Olahraga di Botanic Gardens, Christchurch, New Zealand, Saat Musim Dingin
Posted by: Baikuniyah Baikuniyah

 

Sejak memutuskan untuk memulai  hidup sehat, ke mana  pun pergi, saya selalu menyiapkan sepatu olahraga dan baju olahraga sesuai musim dengan negara yang dikunjungi. Maka, ketika awal Agustus lalu hendak ke Christchurch, New Zealand, langsung saya cari info, taman terdekat dari penginapan yang akan saya tuju untuk jogging, meskipun itu di musim dingin.

Ternyata Botanic Gardens, semacam  kebun raya, hanya 15 menit naik bus dari penginapan  saya di Riccarton. Hmmm, kalau saya jogging ke sana, berapa lama, ya?  Berada di luar ruangan di musim dingin, bakal membuat saya kedinginan tidak, ya?

Semua itu perlu saya pertimbangkan karena  saya bakal jogging sendirian. Sebab saya pergi untuk menemani suami yang kebetulan punya aktivitas di kota tersebut, tanpa anak-anak.

Boleh, dong, sesekali me time…

Setelah sarapan setangkup roti dan 200 ml susu segar gratis dari hotel  – New Zealand terkenal menghasilkan susu sapi segar— saya pun keluar kamar.

“Udara di luar bagus, saya sarankan kamu jogging saja. Waktu  tempuhnya paling 30 menit,”  begitu saran petugas hotel ketika saya ingin memastikan mana yang terbaik untuk menuju ke Botanic Gardens, naik bus atau jogging.

Benar, cuaca sedang bagus. Langit biru sekali. Udara  segar dan murni ketika saya menghirupnya dalam-dalam. Terasa tak ada setitik debu pun yang ikut terhirup. Suhu 9 derajat tidak begitu terasa karena saya memakai long john dan kaos kaki hangat.

Pukul 9 pagi jalanan masih lengang. Saya melewati toko-toko kecil yang menjual souvenir dan restoran yang  masih tutup. Rata-rata mereka buka pukul 10 dan tutup  pukul 5 atau 7 malam.

Di musim dingin  tetap menjadi tempat favorit untuk berolahraga

Sambil terus berlari-lari kecil,  sampailah saya di Botanic Gardens yang luasnya total 21 hektar. Saya melewati jalanan bersih yang diapit pepohonan  besar  tanpa daun. Sepanjang jalan, saya berpapasan dengan orang-orang yang mengajak anak jalan-jalan atau olahraga.

Terbayang hijau dan rindangnya pepohonan tersebut di musim semi dan panas.  Untung rumput-rumputnya  masih hijau segar dan sesekali saya masih melihat pohon mawar berbunga.

Di tepi kolam berair mancur,  tampak beberapa orang sedang bermain dengan sekelompok burung berbulu putih. Mereka menggerak-gerakkan anggota tubuhnya sedang berolahraga.

Saya terus berlari, melewati taman bermain anak-anak. Tampak beberapa anak sedang bermain ayunan ditemani oleh orangtuanya.

Museum Canterbury

Tak terasa saya sudah  hampir 1 jam jogging di Botanic Gardens dan mulai terasa dingin. Saat itu saya melihat sebuah gedung antik di samping taman, yang ternyata Museum Canterbury.

Saya pun memutuskan untuk menghangatkan diri dan mengganti jogging dengan berjalan kaki sambil melihat-lihat koleksi museum.

Tidak dipungut biaya untuk masuk ke museum 4 lantai yang buka dari pukul 9 pagi hingga pikul 5 sore ini. Tapi disediakan kotak donasi jika Anda ingin memberi donasi.

Museum tersebut menyimpam koleksi menarik, antara lain diaroma yang menceritakan tentang kehidupan  masyarakat Maori, replika ekspedisi antartika, dan replika kota Christchurch lengkap dengan hingar bingarnya  kehidupannya.

Saya terpesona dan berlama-lama menyaksikan satu per satu koleksi pakaian pesta, sepatu, dan aneka macam pakaian lama karya masyarakat setempat.

