Napak tilas kemerdekaan, dari Gedung Juang 45 sampai ke Rengasdengklok
Posted by: Sheika Rauf

“Para pejuang di jaman perang pada masa lalu telah bersusah payah mengorbankan segala-gala nya termasuk harta dan jiwa demi meraih kemerdekaan. Kita sekarang ini tinggal menikmatinya saja. Karena itu kita harus mengisi dan memanfaatkannya sebaik mungkin.” Begitulah kira-kira pesan Kak Mery, tour guide kami sewaktu membawa familygoers dan Justice girls napak tilas kemerdekaan di Jakarta. Anak-anak tampak terkesima mendengar cerita memperjuangkan proklamasi, sebuah titik awal kemerdekaan Indonesia.

Pagi itu, pukul 08.30 pagi, kami berkumpul di Gedung Juang 45 atau dikenal dengan Museum Juang 45 untuk melakukan napak tilas kemerdekaan. Meskipun masih pagi dan hari libur, namun tidak menyurutkan semangat kidsgoers dari Justice Girl beserta para mamagoers mengikuti trip familygoers. Gedung Juang 45 ini dulunya adalah sebuah hotel yang dimiliki oleh seorang Belanda bernama LC Schomper. Kemudian di jaman Jepang, hotel Schomper berubah menjadi kantor propaganda Jepang dan tempat pendidikan politik untuk para pemuda saat itu. Kini, Gedung Juang 45 sering kali dipakai untuk kegiatan-kegiatan politik. Pada masa perjuangan di jaman Jepang, gedung ini dikenal dengan sebutan Asrama Menteng 31 dengan para pemuda nya disebut dengan Pemuda Menteng 31. Pada tahun 1974, Asrama Menteng 31 berubah nama menjadi Gedung Juang 45.

Gedung Juang 45 berisikan foto-foto perjuangan, diorama, juga kutipan-kutipan perkataan dari presiden pertama RI, Soekarno. Agar lebih asyik berkeliling Gedung Juang 45, sebaiknya ditemani seorang guide seperti kami waktu itu. Familygoers bisa meminta tour guide dari museum untuk menemani familygoers berkeliling dan bercerita tentang perjuangan menuju kemerdekaan. Di sini pula, kami berkesempatan menyaksikan video sejarah Gedung Juang 45 dan mendengarkan Soekarno membacakan teks proklamasi. Dari sini, anak-anak dapat tugas untuk menghafalkan naskah proklamasi. Di Museum Juang ini kita juga bisa melihat mobil antik yang pernah dipakai Presiden dan Wakil Presiden pertama Indonesia.

Museum Joang 45

Museum Joang 45

Museum Joang 45

Museum Joang 45

Museum Joang 45

Tujuan kami selanjutnya adalah Museum Naskah Proklamasi. Museum ini adalah bekas rumah Laksamana Maeda, seorang perwira tinggi Angkatan Laut Jepang, teman baik Bung Hatta. Di rumah inilah naskah proklamasi disusun oleh Soekarno, Hatta dan Achmad Soebardjo. Pemilihan rumah ini sebenarnya tidak direncanakan. Awalnya, para pemuda ingin memakai ruangan di sebuah gedung, namun karena saat itu berlaku jam malam, tidak ada yang bisa menerima. Akhirnya, Bung Hatta menghubungi Laksamana Maeda meminta izin menggunakan rumahnya. Izin didapat, para pemuda pun berembuk di rumah Laksama Maeda hingga larut malam.

Museum Naskah Proklmasi atau Munasprok adalah museum interaktif, apalagi untuk anak-anak. Familygoers bisa memanfaatkan fasilitas multimedia dengan touch screen untuk mengetahui berbagai cerita tentang perjuangan. Salah satu yang menarik perhatian adalah taplak meja di meja makan yang dijadikan layar untuk menyaksikan video animasi yang bercerita tentang seputar proklamasi. Seru nontonnya ! Selain video animasi, di halaman belakang rumah, ada bunker tempat dulu sang pemilik rumah bersembunyi dari serangan, sekaligus tempat untuk menyimpan dokumen-dokumen rahasia. Bunker ini dibuka untuk umum dan familygoers bisa turun ke bawah untuk merasakan suasana di dalam bunker. Anak-anak yang rasa penasarannya tinggi pasti ingin juga turun ke dalam bunker, begitupun dengan Justice girls. Satu per satu mereka masuk ingin melihat. Baru pertama kali nya mereka merasakan berada di dalam bunker, bahkan kata bunker sendiri pun baru kali ini mereka mendengarnya.

