Green Canyon, Wisata Air dengan View Unik, Amankah buat  Anak?  
Posted by: Admin

Green Canyon, di Pangandaran, Jawa Barat,  menawarkan view ukiran alam staklaktit dan stalakmit, plus wisata air yang menantang, seperti body rafting. Amankah buat anak?

Hari masih pagi ketika Redaksi Familygoers.com tiba di  Dermaga Ciseureuh, yang berada persis di jalan Cijulang Pangandaran.

Rencanya kami ingin menyusuri Green Canyon, salah satu destinasi yang sedang hits di Pangandaran, hari sebelumnya, tapi sudah tutup. Jam bukanya, pukul 7.30 – 16.00. Maka kami memutuskan untuk menginap di Pantai Pangandaran. Dari sini, membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk tiba di Dermaga Ciseureuh.

Petugas dengan ramah menghampiri kami dan menjelaskan tentang beberapa aktivitas yang bisa dilakukan wisatawan di Green Canyon. Rupanya nama ini  plesetan dari Grand Canyon di Colorado AS, yang dipopulerkan oleh seorang  turis Prancis.

Body Rafting

“Body rafting paling seru, tapi waktunya juga lama,” kata petugas tersebut.

Body Rafting rupanya merupakan salah satu paket menyusuri Sungai Green Canyon dengan cara spesial dan memicu adrenalin.

Pertama, wisatawan diajak naik mobil bak terbuka menuju ke titik dimulainya body rafting.  Dengan menggunakan pelampung dan helem wisatawan diajak  mengapung mengikuti arus sungai Cijulang, yang tak jarang melewati jeram.

Jauhnya kira-kira 10 km  hingga ke Cukang Taneuh. Dari sini wisatawan diajak naik perahu hingga ke Dermaga Cisereuh. Waktu tempuhnya tempuh sekitar 3 – 4 jam.

Beberapa agen wisata menawarkan paket body rafting, dari yang hemat hingga yang lengkap, plus guide yang berpengalaman.

Paket body rafting membutuhkan ketahanan fisik dan mental. Sebab itu pula, minimum usia yang boleh ikut paket ini adalah 13 tahun. Bagi yang kemampuan berenangnya pas-pasan juga sebaiknya, sih, tidak usah ikut saja.

Menyaksikan Stalaktit dan Stalakmit

 

Kami tidak memilih body rafting, mengingat perjalanannya cukup lama, tapi memilih paket naik perahu menyusui Sungai Cijulang hinga ke Green Canyon atau orang setempat menyebutnya  Cukang Taneuh, yang membutuhkan waktu sekitar 35 menit, pergi dan pulang.

Pagi itu, dermaga lumayan sibuk. Perahu silih berganti datang dan mengantar penumpang yang umumnya terdiri dari keluarga bersama anak-anak. Setiap perahu dilengkapi jaket pelampung yang harus dipakai oleh setiap penumpangnya. Jadi cukup aman buat anak-anak.

Karena kami datang di hari libur, setelah membeli tiket sewa perahu Rp. 150.000 dengan kapasitas 6 orang kami diberi nomor antrean.

Bersyukur cuaca cukup cerah.  Kami jadi leluasa melihat pepohonan hijau di kanan kiri sungai. Juga  lumut-lumut yang menempel di dinding sungai yang memantulkan bayangan kehijauan di air sungai. Melihat air sungai yang hijau jernih, kami pun  mencelupkan tangan ke air. Segar rasanya.

Untuk menikmati segar dan hijaunya air, diisarankan untuk datang di musim kemarau. Karena di musim hujan air sungai sering keruh.

Semakin jauh dari dermaga,  pemandangan yang disuguhkan semakin mempesona. Tepian sungai ‘dihiasi’ batu-batu gamping bergaris  dan lubang-lubang unik yang terbentuk karena reaksi aliran air jutaan tahun.

Lalu kami melewati stalakmit, endapan kapur yang tumbuh meninggi dari dasar tanah dan stalaktit  endapan kapur yang menggantung dari atap gua yang kadang disertaai kucuran air seperti air hujan. Keduanya berbentuk sama, menyerupai batang es yang panjang, runcing, dan keras.

 

Sungguh, semua itu  merupakan spot foto  menarik dan unik yang tak boleh dilewatkan.

Perahu pun tiba di tujuan. Dan tak bisa melanjutkan perjalanan karena terhalang jeram sempit. Saking banyaknya perahu yang berhenti, pengemudi perahu perlu memilih posisi yang tepat agar tidak menyenggol perahu lain.

Di tempat ini wisatawan  boleh turun dari perahu untuk bermain-main sejenak, sekitar 15 menit. Beberapa orang memilih menikmati keindanhan jeram dari perahu. Namun tak sedikit yang turun  berenang atau membiarkan tubuhnya disiram air yang menetes bagai air hujan.

Makanya disarankan sekali membawa baju ganti karena akan basah-basahan. Juga handuk dan perlengkapan mandi.

Selain itu,  sebaiknya  juga hati-hati menginjakkan kaki,  karena permukaan batu terjal dan agak licin. Jika ingin turun di tempat ini, anak-anak sebaiknya didampingi oleh orang dewasa.