Sedangkan koleksi keramik yang keren-keren, membuat saya yang sedang gandrung belajar membuat  keramik,  terinpirasi untuk membuat tea set yang mungil dan cantik, menyerupai salah satu koleksi di museum tersebut.

Koleksi pakaian perempuan

Museum ini juga menyediakan ruangan yang diisi koleksi yang akan membuat anak betah, seperti dinosaurus,  discovery, bird hall dan banyak lagi. Tersedia juga jalan-jalan untuk orangtua  yang membawa stroller.

Tak terasa,  sudah dua jam saya menikmati koleksi Museum Canterbury. Perut pun mulai terasa lapar. Ternyata memang sudah waktunya  makan siang. Untung di lantai 4 museum, tersedia café.

Saya pun mengisi perut dengan melahap spinach salmon quice, yang merupakan makanan kebanggaan masyarakat setempat. Dilanjutkan dengan secangkir cappuccino dan apple pie yang, hmmm yummm.

Duduk di café yang tenang  dan bersih sambil menyaksikan Botanic Gardens dari atas saya merasakan me time yang sesunguhnya.

Botanic Gardens dari cafe museum di lantai 4

Kembali ke hotel saya memutuskan untuk berjalan kaki kembali. Toko souvenir di sepanjang jalan sudah buka. Turis  mulai ramai berlalu lalang.

Saya tidak tahan untuk mampir, membeli boneka penguin dan oleh-oleh lainnya.

Dalam perjalanan pulang saya juga mampir  di mini market Korea dan Jepang membeli camilan,  manis dan asin. Juga sekotak sushi. Rupanya meski sudah makan siang, tetap saja tergoda membeli sushi, salah satu makanan Jepang kesukaan saya.

Musim dingin bawaannya memang lapar terus. Hehehe, alasan banget, ya.

Yang saya sesali dari jogging sendirian adalah saya  lupa selfie atau minta tolong orang lain memotret saya. Foto saya yang sedang memegang es krim  ini bukan di Botanic Gardens,  tapi di Port Hill, sekitar 2 jam perjalanan dari Botanic Gardens…

Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Baikuniyah Baikuniyah

 

Olahraga di Botanic Gardens, Christchurch, New Zealand, Saat Musim Dingin
Posted by: Baikuniyah Baikuniyah

 

Sejak memutuskan untuk memulai  hidup sehat, ke mana  pun pergi, saya selalu menyiapkan sepatu olahraga dan baju olahraga sesuai musim dengan negara yang dikunjungi. Maka, ketika awal Agustus lalu hendak ke Christchurch, New Zealand, langsung saya cari info, taman terdekat dari penginapan yang akan saya tuju untuk jogging, meskipun itu di musim dingin.

Ternyata Botanic Gardens, semacam  kebun raya, hanya 15 menit naik bus dari penginapan  saya di Riccarton. Hmmm, kalau saya jogging ke sana, berapa lama, ya?  Berada di luar ruangan di musim dingin, bakal membuat saya kedinginan tidak, ya?

Semua itu perlu saya pertimbangkan karena  saya bakal jogging sendirian. Sebab saya pergi untuk menemani suami yang kebetulan punya aktivitas di kota tersebut, tanpa anak-anak.

Boleh, dong, sesekali me time…

Setelah sarapan setangkup roti dan 200 ml susu segar gratis dari hotel  – New Zealand terkenal menghasilkan susu sapi segar— saya pun keluar kamar.

“Udara di luar bagus, saya sarankan kamu jogging saja. Waktu  tempuhnya paling 30 menit,”  begitu saran petugas hotel ketika saya ingin memastikan mana yang terbaik untuk menuju ke Botanic Gardens, naik bus atau jogging.

Benar, cuaca sedang bagus. Langit biru sekali. Udara  segar dan murni ketika saya menghirupnya dalam-dalam. Terasa tak ada setitik debu pun yang ikut terhirup. Suhu 9 derajat tidak begitu terasa karena saya memakai long john dan kaos kaki hangat.

Pukul 9 pagi jalanan masih lengang. Saya melewati toko-toko kecil yang menjual souvenir dan restoran yang  masih tutup. Rata-rata mereka buka pukul 10 dan tutup  pukul 5 atau 7 malam.