Museum Naskah Proklamasi

Museum Naskah Proklamasi

Museum Naskah Proklamasi

Memasuki bunker di Museum Naskah Proklamasi

Dari dalam bunker di Museum Naskah Proklamasi

Dari munasprok, kami menuju Tugu Proklamasi yang bebas dikunjungi masyarakat umum. Dulu tempat ini adalah rumah Soekarno tempat membacakan naskah proklamasi. Dari rumah Maeda, Bung Karno, Bung Hatta dan Mr. Achmad Soebardjo menuju Pegangsaan Timur no. 56 yang merupakan rumah Soekarno. Di sana banyak pemuda sudah menantikan dibacakannya proklamasi kemerdekaan. Pada masa pemerintahannya, Bung Karno sendiri lah yang membongkar rumahnya dan kini yang tersisa adalah Tugu Proklamasi dan Gedung Perintis Kemerdekaan.

Familygoers dan Justice Girls di Tugu Proklamasi

Napak tilas ke Rengasdengklok bersama Komunitas Jelajah Budaya

Belum selesai sampai di situ, saya mewakili familygoers.com mengikuti napak tilas ke Rengasdengklok bersama Komunitas Jelajah Budaya dan Munasprok. Perjalanan dari Jakarta ke Rengasdengklok di Karawang membutuhkan waktu sekitar dua jam jika jalanan cukup bersahabat (tidak macet). Rengasdengklok merupakan daerah yang cukup panas dan terik. Jika ingin membawa anak-anak ke sini, persiapkan topi dan air minum yang cukup.

Rengasdengklok merupakan tempat para pemuda membawa pasangan Dwi Tunggal Soekarno dan Hatta pergi dari Jakarta. Kita akrab dengan kata “penculikan”. Namun sebenarnya bukan penculikan seperti makna kata nya. Soekarno-Hatta diperlakukan dengan baik selama dibawa ke sini. Bahkan beliau berdua dicarikan rumah yang paling nyaman agar mereka bisa beristirahat, ditambah lagi, Ibu Fatmawati dan Guntur Soekarno yang belum berusia 1 tahun diajak serta. Terpilihlah rumah seorang Tionghoa pembuat peti mati, Djiaw Kie Siong, sebagai tempat untuk beristarahat. Di sana, rombongan beristirahat hanya beberapa jam, sebelum kemudian kembali lagi ke Jakarta untuk mempersiapkan kemerdekaan.

Rumah Rengasdengklok sempat dipindahkan dari lokasinya yang asli karena tempat asalnya, tanahnya tergerus dengan kali dan tidak layak ditempati lagi. Djiauw Kie Siong kemudian memindahkan rumahnya ke tempat lebih aman yang jaraknya hanya beberapa ratus meter saja dari lokasi yang lama. Bagian depan rumah yang sempat disinggahi Soekarno-Hatta sudah didandani rapi dan nyaman tanpa mengubah bentuk asli nya. Sudah banyak turis lokal maupun mancanegara berkunjung ke tempat ini, apalagi saat menjelang tujuh belasan.

Napak Tilas ke Rengasdengklok

Rumah Rengasdengklok

Rumah Rengasdengklok

Rumah Rengasdengklok

Rumah Rengasdengklok

Rumah Rengasdengklok

Belum pernah mengajak anak-anak napak tilas kemerdekaan ? Momen tujuh belasan adalah momen terbaik mengajak mereka mengenal sejarahnya sendiri lebih dekat lagi. Kalau belum sempat ke Rengasdengklok, sempatkan mengunjungi Gedung Juang 45, Museum Naskah Proklamasi, dan Tugu Proklamasi 🙂

Yuk !

 

 

Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Sheika Rauf
Ibu dari si bocah petualang Zola, yang hobi traveling dan menulis. Selama saya masih mampu, saya akan mengajak anak saya melihat dunia ini lebih luas lagi.

