Jalan-jalan Sambil Belajar Bersama Familygoers
Posted by: Restu Widayati

Saya dan Kinan

Minggu pagi tanggal 31 Maret 2019, putriku, Kinan  (9), bangun dengan antusias. Hari yang ia nanti-nantikan tiba: Jalan-jalan ke Pusat Peragaan Iptek dan Museum Transportasi TMII!

Kami tiba di halaman Pusat Peragaan Iptek pukul 9.00 pagi dan  disambut hangat oleh tim Familygoers. Kami pun bergabung dengan keluarga lain yang membawa putra-putri seusia Kinan. Mereka semua tampak bersemangat.

Saya berharap jalan-jalan ini tak hanya mengunjungi dan melihat sebuah tempat, tapi Kinan mendapat tambahan pengetahuan, teman, dan tentunya ia juga gembira.

Sebelum masuk Pusat Peragaan Iptek, Kak Edo, yang akan memandu  perjalanan, memberi arahan kepada kami yang berjumlah sekitar 20 orang, terdiri dari orangtua dan anak-anaknya.

Di dalam pusat peragaan, hal pertama yang  kami lihat adalah Wahana Dinosaurus. Anak-anak antusias mendengar penjelasan Kak Edo mengenai berbagai macam dinosaurus dengan cara yang interaktif. Ketika replika Tyrex mengaum dan menunjukkan giginya yang tajam tajam, anak-anak menjerit kaget.

Kekakraban Kinan dengan teman teman baru mulai terjalin.

Keakraban Kinan dan teman-teman mulai terjalin

Berikutnya kami memasuki sebuah ruang luas dengan berbagai macam alat peraga sains. Kak Edo ditemani  kakak penjaga alat peraga menjelaskan bagaimana cara kerja alat peraga tersebut. Kinan tertarik untuk  mencoba alat tersebut. Ia meletakkan tangannya di atas bola yang dialiri listrik statis. Aha…rambutnya bisa berdiri!

Ada pula anak yang mencoba duduk di atas kursi putar sambil memegang roda putar. Kalau roda diarahkan ke kiri, kursi ikut berputar ke kiri, demikian pula sebaliknya. Di saat roda berputar cepat, kita tidak akan jatuh, walaupun posisi kita miring. Itulah sebabnya mengapa Valentino Rossi tidak jatuh di saat motornya miring ketika menikung tajam.

Saat anak-anak sedang asyik mencoba beragam alat peraga terdengar pengumuman kalau sebentar lagi akan diadakan demo pelucururan roket air. Kami pun bergegas menuju tempat demo, yang ternyata berada di luar ruangan. Di sana sudah ada seorang kakak yang akan memandu demo.

Dua orang anak diminta kakak pemandu demo meluncurkan roket. Satu orang diminta mengisi air dan seorang lagi minta memompa dan meluncurkan di hitungan ke-15. Anak-anak yang duduk di tangga bersorak kagum ketika roket berisi air terbang tinggi dan mendarat sekitar 20 meter dari tempat roket yang dibuat dari rangkaian botol plastik itu diluncurkan. Roket kedua diluncurkan tanpa air. Hasilnya roket itu tidak meluncur tapi jatuh dekat dari tempat peluncuran.

Selanjutnya anak-anak diajak Kak Edo ke rumah simulator gempa. Kinan dan anak-anak lain antusias ingin mencoba. Saya juga ikut masuk ke rumah tersebut. Apa yang terjdi; Saat gempat sekitar 40 detik  rumah bergoyang-goyang, peralatan dapur dan lukisan yang digantung pun turut bergoyang. Dengan pengalaman nyata tersebut anak-anak jadi tahu, apa yang terjadi saat gempa terjadi.

Kembali terdengar pengumaman akan diadakan percobaan di ruang percobaan sains. Di ruangan tersebut seorang kakak mengajak anak bereksperimen dengan berbagai jenis cairan dan warna. Misalnya, jika air dicampur dengan minyak goreng dalam botol, air tersebut tidak akan menyatu. Kinan menyukai  percobaan tersebut. Mungkin karena di sekolah ia juga ikut Sains Club.

Perjalanan kami di Pusat Peragaan Iptek diakhiri dengan melewati lorong yang dilengkapi sinar laser. Lampu akan menyala jika kita melewatinya. Seperi di film Mission Imposible itu, lho. Setelah itu masuk ke ruang ilusi dan seribu cermin. Karena seru ada anak yang mengulang masuk lorong laser dan ilusi.

