Search:
Search:
Kampung Homestay Selo, Menawarkan Wisata Alam Penuh Kekeluargaan
Posted by: Admin

Salam satu trend liburan kekinian  tak hanya datang ke tempat wisata, tapi mempelajari sesuatu dari masyarakat yang dikunjungi. Liburan akhir tahun lalu Redaksi Familygoers menikmati itu dengan menginap di homestay dan ikut ke kebun memetik sayuran buat sarapan. Ini pengalamannya.

Selo, Boyolali, Jawa Tengah, merupakan tempat yang pas dikunjungi bagi yang ingin menghirup udara bersih dan segar karena letaknya di lereng Gunung Merapi dan Merbabu yang subur.  Dari tempat inilah para pendaki kedua gunung tersebut memulai pendakian.

Selo juga merupakan tempat yang pas buat keluarga yang ingin mengenalkan alam pada anak. Di tempat ini,  selain pemandangan alamnya cantik, udara segar, anak juga bisa mengenal aneka tanaman dan memetik sayuran di kebun. Tinggal sampaikan saja keinginan ikut ke kebun kepada pemilik homestay.

Selo berada di tengah-tengah antara Magelang dan Boyolali. Jadi bisa ditempuh dari kedua kota tersebut. Jalannya naik turun dengan kanan dan kiri kebun sayur. Transportasi umum sangat jarang karena rata-rata penduduk memiliki motor. Jadi untuk menuju ke sana sebaiknya membawa kendaraan sendiri.

Kebun sayur seperti brokoli, adas, kentang, wortel dan sejenisnya berada tak jauh dari rumah penduduk. Bahkan ada yang berada di samping atau depan rumah. Di pekarangan  rumah, bunga aneka warna, merah, kuning, ungu tumbuh dengan bahagia.

Tak jarang di sela-sela tanaman bunga ada daun bawang, seledri, dan cabe yang bisa diambil saat ingin membuat telur dadar. Segar dari kebun sendiri. Rasanya beda dengan sayuran yang sudah menempuh berjam-jam perjalanan sebelum tiba di pasar. Kesempatan buat anak untuk melihat langsunb, tanaman dipetik langsung dan menjadi makana .

Di sana saya menginap di kampung homestay, homestay Agung, milik pasangan petani adas, sawi, dan labu, Bapak dan Ibu Wagiman. Keluarga ini sudah dua tahun menyewakan dua kamar, berupa paviliun yang terpisah dari rumah utama menghadap langsung ke halaman. Kamar mandinya di luar. Jadi kalau malam pingin buang air  kecil atau besar yang harus keluar kamar.

“Lumayan untuk menambah usaha tani kami,” kata Pak Wagiman.

Ada sekitar 20 rumah di kampung tersebut yang menyewakan kamar untuk  wisatawan yang dikelola oleh Koperasi Damandiri. Tarif kamar yang saya tempati Rp.150.000 per malam tanpa sarapan, Tapi bisa pesan kalau ingin disediakan sarapan dengan tambahan, sesuai kesepakatan. Karena lumayan jauh dari toko atau pasar, saya menyarankan membawa bekal makanan terutama camilan.

Kamarnya lumayan bersih. Tersedia air minum dan selimut. Tanpa AC  karena malam hari suhunya bisa 16 derajat. Jadi perlu siap-siao sweater kalau mau menginap di Selo. Seperti malam itu, karena ingin menikmati udara segar usai hujan,  kami duduk di luar. Melihat kami kedinginan di bawah suhu udara 16 derajat, Pak Wagiman menyalakan arang di tungku. Lumayan menghangatkan tubuh. Anak bisa menikmati kehangatan dari tungku yang selama ini mungkin tak pernah dilihatnya.

 

Pagi-pagi saya ikut Bu Wagiman ke kebun, sekitar 500 meter dari rumahnya dengan jalan yang menanjak . Ia akan memetik sayuran yang akan diolah menjadi gudangan, makanan khas keluarganya. Gudangan adalah sayuran rebus yang diberi kelapa, semacam urab. Kami memang meminta Bu Wagiman untuk menyediakan sarapan.

Di tengah perjalanan kami singgah di rumah petani wortel yang sedang membersihkan sayuran berwarna oranye yang gemuk-gemuk dan segar. Mereka sedang memilah-milah wortel dan membersihkannya sebelum dijual dijual di pasar.

Kami juga nengobrol sejenak dengan penduduk desa yang sedang mencuci baju di bak tadah hujan, yang ada airnya di musim hujan saja. Mereka mencuci baju di situ karena sayang menggunakan air bersih.

