Pengalaman Melepas Anak Terbang Sendirian ke Luar Negeri
Posted by: Eira Aurelia`

Kami bangga  ketika anak sulung kami, Raffa, diminta  mewakili sekolahnya untuk presentasi 3D modelling di acara GESS (Global Education Supply and Solution) Indonesia. Sementara pada tanggal itu  kami sudah membeli tiket ke Kuala Lumpur.  Agar tiket tak hangus,  kami  melepas Raffa, 12 tahun menyusul, terbang sendirian.

Ceritanya kami sudah  membeli  tiket pesawat ke Kuala Lumpur, tanggal 18 September, yang sudah dibeli sejak Desember 2018. Harga tiketnnya yang didapat secara tidak sengaja itu  murah, 380 ribu saja PP Jakarta – Kuala Lumpur! Sementara jadwal presentasi Raffa, tanggal 20 September.

Kami pun memutar otak agar tiket tidak hangus,  meski kami juga pernah beberapa kali menghanguskan tiket. Di antaranya karena anak sakit atau suami tidak bisa cuti.

Akhirnya, kami memutuskan, kami bertiga tetap berangkat. Sementara Raffa menyusul setelah urusan GESS  selesai. Tidak apa satu tiket hangus, daripada hangus semuanya. Hitung-hitung juga memberi  Raffa pengalaman  naik pesawat sendiri. Tentu saja saya deg-degan. Tapi  ini satu-satunya jalan agar Raffa  bisa presentasi di acara GESS dan tetap bisa menyusul traveling bersama kami.

Saya yakin, Raffa, yang biasa kami sapa Abang Raffa, akan banyak belajar dari perjalanan tersebut.

Hari itu pun tiba. Saya sengaja memilih pesawat Air Asia (AA)  karena kami  juga memakai AA. Juga untuk berjaga-jaga kalau ada apa-apa,  lebih mudah melacak kronologisnya. Alasan lainnya,  peraturan di maskapai penerbagan ini mengurangi  kekhawatiran saya karena anak usia 12-16 tahun yang terbang sendiri tetap akan ditemani oleh staf AA, dari imigrasi menuju boarding gate,  tempat menunggu masuk pesawat.

Untung usia anak saya sudah 12 tahun, karena kalau lebih kecil dari itu, anak saya tidak boleh boarding sendirian, harus ada orang dewasa yang menemaninya. Itu berarti saya harus membeli dua tiket, satu untuk Raffa dan satu lagi untuk orang dewasa yang menemani. Karena Raffa  berusia 12,5 tahun, saya hanya perlu membeli satu tiket!

Seminggu sebelum keberangkatan, saya mendatangi  bagian check in AA di bandara dan mengonfirmasi keberangkatan Raffa yang akan terbang sendiri. Prosedurnya tidak sulit,. Salah satunya anak wajib diantar orang dewasa sampai pintu imigrasi dan orang dewasa tersebut harus mengisi dan menandatangani Formulir Pelepasan Anak dan menuliskan nomor kontak orang tua yang akan menjemput di bandara tujuan.

Saya persiapkan segalanya serapi mungkin agar semua berjalan lancar dan Raffa  tidak bingung nantinya. Saya  kirimi ia foto-foto tempat check in, pintu imigrasi, dan bagian-bagian penting yang harus ia lewati di bandara. Saya juga briefing asisten yang akan mengantarnya  ke bandara. Ketika kami bertiga berangkat duluan, saya juga menginformasikan petugas check in bahwa 1 anggota keluarga saya akan menyusul dua hari kemudian, seorang diri.

Saat hari H tiba, begitu selesai acara GESS di JCC, Raffa  diantar asisten sampai bandara.  Ia melakukan check in didampingi asisten saya. Namun  di bandara Jakarta, Raffa  ternyata tidak  didampingi staf AA dari imigrasi  hingga  ruang tunggu. Baru setiba  di Kuala Lumpur,  Raffa  didampingi staf AA  dari keluar pintu pesawat hingga di pintu penjemputan untuk bertemu kami kembali.

Selama perjalanan, saya tetap memantau via telepon, dari mulai masuk check in sampai boarding, baik dengan asisten  yang mengantar dan Raffa sendiri. Saya kecewa dengan ground staff AA  di Jakarta,  karena tidak mendampingi Raffa sampai ruang tunggu. Bahkan menurut cerita pengantar Raffa, saat di imigrasi, Raffa ditanya mau ke mana, kenapa sendiri, tujuannya apa.

Meski saya sudah bekali dengan surat kuasa dan mengirimkan foto tiket pulang dari Kuala Lumpur ke Jakarta malalui whatsapp, tapi Raffa sempat dicurigai bagian dari perdagangan orang. Syukur akhirnya imigrasi berhasil  ia lewati.

Selama di pesawat, Raffa sudah saya bekali uang ringgit Malaysia supaya ia bisa membeli makanan dan minuman di pesawat. Sayangnya, Raffa tidak foto-foto sama sekali selama di dalam pesawat. Mungkin ia sungkan dengan penumpang di sebelahnya atau malas karena nanti mamanya akan posting fotonya di instagram. Haha…

Hati saya kembali plong ketika melihat buah hati tersayang  berjalan ditemani staf AA,  di pintu penjemputan Kuala Lumpur International Airport. Saya lega akhirnya semuanya berjalan dengan lancar. Raffa pun  mendapat  pengalaman terbang sendiri. Kami berempat pun berkumpul kembali lengkap dan siap mengeksplor Kuala Lumpur dan Melaka.

Raffa, kamu hebat!

