Lebaran di Tembagapura, kota Amerika di tengah lebatnya hutan Papua
Posted by: Metta Kartika

Di kala teman-teman merayakan lebaran dengan berkumpul bersama keluarga besar di kampung halaman, kami memilih mengunjungi salah satu sudut kota yang sangat mempesona di Papua, bernama Tembagapura. Kota dengan standar Amerika ini merupakan salah satu distrik yang terletak di bagian tengah Papua, Kabupaten Mimika yang dikelilingi Pegunungan Sudirman.

Packing baju sebelum berangkat

Bekal obat-obatan selama di perjalanan

Kami memulai perjalanan dari Yogyakarta 3 hari sebelum lebaran. Trip penerbangan kali ini sungguh membuat kami sport jantung. Saya awalnya hanya akan ke Tembagapura bersama kedua anak saya, Arka (3tahun 6 bulan) dan Forest (10 bulan), namun kakung mereka sepertinya tidak tega, jadilah kakung mengantarkan kami sampai Tembagapura.

Trip ini seharusnya berjalan lancar, jika saja pesawat kami dari Yogyakarta ke Jakarta tidak mengalami delay. Akibat delay 2 jam, hampir saja kami ditolak check in oleh pesawat carter dari perusahaan yang akan membawa kami ke sana. Semenjak turun dari pesawat di Bandara Soekarno Hatta, kami sudah lari terpogoh-pogoh  untuk mengantri bagasi. Jam tangan saya menunjukkan pukul 20:50, batas check in pesawat berikutnya sudah ditutup dari 20 menit lalu. Dengan harap-harap cemas melihat pengalaman trip ke tembagapura sebelumnya yang super ketat pemeriksaan di counter check in Airfast, jantung saya serasa mau copot.

Yup, kami ke tembagapura dalam rangka menemani Papa yang bekerja disana untuk lebaran bersama, sehingga kami bisa naik pesawat carter perusahaan dengan harga yang jauh lebih murah dari pada pesawat komersil ke Papua. Pesawat perusahaan ini cukup unik, mereka memiliki peraturan dilarang menggunakan tank top, rok/celana di atas lutut, dan harus memakai alas kaki yang tertutup, sopan sekaliiiiii bukan?Hehehee…Jadi jangan coba-coba pake sendal jepit, bisa dipastikan kamu tidak akan diijinkan check in. Yes..!!That is Airfast..!!

Setelah mengambil koper bagasi, kami langsung berlari kembali menuju counter check-in, daaaaaan..!!benar saja sudah tutup..!!piluuuu dan saya menatap nanar seorang petugas di counter seraya berkata “Paak..apa kami masih bisa check in. Kami tau kami terlambat, jika saja ini bukan moment lebaran, kami rela disuruh kembali ke Yogyakarta, namun Papa dari kedua anak ini sedang menunggu kehadiran kami disana untuk berlebaran bersama.”. Cukup lama saya menunggu reaksi Bapak petugas tersebut, beliau menghubungi beberapa pihak melaporkan bahwa masih ada penumpang dengan 2 anak kecil yang akan check in. Kami sangat bersyukur ketika beliau menganggukan kepala sembari menanyakan ID card kami. Yay..!!AMOLEEEE..!!

Ternyata jika kita mengambil penerbangan malam, waktu terasa lebih singkat. Setelah 6 jam perjalanan dengan 1 kali transit di Makasar untuk refuel, kami bisa melihat gugusan pulau-pulau nan cantik di bawah sana, yap sebentar lagi pesawat kami  kami akan landing di Bandara Moses Kilangin, Timika. Saya mengintip jendela pesawat, cuaca terlihat sedang kurang baik, berkabut dan sedikit gerimis. Tiba-tiba di kepala saya terlintas sebuah bus antipeluru yang menurut saya rasanya cukup sumpek karena kanan-kirinya tidak dilengkapi dengan jendela, melainkan ditutup lapisan baja antipeluru. Jujur, saya tidak pernah suka jika harus melewati jalur darat yang sering muncul di berita-berita televisi sebagai lokasi seringnya terjadi penembakan liar.

