Liburan ke Langkawi, memanfaatkan hari kejepit yang seru
Posted by: Sundari Eko

My husband & daughter at Langkawi Skybridge

Hari kejepit nasional buat keluarga tukang jalan adalah berkah. Itu artinya kami bisa memanfaatkannya untuk liburan bersama. Bulan maret lalu, ada satu tanggal merah di hari Senin yang kejepit di antara Minggu dan Selasa. Maka untuk memanfaatkan momen ini, suami pun berinisiatif memesan tiket pesawat menuju Langkawi.

Langkawi merupakan sebuah pulau yang berada di bagian utara Penang – Semenanjung Malaysia, terletak di selat Malaka dan diapit oleh Sumatera juga Thailand. Untuk sampai ke Langkawi, kami harus menaiki dua penerbagangan, pertama penerbangan dari Bandara Internasional Soekarno Hatta ke Kuala Lumpur dan dilanjutkan dengan penerbangan dari KLIA2 ke Bandara Internasional Langkawi. Kami memilih waktu penerbangan di sore dan malam hari agar suami bisa merampungkan pekerjaannya dulu di hari Jum’at.

Bagi saya, trip ke Langkawi ini adalah salah satu yang paling seru, bahkan dimulai sejak di dalam pesawat menuju KLIA2. Saat itu, pesawat yang kami naiki dari Soekarno HAtta mengantri cukup lama untuk dapat giliran terbang. Akibatnya, kami pun jadi tergesa-gesa saat transit di KLIA2. Mana ternyata salah counter transit. Rasanya kami seperti kontestan di Amazing Race Asia untuk mengejar pesawat selanjutnya ke Langkawi. Dilalah ternyata sesampainya di ruang boarding, ternyata keberangkatan ke Langkawi pun delay. Sudah deg-degan takut ketinggalan pesawat, nafas pun ikut tersengal-sengal. Haha, what a beginning.

Sesampainya kami di Langkawi, rupanya sedang ada Festival LIMA di Langkawi – Langkawi International Maritime and Aerospace. Pantas saja penginapan di sana penuh. Saat kami datang, it was the last day of the festival. Bersamaan dengan event ini, taksi online Uber pun mulai beroperasi di sini. Beruntungnya kami langsung bisa memanfaatkan fasilitas Uber ini untuk memenuhi itinerary kami selama di sini.

Check in di Che Teh Homestay

Berfoto bersama Mak Cik Rozia

Nyaman dan harganya sangat terjangkau. Itulah kesan kami menginap di Che Teh Homestay, di Jalan Bohor Tempoyak, Kg. Lubuk Buaya, Temonyong, Langkawi, Kedah. Homestay ini kami pesan melalui booking.com dengan tarif RM 200/malam atau sekitar IDR 650.000, sangat terjangkau apalagi bayarnya patungan.

Homestay yang dikelola oleh Mak Cik Rozia ini sangat nyaman, di dalamnya ada tiga kamar dan tiap kamar dilengkapi dengan AC, kipas angin, meja serta cermin untuk berhias serta handuk. Ada ruang tamu dan meja untuk makan bersama juga dapur, jadi bisa masak air untuk menyeduh teh di pagi hari juga mee cup. Kamar mandinya lumayan luas, ada shower dan toilet yang bersih. Semua yang kami butuhkan untuk sebuah standar penginapan sudah tersedia di sini.

Langkawi Skycab – Skybridge – 3D Art Gallery

Jembatan Langit Langkawi

Tujuan utama kami datang ke Langkawi adalah mengunjungi the famous skybridge yang pernah menjadi tempat syuting film Don, sebuah film thriller-action India tahun 2006 yang dibintangi oleh dengan Shahrukh Khan.

Kalau saya lihat wahana Cable Car ini didesain agar pengunjung bisa menikmati seluruh wahana seharian. Satu tiket Skycab yang kami beli seharga RM 55/dewasa atau sekitar IDR 180.000/dewasa. Sementara untuk anak harganya RM 40/anak atau sekitar IDR 130.000. Dengan tiket skyscab ini, kami sudah bisa menikmati Skydome, Skyrex, dan 3D Art Gallery. Kecuali untuk kawasan Skybridge, karena untuk masuk ke sini, kami harus membeli tiket lagi.

