Merasakan Idul Fitri Sekeluarga di Madinah, Saudi Arabia
Posted by: Sheika Rauf

Merasakan Idul Fitri sekeluarga di Madinah merupakan pengalaman kami saat melakukan umroh mandiri tahun 2017 lalu. Kami sengaja memilih umroh mandiri 10 hari terakhir Ramadhan dan 6 hari setelah Idul Fitri. Kebetulan Idul Fitri kali itu kami memilih merayakannya di Madinah.

Hari terakhir bulan Ramadhan kami dalam perjalanan dari Mekkah ke Madinah. Perjalanan dari Mekkah ke Madinah memakan waktu sekitar 5 jam. Namun karena bus Saptco yang kami tumpangi saat itu, Alhamdulillah sangat nyaman, perjalanan 5 jam itu pun tidak begitu terasa.

Selama perjalanan memang tidak ada hiburan apapun, hanya ada lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an dan video para jamaah tawaf di di Masjidil Haram. Sepanjang perjalanan banyak orang tertidur, termasuk Zola, karena memang cuaca di luar sangat terik, sementara udara di dalam bus cukup sejuk dengan kursi yang nyaman. Bulan puasa tahun ini jatuh di musim panas dengan suhu udara maksimal 50 derajat celcius. Sungguh sebuah perjuangan berpuasa di negeri Arab.

Saptco Bus dari Mekkah ke Madinah

Saya berkenalan dengan seorang perempuan warga filippina yang berprofesi sebagai perawat. Ia sudah bekerja di Saudi Arabia selama kurang lebih 11 tahun. Awalnya, ketika saya melihatnya di terminal bus, perawat yang bepergian bersama ibunya itu saya pikir warga negara indonesia, ternyata warga filippina. Menurutnya tidak masalah perempuan bepergian asal ada yang mahram yang menemani, baik perempuan maupun laki-laki. Suster yang bekerja di Jeddah ini ingin melewatkan Idul Fitri bersama adik nya yang kebetulan tinggal di Madinah.

Berkenalan dengan suster asal Filippina dalam perjalanan menuju Madinah

Idul Fitri sekeluarga di Madinah

Bus memasuki Madinah sekitar pukul 7 malam. Kami turun di depan Crown Hotel yang juga merupakan tujuan akhir bus di Madinah. Hotel kami tidak begitu jauh dari Crown Hotel, hanya berjarak sekitar 10 menit berjalan kaki. Kami pun berpisah dengan kenalan baru kami.

Suasana malam takbiran di Madinah

Jika dibandingkan dengan suasana di Indonesia, suasana malam takbiran di Madinah saat itu kalah jauh dari kemeriahan. Tidak ada takbir menggema dan takbiran keliling di jalan. Meskipun jalanan memang dipenuhi mobil dan orang yang lalu lalang. Namun jauh dari meriah. Tidak ada tanda-tanda perayaan apapun yang terlihat.

Kami berempat berjalan menuju hotel. Sepanjang perjalanan itu, kami sama sekali tidak mendengar suara takbir, padahal hotel tempat kami menginap tidak jauh dari Masjid Nabawi, hanya berjarak beberapa blok saja. Saya sudah berharap bisa mendengar takbir di malam menjelang Idul Fitri, setidaknya lewat pengeras suara dari masjid, tapi nyatanya tidak ada sama sekali.

Saya memang pernah mendengar bahwa Idul Fitri di Arab Saudi memang tidak semeriah Idul Fitri di Indonesia, namun tidak menyangka kalau takbir pun tidak terdengar sampai di jalan-jalan. Takbir hanya akan terdengar jika kita memasuki halaman masjid sampai ke dalam nya.

Kami pun sampai di hotel. Lagi-lagi tidak ada tanda-tanda dekorasi apapun yang menandakan bahwa umat muslim besok hari akan merayakan Idul Fitri. Saya jadi kangen Jakarta saat itu di mana kami bisa menjumpai pernak-pernik perayaan Idul Fitri hampir di setiap sudut.

Keesokan pagi nya, kami bersiap menuju Masjid Nabawi yang tidak jauh dari hotel. Ternyata lautan manusia sudah berduyun-duyung mencoba mendekati masjid. Jamaah membludak dan masjid pun tidak bisa menampung manusia lagi di dalam nya. Barisan shaf luber ke jalan sampai persis hanya beberapa meter di depan hotel kami. Sebanyak itu !

Para jamaah bergerak mendekati Masjid Nabawi ingin melakukan sholat Ied

Setelah mencoba bergabung dengan jamaah lainnya yang bergerak menuju masjid, kami memutuskan berbalik arah dan mengambil shaf tak jauh dari hotel saja. Kami tidak sanggup menembus orang-orang yang berdesak-desakkan ingin ke masjid. Suami, ayah dan Zola mengambil shaf di bagian laki-laki, sementara saya di shaf perempuan bersama para jamaah yang sama sekali tidak saya kenal.