Kinan mencoba salah satu alat peraga. Rambutnya berdiri

Rasanya belum puas dan tidak cukup waktu sehari untuk mencoba semua alat peraga yang semuanya menarik dan menantang. Namun sesuai rencana jalan-jalan pada jam tersebut kami mengunjungi Museum Transportasi.

Saat masuk, Kak Edo, langsung membawa kami naik pesawat, yang berhenti tentu saja. Kalau naik pesawat beneran, kita tidak bisa melihat ruang pilot secara leluasa, tapi di tempat ini pengunjung bisa melihat dan duduk di kursi pilot. Oh, ya, kursi pesawat hanya dipasang separuh. Pengunjung pun duduk lesehan di pesawat. Maka terdengar celetukan, baru kali ini naik pesawat duduk di bawah, hahahaha.

“Ini adalah kereta api yang ditumpangi oleh Presiden dan Wakil Presiden RI saat Ibu Kota Negara pindah dari Jakarta ke Yogyakarta . Kereta api pertama yang memakai AC dengan menggunakan es batu…” tutur Kak Edo saat kami tiba di tempat dua  kereta api tua diparkir.

Selanjutnya kami melihat bermacam alat transportasi. Kinan dan anak-anak lain terheran-heran melihat bajaj, karena dia belum pernah naik bajaj, soalnya tidak beroperasi di wilayah tempat kami tinggal. Bus tingkat juga membuat mereka terpana.

Tak terasa sudah pukul 12 siang. Anak-anak sudah tampak kelelahan apalagi kami orangtuanya karena dari satu tempat ke tempat yang lain kami harus berjalan kaki. Lumayan sehat, kan. Tubuh pun sudah mulai berkeringat. Anak-anak juga orang tuanya sudah tampak lapar.

Maka kami pun menikmati makan bersama di restoran ayam goreng dengan nikmat, Dan, kami pun berpisah di situ.

Terima kasih banyak tim Familygoers, liburan keluarga kami tidak hanya mengesankan, namun juga sangat bermanfaat.



Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Restu Widayati

 

Jalan-jalan Sambil Belajar Bersama Familygoers
Posted by: Restu Widayati

Saya dan Kinan

Minggu pagi tanggal 31 Maret 2019, putriku, Kinan  (9), bangun dengan antusias. Hari yang ia nanti-nantikan tiba: Jalan-jalan ke Pusat Peragaan Iptek dan Museum Transportasi TMII!

Kami tiba di halaman Pusat Peragaan Iptek pukul 9.00 pagi dan  disambut hangat oleh tim Familygoers. Kami pun bergabung dengan keluarga lain yang membawa putra-putri seusia Kinan. Mereka semua tampak bersemangat.

Saya berharap jalan-jalan ini tak hanya mengunjungi dan melihat sebuah tempat, tapi Kinan mendapat tambahan pengetahuan, teman, dan tentunya ia juga gembira.

Sebelum masuk Pusat Peragaan Iptek, Kak Edo, yang akan memandu  perjalanan, memberi arahan kepada kami yang berjumlah sekitar 20 orang, terdiri dari orangtua dan anak-anaknya.

Di dalam pusat peragaan, hal pertama yang  kami lihat adalah Wahana Dinosaurus. Anak-anak antusias mendengar penjelasan Kak Edo mengenai berbagai macam dinosaurus dengan cara yang interaktif. Ketika replika Tyrex mengaum dan menunjukkan giginya yang tajam tajam, anak-anak menjerit kaget.

Kekakraban Kinan dengan teman teman baru mulai terjalin.

Keakraban Kinan dan teman-teman mulai terjalin

Berikutnya kami memasuki sebuah ruang luas dengan berbagai macam alat peraga sains. Kak Edo ditemani  kakak penjaga alat peraga menjelaskan bagaimana cara kerja alat peraga tersebut. Kinan tertarik untuk  mencoba alat tersebut. Ia meletakkan tangannya di atas bola yang dialiri listrik statis. Aha…rambutnya bisa berdiri!

Ada pula anak yang mencoba duduk di atas kursi putar sambil memegang roda putar. Kalau roda diarahkan ke kiri, kursi ikut berputar ke kiri, demikian pula sebaliknya. Di saat roda berputar cepat, kita tidak akan jatuh, walaupun posisi kita miring. Itulah sebabnya mengapa Valentino Rossi tidak jatuh di saat motornya miring ketika menikung tajam.

