Mengunjungi Seoul National University (Ivy League-nya) Korea Selatan
Posted by: Admin

Mimin mengunjungi Seoul National University (SNU),  universitas top yang disebut Ivy League-nya  Korea Selatan. Ini  bisa jadi destinasi wisata edukasi buat anak-anak saat familygoers berkunjung ke Seoul.  Tersedia tour kampus  yang dikelola universitas.

Bagi penggemar Drama Korea, Sky Castle,  SNU  digambarkan sebagai kampus bergengsi yang  menjadi incaran orangtua. Mereka, melakukan berbagai cara, bahkan tak terpuji,  agar  anaknya  diterima di universitas ini. Mereka  memasukkan anak ke bimbingan belajar eksklusif  dengan guru spesial yang mahal, memaksa anak belajar, meski kemampuannya pas-pasan.

Dua universitas lain yang juga  top di Korea Selatan adalah Korea dan Yonsei. Orang Korea menyingkat ketiga universitas tersebut menjadi SKY.

Jalan dalam kampus yang besar, rindang, dan bersih

“Di dunia nyata SNU juga adalah kampus impian anak-anak di Korsel. Lulusannya laku di pasar kerja. Hehehe.  Misalnya, lulusan teknik universitas ini banyak bekerja perusahaan besar seperti Hyunday atau Samsung.  Tapi untuk bisa diterima di  SNU, ya,  susah sekali. Saya beruntung pernah menjadi  mahasiswa di kampus ini, ” cerita  Ebee,  lulusan S2  bidang studi lingkungan, pada satu musim semi, di bawah suhu 19 derajat, beberapa waktu lalu.

Mimin tidak mengukti tour yang disediakan univeristas, karena harus daftar jauh-jauh hari.  Tapi beruntung karena ditemani Ebee, yang saat itu masih menyelasikan S2 dan tinggal di asrama yang lokasinya di dalam kampus.

Kampus SNU tidak jauh dari hotel, tempat Mimin menginap di Myeongdong. Agar lebih cepat, hanya 30 menit, Ebee menyarankan  Mimin naik kereta dan turun di stasiun SNU.  Waktu yang tepat untuk naik kereta, ya, bukan pada jam sibuk pergi dan pulang kerja. Karena akan berdesakan di stasiun dan kereta api.

Ebee yang sudah menunggu kami di stasiun  SNU mengajak Mimin naik bus gratis menuju ke SNU.  Mayoritas penumpangnya adalah mahasiswa SNU.

Turun dari bus, Ebee mengajak Mimin ke gedung perpustakaan lama. Beruntung sekali petugas perpustakaan membolehkan kami masuk perpustakaan setelah kami menunjukkan paspor dan ia menahannya sementara.

Kami tidak lama berada di perpustakaan, mengingat semua orang tengah serius membaca dalam keheningan. Saking heningnya, gesekan kertas halaman buku saat dibuka saja terdengar. Selain itu, mayoritas buku juga dalam bahasa Korea.

Ebee mengembalikan buku

Ebee kemudian menunjukkan ruang tempat pengembalian buku otomatis,  yang bentuknya  seperti ATM.  Mahasiswa yang akan mengembalikan buku tinggal memijat tombol dengan kode tertentu,  memasukkan buku ke lubang yang terbuka. Buku secara otomatis ‘berjalan’ dan berhenti sesuai dengan kategorinya; sosial, sastra dan seterusnya.

Saat menyusuri kampus dan  melihat tulisan ‘music listening room’ kami memutuskan untuk masuk ke ruangan tersebut. Ruangan kecil itu berisi kursi-kursi yang nyaman untuk duduk. Kami pun bergabung dengan beberapa mahasiswa, di antaranya ada yang tidur,  mendengarkan alunan musik Beethoven.  Studio mini buka pukul 9.00 sampai pukul 17.30.

Hmmm, sebuah tempat ‘ngumpet’ yang nyaman, saat istirahat dari tugas-tugas kuliah.

Ruang musik

Ebee ingin menunjukkan cafetaria kampus yang menyediakan makan siang seharga 1 won, tempat ia makan saat sedang kantong tipis. Namun cafetaria sudah tutup,  karena sudah lewat makan siang. Akhirnya kami memutuskan istirahat karena  kaki lumayan pegal mengitari kampus yang separuhnya berada di perbukitan dengan minum kopi di cafe kampus.