Di musim dingin  tetap menjadi tempat favorit untuk berolahraga

Sambil terus berlari-lari kecil,  sampailah saya di Botanic Gardens yang luasnya total 21 hektar. Saya melewati jalanan bersih yang diapit pepohonan  besar  tanpa daun. Sepanjang jalan, saya berpapasan dengan orang-orang yang mengajak anak jalan-jalan atau olahraga.

Terbayang hijau dan rindangnya pepohonan tersebut di musim semi dan panas.  Untung rumput-rumputnya  masih hijau segar dan sesekali saya masih melihat pohon mawar berbunga.

Di tepi kolam berair mancur,  tampak beberapa orang sedang bermain dengan sekelompok burung berbulu putih. Mereka menggerak-gerakkan anggota tubuhnya sedang berolahraga.

Saya terus berlari, melewati taman bermain anak-anak. Tampak beberapa anak sedang bermain ayunan ditemani oleh orangtuanya.

Museum Canterbury

Tak terasa saya sudah  hampir 1 jam jogging di Botanic Gardens dan mulai terasa dingin. Saat itu saya melihat sebuah gedung antik di samping taman, yang ternyata Museum Canterbury.

Saya pun memutuskan untuk menghangatkan diri dan mengganti jogging dengan berjalan kaki sambil melihat-lihat koleksi museum.

Tidak dipungut biaya untuk masuk ke museum 4 lantai yang buka dari pukul 9 pagi hingga pikul 5 sore ini. Tapi disediakan kotak donasi jika Anda ingin memberi donasi.

Museum tersebut menyimpam koleksi menarik, antara lain diaroma yang menceritakan tentang kehidupan  masyarakat Maori, replika ekspedisi antartika, dan replika kota Christchurch lengkap dengan hingar bingarnya  kehidupannya.

Saya terpesona dan berlama-lama menyaksikan satu per satu koleksi pakaian pesta, sepatu, dan aneka macam pakaian lama karya masyarakat setempat.

Sedangkan koleksi keramik yang keren-keren, membuat saya yang sedang gandrung belajar membuat  keramik,  terinpirasi untuk membuat tea set yang mungil dan cantik, menyerupai salah satu koleksi di museum tersebut.

Koleksi pakaian perempuan

Museum ini juga menyediakan ruangan yang diisi koleksi yang akan membuat anak betah, seperti dinosaurus,  discovery, bird hall dan banyak lagi. Tersedia juga jalan-jalan untuk orangtua  yang membawa stroller.

Tak terasa,  sudah dua jam saya menikmati koleksi Museum Canterbury. Perut pun mulai terasa lapar. Ternyata memang sudah waktunya  makan siang. Untung di lantai 4 museum, tersedia café.

Saya pun mengisi perut dengan melahap spinach salmon quice, yang merupakan makanan kebanggaan masyarakat setempat. Dilanjutkan dengan secangkir cappuccino dan apple pie yang, hmmm yummm.

Duduk di café yang tenang  dan bersih sambil menyaksikan Botanic Gardens dari atas saya merasakan me time yang sesunguhnya.

Botanic Gardens dari cafe museum di lantai 4

Kembali ke hotel saya memutuskan untuk berjalan kaki kembali. Toko souvenir di sepanjang jalan sudah buka. Turis  mulai ramai berlalu lalang.

Saya tidak tahan untuk mampir, membeli boneka penguin dan oleh-oleh lainnya.

Dalam perjalanan pulang saya juga mampir  di mini market Korea dan Jepang membeli camilan,  manis dan asin. Juga sekotak sushi. Rupanya meski sudah makan siang, tetap saja tergoda membeli sushi, salah satu makanan Jepang kesukaan saya.

Musim dingin bawaannya memang lapar terus. Hehehe, alasan banget, ya.

Yang saya sesali dari jogging sendirian adalah saya  lupa selfie atau minta tolong orang lain memotret saya. Foto saya yang sedang memegang es krim  ini bukan di Botanic Gardens,  tapi di Port Hill, sekitar 2 jam perjalanan dari Botanic Gardens…

Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Baikuniyah Baikuniyah