Hiking di Korea bareng bocah
Posted by: Fina Thorpe Willett

Dari berbagai kegiatan bareng anak yang pernah saya lakukan, khususnya urusan jalan-jalan dan eksplorasi, salah satu yang gagal terlaksana adalah naik gunung hingga puncaknya. Padahal saat itu, tepatnya saat tinggal di Korean Selatan, ada banyak gunung yang cukup ramah anak. Kegiatan hiking hingga ke puncak gunung lazim menjadi rekreasi dan pengisi waktu liburan….untuk keluarga lain.

Hiking di Korea, walaupun tidak sampai ke puncaknya, tidak terlalu sulit, alamnya tidak begitu liar. Plus berganjar pemandangan apik dari atas. Pemerintah setempat mengelola alam terbuka dengan baik, dijamin bersih di mana-mana. Petunjuk jalan setapak juga ada dan cukup mudah dimengerti. Tidak jarang kita bahkan menemukan toilet, bale-bale istirahat bahkan alat fitness di perjalanan !

take a break at the gazebo. Guksabong Peak hike.

Jangan bayangkan gunung yang terkenal di Indonesia ya. Gunung di Korea relatif rendah dibandingkan Semeru, Merapi, Singgalang dan sebagainya, yang membutuhkan persiapan serius dan perjalanan panjang bahkan menginap.

Pegunungan yang terkenal tinggi di Korea masih mungkin dijalani bersama keluarga. Biasanya pemerintah sudah membuat jalan mobil hingga ketinggian tertentu sehingga hiker yang waktunya pendek, bisa mencapai puncak dan kembali turun dalam 1 hari saja.

Bahkan ada gunung yang menjadi tujuan perjalanan field trip sekolah ! Memang anak-anak tidak hiking sampai puncak, biasanya hanya sampai titik di mana sedang mekarnya bunga-bunga musiman. Alokasi 2 jam cukuplah.

Karena naik-naik ke puncak gunung (sambil nyanyi bacanya ya… hehehe) masuk dalam bucket list saya untuk mengisi waktu saat di Korea, sementara jadwal anak sendiri susah diharapkan, maka di suatu pagi yang cerah, saya naik gunung bareng anak teman…dan ibunya. Hahaha. Sekedar membuktikan bahwa naik gunung di Korea memang ramah anak.

Gunung yang menjadi tujuan, sangat umum untuk warga setempat. Estimasi waktu naik dan turun hingga puncaknya juga kurang dari 4 jam. Seperti yang sudah diprediksi, jalan setapak yang dilalui sangat terawat. Di beberapa tapak yang cukup terjal sudah dibuatkan undakan dengan tepian bambu atau kayu sehingga hiker tidak mudah tergelincir.

Teman perjalanan saya pagi itu, Lala, Istie dan baby Alex (1,5th, anaknya Istie). Alex senasib dengan saya, newbie gress untuk urusan naik gunung. Kami saling memberi semangat. Hahaaha. Saat saya terengah-engah, atau Alex tersandung, kami berhenti sejenak, minum, mengatur nafas dan jalan lagi pelan-pelan. Dengan trik ini, dia (dan saya!) tetap jalan sendiri hingga puncak. Hanya saja di bagian-bagian yang berbahaya, Alex akhirnya harus digendong.

Dan seperti yang dibayangkan, memandang alam dari atas itu luar biasa indahnya. Ketika kami berhasil mencapai puncak, terasa lega dan menang (mengalahkan rasa nggak pede). Susah dijelaskan deh, pokoknya seneng banget!

Selain itu, timbul rasa nagih, pengen lagi. Pantesan aja grup hiking di Korea rajin banget!

Tak lama setelah itu, saya sempat hiking lagi dengan grup yang sama, plus Rani dan anaknya, Banyu (2th). Dan anak-anak, meskipun belum sempat hiking sampai ke puncak, namun menikmati perjalanan keluarga ke tengah alam. Kami sempat beristirahat dan membiarkan mereka main air.

Lain kali ketika ke Korea, coba bapak dan ibu pertimbangkan untuk hiking. Bahkan sebagai turis telah disediakan berbagai alternatif lokasi yang tidak terlalu jauh dari kota, berisi nilai tambah masing-masing.

Di pinggiran Seoul misalnya, kita bisa hiking sedikit untuk mencapai situs sejarah berupa dinding pelindung kota (city wall fortress) yang tersebar di berbagai penjuru Seoul. Salah satunya ada di utara Gyeongbokgung (grand palace). Yang lebih rendah ada di ujungnya Dongdaemun.

Gunung atau bukit tinggi dalam bahasa Korea disebut ‘san’. Satu ‘san’ yang paling kesohor adalah Namsan, tempat Seoul tower berada. Selain naik cable car, jalan setapak untuk hiker juga disediakan dan indah sekali saat musim gugur. Peta untuk hiking di sekitar Namsan juga mudah didapat di tourist information.

‘San’ yang mungkin paling tersohor di Korea adalah pegunungan Seoraksan dan Hallasan (Jeju). Kedua tempat ini hanya sebagian kecil dari daftar gunung yang ditawarkan oleh dinas pariwisata setempat. Informasinya cukup banyak di website mereka. Musim gugur dan musim semi adalah waktu yang paling cocok untuk mencoba berwisata alam.