Di sekitar masjid, terlihat para takmir membagikan selebaran yang berisi khutbah Idul Fitri dalam bahasa Arab. Kebiasaan bersalam-salaman setelah sholat juga dilakukan di antara para jamaah. Namun tidak seperti tradisi bermaaf-maafan, apalagi sungkeman, di Indonesia.

Khutbah Idul Fitri yang dibagikan oleh takmir masjid di seitar Masjid Nabawi

Jamaah yang bejubel usai sholat Ied. Ada yang ingin keluar dan yang ingin masuk

Ketika kembali ke Hotel, di depan pintu hotel ramai sekali orang. Awalnya kami pikir hanya keramaian para tamu hotel yang ingin kembali ke hotel setelah melakukan sholat Ied. Ternyata, hotel menyediakan kue tart super besar untuk siapapun, bukan hanya untuk tamu hotel. Pantas saja dari pintu masuk hingga lobi, orang-orang yang mayoritas laki-laki bejubel ingin mengambil bagian kue tart. Kue tart super besar ini diletakkan di lobi hotel dan otomatis langsung dikerubungi orang-orang. Rata-rata mengambil porsi besar sekaligus untuk dibagikan lagi kepada keluarga nya.

Sementara kami memilih melipir menyaksikan dari kejauhan saja. Zola hanya terbengong menyaksikan pemandangan ini dan sempat berkomentar, “itu kue lebaran ya Bunda.” Bisa dibilang kue raksasa ini merupakan kue lebaran, tradisi pihak hotel berbagi kebahagiaan untuk siapapun, bukan khusus untuk tamu hotel saja.

Keramaian bagi-bagi kue tart di lobi hotel tempat kami menginap di Madinah

Idul Fitri tahun itu untuk keluarga kami memang berbeda rasanya. Meskipun jauh dari sanak saudara, namun di sini kami bertemu ribuan saudara muslim lainnya yang merayakan Idul Fitri bersama di sekitar Masjid Nabawi.



Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Sheika Rauf
Ibu dari si bocah petualang Zola, yang hobi traveling dan menulis. Selama saya masih mampu, saya akan mengajak anak saya melihat dunia ini lebih luas lagi.

 

Merasakan Idul Fitri Sekeluarga di Madinah, Saudi Arabia
Posted by: Sheika Rauf

Merasakan Idul Fitri sekeluarga di Madinah merupakan pengalaman kami saat melakukan umroh mandiri tahun 2017 lalu. Kami sengaja memilih umroh mandiri 10 hari terakhir Ramadhan dan 6 hari setelah Idul Fitri. Kebetulan Idul Fitri kali itu kami memilih merayakannya di Madinah.

Hari terakhir bulan Ramadhan kami dalam perjalanan dari Mekkah ke Madinah. Perjalanan dari Mekkah ke Madinah memakan waktu sekitar 5 jam. Namun karena bus Saptco yang kami tumpangi saat itu, Alhamdulillah sangat nyaman, perjalanan 5 jam itu pun tidak begitu terasa.

Selama perjalanan memang tidak ada hiburan apapun, hanya ada lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an dan video para jamaah tawaf di di Masjidil Haram. Sepanjang perjalanan banyak orang tertidur, termasuk Zola, karena memang cuaca di luar sangat terik, sementara udara di dalam bus cukup sejuk dengan kursi yang nyaman. Bulan puasa tahun ini jatuh di musim panas dengan suhu udara maksimal 50 derajat celcius. Sungguh sebuah perjuangan berpuasa di negeri Arab.

Saptco Bus dari Mekkah ke Madinah

Saya berkenalan dengan seorang perempuan warga filippina yang berprofesi sebagai perawat. Ia sudah bekerja di Saudi Arabia selama kurang lebih 11 tahun. Awalnya, ketika saya melihatnya di terminal bus, perawat yang bepergian bersama ibunya itu saya pikir warga negara indonesia, ternyata warga filippina. Menurutnya tidak masalah perempuan bepergian asal ada yang mahram yang menemani, baik perempuan maupun laki-laki. Suster yang bekerja di Jeddah ini ingin melewatkan Idul Fitri bersama adik nya yang kebetulan tinggal di Madinah.

Berkenalan dengan suster asal Filippina dalam perjalanan menuju Madinah

Idul Fitri sekeluarga di Madinah

Bus memasuki Madinah sekitar pukul 7 malam. Kami turun di depan Crown Hotel yang juga merupakan tujuan akhir bus di Madinah. Hotel kami tidak begitu jauh dari Crown Hotel, hanya berjarak sekitar 10 menit berjalan kaki. Kami pun berpisah dengan kenalan baru kami.