Related Links


Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Eira Aurelia`

 

Pengalaman Melepas Anak Terbang Sendirian ke Luar Negeri
Posted by: Eira Aurelia`

Kami bangga  ketika anak sulung kami, Raffa, diminta  mewakili sekolahnya untuk presentasi 3D modelling di acara GESS (Global Education Supply and Solution) Indonesia. Sementara pada tanggal itu  kami sudah membeli tiket ke Kuala Lumpur.  Agar tiket tak hangus,  kami  melepas Raffa, 12 tahun menyusul, terbang sendirian.

Ceritanya kami sudah  membeli  tiket pesawat ke Kuala Lumpur, tanggal 18 September, yang sudah dibeli sejak Desember 2018. Harga tiketnnya yang didapat secara tidak sengaja itu  murah, 380 ribu saja PP Jakarta – Kuala Lumpur! Sementara jadwal presentasi Raffa, tanggal 20 September.

Kami pun memutar otak agar tiket tidak hangus,  meski kami juga pernah beberapa kali menghanguskan tiket. Di antaranya karena anak sakit atau suami tidak bisa cuti.

Akhirnya, kami memutuskan, kami bertiga tetap berangkat. Sementara Raffa menyusul setelah urusan GESS  selesai. Tidak apa satu tiket hangus, daripada hangus semuanya. Hitung-hitung juga memberi  Raffa pengalaman  naik pesawat sendiri. Tentu saja saya deg-degan. Tapi  ini satu-satunya jalan agar Raffa  bisa presentasi di acara GESS dan tetap bisa menyusul traveling bersama kami.

Saya yakin, Raffa, yang biasa kami sapa Abang Raffa, akan banyak belajar dari perjalanan tersebut.

Hari itu pun tiba. Saya sengaja memilih pesawat Air Asia (AA)  karena kami  juga memakai AA. Juga untuk berjaga-jaga kalau ada apa-apa,  lebih mudah melacak kronologisnya. Alasan lainnya,  peraturan di maskapai penerbagan ini mengurangi  kekhawatiran saya karena anak usia 12-16 tahun yang terbang sendiri tetap akan ditemani oleh staf AA, dari imigrasi menuju boarding gate,  tempat menunggu masuk pesawat.

Untung usia anak saya sudah 12 tahun, karena kalau lebih kecil dari itu, anak saya tidak boleh boarding sendirian, harus ada orang dewasa yang menemaninya. Itu berarti saya harus membeli dua tiket, satu untuk Raffa dan satu lagi untuk orang dewasa yang menemani. Karena Raffa  berusia 12,5 tahun, saya hanya perlu membeli satu tiket!

Seminggu sebelum keberangkatan, saya mendatangi  bagian check in AA di bandara dan mengonfirmasi keberangkatan Raffa yang akan terbang sendiri. Prosedurnya tidak sulit,. Salah satunya anak wajib diantar orang dewasa sampai pintu imigrasi dan orang dewasa tersebut harus mengisi dan menandatangani Formulir Pelepasan Anak dan menuliskan nomor kontak orang tua yang akan menjemput di bandara tujuan.

Saya persiapkan segalanya serapi mungkin agar semua berjalan lancar dan Raffa  tidak bingung nantinya. Saya  kirimi ia foto-foto tempat check in, pintu imigrasi, dan bagian-bagian penting yang harus ia lewati di bandara. Saya juga briefing asisten yang akan mengantarnya  ke bandara. Ketika kami bertiga berangkat duluan, saya juga menginformasikan petugas check in bahwa 1 anggota keluarga saya akan menyusul dua hari kemudian, seorang diri.

Saat hari H tiba, begitu selesai acara GESS di JCC, Raffa  diantar asisten sampai bandara.  Ia melakukan check in didampingi asisten saya. Namun  di bandara Jakarta, Raffa  ternyata tidak  didampingi staf AA dari imigrasi  hingga  ruang tunggu. Baru setiba  di Kuala Lumpur,  Raffa  didampingi staf AA  dari keluar pintu pesawat hingga di pintu penjemputan untuk bertemu kami kembali.

Selama perjalanan, saya tetap memantau via telepon, dari mulai masuk check in sampai boarding, baik dengan asisten  yang mengantar dan Raffa sendiri. Saya kecewa dengan ground staff AA  di Jakarta,  karena tidak mendampingi Raffa sampai ruang tunggu. Bahkan menurut cerita pengantar Raffa, saat di imigrasi, Raffa ditanya mau ke mana, kenapa sendiri, tujuannya apa.

Meski saya sudah bekali dengan surat kuasa dan mengirimkan foto tiket pulang dari Kuala Lumpur ke Jakarta malalui whatsapp, tapi Raffa sempat dicurigai bagian dari perdagangan orang. Syukur akhirnya imigrasi berhasil  ia lewati.

Selama di pesawat, Raffa sudah saya bekali uang ringgit Malaysia supaya ia bisa membeli makanan dan minuman di pesawat. Sayangnya, Raffa tidak foto-foto sama sekali selama di dalam pesawat. Mungkin ia sungkan dengan penumpang di sebelahnya atau malas karena nanti mamanya akan posting fotonya di instagram. Haha…

Hati saya kembali plong ketika melihat buah hati tersayang  berjalan ditemani staf AA,  di pintu penjemputan Kuala Lumpur International Airport. Saya lega akhirnya semuanya berjalan dengan lancar. Raffa pun  mendapat  pengalaman terbang sendiri. Kami berempat pun berkumpul kembali lengkap dan siap mengeksplor Kuala Lumpur dan Melaka.

Raffa, kamu hebat!

Related Links


Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Eira Aurelia`