu,  tempe, lalapan, dan sambal. Yummm.

Menjelang Mojokerto, Jawa Timur, kami dag-dig-dug karena bahan bakar semakin menipis. Salah kami tidak mengisi bahan bakar penuh karena mengira akan mudah menemukan SPBU di jalan tol yang  ternyata belum semua rest area ada SPBU-nya. Akhirnya kami memutuskan keluar tol untuk mengisi bahan bakar.  Kami lega ketika  petugas tol mengatakan SPBU hanya berjarak 5 menit saja.

Ahamdulliah   anak – anak  menikmati perjalanan yang lumayan panjang tanpa rewel.  Untuk  mengusir  bosan sepanjang jalan kami memutar musik kesukaan. Sesekali kami bernyanyi bersama, terutama jika  ada lagu yang kami hapal dengan baik. Cape bernyanyi kami  menikmati makanan ringan dan  teh  hangat yang dibawa dari rumah.

Sore hari kami tiba di  Gets Hotel,  Malang yang kami pesan 1 minggu sebelumnya. Oh, ya,  untuk memudahkan mengeksplor  Bromo kami juga menggunakan biro perjalanan  yang kami peroleh melalui browsing di internet. Setelah membaca review dan harga yang ditawarkan kami  memutuskan menggunakan Nusantartrip Travel dengan paket Trip Bromo Midnight.

Baru tidur beberapa jam,  kami harus bangun karena  dijemput petugas dari biro perjalanan  pukul 12 malam. Untungnya anak-anak tidak sulit dibangunkan dan diminta untuk siap-siap. Kami memang menjelaskan kepada mereka bahwa perjalanan akan dimulai pukul 12, jadi mereka harus tidur sore dan siap dibangunkan. Sebelum tidur masing-masing sudah siap dengan pakaian yang akan dipakai guna melindungi diri dari udara dingin,.

Kami sungguh lupa meminta hotel menyiapkan sarapan yang bisa kami bawa seperti yang disarankan beberapa teman.

Jip Off Road Tunggangan Kami Di Bromo

Di tengah keheningan kota Malang mobil yang kami tumpangi meluncur menuju ke Bromo. Dua jam kemudian kami  tiba di rest area  untuk berganti kendaraan berupa  jeep off road.

Pukul 2 pagi, udara dengan temperatur 15 derajat celsius benar-benar menusuk tulang. Untung tubuh kami dari kepala hingga kaki sudah ‘dibungkus’ hangat.

Ini adalah  pengalaman pertama kami  menggunakan jip off road  menembus kabut dan angin kencang untuk mengejar  matahari terbit  di Bukit Cinta. Sayangnya kami tidak bisa melihat  matahari terbit dengan sempurna karena  tertutup kabut tebal. Setelah puas mengabadikan momen-momen cantik   kami  sarapan di warung yang banyak berjejer di Bukit Cinta yang menawarkan jagung bakar, roti bakar, pop mi , dan  bermacam gorengan yang cukup untuk mengganjal perut sebelum memulai petualangan lain karena Bromo bukan hanya menyuguhkan matahari terbit.

Kekecewaan kami terbayar, karena perjalanan selanjutnya disuguhi pemandangan unik berupa hamparan pasir, Gunung Bromo, Gunung Batok dan  Pura Luhur Poten.

Pagi itu, kami  berpapasan dengan Masyarakat Tengger yang akan melakukan acara adat ritul tolak bala dalam perjalanan menuju kawah Bromo. Hampir  90 persen masyarakat Tengger menganut   Agama Hindu.

Alva kemudian dengan gagahnya meminta keliling Gunung Batok naik kuda dengan sewa Rp.150 ribu. Tak terasa, sudah satu jam kami ‘bermain di sekitar kaki Gunung Bromo.

Selanjutnya kami diajak ke Bukit Teletabis, melewatu  savana yang dipenuhi ilalang putih seperti kapas yang menari nari centil ditiup angin.  Kami berteriak  kaget lalu tertawa berderai ketika  jeep yang kami  tumpangi melewati  jalanan berlubang, yang menimbulkan goyangan cukup kencang. Tapi pak supir mengemudikan jip dengan terampil membuat kami tenang.

Woww…Kami berteriak serempak ketika tiba di  Bukit Teletabies. Rasanya seperti di  negeri dongeng, bukit, tebing, rumput hijau dan langit yang sungguh biru. Keren abis. Anak-anak berlarian riang.

Penampakan Tebing di Bukit Teletabis

Dalam perjalanan pulang, kami mampir di Padang Pasir berbisik yang katanya merupakan tempat syuting film Pasir Berbisik. Sejauh mata melihat pasir hitam yang ada. Terasa hangat saat duduk atau berbaring di atasnya. Namun kala angin bertiup   pasir pun  berterbangan. Brrrr, kami pun menggigil kedinginan.

Saat matahari semakin meninggi, perjalanan kami di Bromo berakhir dan kami kembali ke rest area tempat mobil kami diparkir.  Kami terkejut melihat kanan-kiri jalan ternyata jurang yang sebelumnya tidak kelihatan karena pagi masih gelap. Namun mata kami terhibur menyaksikan terasering  kebun sayuran sepertki kentang, daun bawang, kubis dan wortel.  Dan ‘kejutan’ masih berlanjut ketika dalam perjalanan kembali ke hotel kami menyaksikan pohon apel yang ditanam penduduk di pekaranganruma  tengah berbuat lebat.

Alhamdilillah, akhirnya saya bisa menikmati Bromo sesungguhnya, tidak hanya melihatnya di foto atau di youtube. Bersyukur luar biasa karena bisa menikmatinya bersama, suami, anak-anak, dan Ibu tercinta.

Dari pengalaman saya sebelum berangkat sebaiknya lakukan ini:
1. Pesan hotel dan biro perjalanan  sebelum keberangkatan untuk menghindari full booking
2. Memesan agen perjalanan profesional
3. Jika menggunakan mobil isi bahan bakar penuh tidak di semua rest area tol trans Jawa tersedia SPBU
4. Isi E-Tol minimal 600 ribu sekali perjalanan
5. Persiapkan bekal makanan dan minuman yang cukup
6. Siapkan  jaket, sarung tangan, topi hangat,  dan kaos kaki.

 Biaya dari Kuningan Jawa Barat
1. Tol PP Rp. 1000.000
2. Bahan Bakar (Pertalite) Rp. 1000.000
3. Biro perjalanan  (Trip Bromo Night) Rp. 350.000/org/max 6 org (4 Destinasi)
4. Hotel (relative)



Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Indah Puji Ilmi