Berpose di dalam Skycab

Berbeda dengan Awana Skyway Genting Highlands, wahana serupa yang ada di Genting, Malaysia, Langkawi Skycab muatannya lebih kecil (maksimal 6 orang), lintasannya lebih pendek namun lebih curam, bikin lebih deg-degan kalau melihat ke bawah. Dari atas kita bisa melihat lautan dan pegunungan sekaligus.

Di stasiun paling atas terdapat sebuah kafe, Sky Bistro. Di sinilah kami menikmati burger lezat seharga RM 9,90 atau setara dengan IDR 32.500. Untuk sarapan keesokan hari anak saya, Aisya, saya belikan brownies seharga RM 10 atau IDR 33.000, beserta es krim dan air mineral yang masing-masing setara dengan IDR 17.000 dan IDR 10.000. Alhamdulillah energi kami terisi kembali setelah makan, karena setelah itu kami harus turun-naik-turun-naik di nature walk untuk sampai ke Skybridge.

Skycab – view from Skybridge

Sekitar 15 menit kemudian kami sampai ke Skybridge dan membeli tiket masuk yang dibanrol dengan harga RM 5/dewasa atau IDR 17.000 dan RM 3/anak atau IDR 10.000. Don’t ask me how amazed and shaking I amBegitu sampai, saya sempat terpana sambil bertasbih menyebut namanya. “Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan” [HR. Muslim].

Maha suci Allah yang menciptakan akal manusia untuk berkarya. Dari ketinggian 2,300 kaki di puncak Gunung Mat Chinchang ini kita bisa melihat lautan yang biru bersih, batuan, hutan, gunung-gunung yang serba hijau dan menghirup udara bersih. Subhanallah the view is great..

Hati-hati kalau membawa anak yaa ! Harus terus diawasi. Alhamdulillah Aisya termasuk anak yang pemberani, she looks very happy up here :’)

Aisya – my brave girl!

Turun dari Skycab, kami istirahat dulu di area yang dikerubuti ana-anak. Apalagi kalau bukan playground. Ada sofa di sana untuk kami duduk mengawasi sementara Aisya bermain bergabung bersama anak-anak lainnya.

Dalam kesempatan kali ini, kami hanya bisa menikmati wahana Skycab dan 3D Art Gallery, sementara Skydome dan Skyrex tak sempat didatangi karena waktu terbatas dan perut pun sudah lapar. Kami langsung naik taxi ke Cenang Mall yang berada di kawasan Pantai Cenang. Makan siang dan lanjut eksplorasi Pantai Cenang.

Pantai Cenang – Langkawi 

Sunset di Pantai Cenang

Di sekitar pantai berpasir putih lembut ini berterbangan beberapa burung elang. Karena itu tak hera kalau pulau ini dinamakan Langkawi dengan simbol burung elang. Kata Langkawi berasal dari dua kata “lang” dan “kawi”. Lang berarti elang, semntara arti kawi mengacu pada beragam maksud, salah satunya bisa berarti merah hati. Ini sekaligus menunjukkan warna bulu Elang yang berwarna merah hati.

Sore itu Aisya, Mami, dan Ayah semuanya main air, main pasir, kejar-kejaran, mengayunkan Aisya satu-dua-tiga ke udara dan menyambut ombak sambil berdiri di pinggir pantai. Subhanallah walhamdulillah Allohuakbar. Thank you for giving us this happiness Ya Allah. Thank you hubby, to take us here..

Sebetulnya ada banyak pulau yang bisa dijelajahi di Langkawi, ada wisata mangrove, geoforest dan lain-lain tapi berhubung itinerary kami selanjutnya adalah Kuala Lumpur setelah melewati satu malam di Langkawi, maka semua destinasi itu kami tidak bisa kami jelajahi.

