Liburan Ekstrem Susur Sungai dan Menikmati Black Canyon
Posted by: Admin

Setelah searching sana-sini akhirnya saya menemukan destinasi liburan yang lumayan esktrem,  yaitu, susur Sungai Watu Mujur dan menikmati Black Canyon!  Istri, Pipih Maspupah dan kedua anak saya, Damar Kristal dan Clara Widyatna,  setuju. Sesekali cari liburan yang beda, tidak melulu pantai dan pegunungan, meski lumayan menegangkan!

Karena medannya cukup berat,  kami memutuskan untuk memakai pemandu wisata.  Namanya Tarno. Dia lah yang menyarankan agar kami tidak  membawa mobil,  tapi naik kereta dari Jakarta dan turun di Purwokerto.

Tarno akan menjemput kami di stasiun Purwokerto.

Setelah perjalanan sekitar 6 jam naik kereta dari Stasiun Pasar Senen, kami tiba di stasiun Purwokerto menjelang sore. Dengan mobil sewaan Tarno membawa kami ke Panusupan, Rembang, Purbalingga. Dalam perjalanan Tarno mengajak kami mampir ke Gua Lawa, Taman Bunga, dan Taman Kurcaci.

“Kapan kita melihat Black Canyon?” tanya Clara  pada Tarno.

“Besok kita baru ke sana. Pagi-pagi berangkatnya. Sekarang istirahat dulu biar siap untuk menyusuri sungai, naik tebing, dan terjung bebas ke air,” jelas Tarno.

Rasanya, kami sudah tidak sabar ingin segera menikmati apa yang diceritakan oleh Tarno. Tapi badan yang pegal dan lengket karena seharian di kendaraan sebaiknya memang diistirahatkan dulu.

Kami senang saat  Tarno membawa kami ke  home stay, rumah penduduk yang disewakan.

Rumahnya cukup besar,  memiliki empat kamar, dapur,  dan kamar mandi yang bersih. Sewanya Rp. 70 ribu per orang dan kami dapat makan dua kali. Di tengah udara dingin, malam itu kami melahap nasi hangat, tempe goreng, sayur daun singkong plus teri yang diberi cabe.

Sebelum tidur di ruang keluarga dengan menggelar empat kasur – kami sengaja memilih tempat itu agar bisa tidur besama —  kami kedatangan tamu Kepala Desa. Rupanya, ia datang untuk mengucapkan selamat datang kepada kami karena telah memilih berlibur di desanya.

Terima kasih Pak Kepdes.

Esoknya, setelah sarapan soto ayam, Tarno menjemput kami dengan mobil buntung alias belakangnya tanpa atap. Saya pun menggaruk-garuk kepala yang tidak ada rambutnya. Beneran, nih, naik mobil ini? Tarno mengangguk waktu saya menanyakan itu.

“Ini kendaraan satu-satunya yang aman dan bisa melewati jalan menuju Black Canyo,” jawab Tarno.

Saya lihat anak-anak, mereka tampak oke-oke saja. Toh, saya tetap  menawari mereka duduk di depan. Tapi mereka menolak. Apa artinya naik mobil buntung kalau duduk di depan. Nggak seru!

Jalanan yang kami lalui memang lumayan terjal dan kecil. Saya rasanya tidak sanggup kalau harus nyupir di sini. Tapi pemandangan alam yang kami lewati dengan angin yang bebas membelai-belai kulit kami, jalanan jelek dan kecil itu tak kami rasakan.

Tiba-tiba Tarno meminta kami turun, padahal  saya tidak melihat sungai.

Oh, rupanya kami masih harus melalui jalan  setapak dan melewati rumah penduduk. Lima belas menit kemudian kami tiba di sebuah tanah lapang. Tarno meminta kami mengenakan pelampung dan helm, lalu menjelaskan tentang aturan main saat susur sungai.

Tak berapa lama, kaki kami sudah nyemplung di sungai Watu Mujur yang air benar-benar jernih dan dingin. Kami pun mulai melangkah melawan arus sungai yang kederasannya bervariasi. Oppps, kedalaman sungai juga berbeda-beda. Semula dangkal, semakin dalam dan semakin dalam. Ketika kaki tidak lagi menapak dasar sungai, kami kaget, karena tubuh tiba-tiba mengapung!

Jadi, bagi yang tidak bisa berenang, susur sungai cukup aman juga.

 

Kemudian tibalah kami di antara tebing hitam mengkilat, menjulang tinggi yang dari sela-selanya kadang memancar  sinar matahari. Tebing itu popular disebut Black Canyon. Dari sela-sela tebing mengalir air terjun kecil.

 

Kami terus menyusuri sungai yang kadang menyempit.  Yang memaksa kami   harus  merayap di  sela-sela tebing yang sungguh sempit dan perlu usaha untuk melewatinya.

Saya takjub ketika beberapa menit kemudian berhadapan dengan batu-batu  besar yang  di tengahnya ada air terjun sekitar setinggi 3 meter. Gemuruh air  terdengar jernih,  di tengah suasana yang senyap.