Tertarik? :))

Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Fina Thorpe Willett
Proud mum of JED with almost 12 years as trailing spouse who can't sit still. hahaha.. Co-author Wander Woman and Meniti Cahaya (both by Gramedia) - monggo dibeli! Also freelancer as content producer for sites, magazines and social media, love to share about Indonesia to the international community - particularly through my homemade meals :)

 

Hiking di Korea bareng bocah
Posted by: Fina Thorpe Willett

Dari berbagai kegiatan bareng anak yang pernah saya lakukan, khususnya urusan jalan-jalan dan eksplorasi, salah satu yang gagal terlaksana adalah naik gunung hingga puncaknya. Padahal saat itu, tepatnya saat tinggal di Korean Selatan, ada banyak gunung yang cukup ramah anak. Kegiatan hiking hingga ke puncak gunung lazim menjadi rekreasi dan pengisi waktu liburan….untuk keluarga lain.

Hiking di Korea, walaupun tidak sampai ke puncaknya, tidak terlalu sulit, alamnya tidak begitu liar. Plus berganjar pemandangan apik dari atas. Pemerintah setempat mengelola alam terbuka dengan baik, dijamin bersih di mana-mana. Petunjuk jalan setapak juga ada dan cukup mudah dimengerti. Tidak jarang kita bahkan menemukan toilet, bale-bale istirahat bahkan alat fitness di perjalanan !

take a break at the gazebo. Guksabong Peak hike.

Jangan bayangkan gunung yang terkenal di Indonesia ya. Gunung di Korea relatif rendah dibandingkan Semeru, Merapi, Singgalang dan sebagainya, yang membutuhkan persiapan serius dan perjalanan panjang bahkan menginap.

Pegunungan yang terkenal tinggi di Korea masih mungkin dijalani bersama keluarga. Biasanya pemerintah sudah membuat jalan mobil hingga ketinggian tertentu sehingga hiker yang waktunya pendek, bisa mencapai puncak dan kembali turun dalam 1 hari saja.

Bahkan ada gunung yang menjadi tujuan perjalanan field trip sekolah ! Memang anak-anak tidak hiking sampai puncak, biasanya hanya sampai titik di mana sedang mekarnya bunga-bunga musiman. Alokasi 2 jam cukuplah.

Karena naik-naik ke puncak gunung (sambil nyanyi bacanya ya… hehehe) masuk dalam bucket list saya untuk mengisi waktu saat di Korea, sementara jadwal anak sendiri susah diharapkan, maka di suatu pagi yang cerah, saya naik gunung bareng anak teman…dan ibunya. Hahaha. Sekedar membuktikan bahwa naik gunung di Korea memang ramah anak.

Gunung yang menjadi tujuan, sangat umum untuk warga setempat. Estimasi waktu naik dan turun hingga puncaknya juga kurang dari 4 jam. Seperti yang sudah diprediksi, jalan setapak yang dilalui sangat terawat. Di beberapa tapak yang cukup terjal sudah dibuatkan undakan dengan tepian bambu atau kayu sehingga hiker tidak mudah tergelincir.

Teman perjalanan saya pagi itu, Lala, Istie dan baby Alex (1,5th, anaknya Istie). Alex senasib dengan saya, newbie gress untuk urusan naik gunung. Kami saling memberi semangat. Hahaaha. Saat saya terengah-engah, atau Alex tersandung, kami berhenti sejenak, minum, mengatur nafas dan jalan lagi pelan-pelan. Dengan trik ini, dia (dan saya!) tetap jalan sendiri hingga puncak. Hanya saja di bagian-bagian yang berbahaya, Alex akhirnya harus digendong.

Dan seperti yang dibayangkan, memandang alam dari atas itu luar biasa indahnya. Ketika kami berhasil mencapai puncak, terasa lega dan menang (mengalahkan rasa nggak pede). Susah dijelaskan deh, pokoknya seneng banget!

Selain itu, timbul rasa nagih, pengen lagi. Pantesan aja grup hiking di Korea rajin banget!

Tak lama setelah itu, saya sempat hiking lagi dengan grup yang sama, plus Rani dan anaknya, Banyu (2th). Dan anak-anak, meskipun belum sempat hiking sampai ke puncak, namun menikmati perjalanan keluarga ke tengah alam. Kami sempat beristirahat dan membiarkan mereka main air.

Lain kali ketika ke Korea, coba bapak dan ibu pertimbangkan untuk hiking. Bahkan sebagai turis telah disediakan berbagai alternatif lokasi yang tidak terlalu jauh dari kota, berisi nilai tambah masing-masing.

Di pinggiran Seoul misalnya, kita bisa hiking sedikit untuk mencapai situs sejarah berupa dinding pelindung kota (city wall fortress) yang tersebar di berbagai penjuru Seoul. Salah satunya ada di utara Gyeongbokgung (grand palace). Yang lebih rendah ada di ujungnya Dongdaemun.

Gunung atau bukit tinggi dalam bahasa Korea disebut ‘san’. Satu ‘san’ yang paling kesohor adalah Namsan, tempat Seoul tower berada. Selain naik cable car, jalan setapak untuk hiker juga disediakan dan indah sekali saat musim gugur. Peta untuk hiking di sekitar Namsan juga mudah didapat di tourist information.

‘San’ yang mungkin paling tersohor di Korea adalah pegunungan Seoraksan dan Hallasan (Jeju). Kedua tempat ini hanya sebagian kecil dari daftar gunung yang ditawarkan oleh dinas pariwisata setempat. Informasinya cukup banyak di website mereka. Musim gugur dan musim semi adalah waktu yang paling cocok untuk mencoba berwisata alam.

Tertarik? :))

Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Fina Thorpe Willett


Proud mum of JED with almost 12 years as trailing spouse who can't sit still. hahaha.. Co-author Wander Woman and Meniti Cahaya (both by Gramedia) - monggo dibeli! Also freelancer as content producer for sites, magazines and social media, love to share about Indonesia to the international community - particularly through my homemade meals :)