Tiba di Bandara Tembagapura, langsung menyusui

Kabut tidak kunjung hilang, sehingga diputuskan chopper tidak akan terbang pagi ini. Oh iya, chopper itu sebutan informal untuk helicopter, alat transportasi berbaling-baling besar ini berkapasitas 30 orang dan dioperasikan oleh PT.Airfast Indonesia. Sedangkan bus antipeluru yang kami naiki pagi ini berkapasitas sekitar 50 orang. Tidak ada pemandangan yang bisa kami lihat, hanya dinding-dinding hitam kelam. Alhamdulillah anak-anak tidak cranky selama 3 jam perjalanan naik turun bukit hingga kita sampai di tembagapura.

 

Hari yang cukup melelahkan, perut kami sudah keroncongan, Arka meminta makan dulu, jadi kami tidak langsung pulang ke rumah. Ada cafe di dekat tempat pemberhentian bus antipeluru tadi, Arka memesan nasi dengan ayam goreng, begitu juga dengan saya. Sedangkan Forest memakan bekal makanan bekunya, nasi tim daging , wortel dan brokoli, saya hanya meminta pelayan cafe untuk mencairkan dan menghangatkanya dengan microwave mereka. Anak-anak makan dengan lahap, mereka benar-benar kelaparan sepertinya.

Nyumm nyumm

Lebaran di Lembah Dingin Di Antara Puncak-Puncak Gunung

Jika biasanya malam takbir selalu dihiasi dengan masak-masak, kali ini saya puasa masak. Badan rasanya masih beradaptasi dengan dinginnya kota ini. Kota yang setiap hari dipenuhi kabut dan hanya sesekali disapa oleh sinar mentari ini membuat tubuh saya lumayan lama beradaptasi. Kalau anak-anak jangan ditanya…mereka langsung aktif luar biasa seperti tak kenal lelah, lari kesana kemari, mengajak bermain di luar. GGGrrrrr…padahal emaknya kedinginan.

Kami tinggal di kompleks yang bernama Hidden Valey di ketinggian 2300, sesuai dengan namanya lembah ini seolah menjadi lembah tersembunyi yang dikelilingi puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi. Sholat iedul fitri dilaksanakan di lapangan bola berumput hijau yang mempesona. Ada perasaan berkecamuk ketika menatap seolah langit begitu dekat dengan kami, awan serasa bisa disentuh oleh tangan. Ada kerinduan untuk berkumpul dengan sanak saudara di kampung halaman.

menuju lapangan bola untuk sholat ied

Peserta sholat iedul fitri cukup banyak, beberapa orang melakukan hal yang dilakukan suami saya, membawa keluarganya berlebaran di sini. Beberapa dari mereka ada yang open house. Namun ada juga bujangan-bujangan yang memang tidak mendapat jatah cuti lebaran. Jika 2 tahun lalu keluarga kami juga sempat open house, saat ini kami sedang memilih untuk berkunjung ke rumah-rumah yang open house. Orang-orang yang tinggal disini banyak yang pintar memasak, konon karena terpaksa dari pada makannya itu lagi itu lagi, jadi mereka lama-lama menjadi ahli.

Ada Daging Hijau dan Telur Hijau di Tembagapura

Tembagapura juga dilengkapi oleh berbagai fasilitas berstandar internasional, ada rumah sakit yang dikelola Internasional SOS, ada arena bermain anak, ada supermarket yang bahan makanannya langsung diangkut dari Australia, ada salon Rudy Hardisuwarno dengan harga khusus Tembagapura, ada layanan perbankan (CIMB NIAGA dan MANDIRI), ada hobby shop untuk mereka yang suka crafting, ada perpustakaan dengan koleksi lengkap buku anak-anak, ada kolam renang air hangat, lapangan sepak bola, tennis squash, ada cafe dan beberapa tempat makan dengan harga mulai dari 35.000 sekali makan (tanpa minum), ada gymnasium dengan alat yang cukup lengkap, ada sekolah bertaraf internasional, dan ada juga Lupa Lelah Club yang menjual berbagai merk Bir.