Saat anak-anak sedang asyik mencoba beragam alat peraga terdengar pengumuman kalau sebentar lagi akan diadakan demo pelucururan roket air. Kami pun bergegas menuju tempat demo, yang ternyata berada di luar ruangan. Di sana sudah ada seorang kakak yang akan memandu demo.

Dua orang anak diminta kakak pemandu demo meluncurkan roket. Satu orang diminta mengisi air dan seorang lagi minta memompa dan meluncurkan di hitungan ke-15. Anak-anak yang duduk di tangga bersorak kagum ketika roket berisi air terbang tinggi dan mendarat sekitar 20 meter dari tempat roket yang dibuat dari rangkaian botol plastik itu diluncurkan. Roket kedua diluncurkan tanpa air. Hasilnya roket itu tidak meluncur tapi jatuh dekat dari tempat peluncuran.

Selanjutnya anak-anak diajak Kak Edo ke rumah simulator gempa. Kinan dan anak-anak lain antusias ingin mencoba. Saya juga ikut masuk ke rumah tersebut. Apa yang terjdi; Saat gempat sekitar 40 detik  rumah bergoyang-goyang, peralatan dapur dan lukisan yang digantung pun turut bergoyang. Dengan pengalaman nyata tersebut anak-anak jadi tahu, apa yang terjadi saat gempa terjadi.

Kembali terdengar pengumaman akan diadakan percobaan di ruang percobaan sains. Di ruangan tersebut seorang kakak mengajak anak bereksperimen dengan berbagai jenis cairan dan warna. Misalnya, jika air dicampur dengan minyak goreng dalam botol, air tersebut tidak akan menyatu. Kinan menyukai  percobaan tersebut. Mungkin karena di sekolah ia juga ikut Sains Club.

Perjalanan kami di Pusat Peragaan Iptek diakhiri dengan melewati lorong yang dilengkapi sinar laser. Lampu akan menyala jika kita melewatinya. Seperi di film Mission Imposible itu, lho. Setelah itu masuk ke ruang ilusi dan seribu cermin. Karena seru ada anak yang mengulang masuk lorong laser dan ilusi.

Kinan mencoba salah satu alat peraga. Rambutnya berdiri

Rasanya belum puas dan tidak cukup waktu sehari untuk mencoba semua alat peraga yang semuanya menarik dan menantang. Namun sesuai rencana jalan-jalan pada jam tersebut kami mengunjungi Museum Transportasi.

Saat masuk, Kak Edo, langsung membawa kami naik pesawat, yang berhenti tentu saja. Kalau naik pesawat beneran, kita tidak bisa melihat ruang pilot secara leluasa, tapi di tempat ini pengunjung bisa melihat dan duduk di kursi pilot. Oh, ya, kursi pesawat hanya dipasang separuh. Pengunjung pun duduk lesehan di pesawat. Maka terdengar celetukan, baru kali ini naik pesawat duduk di bawah, hahahaha.

“Ini adalah kereta api yang ditumpangi oleh Presiden dan Wakil Presiden RI saat Ibu Kota Negara pindah dari Jakarta ke Yogyakarta . Kereta api pertama yang memakai AC dengan menggunakan es batu…” tutur Kak Edo saat kami tiba di tempat dua  kereta api tua diparkir.

Selanjutnya kami melihat bermacam alat transportasi. Kinan dan anak-anak lain terheran-heran melihat bajaj, karena dia belum pernah naik bajaj, soalnya tidak beroperasi di wilayah tempat kami tinggal. Bus tingkat juga membuat mereka terpana.

Tak terasa sudah pukul 12 siang. Anak-anak sudah tampak kelelahan apalagi kami orangtuanya karena dari satu tempat ke tempat yang lain kami harus berjalan kaki. Lumayan sehat, kan. Tubuh pun sudah mulai berkeringat. Anak-anak juga orang tuanya sudah tampak lapar.

Maka kami pun menikmati makan bersama di restoran ayam goreng dengan nikmat, Dan, kami pun berpisah di situ.

Terima kasih banyak tim Familygoers, liburan keluarga kami tidak hanya mengesankan, namun juga sangat bermanfaat.



Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Restu Widayati