Untuk melengkapi susur sungai, kami pun ditantang untuk memanjat tebing yang berair dan pasti licin.

Istri kelihatan gugup, meski tinggi tebing hanya 3 meter dan dan akan  dibantu oleh pamandu. Maklum seumur-umur ia belum pernah panjat tebing. Sementara anak-anak tampak bersemangat.

“Aku takut, tapi penasaran,” bisik istri. Rupanya ia takut ke peleset, jatuh ke sungai yang dalamnya lima meter.

Namun keberaniannya muncul saat melihat anak-anak. Juga ia sadar jika kepalanya dilindungi helm dan  memakai jaket pelampung. Jadi kalau jatuh ke sungai ya, mengapung.

Yes, akhirnya kami sukses memanjat dan duduk-duduk di atas tebing. Pemandangan dari atas luar biasa. Kami bisa melihat sungai dan alam sekitar yang masih hijau. Tak terasa sudah 1 jam kami duduk di atas tebing dan sudah waktunya pulang.

Ada dua jalan untuk pulang, menuruni tebing yang licin atau terjun ke sungai  dari ketinggian 5 meter…

Lagi-lagi istri saya tampak gugup. Ia mencoba turun melewati tebing, namun ia menyerah karena mengaku kesulitan. Satu-satunya jalan adalah terjun. Lebih cepat juga dibanding merayap menuruni tebing. Anak-anak terjun bebas dengan riang. Sementara istri masih tampak ketakutan.

Namun akhirnya, ia  memejamkan dan menerjunkan tubuhnya ke sungai.

“Rasanya jantung mau lepas saat  melayang-layang di udara,” katanya saat mendarat di sungai dengan wajah ketakutan dan kesal melihat saya dan anak-anak tertawa melihatnya.

Namun akhirnya, kami memberi selamat kepadanya karena ia sukses naik tebing dan terjun bebas. Perjalanan susur sungai yang dingin dan mendebarkan ini sungguh mengesankan. Berhari-hari kami terus membicarakannyan juga  mempromosikannya ke teman dan tetangga.

Ini pertanda, liburan nanti, saya perlu mencari tempat wisata yang menantang lagi.

Oh, ya, buat anak saya yang kedua yang duduk di SMP, wisata ini cukup aman. Tapi buat anak-anak SD, sebaiknya jangan dulu, kali, ya.

Diceritakan oleh Muhamad Dahlan

Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Admin

 

Liburan Ekstrem Susur Sungai dan Menikmati Black Canyon
Posted by: Admin

Setelah searching sana-sini akhirnya saya menemukan destinasi liburan yang lumayan esktrem,  yaitu, susur Sungai Watu Mujur dan menikmati Black Canyon!  Istri, Pipih Maspupah dan kedua anak saya, Damar Kristal dan Clara Widyatna,  setuju. Sesekali cari liburan yang beda, tidak melulu pantai dan pegunungan, meski lumayan menegangkan!

Karena medannya cukup berat,  kami memutuskan untuk memakai pemandu wisata.  Namanya Tarno. Dia lah yang menyarankan agar kami tidak  membawa mobil,  tapi naik kereta dari Jakarta dan turun di Purwokerto.

Tarno akan menjemput kami di stasiun Purwokerto.

Setelah perjalanan sekitar 6 jam naik kereta dari Stasiun Pasar Senen, kami tiba di stasiun Purwokerto menjelang sore. Dengan mobil sewaan Tarno membawa kami ke Panusupan, Rembang, Purbalingga. Dalam perjalanan Tarno mengajak kami mampir ke Gua Lawa, Taman Bunga, dan Taman Kurcaci.

“Kapan kita melihat Black Canyon?” tanya Clara  pada Tarno.

“Besok kita baru ke sana. Pagi-pagi berangkatnya. Sekarang istirahat dulu biar siap untuk menyusuri sungai, naik tebing, dan terjung bebas ke air,” jelas Tarno.

Rasanya, kami sudah tidak sabar ingin segera menikmati apa yang diceritakan oleh Tarno. Tapi badan yang pegal dan lengket karena seharian di kendaraan sebaiknya memang diistirahatkan dulu.

Kami senang saat  Tarno membawa kami ke  home stay, rumah penduduk yang disewakan.

Rumahnya cukup besar,  memiliki empat kamar, dapur,  dan kamar mandi yang bersih. Sewanya Rp. 70 ribu per orang dan kami dapat makan dua kali. Di tengah udara dingin, malam itu kami melahap nasi hangat, tempe goreng, sayur daun singkong plus teri yang diberi cabe.

Sebelum tidur di ruang keluarga dengan menggelar empat kasur – kami sengaja memilih tempat itu agar bisa tidur besama —  kami kedatangan tamu Kepala Desa. Rupanya, ia datang untuk mengucapkan selamat datang kepada kami karena telah memilih berlibur di desanya.

Terima kasih Pak Kepdes.