“Sekarang aku ajak kamu ke fakultasku,” ajak Ebee sambil mengajak kami ke halte bus. Karena letaknya lumayan jauh dan menanjak.

Lima belas menit kemudian, setelah bus melaju, menurunkan dan menaikkan mahasiswa di berbagai fakultas, bus pun tiba di halte di Graduate School of Enviromental Studies, yang rindang. Ebbe pun mengajak kami masuk dan membawa kami ke perpustakaan fakultas.

Ia kemudian membawa kami ke roof top! Ternyata di sana ada kebun kecil yang ditanami aneka tanaman dan tempat duduk-duduk. Lama juga Mimin di roof top, menikmati angin musim semi, dan pucuk pepohonan dari ketinggian.

Perjalanan tour berakhir di pintu gerbang kampus  yang berada di kawasan Gwanak dan  didirikan  tahun 1946 ini.  Mimin pun berpisah dengan Ebee. Hari sudah sore ketika Mimin meninggalkan kampus tempat Lee Sang Yoon, pemeran drakor ‘Angle Eyes’,   salah satu Presiden Korsel, Kim Young-sam,  dan Ban Ki moon, mantan Sekretaris Jenderal PBB  kuliah.

Saran Mimin, sebaiknya mengenakan sepatu dan pakaian yang nyaman saat mengunjungi SNU. Sebab separuh kampusnya berada di perbukitan dengan jalan turun naik. Bila keliling kampus dengan bus pun belum tentu dapat tempat duduk, terutama saat jam-jam sibuk kuliah.

Kalau masih punya waktu, Mimin sarankan sebaiknya ikut tour yang dikelola universitas karena akan lebih lengkap. Waktu tournya ada yang pendek ( 45-50 menit) dan ada yang panjang (60 – 75 menit).

Mimin sarankan, pilih  tour yang panjang karena  bisa melihat SNU secara lengkap dengan tour guide mahasiswa yang berpengalaman,

Tempat di kampus yang akan dikunjungi antara lain; Office of International Affairs,  Seoul National University Museum, College of Social Science, College of Music and Fine Art, Central Library, Student Center, dan College of Law.

Familygoers bisa melihat jadwal tour kampus dan mendaftar di  http://oia-campustours.snu.ac.kr.

 

 

 

 

 

 

 

Related Links


Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Admin




Mengunjungi Seoul National University (Ivy League-nya) Korea Selatan
Posted by: Admin

Mimin mengunjungi Seoul National University (SNU),  universitas top yang disebut Ivy League-nya  Korea Selatan. Ini  bisa jadi destinasi wisata edukasi buat anak-anak saat familygoers berkunjung ke Seoul.  Tersedia tour kampus  yang dikelola universitas.

Bagi penggemar Drama Korea, Sky Castle,  SNU  digambarkan sebagai kampus bergengsi yang  menjadi incaran orangtua. Mereka, melakukan berbagai cara, bahkan tak terpuji,  agar  anaknya  diterima di universitas ini. Mereka  memasukkan anak ke bimbingan belajar eksklusif  dengan guru spesial yang mahal, memaksa anak belajar, meski kemampuannya pas-pasan.

Dua universitas lain yang juga  top di Korea Selatan adalah Korea dan Yonsei. Orang Korea menyingkat ketiga universitas tersebut menjadi SKY.

Jalan dalam kampus yang besar, rindang, dan bersih

“Di dunia nyata SNU juga adalah kampus impian anak-anak di Korsel. Lulusannya laku di pasar kerja. Hehehe.  Misalnya, lulusan teknik universitas ini banyak bekerja perusahaan besar seperti Hyunday atau Samsung.  Tapi untuk bisa diterima di  SNU, ya,  susah sekali. Saya beruntung pernah menjadi  mahasiswa di kampus ini, ” cerita  Ebee,  lulusan S2  bidang studi lingkungan, pada satu musim semi, di bawah suhu 19 derajat, beberapa waktu lalu.

Mimin tidak mengukti tour yang disediakan univeristas, karena harus daftar jauh-jauh hari.  Tapi beruntung karena ditemani Ebee, yang saat itu masih menyelasikan S2 dan tinggal di asrama yang lokasinya di dalam kampus.

Kampus SNU tidak jauh dari hotel, tempat Mimin menginap di Myeongdong. Agar lebih cepat, hanya 30 menit, Ebee menyarankan  Mimin naik kereta dan turun di stasiun SNU.  Waktu yang tepat untuk naik kereta, ya, bukan pada jam sibuk pergi dan pulang kerja. Karena akan berdesakan di stasiun dan kereta api.

