Nyamannya Shalat di Masjid Al Jamie, Ponsonby, Masjid Tertua di New Zealand
Posted by: Mahmud Syaltout

Saya sangat kaget mendengar berita teror penembakan massal, Jumat lalu, di New Zealand. Tidak menyangka peristiwa itu bisa terjadi di negara paling aman sedunia. Semoga para korban yang tewas terkena tembakan mati syahid ditempatkan di tempat yang paling mulia, sedangkan yang sakit segera diberi kesembuhan seperti sedia kala, dan umur yang panjang, serta keluarga yang ditinggal diberi kesabaran dan kekuatan menjaga cinta dan perdamaian di negeri ini.

Berdasarkan pengalaman saya saat traveling sekeluarga ke New Zealand, negara ini memang betul-betul aman dibandingkan dengan negara-negara lain yang pernah kami kunjungi, setidaknya kami tidak perlu khawatir dengan copet atau bentuk scam lainnya yang sering terjadi di luar negeri. Bahkan ketika istri saya diajak teman kami, Mbak Yanti, belanja di Auckland untuk membeli beberapa pakaian karena koper kami masih tertinggal di Sydney, di toko itu pembeli bisa menghitung belanjaan sendiri dan melakukan pembayaran sendiri. Tidak ada pemeriksaan apapun setelahnya. Ini menandakan betapa tingginya tingkat kepercayaan masyarakat di negeri ini.

Toleransi di New Zealand juga sangat tinggi. New Zealand sempat dinobatkan sebagai negara paling islami sedunia berdasarkan penelitian Scheherazade S. Rehman dan Hossein Askari, para peneliti dari George Washington University, AS, tahun 2010.

Saya merasakan dan mengalami sendiri bagaimana beragam masyarakat bisa hidup berdampingan di sini. Masyarakat muslim bisa beribadah dengan tenang. Banyak masjid yang sudah didirikan di negara Kiwi ini.

Alhamdulillah, kami bisa merasakan shalat ashar berjamaah di Masjid Ponsonby, masjid tertua di Auckland, New Zealand, bersama dengan Mas Zemmy, teman kami yang sudah pindah ke New Zealand. Saat itu cukup banyak jamaah yang datang memadati masjid. Mereka datang dari berbagai macam profesi, dari supir taksi hingga pengusaha. Kami bisa beribadah dengan tenang tanpa terusik siapa pun.

Masjid Al Jamie Ponsonby New Zealand

Masjid Al Jamie Ponsonby New Zealand

Masjid Al Jamie Ponsonby New Zealand

Masjid Al Jamie Ponsonby New Zealand

Tempat wudhu masjid Al Jamie Ponsonby (photo credit : beautifulmosque.com)

Masjid Ponsonby yang didirikan tahun 1970 ini sangat bersih dan rapi. Ruang berrwudhu-nya memiliki tempat duduk yang memungkinkan jamaah berwudhu sambil duduk, seperti halnya masjid-masjid di Arab Saudi. Masjid ini dibuka untuk siapa pun, bukan hanya jamaah yang ingin shalat dan mengikuti kajian keagamaan. Warga New Zealand bahkan turis pun bisa mengikuti guided tour dengan mendaftarkan diri terlebih dulu.

Muslim di Auckland menganut beragam mazhab, ada yang Syafi’i, Hanbali, Hanafi, dan ada pula yang Maliki. Bahkan tak hanya Sunni, terdapat pula Syiah yang jumlahnya cukup banyak. Ahmadiyyah pun cukup eksis di sini. Semua umat Islam ini bisa hidup rukun berdampingan bersama di New Zealand.

Bukan hanya sesama muslim, dengan warga berlainan kepercayaan pun, saling hidup rukun. Di depan masjid ini terdapat beberapa gereja yang berdekatan di satu jalan yang sama. Menurut cerita beberapa orang, saat Idul Fitri, gereja-gereja di depan masjid ini membuka halamannya untuk mobil-mobil parkir, dan tak jarang komunitas gereja menjaga keamanannya. Begitu juga sebaliknya, saat Natal atau perayaan di gereja-gereja di depan masjid ini, halaman Masjid pun dibuka untuk tempat parkir, dan tak jarang pula komunitas muslim ikut menjaga keamanannya.

Di Masjid ini pula, kebetulan saya bertemu dengan seorang WNI dari Jawa Tengah yang menyapa “Assalamu’alaikum, dari Indonesia?” begitu kami keluar dari Masjid, Pak Tony namanya. Beliau sudah tinggal puluhan tahun di Auckland  dan sekarang bekerja sebagai pegawai Pemkot Ponsonby, sebuah kota di pinggiran Auckland.