Esoknya, setelah sarapan soto ayam, Tarno menjemput kami dengan mobil buntung alias belakangnya tanpa atap. Saya pun menggaruk-garuk kepala yang tidak ada rambutnya. Beneran, nih, naik mobil ini? Tarno mengangguk waktu saya menanyakan itu.

“Ini kendaraan satu-satunya yang aman dan bisa melewati jalan menuju Black Canyo,” jawab Tarno.

Saya lihat anak-anak, mereka tampak oke-oke saja. Toh, saya tetap  menawari mereka duduk di depan. Tapi mereka menolak. Apa artinya naik mobil buntung kalau duduk di depan. Nggak seru!

Jalanan yang kami lalui memang lumayan terjal dan kecil. Saya rasanya tidak sanggup kalau harus nyupir di sini. Tapi pemandangan alam yang kami lewati dengan angin yang bebas membelai-belai kulit kami, jalanan jelek dan kecil itu tak kami rasakan.

Tiba-tiba Tarno meminta kami turun, padahal  saya tidak melihat sungai.

Oh, rupanya kami masih harus melalui jalan  setapak dan melewati rumah penduduk. Lima belas menit kemudian kami tiba di sebuah tanah lapang. Tarno meminta kami mengenakan pelampung dan helm, lalu menjelaskan tentang aturan main saat susur sungai.

Tak berapa lama, kaki kami sudah nyemplung di sungai Watu Mujur yang air benar-benar jernih dan dingin. Kami pun mulai melangkah melawan arus sungai yang kederasannya bervariasi. Oppps, kedalaman sungai juga berbeda-beda. Semula dangkal, semakin dalam dan semakin dalam. Ketika kaki tidak lagi menapak dasar sungai, kami kaget, karena tubuh tiba-tiba mengapung!

Jadi, bagi yang tidak bisa berenang, susur sungai cukup aman juga.

 

Kemudian tibalah kami di antara tebing hitam mengkilat, menjulang tinggi yang dari sela-selanya kadang memancar  sinar matahari. Tebing itu popular disebut Black Canyon. Dari sela-sela tebing mengalir air terjun kecil.

 

Kami terus menyusuri sungai yang kadang menyempit.  Yang memaksa kami   harus  merayap di  sela-sela tebing yang sungguh sempit dan perlu usaha untuk melewatinya.

Saya takjub ketika beberapa menit kemudian berhadapan dengan batu-batu  besar yang  di tengahnya ada air terjun sekitar setinggi 3 meter. Gemuruh air  terdengar jernih,  di tengah suasana yang senyap.

Untuk melengkapi susur sungai, kami pun ditantang untuk memanjat tebing yang berair dan pasti licin.

Istri kelihatan gugup, meski tinggi tebing hanya 3 meter dan dan akan  dibantu oleh pamandu. Maklum seumur-umur ia belum pernah panjat tebing. Sementara anak-anak tampak bersemangat.

“Aku takut, tapi penasaran,” bisik istri. Rupanya ia takut ke peleset, jatuh ke sungai yang dalamnya lima meter.

Namun keberaniannya muncul saat melihat anak-anak. Juga ia sadar jika kepalanya dilindungi helm dan  memakai jaket pelampung. Jadi kalau jatuh ke sungai ya, mengapung.

Yes, akhirnya kami sukses memanjat dan duduk-duduk di atas tebing. Pemandangan dari atas luar biasa. Kami bisa melihat sungai dan alam sekitar yang masih hijau. Tak terasa sudah 1 jam kami duduk di atas tebing dan sudah waktunya pulang.

Ada dua jalan untuk pulang, menuruni tebing yang licin atau terjun ke sungai  dari ketinggian 5 meter…

Lagi-lagi istri saya tampak gugup. Ia mencoba turun melewati tebing, namun ia menyerah karena mengaku kesulitan. Satu-satunya jalan adalah terjun. Lebih cepat juga dibanding merayap menuruni tebing. Anak-anak terjun bebas dengan riang. Sementara istri masih tampak ketakutan.

Namun akhirnya, ia  memejamkan dan menerjunkan tubuhnya ke sungai.

“Rasanya jantung mau lepas saat  melayang-layang di udara,” katanya saat mendarat di sungai dengan wajah ketakutan dan kesal melihat saya dan anak-anak tertawa melihatnya.

Namun akhirnya, kami memberi selamat kepadanya karena ia sukses naik tebing dan terjun bebas. Perjalanan susur sungai yang dingin dan mendebarkan ini sungguh mengesankan. Berhari-hari kami terus membicarakannyan juga  mempromosikannya ke teman dan tetangga.

Ini pertanda, liburan nanti, saya perlu mencari tempat wisata yang menantang lagi.

Oh, ya, buat anak saya yang kedua yang duduk di SMP, wisata ini cukup aman. Tapi buat anak-anak SD, sebaiknya jangan dulu, kali, ya.

Diceritakan oleh Muhamad Dahlan

Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Admin