Membawa Anak ke Candi Sukuh yang ‘Erotis’?
Posted by: Admin

Candi Sukuh kerap dianggap candi ‘erotis’ karena ada pahatan atau patung yang secara jelas menggambarkan alat kelamin laki-laki dan perempuan. Tapi pengunjungnya ternyata ada juga yang  membawa anak!

Redaksi Familygoers  penasaran ingin mengunjungi candi Hindu unik yang berada di lereng Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah ini. Maka, saat berada di Solo, kami  memutuskan untuk pergi ke sana.

Pagi hari, di hari Minggu, butuh waktu sekitar 1,5 untuk tiba di sana. Jalanan yang dilalui kecil, berkelok-kelok dan mendaki yang di kanan atau kirinya kadang terdapat jurang.

Setiba di candi yang  berada di ketinggian sekitar 1.186 meter di bawah permukaan laut, udara terasa segar. Kami membeli tiket seharga Rp. 7000. Petugas kemudian memberi kami  kain kotak-kotak,  hitam putih,  yang  harus dililitkan di pinggang dan diminta memberi donasi seikhlasnya.

Suasana masih sepi waktu kami memasuki area candi. Saat melewati lorong gapura di teras pertam,  kami melihat pahatan alat kelamin perempuan (lingga) dan alat kelamin pria (yoni).

Menurut kepercayaan Hindu,  keduanya merupakan lambang kesuburan. Dan di masa silam, orang datang ke candi ini untuk memuja para arwah leluhur dan meminta kesuburan.

Relif berbentuk rahim

Meski kalau tidak dilihat  dengan teliti,  pahatan yang dberi pagar dan tidak boleh disentuh ini, dari kejauhan tidak jelas berbentuk apa.

Menuju  teras kedua, kami menaiki tangga batu. Di teras ini patung-patungnya sudah rusak. Misalnya, patung penjaga pintunya sudah tidak utuh lagi. Namun dari teras ini, kami bisa melihat pemandangan hijau nun jauh ke bawah sana yang menyegarkan mata.

Teras ketiga merupakan teras utama yang posisinya paling tinggi. Terasnya lumayan luas diselingi dengan taman dan pepohoan. Di tempat inilah terdapat deretan relif, patun-patung, dan candi yang bangunannya sungguh sederhana jika dibandikan dengan candi Plaosan sekali pun.

Menurut arkeolog Belanda,  W.F Stutterheim, ada tiga alasan mengapa bentuknya sederhana. Pertama ada kemungkinan pemahatnya bukan tukang batu, tapi tukang kayu dari masyarakat kebanyakan. Kedua, candi dibuat tergesa-gesa. Ketiga  karena alasan politik, saat itu Majapahit menjelang runtuh hingga sulit membuat candi yang megah.

Bangunan candi yang diperkirakan dibangun akhir abad ke-15 ini mirip kuil peninggalan Suku Maya di Meksiko, yaitu berbentuk serupa piramida namun melebar di bagian atapnya.

Sejak ditemukan oleh Johnson pada masa pemerintahan Britania Raya tahun 1815, Candi Sukuh terus menjadi obyek penelitian oleh Van der Vlis.

Beberapa wisatawan, termasuk anak-anak usia TK dan  SD, tampak menaiki candi melewati tangga-tangga batu yang besar dan kokoh. Tangga yang harus dilewati tidak terlalu banyak. Tapi tetap perlu hati-hati karena letak anak tangga  satu dengan yang lain cukup berjauhan dan melewati lorong yang agak sempit.

Bagian atas candi yang datar menjadi tempat yang pas untuk menyaksikan  lembah yang hijau di bawah sana secara leluasa. Dan tentu saja untuk berfoto-foto.

Di depan candi,  ada dua kura-kura besar yang melambangkan panjang umur yang tidak boleh dinaiki. Sementara di sebelah kiri ada  relif berbentuk rahim, yang konon itu melambangkan kesuburan.

Lagi-lagi bagi mata awam relif itu hanya berupa bulatan yang mengecil dan terbuka di bawahnya, sedikit menyerupai balon dengan relif manusia di dalamnya.

Di sebelah kanan candi, ada arca kecil yang cukup mencolok, yaitu arca laki-laki tanpa kepala sedang memegang penis!

Selama  berada di area Candi, kami  tidak melihat orangtua dan anak mengamati relif atau patung yang ada di sekitar candi. Anak-anak tampak berlarian dan bersemangat menaiki tangga menuju ke atap candi.

Menurut Rahma, salah seorang pengunjung yang membawa anak  1 SD ke Candi karena ingin mengenalkan peninggalan budaya.

“Saya jelaskan pada dia  kalau orang zaman dulu sudah pintar membuat bangunan yang awet hingga sekarang. Makanya orang sekarang harus lebih pintar dari mereka. Biar dia semangat belajar. Saya tidak membawanya melihat  yang  arca atau relif  itu. Masih belum cukup umur dan dia enggak ngerti juga,” katanya.

Lepas dari kesan erotisna, Candi Sukuh dengan keunikannya merupakan peninggalan masa silam yang perlu dilestarikan. Tempat yang bagus untuk menghirup udara segar di tengah hijaunya pepohonan. Anak, terutama balita, bebas berlarian di ruang terbuka.

Datanglah di pagi hari saat udara masih sejuk. Jika dilakukan dengan santai, cukup waku satu jam untuk mengitari area Candi Sukuh.

Di tempat ini tersedia ruang parkir yang lumayan luas dengan toilet sederhan dan deretan warung sederhana pula.