Fasilitas perpustakaan di Tembagapura

Fasilitas perpustakaan di Tembagapura

Fasilitas kolam renang di Tembagapura

Kol termahal seumur hidup saya 🙂

Arka senang sekali membaca buku, maka perpustakaan menjadi tujuan kami hampir setiap harinya. Jadwal kami sehari-hari sangat menyenangkan dan seru, Arka terkadang memiliki ide-ide di luar perkiraan saya. Aktifitas rutin yang biasa kami lakukan di pagi hari adalah mencari sinar mentari dan berjemur jika menemukannya. Arka sering berlari-lari mengejar bayangannya, tapi biasaya tidak lama, paling hanya 15 menit kemudian matahari sudah bersembunyi kembali di balik kabut.

Mengisi liburan lebaran ke perpustakaan

Mengisi liburan lebaran ke perpustakaan

Mencoba membantu papa

Bermain di playground Hidden Valley menjadi pilihan berikutnya, lengkap dengan perosotan, ayunan, monkey bar, dan terowongan. Playground yang bersih ini seringkali sepi, banyak yang memilih bercengkerama di rumah karena tidak tahan dengan dinginnya udara di ketinggian 2300 mdpl ini. Arka dan Djatun termasuk yang agak tahan dengan dingin, jaket tebal tetap saya berikan untuk melindunginya dari terpaan anggin yang menggigit. Untuk menuju lokasi-lokasi lain seperti, bus kota disediakan secara gratis oleh perusahaan, jadwal pemberangkatannya berjeda 30 menit sekali, jadi kita tidak perlu khawatir menunggu terlalu lama. Bus ini memiliki jendela di kanan kirinya sehingga Arka bisa menikmati pemandangan bukit-bukit dan air terjun yang kami lewati.

Tetap cantik meskipun berkabut

Asiiiiiik, bisa main puas

Bagi saya dan anak-anak, Tembagapura adalah kota yang yang menyenangkan, setiap pagi kami disambut oleh hijaunya pegunungan Papua dan kesegaran udara yang tidak pernah bisa kami dapatkan di Yogyakarta. Kendaraan bermotor yang ditemui hanya mobil perusahaan dengan plat nomer khusus dan bus, tidak ada motor disini. Pengendara disini juga sangat santun dan disiplin, mereka selalu menomorsatukan pejalan kaki. Namun, bagi mereka yang tidak bisa menikmatinya, “hidup disini seperti robot” katanya, hanya bangun, makan, bekerja dan tidur. Meskipun letaknya terpencil di belantara hutan, Tembagapura tidak bisa dibilang sebuah kota kecil yang lepas dari modernisasi.

Saya terkagum-kagum dengan segala fasilitas yang diberikan, setiap rumah untuk keluarga dilengkapi siaran TV CNN Amerika, kompor dan oven listrik, air hangat untuk mandi, heater ruangan, bahkan mesin cuci dan dish washernya adalah yang tercanggih yang pernah saya lihat. Oh iya, tidak lupa juga, air yang keluar disini bisa langsung diminum karena diperoleh dari sumber mata air Zaagkam yang sudah disaring. Untuk telekomunikasi, disini hanya ada signal Telkomsel saja, namun jangan khawatir bagi anda yang senang berbelanja online dari luar negeri, DHL bisa dengan mudah menjangkau rumah anda. Memang saya akui cita rasa amerika sangat khas melekat pada tata kota disini.