Bertemu dengan orang Indonesia di New Zealand setelah selesai sholat di masjid Ponsonby

Saat kami berjalan kaki menuju dan dari masjid, kami berpapasan dengan beberapa orang yang ramah dan penuh senyum, dan beberapa di antaranya menyapa “Hello, how are you?”. Bahkan saat saya mengambil foto-foto selfie, yang sebenarnya agak mengganggu pejalan kaki yang lewat, malah justru disapa dengan senyum, “Hello, Brother!” sambil tangannya semacam menunjukkan sinyal “kulonuwun” agar bisa lewat dengan nyaman. Dan, kemudian saya agak menepi dan mempersilakannya lewat.

Pengalaman saya traveling ke New Zealand ini sangat berkesan. Selain karena pemandangannya yang sangat cantik, New Zealand juga merupakan tempat yang nyaman untuk siapa pun. Orang-orangnya pun ramah dan tidak saling curiga. Bahkan saat kami singgah di beberap wilayah, pelosok atau kota kecil di New Zealand, pun kami menjumpai beberapa rumah tak berpagar, atau berpagar tapi dibiarkan terbuka tanpa digembok. Di sini, budaya pendatang (Eropa) dan budaya asli (Maori) berakulturasi dengan sangat baik, setidaknya ini bisa terlihat dari nama-nama wilayah, gunung, jalan, dan seterusnya di mana nama-nama lokal bersanding dengan nama khas Eropa.

Anak saya, Zola,  yang baru pertama kali itu ke New Zealand pun memiliki memori yang amat berbekas. Selain karena ia bisa bertemu dengan teman lamanya. Zola juga bisa bermain bebas karena ruang terbuka hijau sangat banyak dan luas di sini. “Aku suka New Zealand, aku mau tinggal di sini aja, pleaaaaase. Aku nggak mau pulang,” rengeknya menjelang kepulangan kami ke Jakarta. Saya cuma bilang, “Nanti saja, kamu belajar yang rajin dari sekarang, Insya Allah nanti kamu bisa lanjut kuliah di sini.” Meskipun terlihat berat hati, akhirnya dia mengangguk juga.

Semoga suatu hari nanti kami bisa kembali lagi mengunjungi New Zealand dan negeri ini kembali aman tentram seperti sedia kala.

Viaduct Harbour, Auckland, New Zealand, bersama teman-teman. Insya Allah bisa kembali lagi suatu hari nanti

 



Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Mahmud Syaltout

 

Nyamannya Shalat di Masjid Al Jamie, Ponsonby, Masjid Tertua di New Zealand
Posted by: Mahmud Syaltout

Saya sangat kaget mendengar berita teror penembakan massal, Jumat lalu, di New Zealand. Tidak menyangka peristiwa itu bisa terjadi di negara paling aman sedunia. Semoga para korban yang tewas terkena tembakan mati syahid ditempatkan di tempat yang paling mulia, sedangkan yang sakit segera diberi kesembuhan seperti sedia kala, dan umur yang panjang, serta keluarga yang ditinggal diberi kesabaran dan kekuatan menjaga cinta dan perdamaian di negeri ini.

Berdasarkan pengalaman saya saat traveling sekeluarga ke New Zealand, negara ini memang betul-betul aman dibandingkan dengan negara-negara lain yang pernah kami kunjungi, setidaknya kami tidak perlu khawatir dengan copet atau bentuk scam lainnya yang sering terjadi di luar negeri. Bahkan ketika istri saya diajak teman kami, Mbak Yanti, belanja di Auckland untuk membeli beberapa pakaian karena koper kami masih tertinggal di Sydney, di toko itu pembeli bisa menghitung belanjaan sendiri dan melakukan pembayaran sendiri. Tidak ada pemeriksaan apapun setelahnya. Ini menandakan betapa tingginya tingkat kepercayaan masyarakat di negeri ini.

Toleransi di New Zealand juga sangat tinggi. New Zealand sempat dinobatkan sebagai negara paling islami sedunia berdasarkan penelitian Scheherazade S. Rehman dan Hossein Askari, para peneliti dari George Washington University, AS, tahun 2010.

Saya merasakan dan mengalami sendiri bagaimana beragam masyarakat bisa hidup berdampingan di sini. Masyarakat muslim bisa beribadah dengan tenang. Banyak masjid yang sudah didirikan di negara Kiwi ini.

Alhamdulillah, kami bisa merasakan shalat ashar berjamaah di Masjid Ponsonby, masjid tertua di Auckland, New Zealand, bersama dengan Mas Zemmy, teman kami yang sudah pindah ke New Zealand. Saat itu cukup banyak jamaah yang datang memadati masjid. Mereka datang dari berbagai macam profesi, dari supir taksi hingga pengusaha. Kami bisa beribadah dengan tenang tanpa terusik siapa pun.