Relaxing on the beach

Asyik juga kan piknik ke sini. Langkawi bisa dijadikan alternatif tempat wisata familygoers untuk liburan singkat seperti hari kejepit nasional. Yuukkk ! 😉

 

Share This | | |

One response to “Liburan ke Langkawi, memanfaatkan hari kejepit yang seru”

  1. Hastira says:

    wo kerennya , jd pingin ke sana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Sundari Eko
Hi, I'm Sundari and I love to travel with my family :)

 

Liburan ke Langkawi, memanfaatkan hari kejepit yang seru
Posted by: Sundari Eko

My husband & daughter at Langkawi Skybridge

Hari kejepit nasional buat keluarga tukang jalan adalah berkah. Itu artinya kami bisa memanfaatkannya untuk liburan bersama. Bulan maret lalu, ada satu tanggal merah di hari Senin yang kejepit di antara Minggu dan Selasa. Maka untuk memanfaatkan momen ini, suami pun berinisiatif memesan tiket pesawat menuju Langkawi.

Langkawi merupakan sebuah pulau yang berada di bagian utara Penang – Semenanjung Malaysia, terletak di selat Malaka dan diapit oleh Sumatera juga Thailand. Untuk sampai ke Langkawi, kami harus menaiki dua penerbagangan, pertama penerbangan dari Bandara Internasional Soekarno Hatta ke Kuala Lumpur dan dilanjutkan dengan penerbangan dari KLIA2 ke Bandara Internasional Langkawi. Kami memilih waktu penerbangan di sore dan malam hari agar suami bisa merampungkan pekerjaannya dulu di hari Jum’at.

Bagi saya, trip ke Langkawi ini adalah salah satu yang paling seru, bahkan dimulai sejak di dalam pesawat menuju KLIA2. Saat itu, pesawat yang kami naiki dari Soekarno HAtta mengantri cukup lama untuk dapat giliran terbang. Akibatnya, kami pun jadi tergesa-gesa saat transit di KLIA2. Mana ternyata salah counter transit. Rasanya kami seperti kontestan di Amazing Race Asia untuk mengejar pesawat selanjutnya ke Langkawi. Dilalah ternyata sesampainya di ruang boarding, ternyata keberangkatan ke Langkawi pun delay. Sudah deg-degan takut ketinggalan pesawat, nafas pun ikut tersengal-sengal. Haha, what a beginning.

Sesampainya kami di Langkawi, rupanya sedang ada Festival LIMA di Langkawi – Langkawi International Maritime and Aerospace. Pantas saja penginapan di sana penuh. Saat kami datang, it was the last day of the festival. Bersamaan dengan event ini, taksi online Uber pun mulai beroperasi di sini. Beruntungnya kami langsung bisa memanfaatkan fasilitas Uber ini untuk memenuhi itinerary kami selama di sini.

Check in di Che Teh Homestay

Berfoto bersama Mak Cik Rozia

Nyaman dan harganya sangat terjangkau. Itulah kesan kami menginap di Che Teh Homestay, di Jalan Bohor Tempoyak, Kg. Lubuk Buaya, Temonyong, Langkawi, Kedah. Homestay ini kami pesan melalui booking.com dengan tarif RM 200/malam atau sekitar IDR 650.000, sangat terjangkau apalagi bayarnya patungan.

Homestay yang dikelola oleh Mak Cik Rozia ini sangat nyaman, di dalamnya ada tiga kamar dan tiap kamar dilengkapi dengan AC, kipas angin, meja serta cermin untuk berhias serta handuk. Ada ruang tamu dan meja untuk makan bersama juga dapur, jadi bisa masak air untuk menyeduh teh di pagi hari juga mee cup. Kamar mandinya lumayan luas, ada shower dan toilet yang bersih. Semua yang kami butuhkan untuk sebuah standar penginapan sudah tersedia di sini.

Langkawi Skycab – Skybridge – 3D Art Gallery

Jembatan Langit Langkawi

Tujuan utama kami datang ke Langkawi adalah mengunjungi the famous skybridge yang pernah menjadi tempat syuting film Don, sebuah film thriller-action India tahun 2006 yang dibintangi oleh dengan Shahrukh Khan.

Kalau saya lihat wahana Cable Car ini didesain agar pengunjung bisa menikmati seluruh wahana seharian. Satu tiket Skycab yang kami beli seharga RM 55/dewasa atau sekitar IDR 180.000/dewasa. Sementara untuk anak harganya RM 40/anak atau sekitar IDR 130.000. Dengan tiket skyscab ini, kami sudah bisa menikmati Skydome, Skyrex, dan 3D Art Gallery. Kecuali untuk kawasan Skybridge, karena untuk masuk ke sini, kami harus membeli tiket lagi.