Hari terakhir kami disini, suami saya mengajak kami makan malam di Lupa Lelah Club, ini semacam Club House. Untuk bisa masuk kesini harus menjadi member, biaya menjadi member sekitar 500 ribu rupiah. Disini bukan hanya terdapat tempat makan eksklusif, tapi Anda juga bisa minum berbagai macam merk bir seperti Budweiser, Chivas Regal, Vodka, dan lainnya. Area Club dan restoran terpisah dan beda lantai, sehingga masih aman untuk mengajak anak-anak kesini. Suami saya ingin menceritakan tentang budaya bakar batu khas Papua yang telah diadopt LLC restaurant ini. Kami memesan “Black papper hot stone”, aktivitas ini seperti budaya bakar batu, daging dengan ukuran sedang diletakkan di atas batu panas dan kita diberi kesempatan untuk memasaknya sendiri. Tidak ada api yang digunakan, hanya sebongkah batu yang sangat panas, untuk itu kita harus hati-hati.

Besok kita akan kembali ke Yogyakarta, semoga kami tidak perlu naik bus antipeluru lagi.

Bye Papa, sampai kita bertemu lagi yaa

 

 

 

Share This | | |

3 responses to “Lebaran di Tembagapura, kota Amerika di tengah lebatnya hutan Papua”

  1. Nur Anggit Tri Rohmadi says:

    Suka…suka…suka…
    Makasih Mama..Arka..Djatun…sudah nemenin Papa lebaran di jobsite

  2. syams says:

    saya mau tanya, kalo ke tembagapura cuman buat kebutuhan traveling bisa gak ya

    makasih

    • Sheika Rauf says:

      setau kami tidak bisa mas, kecuali mas adalah keluarga karyawan atau tamu nya PT Freeport karena area di sana terlalu berbahaya untuk umum. Sarana transportasi menuju Tembagapura difasilitas oleh PT Freeport. Jadi hanya orang yang memiliki akses dengan PT Freeport saja yang bisa ke sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Metta Kartika

 

Lebaran di Tembagapura, kota Amerika di tengah lebatnya hutan Papua
Posted by: Metta Kartika

Di kala teman-teman merayakan lebaran dengan berkumpul bersama keluarga besar di kampung halaman, kami memilih mengunjungi salah satu sudut kota yang sangat mempesona di Papua, bernama Tembagapura. Kota dengan standar Amerika ini merupakan salah satu distrik yang terletak di bagian tengah Papua, Kabupaten Mimika yang dikelilingi Pegunungan Sudirman.

Packing baju sebelum berangkat

Bekal obat-obatan selama di perjalanan

Kami memulai perjalanan dari Yogyakarta 3 hari sebelum lebaran. Trip penerbangan kali ini sungguh membuat kami sport jantung. Saya awalnya hanya akan ke Tembagapura bersama kedua anak saya, Arka (3tahun 6 bulan) dan Forest (10 bulan), namun kakung mereka sepertinya tidak tega, jadilah kakung mengantarkan kami sampai Tembagapura.

Trip ini seharusnya berjalan lancar, jika saja pesawat kami dari Yogyakarta ke Jakarta tidak mengalami delay. Akibat delay 2 jam, hampir saja kami ditolak check in oleh pesawat carter dari perusahaan yang akan membawa kami ke sana. Semenjak turun dari pesawat di Bandara Soekarno Hatta, kami sudah lari terpogoh-pogoh  untuk mengantri bagasi. Jam tangan saya menunjukkan pukul 20:50, batas check in pesawat berikutnya sudah ditutup dari 20 menit lalu. Dengan harap-harap cemas melihat pengalaman trip ke tembagapura sebelumnya yang super ketat pemeriksaan di counter check in Airfast, jantung saya serasa mau copot.