Masjid Al Jamie Ponsonby New Zealand

Masjid Al Jamie Ponsonby New Zealand

Masjid Al Jamie Ponsonby New Zealand

Masjid Al Jamie Ponsonby New Zealand

Tempat wudhu masjid Al Jamie Ponsonby (photo credit : beautifulmosque.com)

Masjid Ponsonby yang didirikan tahun 1970 ini sangat bersih dan rapi. Ruang berrwudhu-nya memiliki tempat duduk yang memungkinkan jamaah berwudhu sambil duduk, seperti halnya masjid-masjid di Arab Saudi. Masjid ini dibuka untuk siapa pun, bukan hanya jamaah yang ingin shalat dan mengikuti kajian keagamaan. Warga New Zealand bahkan turis pun bisa mengikuti guided tour dengan mendaftarkan diri terlebih dulu.

Muslim di Auckland menganut beragam mazhab, ada yang Syafi’i, Hanbali, Hanafi, dan ada pula yang Maliki. Bahkan tak hanya Sunni, terdapat pula Syiah yang jumlahnya cukup banyak. Ahmadiyyah pun cukup eksis di sini. Semua umat Islam ini bisa hidup rukun berdampingan bersama di New Zealand.

Bukan hanya sesama muslim, dengan warga berlainan kepercayaan pun, saling hidup rukun. Di depan masjid ini terdapat beberapa gereja yang berdekatan di satu jalan yang sama. Menurut cerita beberapa orang, saat Idul Fitri, gereja-gereja di depan masjid ini membuka halamannya untuk mobil-mobil parkir, dan tak jarang komunitas gereja menjaga keamanannya. Begitu juga sebaliknya, saat Natal atau perayaan di gereja-gereja di depan masjid ini, halaman Masjid pun dibuka untuk tempat parkir, dan tak jarang pula komunitas muslim ikut menjaga keamanannya.

Di Masjid ini pula, kebetulan saya bertemu dengan seorang WNI dari Jawa Tengah yang menyapa “Assalamu’alaikum, dari Indonesia?” begitu kami keluar dari Masjid, Pak Tony namanya. Beliau sudah tinggal puluhan tahun di Auckland  dan sekarang bekerja sebagai pegawai Pemkot Ponsonby, sebuah kota di pinggiran Auckland.

Bertemu dengan orang Indonesia di New Zealand setelah selesai sholat di masjid Ponsonby

Saat kami berjalan kaki menuju dan dari masjid, kami berpapasan dengan beberapa orang yang ramah dan penuh senyum, dan beberapa di antaranya menyapa “Hello, how are you?”. Bahkan saat saya mengambil foto-foto selfie, yang sebenarnya agak mengganggu pejalan kaki yang lewat, malah justru disapa dengan senyum, “Hello, Brother!” sambil tangannya semacam menunjukkan sinyal “kulonuwun” agar bisa lewat dengan nyaman. Dan, kemudian saya agak menepi dan mempersilakannya lewat.

Pengalaman saya traveling ke New Zealand ini sangat berkesan. Selain karena pemandangannya yang sangat cantik, New Zealand juga merupakan tempat yang nyaman untuk siapa pun. Orang-orangnya pun ramah dan tidak saling curiga. Bahkan saat kami singgah di beberap wilayah, pelosok atau kota kecil di New Zealand, pun kami menjumpai beberapa rumah tak berpagar, atau berpagar tapi dibiarkan terbuka tanpa digembok. Di sini, budaya pendatang (Eropa) dan budaya asli (Maori) berakulturasi dengan sangat baik, setidaknya ini bisa terlihat dari nama-nama wilayah, gunung, jalan, dan seterusnya di mana nama-nama lokal bersanding dengan nama khas Eropa.

Anak saya, Zola,  yang baru pertama kali itu ke New Zealand pun memiliki memori yang amat berbekas. Selain karena ia bisa bertemu dengan teman lamanya. Zola juga bisa bermain bebas karena ruang terbuka hijau sangat banyak dan luas di sini. “Aku suka New Zealand, aku mau tinggal di sini aja, pleaaaaase. Aku nggak mau pulang,” rengeknya menjelang kepulangan kami ke Jakarta. Saya cuma bilang, “Nanti saja, kamu belajar yang rajin dari sekarang, Insya Allah nanti kamu bisa lanjut kuliah di sini.” Meskipun terlihat berat hati, akhirnya dia mengangguk juga.

Semoga suatu hari nanti kami bisa kembali lagi mengunjungi New Zealand dan negeri ini kembali aman tentram seperti sedia kala.

Viaduct Harbour, Auckland, New Zealand, bersama teman-teman. Insya Allah bisa kembali lagi suatu hari nanti

 



Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Mahmud Syaltout