Berpose di dalam Skycab

Berbeda dengan Awana Skyway Genting Highlands, wahana serupa yang ada di Genting, Malaysia, Langkawi Skycab muatannya lebih kecil (maksimal 6 orang), lintasannya lebih pendek namun lebih curam, bikin lebih deg-degan kalau melihat ke bawah. Dari atas kita bisa melihat lautan dan pegunungan sekaligus.

Di stasiun paling atas terdapat sebuah kafe, Sky Bistro. Di sinilah kami menikmati burger lezat seharga RM 9,90 atau setara dengan IDR 32.500. Untuk sarapan keesokan hari anak saya, Aisya, saya belikan brownies seharga RM 10 atau IDR 33.000, beserta es krim dan air mineral yang masing-masing setara dengan IDR 17.000 dan IDR 10.000. Alhamdulillah energi kami terisi kembali setelah makan, karena setelah itu kami harus turun-naik-turun-naik di nature walk untuk sampai ke Skybridge.

Skycab – view from Skybridge

Sekitar 15 menit kemudian kami sampai ke Skybridge dan membeli tiket masuk yang dibanrol dengan harga RM 5/dewasa atau IDR 17.000 dan RM 3/anak atau IDR 10.000. Don’t ask me how amazed and shaking I amBegitu sampai, saya sempat terpana sambil bertasbih menyebut namanya. “Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan” [HR. Muslim].

Maha suci Allah yang menciptakan akal manusia untuk berkarya. Dari ketinggian 2,300 kaki di puncak Gunung Mat Chinchang ini kita bisa melihat lautan yang biru bersih, batuan, hutan, gunung-gunung yang serba hijau dan menghirup udara bersih. Subhanallah the view is great..

Hati-hati kalau membawa anak yaa ! Harus terus diawasi. Alhamdulillah Aisya termasuk anak yang pemberani, she looks very happy up here :’)

Aisya – my brave girl!

Turun dari Skycab, kami istirahat dulu di area yang dikerubuti ana-anak. Apalagi kalau bukan playground. Ada sofa di sana untuk kami duduk mengawasi sementara Aisya bermain bergabung bersama anak-anak lainnya.

Dalam kesempatan kali ini, kami hanya bisa menikmati wahana Skycab dan 3D Art Gallery, sementara Skydome dan Skyrex tak sempat didatangi karena waktu terbatas dan perut pun sudah lapar. Kami langsung naik taxi ke Cenang Mall yang berada di kawasan Pantai Cenang. Makan siang dan lanjut eksplorasi Pantai Cenang.

Pantai Cenang – Langkawi 

Sunset di Pantai Cenang

Di sekitar pantai berpasir putih lembut ini berterbangan beberapa burung elang. Karena itu tak hera kalau pulau ini dinamakan Langkawi dengan simbol burung elang. Kata Langkawi berasal dari dua kata “lang” dan “kawi”. Lang berarti elang, semntara arti kawi mengacu pada beragam maksud, salah satunya bisa berarti merah hati. Ini sekaligus menunjukkan warna bulu Elang yang berwarna merah hati.

Sore itu Aisya, Mami, dan Ayah semuanya main air, main pasir, kejar-kejaran, mengayunkan Aisya satu-dua-tiga ke udara dan menyambut ombak sambil berdiri di pinggir pantai. Subhanallah walhamdulillah Allohuakbar. Thank you for giving us this happiness Ya Allah. Thank you hubby, to take us here..

Sebetulnya ada banyak pulau yang bisa dijelajahi di Langkawi, ada wisata mangrove, geoforest dan lain-lain tapi berhubung itinerary kami selanjutnya adalah Kuala Lumpur setelah melewati satu malam di Langkawi, maka semua destinasi itu kami tidak bisa kami jelajahi.

Relaxing on the beach

Asyik juga kan piknik ke sini. Langkawi bisa dijadikan alternatif tempat wisata familygoers untuk liburan singkat seperti hari kejepit nasional. Yuukkk ! 😉

 

Share This | | |

One response to “Liburan ke Langkawi, memanfaatkan hari kejepit yang seru”

  1. Hastira says:

    wo kerennya , jd pingin ke sana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Sundari Eko


Hi, I'm Sundari and I love to travel with my family :)