Yup, kami ke tembagapura dalam rangka menemani Papa yang bekerja disana untuk lebaran bersama, sehingga kami bisa naik pesawat carter perusahaan dengan harga yang jauh lebih murah dari pada pesawat komersil ke Papua. Pesawat perusahaan ini cukup unik, mereka memiliki peraturan dilarang menggunakan tank top, rok/celana di atas lutut, dan harus memakai alas kaki yang tertutup, sopan sekaliiiiii bukan?Hehehee…Jadi jangan coba-coba pake sendal jepit, bisa dipastikan kamu tidak akan diijinkan check in. Yes..!!That is Airfast..!!

Setelah mengambil koper bagasi, kami langsung berlari kembali menuju counter check-in, daaaaaan..!!benar saja sudah tutup..!!piluuuu dan saya menatap nanar seorang petugas di counter seraya berkata “Paak..apa kami masih bisa check in. Kami tau kami terlambat, jika saja ini bukan moment lebaran, kami rela disuruh kembali ke Yogyakarta, namun Papa dari kedua anak ini sedang menunggu kehadiran kami disana untuk berlebaran bersama.”. Cukup lama saya menunggu reaksi Bapak petugas tersebut, beliau menghubungi beberapa pihak melaporkan bahwa masih ada penumpang dengan 2 anak kecil yang akan check in. Kami sangat bersyukur ketika beliau menganggukan kepala sembari menanyakan ID card kami. Yay..!!AMOLEEEE..!!

Ternyata jika kita mengambil penerbangan malam, waktu terasa lebih singkat. Setelah 6 jam perjalanan dengan 1 kali transit di Makasar untuk refuel, kami bisa melihat gugusan pulau-pulau nan cantik di bawah sana, yap sebentar lagi pesawat kami  kami akan landing di Bandara Moses Kilangin, Timika. Saya mengintip jendela pesawat, cuaca terlihat sedang kurang baik, berkabut dan sedikit gerimis. Tiba-tiba di kepala saya terlintas sebuah bus antipeluru yang menurut saya rasanya cukup sumpek karena kanan-kirinya tidak dilengkapi dengan jendela, melainkan ditutup lapisan baja antipeluru. Jujur, saya tidak pernah suka jika harus melewati jalur darat yang sering muncul di berita-berita televisi sebagai lokasi seringnya terjadi penembakan liar.

Tiba di Bandara Tembagapura, langsung menyusui

Kabut tidak kunjung hilang, sehingga diputuskan chopper tidak akan terbang pagi ini. Oh iya, chopper itu sebutan informal untuk helicopter, alat transportasi berbaling-baling besar ini berkapasitas 30 orang dan dioperasikan oleh PT.Airfast Indonesia. Sedangkan bus antipeluru yang kami naiki pagi ini berkapasitas sekitar 50 orang. Tidak ada pemandangan yang bisa kami lihat, hanya dinding-dinding hitam kelam. Alhamdulillah anak-anak tidak cranky selama 3 jam perjalanan naik turun bukit hingga kita sampai di tembagapura.

 

Hari yang cukup melelahkan, perut kami sudah keroncongan, Arka meminta makan dulu, jadi kami tidak langsung pulang ke rumah. Ada cafe di dekat tempat pemberhentian bus antipeluru tadi, Arka memesan nasi dengan ayam goreng, begitu juga dengan saya. Sedangkan Forest memakan bekal makanan bekunya, nasi tim daging , wortel dan brokoli, saya hanya meminta pelayan cafe untuk mencairkan dan menghangatkanya dengan microwave mereka. Anak-anak makan dengan lahap, mereka benar-benar kelaparan sepertinya.

Nyumm nyumm

Lebaran di Lembah Dingin Di Antara Puncak-Puncak Gunung

Jika biasanya malam takbir selalu dihiasi dengan masak-masak, kali ini saya puasa masak. Badan rasanya masih beradaptasi dengan dinginnya kota ini. Kota yang setiap hari dipenuhi kabut dan hanya sesekali disapa oleh sinar mentari ini membuat tubuh saya lumayan lama beradaptasi. Kalau anak-anak jangan ditanya…mereka langsung aktif luar biasa seperti tak kenal lelah, lari kesana kemari, mengajak bermain di luar. GGGrrrrr…padahal emaknya kedinginan.

