Jatiluwih: Tempat Main di Sawah  Warisan Budaya Dunia
Posted by: Admin

Kalau ke  Bali sempatkan ke Jatiluwih, yang masuk warisan budaya dunia UNESCO. Anak-anak dijamin senang berlarian di antara  bentangan sawah hijau yang berundak-undak dan air pegunungan yang melimpah. Seger banget!

Setelah menempuh waktu sekitar satu setengah jam dari Denpasar, akhirnya Mimin memasuki Jatiluwih, yang berada di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Jalanan mulai turun naik dan berliku.

Di siang menjelang pukul 11 itu, langit tampak biru bersih.  Sementara jalan pun mulai naik turun dan berkelok-kelok. Dari kejauhan tampak  pegunungan Batukaru dan perbukitan di Baturiti.  Waktu Mimin membuka jendela,  udara terasa sejuk. Jadi, AC pun Mimin minta matikan.

Setiba di Jatiluwih, Mata Mimin terhibur melihat sawah yang berundak-undak, sambung-menyambung menyerupai karpet hijau. Tentu saja ini bukan pertama kali Mimin melihat sawah. Tapi pesawahan di sini, tertata rapih banget. Padinya tampak subur.

Mimin turun dan berjalan di antara pesawahan, Eh, bertemu dengan orang-orangan, pengusir burung, bertampang bule. Hehehe. Hmmm, Mimin lihat ada anak yang suka orang-orangan, ada juga mengkeret ketakutan.

Waktu Mimin datang, sebagian sawah baru selesai dipanen. Tampak beberapa Pak Tani sedang mulai menanam padi. Beberapa anak tampak antusias menyaksikan asal-usual nasi yang dimakan setiap hari tersebut.

Mimin senang sekali waktu melihat sungai kecil dengan airnya yang jernih mengalir, mengairi sawah. Beberapa orang duduk di tepi sungai, melepas sepatu atau sandal dan merendam kaki ke dalam sungai. Namanya tepi sungai yang tentu saja kotor. Maka sebaiknya, sih, kalau mau duduk di tepi sungai lapisi dulu dengan tisu, syukur-syukur kalau bawa koran.

Air yang melimpat itu rupanya berkat Subak, organisasi yang mengatur pengairan agar para pemilik sawah mendapat pembagian air yang merata. Organisasi ini sudah ada sejak abad ke-7 Masehi dan masih dipelihara hingga sekarang.

Oh, ya, kalau ke Jatiluwih sebaiknya saat tidak hujan, meskipun di sana ada restoran untuk makan dan berteduh tapi kurang seru kalau tidak jalan-jalan.

Selain itu, lebih enak datang pagi hari saat matahari belum terik. Kalau sudah menjelang siang, memakai topi atau payung akan menghindarkan kulit dan sengatan matahari.

Pakai alasa kaki yang nyaman biar tidak cepat lelah karena aktivitasnya memang jalan-jalan, Dan tentu saja jangan lupa membawa bekal air minum.

 

 

 



Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Admin




Jatiluwih: Tempat Main di Sawah  Warisan Budaya Dunia
Posted by: Admin

Kalau ke  Bali sempatkan ke Jatiluwih, yang masuk warisan budaya dunia UNESCO. Anak-anak dijamin senang berlarian di antara  bentangan sawah hijau yang berundak-undak dan air pegunungan yang melimpah. Seger banget!

Setelah menempuh waktu sekitar satu setengah jam dari Denpasar, akhirnya Mimin memasuki Jatiluwih, yang berada di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Jalanan mulai turun naik dan berliku.

Di siang menjelang pukul 11 itu, langit tampak biru bersih.  Sementara jalan pun mulai naik turun dan berkelok-kelok. Dari kejauhan tampak  pegunungan Batukaru dan perbukitan di Baturiti.  Waktu Mimin membuka jendela,  udara terasa sejuk. Jadi, AC pun Mimin minta matikan.

Setiba di Jatiluwih, Mata Mimin terhibur melihat sawah yang berundak-undak, sambung-menyambung menyerupai karpet hijau. Tentu saja ini bukan pertama kali Mimin melihat sawah. Tapi pesawahan di sini, tertata rapih banget. Padinya tampak subur.

Mimin turun dan berjalan di antara pesawahan, Eh, bertemu dengan orang-orangan, pengusir burung, bertampang bule. Hehehe. Hmmm, Mimin lihat ada anak yang suka orang-orangan, ada juga mengkeret ketakutan.

Waktu Mimin datang, sebagian sawah baru selesai dipanen. Tampak beberapa Pak Tani sedang mulai menanam padi. Beberapa anak tampak antusias menyaksikan asal-usual nasi yang dimakan setiap hari tersebut.

Mimin senang sekali waktu melihat sungai kecil dengan airnya yang jernih mengalir, mengairi sawah. Beberapa orang duduk di tepi sungai, melepas sepatu atau sandal dan merendam kaki ke dalam sungai. Namanya tepi sungai yang tentu saja kotor. Maka sebaiknya, sih, kalau mau duduk di tepi sungai lapisi dulu dengan tisu, syukur-syukur kalau bawa koran.

Air yang melimpat itu rupanya berkat Subak, organisasi yang mengatur pengairan agar para pemilik sawah mendapat pembagian air yang merata. Organisasi ini sudah ada sejak abad ke-7 Masehi dan masih dipelihara hingga sekarang.

Oh, ya, kalau ke Jatiluwih sebaiknya saat tidak hujan, meskipun di sana ada restoran untuk makan dan berteduh tapi kurang seru kalau tidak jalan-jalan.

Selain itu, lebih enak datang pagi hari saat matahari belum terik. Kalau sudah menjelang siang, memakai topi atau payung akan menghindarkan kulit dan sengatan matahari.

Pakai alasa kaki yang nyaman biar tidak cepat lelah karena aktivitasnya memang jalan-jalan, Dan tentu saja jangan lupa membawa bekal air minum.

 

 

 



Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Admin