Suasana malam takbiran di Madinah

Jika dibandingkan dengan suasana di Indonesia, suasana malam takbiran di Madinah saat itu kalah jauh dari kemeriahan. Tidak ada takbir menggema dan takbiran keliling di jalan. Meskipun jalanan memang dipenuhi mobil dan orang yang lalu lalang. Namun jauh dari meriah. Tidak ada tanda-tanda perayaan apapun yang terlihat.

Kami berempat berjalan menuju hotel. Sepanjang perjalanan itu, kami sama sekali tidak mendengar suara takbir, padahal hotel tempat kami menginap tidak jauh dari Masjid Nabawi, hanya berjarak beberapa blok saja. Saya sudah berharap bisa mendengar takbir di malam menjelang Idul Fitri, setidaknya lewat pengeras suara dari masjid, tapi nyatanya tidak ada sama sekali.

Saya memang pernah mendengar bahwa Idul Fitri di Arab Saudi memang tidak semeriah Idul Fitri di Indonesia, namun tidak menyangka kalau takbir pun tidak terdengar sampai di jalan-jalan. Takbir hanya akan terdengar jika kita memasuki halaman masjid sampai ke dalam nya.

Kami pun sampai di hotel. Lagi-lagi tidak ada tanda-tanda dekorasi apapun yang menandakan bahwa umat muslim besok hari akan merayakan Idul Fitri. Saya jadi kangen Jakarta saat itu di mana kami bisa menjumpai pernak-pernik perayaan Idul Fitri hampir di setiap sudut.

Keesokan pagi nya, kami bersiap menuju Masjid Nabawi yang tidak jauh dari hotel. Ternyata lautan manusia sudah berduyun-duyung mencoba mendekati masjid. Jamaah membludak dan masjid pun tidak bisa menampung manusia lagi di dalam nya. Barisan shaf luber ke jalan sampai persis hanya beberapa meter di depan hotel kami. Sebanyak itu !

Para jamaah bergerak mendekati Masjid Nabawi ingin melakukan sholat Ied

Setelah mencoba bergabung dengan jamaah lainnya yang bergerak menuju masjid, kami memutuskan berbalik arah dan mengambil shaf tak jauh dari hotel saja. Kami tidak sanggup menembus orang-orang yang berdesak-desakkan ingin ke masjid. Suami, ayah dan Zola mengambil shaf di bagian laki-laki, sementara saya di shaf perempuan bersama para jamaah yang sama sekali tidak saya kenal.

Di sekitar masjid, terlihat para takmir membagikan selebaran yang berisi khutbah Idul Fitri dalam bahasa Arab. Kebiasaan bersalam-salaman setelah sholat juga dilakukan di antara para jamaah. Namun tidak seperti tradisi bermaaf-maafan, apalagi sungkeman, di Indonesia.

Khutbah Idul Fitri yang dibagikan oleh takmir masjid di seitar Masjid Nabawi

Jamaah yang bejubel usai sholat Ied. Ada yang ingin keluar dan yang ingin masuk

Ketika kembali ke Hotel, di depan pintu hotel ramai sekali orang. Awalnya kami pikir hanya keramaian para tamu hotel yang ingin kembali ke hotel setelah melakukan sholat Ied. Ternyata, hotel menyediakan kue tart super besar untuk siapapun, bukan hanya untuk tamu hotel. Pantas saja dari pintu masuk hingga lobi, orang-orang yang mayoritas laki-laki bejubel ingin mengambil bagian kue tart. Kue tart super besar ini diletakkan di lobi hotel dan otomatis langsung dikerubungi orang-orang. Rata-rata mengambil porsi besar sekaligus untuk dibagikan lagi kepada keluarga nya.

Sementara kami memilih melipir menyaksikan dari kejauhan saja. Zola hanya terbengong menyaksikan pemandangan ini dan sempat berkomentar, “itu kue lebaran ya Bunda.” Bisa dibilang kue raksasa ini merupakan kue lebaran, tradisi pihak hotel berbagi kebahagiaan untuk siapapun, bukan khusus untuk tamu hotel saja.

Keramaian bagi-bagi kue tart di lobi hotel tempat kami menginap di Madinah

Idul Fitri tahun itu untuk keluarga kami memang berbeda rasanya. Meskipun jauh dari sanak saudara, namun di sini kami bertemu ribuan saudara muslim lainnya yang merayakan Idul Fitri bersama di sekitar Masjid Nabawi.



Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Sheika Rauf


Ibu dari si bocah petualang Zola, yang hobi traveling dan menulis. Selama saya masih mampu, saya akan mengajak anak saya melihat dunia ini lebih luas lagi.