Kami tinggal di kompleks yang bernama Hidden Valey di ketinggian 2300, sesuai dengan namanya lembah ini seolah menjadi lembah tersembunyi yang dikelilingi puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi. Sholat iedul fitri dilaksanakan di lapangan bola berumput hijau yang mempesona. Ada perasaan berkecamuk ketika menatap seolah langit begitu dekat dengan kami, awan serasa bisa disentuh oleh tangan. Ada kerinduan untuk berkumpul dengan sanak saudara di kampung halaman.

menuju lapangan bola untuk sholat ied

Peserta sholat iedul fitri cukup banyak, beberapa orang melakukan hal yang dilakukan suami saya, membawa keluarganya berlebaran di sini. Beberapa dari mereka ada yang open house. Namun ada juga bujangan-bujangan yang memang tidak mendapat jatah cuti lebaran. Jika 2 tahun lalu keluarga kami juga sempat open house, saat ini kami sedang memilih untuk berkunjung ke rumah-rumah yang open house. Orang-orang yang tinggal disini banyak yang pintar memasak, konon karena terpaksa dari pada makannya itu lagi itu lagi, jadi mereka lama-lama menjadi ahli.

Ada Daging Hijau dan Telur Hijau di Tembagapura

Tembagapura juga dilengkapi oleh berbagai fasilitas berstandar internasional, ada rumah sakit yang dikelola Internasional SOS, ada arena bermain anak, ada supermarket yang bahan makanannya langsung diangkut dari Australia, ada salon Rudy Hardisuwarno dengan harga khusus Tembagapura, ada layanan perbankan (CIMB NIAGA dan MANDIRI), ada hobby shop untuk mereka yang suka crafting, ada perpustakaan dengan koleksi lengkap buku anak-anak, ada kolam renang air hangat, lapangan sepak bola, tennis squash, ada cafe dan beberapa tempat makan dengan harga mulai dari 35.000 sekali makan (tanpa minum), ada gymnasium dengan alat yang cukup lengkap, ada sekolah bertaraf internasional, dan ada juga Lupa Lelah Club yang menjual berbagai merk Bir.

Fasilitas perpustakaan di Tembagapura

Fasilitas perpustakaan di Tembagapura

Fasilitas kolam renang di Tembagapura

Kol termahal seumur hidup saya 🙂

Arka senang sekali membaca buku, maka perpustakaan menjadi tujuan kami hampir setiap harinya. Jadwal kami sehari-hari sangat menyenangkan dan seru, Arka terkadang memiliki ide-ide di luar perkiraan saya. Aktifitas rutin yang biasa kami lakukan di pagi hari adalah mencari sinar mentari dan berjemur jika menemukannya. Arka sering berlari-lari mengejar bayangannya, tapi biasaya tidak lama, paling hanya 15 menit kemudian matahari sudah bersembunyi kembali di balik kabut.

Mengisi liburan lebaran ke perpustakaan

Mengisi liburan lebaran ke perpustakaan

Mencoba membantu papa

Bermain di playground Hidden Valley menjadi pilihan berikutnya, lengkap dengan perosotan, ayunan, monkey bar, dan terowongan. Playground yang bersih ini seringkali sepi, banyak yang memilih bercengkerama di rumah karena tidak tahan dengan dinginnya udara di ketinggian 2300 mdpl ini. Arka dan Djatun termasuk yang agak tahan dengan dingin, jaket tebal tetap saya berikan untuk melindunginya dari terpaan anggin yang menggigit. Untuk menuju lokasi-lokasi lain seperti, bus kota disediakan secara gratis oleh perusahaan, jadwal pemberangkatannya berjeda 30 menit sekali, jadi kita tidak perlu khawatir menunggu terlalu lama. Bus ini memiliki jendela di kanan kirinya sehingga Arka bisa menikmati pemandangan bukit-bukit dan air terjun yang kami lewati.