 

Napak tilas kemerdekaan, dari Gedung Juang 45 sampai ke Rengasdengklok
Posted by: Sheika Rauf

“Para pejuang di jaman perang pada masa lalu telah bersusah payah mengorbankan segala-gala nya termasuk harta dan jiwa demi meraih kemerdekaan. Kita sekarang ini tinggal menikmatinya saja. Karena itu kita harus mengisi dan memanfaatkannya sebaik mungkin.” Begitulah kira-kira pesan Kak Mery, tour guide kami sewaktu membawa familygoers dan Justice girls napak tilas kemerdekaan di Jakarta. Anak-anak tampak terkesima mendengar cerita memperjuangkan proklamasi, sebuah titik awal kemerdekaan Indonesia.

Pagi itu, pukul 08.30 pagi, kami berkumpul di Gedung Juang 45 atau dikenal dengan Museum Juang 45 untuk melakukan napak tilas kemerdekaan. Meskipun masih pagi dan hari libur, namun tidak menyurutkan semangat kidsgoers dari Justice Girl beserta para mamagoers mengikuti trip familygoers. Gedung Juang 45 ini dulunya adalah sebuah hotel yang dimiliki oleh seorang Belanda bernama LC Schomper. Kemudian di jaman Jepang, hotel Schomper berubah menjadi kantor propaganda Jepang dan tempat pendidikan politik untuk para pemuda saat itu. Kini, Gedung Juang 45 sering kali dipakai untuk kegiatan-kegiatan politik. Pada masa perjuangan di jaman Jepang, gedung ini dikenal dengan sebutan Asrama Menteng 31 dengan para pemuda nya disebut dengan Pemuda Menteng 31. Pada tahun 1974, Asrama Menteng 31 berubah nama menjadi Gedung Juang 45.

Gedung Juang 45 berisikan foto-foto perjuangan, diorama, juga kutipan-kutipan perkataan dari presiden pertama RI, Soekarno. Agar lebih asyik berkeliling Gedung Juang 45, sebaiknya ditemani seorang guide seperti kami waktu itu. Familygoers bisa meminta tour guide dari museum untuk menemani familygoers berkeliling dan bercerita tentang perjuangan menuju kemerdekaan. Di sini pula, kami berkesempatan menyaksikan video sejarah Gedung Juang 45 dan mendengarkan Soekarno membacakan teks proklamasi. Dari sini, anak-anak dapat tugas untuk menghafalkan naskah proklamasi. Di Museum Juang ini kita juga bisa melihat mobil antik yang pernah dipakai Presiden dan Wakil Presiden pertama Indonesia.

Museum Joang 45

Museum Joang 45

Museum Joang 45

Museum Joang 45

Museum Joang 45

Tujuan kami selanjutnya adalah Museum Naskah Proklamasi. Museum ini adalah bekas rumah Laksamana Maeda, seorang perwira tinggi Angkatan Laut Jepang, teman baik Bung Hatta. Di rumah inilah naskah proklamasi disusun oleh Soekarno, Hatta dan Achmad Soebardjo. Pemilihan rumah ini sebenarnya tidak direncanakan. Awalnya, para pemuda ingin memakai ruangan di sebuah gedung, namun karena saat itu berlaku jam malam, tidak ada yang bisa menerima. Akhirnya, Bung Hatta menghubungi Laksamana Maeda meminta izin menggunakan rumahnya. Izin didapat, para pemuda pun berembuk di rumah Laksama Maeda hingga larut malam.

Museum Naskah Proklmasi atau Munasprok adalah museum interaktif, apalagi untuk anak-anak. Familygoers bisa memanfaatkan fasilitas multimedia dengan touch screen untuk mengetahui berbagai cerita tentang perjuangan. Salah satu yang menarik perhatian adalah taplak meja di meja makan yang dijadikan layar untuk menyaksikan video animasi yang bercerita tentang seputar proklamasi. Seru nontonnya ! Selain video animasi, di halaman belakang rumah, ada bunker tempat dulu sang pemilik rumah bersembunyi dari serangan, sekaligus tempat untuk menyimpan dokumen-dokumen rahasia. Bunker ini dibuka untuk umum dan familygoers bisa turun ke bawah untuk merasakan suasana di dalam bunker. Anak-anak yang rasa penasarannya tinggi pasti ingin juga turun ke dalam bunker, begitupun dengan Justice girls. Satu per satu mereka masuk ingin melihat. Baru pertama kali nya mereka merasakan berada di dalam bunker, bahkan kata bunker sendiri pun baru kali ini mereka mendengarnya.