Saat sedang terengah-engah mendaki jalan menanjak, Bu Wagiman berhenti menyapa Ibu Wagiyem, 84 tahun yang tampak sehat dan gembira. Penglihatan dan pendengarannya masih tajam kala diajak bicara. Hanya giginya sudah banyak yang ompong. Ia hendak menebar benih brokoli di ladangnya yang berjarak sekitar 2 km dari rumahnya yang ia tempuh dengan jalan kaki. Hampir setiap hari, saat hari sedang tidak hujan. Pantesan sehat, ya.

Pucuk adas yang dibuat oblok oblok

Kebun sayur adas Bu Wagiman ada di lereng. Jalannya yang menurun lumayan sulit buat anak-anak. Itu. Tapi kebun labu dan sawinya ada di tepi jalan.  Menuju kebun, kami melewati pematang sayuran mikik adiknya, yang tidak sulit dilalui. Sepanjang jalan kami melihat aneka tanama seperti kopi dan bunga-bunga liar dengan warna menyala.

Bu Wagiman membawa pulang pucuk adas, sawi, dan pucuk labu siam dari kebunnya. Satu jam kemudian sayuran segar itu telah menjadi gudangan, sayuran rebus yang diberi kelapa kukus. Dan ini untuk pertama kalinya saya mencicipi daun adas, salah satu sayur yang banhak ditanam oleh penduduk setempat.

Ada juga sayur tumpang, tempe, tahu, telur dadar, sambal terasi, dan ikan asin. Sarapan besar pun berlangsung menjelang siang.

“Terima kasih sudah singgah. Silakan datang lagi. Tapi jangan lupa telepon dulu, terutama waktu libur karena biasanya kamar banyak yang pesan.Nanti saya buatkan oblok-oblok adas. Belum pernah nyoba, kan,” kata Bu Wagiman saat kami pamitan.

Sarapan buatan Ibu Wagiman

Selo, semakin banyak disinggahi. Alamnya subur ditumbuhi sayur. Udaranya segar. Penduduknya menerima kami seperti keluarga yang sedang berkunjung.

Makanya banyak orang yang sudah ‘tak punya siapa-siapa’ di kampung, pulang kampung ke Selo, merayakan Lebaran atau Tahun Baru! Salah satunya di rumah Keluarga Wagiman dan keluarga lain di kampung Homestay Damandiri

Related Links


Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Admin



Search:
Search:

Kampung Homestay Selo, Menawarkan Wisata Alam Penuh Kekeluargaan
Posted by: Admin

Salam satu trend liburan kekinian  tak hanya datang ke tempat wisata, tapi mempelajari sesuatu dari masyarakat yang dikunjungi. Liburan akhir tahun lalu Redaksi Familygoers menikmati itu dengan menginap di homestay dan ikut ke kebun memetik sayuran buat sarapan. Ini pengalamannya.

Selo, Boyolali, Jawa Tengah, merupakan tempat yang pas dikunjungi bagi yang ingin menghirup udara bersih dan segar karena letaknya di lereng Gunung Merapi dan Merbabu yang subur.  Dari tempat inilah para pendaki kedua gunung tersebut memulai pendakian.

Selo juga merupakan tempat yang pas buat keluarga yang ingin mengenalkan alam pada anak. Di tempat ini,  selain pemandangan alamnya cantik, udara segar, anak juga bisa mengenal aneka tanaman dan memetik sayuran di kebun. Tinggal sampaikan saja keinginan ikut ke kebun kepada pemilik homestay.

Selo berada di tengah-tengah antara Magelang dan Boyolali. Jadi bisa ditempuh dari kedua kota tersebut. Jalannya naik turun dengan kanan dan kiri kebun sayur. Transportasi umum sangat jarang karena rata-rata penduduk memiliki motor. Jadi untuk menuju ke sana sebaiknya membawa kendaraan sendiri.

Kebun sayur seperti brokoli, adas, kentang, wortel dan sejenisnya berada tak jauh dari rumah penduduk. Bahkan ada yang berada di samping atau depan rumah. Di pekarangan  rumah, bunga aneka warna, merah, kuning, ungu tumbuh dengan bahagia.

Tak jarang di sela-sela tanaman bunga ada daun bawang, seledri, dan cabe yang bisa diambil saat ingin membuat telur dadar. Segar dari kebun sendiri. Rasanya beda dengan sayuran yang sudah menempuh berjam-jam perjalanan sebelum tiba di pasar. Kesempatan buat anak untuk melihat langsunb, tanaman dipetik langsung dan menjadi makana .