Related Links


Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Admin




Membawa Anak ke Candi Sukuh yang ‘Erotis’?
Posted by: Admin

Candi Sukuh kerap dianggap candi ‘erotis’ karena ada pahatan atau patung yang secara jelas menggambarkan alat kelamin laki-laki dan perempuan. Tapi pengunjungnya ternyata ada juga yang  membawa anak!

Redaksi Familygoers  penasaran ingin mengunjungi candi Hindu unik yang berada di lereng Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah ini. Maka, saat berada di Solo, kami  memutuskan untuk pergi ke sana.

Pagi hari, di hari Minggu, butuh waktu sekitar 1,5 untuk tiba di sana. Jalanan yang dilalui kecil, berkelok-kelok dan mendaki yang di kanan atau kirinya kadang terdapat jurang.

Setiba di candi yang  berada di ketinggian sekitar 1.186 meter di bawah permukaan laut, udara terasa segar. Kami membeli tiket seharga Rp. 7000. Petugas kemudian memberi kami  kain kotak-kotak,  hitam putih,  yang  harus dililitkan di pinggang dan diminta memberi donasi seikhlasnya.

Suasana masih sepi waktu kami memasuki area candi. Saat melewati lorong gapura di teras pertam,  kami melihat pahatan alat kelamin perempuan (lingga) dan alat kelamin pria (yoni).

Menurut kepercayaan Hindu,  keduanya merupakan lambang kesuburan. Dan di masa silam, orang datang ke candi ini untuk memuja para arwah leluhur dan meminta kesuburan.

Relif berbentuk rahim

Meski kalau tidak dilihat  dengan teliti,  pahatan yang dberi pagar dan tidak boleh disentuh ini, dari kejauhan tidak jelas berbentuk apa.

Menuju  teras kedua, kami menaiki tangga batu. Di teras ini patung-patungnya sudah rusak. Misalnya, patung penjaga pintunya sudah tidak utuh lagi. Namun dari teras ini, kami bisa melihat pemandangan hijau nun jauh ke bawah sana yang menyegarkan mata.

Teras ketiga merupakan teras utama yang posisinya paling tinggi. Terasnya lumayan luas diselingi dengan taman dan pepohoan. Di tempat inilah terdapat deretan relif, patun-patung, dan candi yang bangunannya sungguh sederhana jika dibandikan dengan candi Plaosan sekali pun.

Menurut arkeolog Belanda,  W.F Stutterheim, ada tiga alasan mengapa bentuknya sederhana. Pertama ada kemungkinan pemahatnya bukan tukang batu, tapi tukang kayu dari masyarakat kebanyakan. Kedua, candi dibuat tergesa-gesa. Ketiga  karena alasan politik, saat itu Majapahit menjelang runtuh hingga sulit membuat candi yang megah.

Bangunan candi yang diperkirakan dibangun akhir abad ke-15 ini mirip kuil peninggalan Suku Maya di Meksiko, yaitu berbentuk serupa piramida namun melebar di bagian atapnya.

Sejak ditemukan oleh Johnson pada masa pemerintahan Britania Raya tahun 1815, Candi Sukuh terus menjadi obyek penelitian oleh Van der Vlis.

Beberapa wisatawan, termasuk anak-anak usia TK dan  SD, tampak menaiki candi melewati tangga-tangga batu yang besar dan kokoh. Tangga yang harus dilewati tidak terlalu banyak. Tapi tetap perlu hati-hati karena letak anak tangga  satu dengan yang lain cukup berjauhan dan melewati lorong yang agak sempit.

Bagian atas candi yang datar menjadi tempat yang pas untuk menyaksikan  lembah yang hijau di bawah sana secara leluasa. Dan tentu saja untuk berfoto-foto.

Di depan candi,  ada dua kura-kura besar yang melambangkan panjang umur yang tidak boleh dinaiki. Sementara di sebelah kiri ada  relif berbentuk rahim, yang konon itu melambangkan kesuburan.

Lagi-lagi bagi mata awam relif itu hanya berupa bulatan yang mengecil dan terbuka di bawahnya, sedikit menyerupai balon dengan relif manusia di dalamnya.

Di sebelah kanan candi, ada arca kecil yang cukup mencolok, yaitu arca laki-laki tanpa kepala sedang memegang penis!

Selama  berada di area Candi, kami  tidak melihat orangtua dan anak mengamati relif atau patung yang ada di sekitar candi. Anak-anak tampak berlarian dan bersemangat menaiki tangga menuju ke atap candi.

Menurut Rahma, salah seorang pengunjung yang membawa anak  1 SD ke Candi karena ingin mengenalkan peninggalan budaya.

“Saya jelaskan pada dia  kalau orang zaman dulu sudah pintar membuat bangunan yang awet hingga sekarang. Makanya orang sekarang harus lebih pintar dari mereka. Biar dia semangat belajar. Saya tidak membawanya melihat  yang  arca atau relif  itu. Masih belum cukup umur dan dia enggak ngerti juga,” katanya.

Lepas dari kesan erotisna, Candi Sukuh dengan keunikannya merupakan peninggalan masa silam yang perlu dilestarikan. Tempat yang bagus untuk menghirup udara segar di tengah hijaunya pepohonan. Anak, terutama balita, bebas berlarian di ruang terbuka.

Datanglah di pagi hari saat udara masih sejuk. Jika dilakukan dengan santai, cukup waku satu jam untuk mengitari area Candi Sukuh.

Di tempat ini tersedia ruang parkir yang lumayan luas dengan toilet sederhan dan deretan warung sederhana pula.

Related Links


Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Admin