Ebee yang sudah menunggu kami di stasiun  SNU mengajak Mimin naik bus gratis menuju ke SNU.  Mayoritas penumpangnya adalah mahasiswa SNU.

Turun dari bus, Ebee mengajak Mimin ke gedung perpustakaan lama. Beruntung sekali petugas perpustakaan membolehkan kami masuk perpustakaan setelah kami menunjukkan paspor dan ia menahannya sementara.

Kami tidak lama berada di perpustakaan, mengingat semua orang tengah serius membaca dalam keheningan. Saking heningnya, gesekan kertas halaman buku saat dibuka saja terdengar. Selain itu, mayoritas buku juga dalam bahasa Korea.

Ebee mengembalikan buku

Ebee kemudian menunjukkan ruang tempat pengembalian buku otomatis,  yang bentuknya  seperti ATM.  Mahasiswa yang akan mengembalikan buku tinggal memijat tombol dengan kode tertentu,  memasukkan buku ke lubang yang terbuka. Buku secara otomatis ‘berjalan’ dan berhenti sesuai dengan kategorinya; sosial, sastra dan seterusnya.

Saat menyusuri kampus dan  melihat tulisan ‘music listening room’ kami memutuskan untuk masuk ke ruangan tersebut. Ruangan kecil itu berisi kursi-kursi yang nyaman untuk duduk. Kami pun bergabung dengan beberapa mahasiswa, di antaranya ada yang tidur,  mendengarkan alunan musik Beethoven.  Studio mini buka pukul 9.00 sampai pukul 17.30.

Hmmm, sebuah tempat ‘ngumpet’ yang nyaman, saat istirahat dari tugas-tugas kuliah.

Ruang musik

Ebee ingin menunjukkan cafetaria kampus yang menyediakan makan siang seharga 1 won, tempat ia makan saat sedang kantong tipis. Namun cafetaria sudah tutup,  karena sudah lewat makan siang. Akhirnya kami memutuskan istirahat karena  kaki lumayan pegal mengitari kampus yang separuhnya berada di perbukitan dengan minum kopi di cafe kampus.

“Sekarang aku ajak kamu ke fakultasku,” ajak Ebee sambil mengajak kami ke halte bus. Karena letaknya lumayan jauh dan menanjak.

Lima belas menit kemudian, setelah bus melaju, menurunkan dan menaikkan mahasiswa di berbagai fakultas, bus pun tiba di halte di Graduate School of Enviromental Studies, yang rindang. Ebbe pun mengajak kami masuk dan membawa kami ke perpustakaan fakultas.

Ia kemudian membawa kami ke roof top! Ternyata di sana ada kebun kecil yang ditanami aneka tanaman dan tempat duduk-duduk. Lama juga Mimin di roof top, menikmati angin musim semi, dan pucuk pepohonan dari ketinggian.

Perjalanan tour berakhir di pintu gerbang kampus  yang berada di kawasan Gwanak dan  didirikan  tahun 1946 ini.  Mimin pun berpisah dengan Ebee. Hari sudah sore ketika Mimin meninggalkan kampus tempat Lee Sang Yoon, pemeran drakor ‘Angle Eyes’,   salah satu Presiden Korsel, Kim Young-sam,  dan Ban Ki moon, mantan Sekretaris Jenderal PBB  kuliah.

Saran Mimin, sebaiknya mengenakan sepatu dan pakaian yang nyaman saat mengunjungi SNU. Sebab separuh kampusnya berada di perbukitan dengan jalan turun naik. Bila keliling kampus dengan bus pun belum tentu dapat tempat duduk, terutama saat jam-jam sibuk kuliah.

Kalau masih punya waktu, Mimin sarankan sebaiknya ikut tour yang dikelola universitas karena akan lebih lengkap. Waktu tournya ada yang pendek ( 45-50 menit) dan ada yang panjang (60 – 75 menit).

Mimin sarankan, pilih  tour yang panjang karena  bisa melihat SNU secara lengkap dengan tour guide mahasiswa yang berpengalaman,

Tempat di kampus yang akan dikunjungi antara lain; Office of International Affairs,  Seoul National University Museum, College of Social Science, College of Music and Fine Art, Central Library, Student Center, dan College of Law.

Familygoers bisa melihat jadwal tour kampus dan mendaftar di  http://oia-campustours.snu.ac.kr.

 

 

 

 

 

 

 

Related Links


Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Admin