Di sana saya menginap di kampung homestay, homestay Agung, milik pasangan petani adas, sawi, dan labu, Bapak dan Ibu Wagiman. Keluarga ini sudah dua tahun menyewakan dua kamar, berupa paviliun yang terpisah dari rumah utama menghadap langsung ke halaman. Kamar mandinya di luar. Jadi kalau malam pingin buang air  kecil atau besar yang harus keluar kamar.

“Lumayan untuk menambah usaha tani kami,” kata Pak Wagiman.

Ada sekitar 20 rumah di kampung tersebut yang menyewakan kamar untuk  wisatawan yang dikelola oleh Koperasi Damandiri. Tarif kamar yang saya tempati Rp.150.000 per malam tanpa sarapan, Tapi bisa pesan kalau ingin disediakan sarapan dengan tambahan, sesuai kesepakatan. Karena lumayan jauh dari toko atau pasar, saya menyarankan membawa bekal makanan terutama camilan.

Kamarnya lumayan bersih. Tersedia air minum dan selimut. Tanpa AC  karena malam hari suhunya bisa 16 derajat. Jadi perlu siap-siao sweater kalau mau menginap di Selo. Seperti malam itu, karena ingin menikmati udara segar usai hujan,  kami duduk di luar. Melihat kami kedinginan di bawah suhu udara 16 derajat, Pak Wagiman menyalakan arang di tungku. Lumayan menghangatkan tubuh. Anak bisa menikmati kehangatan dari tungku yang selama ini mungkin tak pernah dilihatnya.

 

Pagi-pagi saya ikut Bu Wagiman ke kebun, sekitar 500 meter dari rumahnya dengan jalan yang menanjak . Ia akan memetik sayuran yang akan diolah menjadi gudangan, makanan khas keluarganya. Gudangan adalah sayuran rebus yang diberi kelapa, semacam urab. Kami memang meminta Bu Wagiman untuk menyediakan sarapan.

Di tengah perjalanan kami singgah di rumah petani wortel yang sedang membersihkan sayuran berwarna oranye yang gemuk-gemuk dan segar. Mereka sedang memilah-milah wortel dan membersihkannya sebelum dijual dijual di pasar.

Kami juga nengobrol sejenak dengan penduduk desa yang sedang mencuci baju di bak tadah hujan, yang ada airnya di musim hujan saja. Mereka mencuci baju di situ karena sayang menggunakan air bersih.

Saat sedang terengah-engah mendaki jalan menanjak, Bu Wagiman berhenti menyapa Ibu Wagiyem, 84 tahun yang tampak sehat dan gembira. Penglihatan dan pendengarannya masih tajam kala diajak bicara. Hanya giginya sudah banyak yang ompong. Ia hendak menebar benih brokoli di ladangnya yang berjarak sekitar 2 km dari rumahnya yang ia tempuh dengan jalan kaki. Hampir setiap hari, saat hari sedang tidak hujan. Pantesan sehat, ya.

Pucuk adas yang dibuat oblok oblok

Kebun sayur adas Bu Wagiman ada di lereng. Jalannya yang menurun lumayan sulit buat anak-anak. Itu. Tapi kebun labu dan sawinya ada di tepi jalan.  Menuju kebun, kami melewati pematang sayuran mikik adiknya, yang tidak sulit dilalui. Sepanjang jalan kami melihat aneka tanama seperti kopi dan bunga-bunga liar dengan warna menyala.

Bu Wagiman membawa pulang pucuk adas, sawi, dan pucuk labu siam dari kebunnya. Satu jam kemudian sayuran segar itu telah menjadi gudangan, sayuran rebus yang diberi kelapa kukus. Dan ini untuk pertama kalinya saya mencicipi daun adas, salah satu sayur yang banhak ditanam oleh penduduk setempat.

Ada juga sayur tumpang, tempe, tahu, telur dadar, sambal terasi, dan ikan asin. Sarapan besar pun berlangsung menjelang siang.

“Terima kasih sudah singgah. Silakan datang lagi. Tapi jangan lupa telepon dulu, terutama waktu libur karena biasanya kamar banyak yang pesan.Nanti saya buatkan oblok-oblok adas. Belum pernah nyoba, kan,” kata Bu Wagiman saat kami pamitan.

Sarapan buatan Ibu Wagiman

Selo, semakin banyak disinggahi. Alamnya subur ditumbuhi sayur. Udaranya segar. Penduduknya menerima kami seperti keluarga yang sedang berkunjung.

Makanya banyak orang yang sudah ‘tak punya siapa-siapa’ di kampung, pulang kampung ke Selo, merayakan Lebaran atau Tahun Baru! Salah satunya di rumah Keluarga Wagiman dan keluarga lain di kampung Homestay Damandiri

Related Links


Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Admin