Tetap cantik meskipun berkabut

Asiiiiiik, bisa main puas

Bagi saya dan anak-anak, Tembagapura adalah kota yang yang menyenangkan, setiap pagi kami disambut oleh hijaunya pegunungan Papua dan kesegaran udara yang tidak pernah bisa kami dapatkan di Yogyakarta. Kendaraan bermotor yang ditemui hanya mobil perusahaan dengan plat nomer khusus dan bus, tidak ada motor disini. Pengendara disini juga sangat santun dan disiplin, mereka selalu menomorsatukan pejalan kaki. Namun, bagi mereka yang tidak bisa menikmatinya, “hidup disini seperti robot” katanya, hanya bangun, makan, bekerja dan tidur. Meskipun letaknya terpencil di belantara hutan, Tembagapura tidak bisa dibilang sebuah kota kecil yang lepas dari modernisasi.

Saya terkagum-kagum dengan segala fasilitas yang diberikan, setiap rumah untuk keluarga dilengkapi siaran TV CNN Amerika, kompor dan oven listrik, air hangat untuk mandi, heater ruangan, bahkan mesin cuci dan dish washernya adalah yang tercanggih yang pernah saya lihat. Oh iya, tidak lupa juga, air yang keluar disini bisa langsung diminum karena diperoleh dari sumber mata air Zaagkam yang sudah disaring. Untuk telekomunikasi, disini hanya ada signal Telkomsel saja, namun jangan khawatir bagi anda yang senang berbelanja online dari luar negeri, DHL bisa dengan mudah menjangkau rumah anda. Memang saya akui cita rasa amerika sangat khas melekat pada tata kota disini.

Hari terakhir kami disini, suami saya mengajak kami makan malam di Lupa Lelah Club, ini semacam Club House. Untuk bisa masuk kesini harus menjadi member, biaya menjadi member sekitar 500 ribu rupiah. Disini bukan hanya terdapat tempat makan eksklusif, tapi Anda juga bisa minum berbagai macam merk bir seperti Budweiser, Chivas Regal, Vodka, dan lainnya. Area Club dan restoran terpisah dan beda lantai, sehingga masih aman untuk mengajak anak-anak kesini. Suami saya ingin menceritakan tentang budaya bakar batu khas Papua yang telah diadopt LLC restaurant ini. Kami memesan “Black papper hot stone”, aktivitas ini seperti budaya bakar batu, daging dengan ukuran sedang diletakkan di atas batu panas dan kita diberi kesempatan untuk memasaknya sendiri. Tidak ada api yang digunakan, hanya sebongkah batu yang sangat panas, untuk itu kita harus hati-hati.

Besok kita akan kembali ke Yogyakarta, semoga kami tidak perlu naik bus antipeluru lagi.

Bye Papa, sampai kita bertemu lagi yaa

 

 

 

Share This | | |

3 responses to “Lebaran di Tembagapura, kota Amerika di tengah lebatnya hutan Papua”

  1. Nur Anggit Tri Rohmadi says:

    Suka…suka…suka…
    Makasih Mama..Arka..Djatun…sudah nemenin Papa lebaran di jobsite

  2. syams says:

    saya mau tanya, kalo ke tembagapura cuman buat kebutuhan traveling bisa gak ya

    makasih

    • Sheika Rauf says:

      setau kami tidak bisa mas, kecuali mas adalah keluarga karyawan atau tamu nya PT Freeport karena area di sana terlalu berbahaya untuk umum. Sarana transportasi menuju Tembagapura difasilitas oleh PT Freeport. Jadi hanya orang yang memiliki akses dengan PT Freeport saja yang bisa ke sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Metta Kartika