Museum Naskah Proklamasi

Museum Naskah Proklamasi

Museum Naskah Proklamasi

Memasuki bunker di Museum Naskah Proklamasi

Dari dalam bunker di Museum Naskah Proklamasi

Dari munasprok, kami menuju Tugu Proklamasi yang bebas dikunjungi masyarakat umum. Dulu tempat ini adalah rumah Soekarno tempat membacakan naskah proklamasi. Dari rumah Maeda, Bung Karno, Bung Hatta dan Mr. Achmad Soebardjo menuju Pegangsaan Timur no. 56 yang merupakan rumah Soekarno. Di sana banyak pemuda sudah menantikan dibacakannya proklamasi kemerdekaan. Pada masa pemerintahannya, Bung Karno sendiri lah yang membongkar rumahnya dan kini yang tersisa adalah Tugu Proklamasi dan Gedung Perintis Kemerdekaan.

Familygoers dan Justice Girls di Tugu Proklamasi

Napak tilas ke Rengasdengklok bersama Komunitas Jelajah Budaya

Belum selesai sampai di situ, saya mewakili familygoers.com mengikuti napak tilas ke Rengasdengklok bersama Komunitas Jelajah Budaya dan Munasprok. Perjalanan dari Jakarta ke Rengasdengklok di Karawang membutuhkan waktu sekitar dua jam jika jalanan cukup bersahabat (tidak macet). Rengasdengklok merupakan daerah yang cukup panas dan terik. Jika ingin membawa anak-anak ke sini, persiapkan topi dan air minum yang cukup.

Rengasdengklok merupakan tempat para pemuda membawa pasangan Dwi Tunggal Soekarno dan Hatta pergi dari Jakarta. Kita akrab dengan kata “penculikan”. Namun sebenarnya bukan penculikan seperti makna kata nya. Soekarno-Hatta diperlakukan dengan baik selama dibawa ke sini. Bahkan beliau berdua dicarikan rumah yang paling nyaman agar mereka bisa beristirahat, ditambah lagi, Ibu Fatmawati dan Guntur Soekarno yang belum berusia 1 tahun diajak serta. Terpilihlah rumah seorang Tionghoa pembuat peti mati, Djiaw Kie Siong, sebagai tempat untuk beristarahat. Di sana, rombongan beristirahat hanya beberapa jam, sebelum kemudian kembali lagi ke Jakarta untuk mempersiapkan kemerdekaan.

Rumah Rengasdengklok sempat dipindahkan dari lokasinya yang asli karena tempat asalnya, tanahnya tergerus dengan kali dan tidak layak ditempati lagi. Djiauw Kie Siong kemudian memindahkan rumahnya ke tempat lebih aman yang jaraknya hanya beberapa ratus meter saja dari lokasi yang lama. Bagian depan rumah yang sempat disinggahi Soekarno-Hatta sudah didandani rapi dan nyaman tanpa mengubah bentuk asli nya. Sudah banyak turis lokal maupun mancanegara berkunjung ke tempat ini, apalagi saat menjelang tujuh belasan.

Napak Tilas ke Rengasdengklok

Rumah Rengasdengklok

Rumah Rengasdengklok

Rumah Rengasdengklok

Rumah Rengasdengklok

Rumah Rengasdengklok

Belum pernah mengajak anak-anak napak tilas kemerdekaan ? Momen tujuh belasan adalah momen terbaik mengajak mereka mengenal sejarahnya sendiri lebih dekat lagi. Kalau belum sempat ke Rengasdengklok, sempatkan mengunjungi Gedung Juang 45, Museum Naskah Proklamasi, dan Tugu Proklamasi 🙂

Yuk !

 

 

Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Sheika Rauf


Ibu dari si bocah petualang Zola, yang hobi traveling dan menulis. Selama saya masih mampu, saya akan mengajak anak saya melihat dunia ini lebih luas lagi.