Lima belas menit, sudah cukup untuk menikmati  aktivitas di Green Canyon yang areanta memiliki fasilitas cukup lengkap; tempat parkir, toilet, dan warung  yang menjual makanan.

 

Related Links


Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Admin




Green Canyon, Wisata Air dengan View Unik, Amankah buat  Anak?  
Posted by: Admin

Green Canyon, di Pangandaran, Jawa Barat,  menawarkan view ukiran alam staklaktit dan stalakmit, plus wisata air yang menantang, seperti body rafting. Amankah buat anak?

Hari masih pagi ketika Redaksi Familygoers.com tiba di  Dermaga Ciseureuh, yang berada persis di jalan Cijulang Pangandaran.

Rencanya kami ingin menyusuri Green Canyon, salah satu destinasi yang sedang hits di Pangandaran, hari sebelumnya, tapi sudah tutup. Jam bukanya, pukul 7.30 – 16.00. Maka kami memutuskan untuk menginap di Pantai Pangandaran. Dari sini, membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk tiba di Dermaga Ciseureuh.

Petugas dengan ramah menghampiri kami dan menjelaskan tentang beberapa aktivitas yang bisa dilakukan wisatawan di Green Canyon. Rupanya nama ini  plesetan dari Grand Canyon di Colorado AS, yang dipopulerkan oleh seorang  turis Prancis.

Body Rafting

“Body rafting paling seru, tapi waktunya juga lama,” kata petugas tersebut.

Body Rafting rupanya merupakan salah satu paket menyusuri Sungai Green Canyon dengan cara spesial dan memicu adrenalin.

Pertama, wisatawan diajak naik mobil bak terbuka menuju ke titik dimulainya body rafting.  Dengan menggunakan pelampung dan helem wisatawan diajak  mengapung mengikuti arus sungai Cijulang, yang tak jarang melewati jeram.

Jauhnya kira-kira 10 km  hingga ke Cukang Taneuh. Dari sini wisatawan diajak naik perahu hingga ke Dermaga Cisereuh. Waktu tempuhnya tempuh sekitar 3 – 4 jam.

Beberapa agen wisata menawarkan paket body rafting, dari yang hemat hingga yang lengkap, plus guide yang berpengalaman.

Paket body rafting membutuhkan ketahanan fisik dan mental. Sebab itu pula, minimum usia yang boleh ikut paket ini adalah 13 tahun. Bagi yang kemampuan berenangnya pas-pasan juga sebaiknya, sih, tidak usah ikut saja.

Menyaksikan Stalaktit dan Stalakmit

 

Kami tidak memilih body rafting, mengingat perjalanannya cukup lama, tapi memilih paket naik perahu menyusui Sungai Cijulang hinga ke Green Canyon atau orang setempat menyebutnya  Cukang Taneuh, yang membutuhkan waktu sekitar 35 menit, pergi dan pulang.

Pagi itu, dermaga lumayan sibuk. Perahu silih berganti datang dan mengantar penumpang yang umumnya terdiri dari keluarga bersama anak-anak. Setiap perahu dilengkapi jaket pelampung yang harus dipakai oleh setiap penumpangnya. Jadi cukup aman buat anak-anak.

Karena kami datang di hari libur, setelah membeli tiket sewa perahu Rp. 150.000 dengan kapasitas 6 orang kami diberi nomor antrean.

Bersyukur cuaca cukup cerah.  Kami jadi leluasa melihat pepohonan hijau di kanan kiri sungai. Juga  lumut-lumut yang menempel di dinding sungai yang memantulkan bayangan kehijauan di air sungai. Melihat air sungai yang hijau jernih, kami pun  mencelupkan tangan ke air. Segar rasanya.

Untuk menikmati segar dan hijaunya air, diisarankan untuk datang di musim kemarau. Karena di musim hujan air sungai sering keruh.

Semakin jauh dari dermaga,  pemandangan yang disuguhkan semakin mempesona. Tepian sungai ‘dihiasi’ batu-batu gamping bergaris  dan lubang-lubang unik yang terbentuk karena reaksi aliran air jutaan tahun.

Lalu kami melewati stalakmit, endapan kapur yang tumbuh meninggi dari dasar tanah dan stalaktit  endapan kapur yang menggantung dari atap gua yang kadang disertaai kucuran air seperti air hujan. Keduanya berbentuk sama, menyerupai batang es yang panjang, runcing, dan keras.

 

Sungguh, semua itu  merupakan spot foto  menarik dan unik yang tak boleh dilewatkan.

Perahu pun tiba di tujuan. Dan tak bisa melanjutkan perjalanan karena terhalang jeram sempit. Saking banyaknya perahu yang berhenti, pengemudi perahu perlu memilih posisi yang tepat agar tidak menyenggol perahu lain.

Di tempat ini wisatawan  boleh turun dari perahu untuk bermain-main sejenak, sekitar 15 menit. Beberapa orang memilih menikmati keindanhan jeram dari perahu. Namun tak sedikit yang turun  berenang atau membiarkan tubuhnya disiram air yang menetes bagai air hujan.

Makanya disarankan sekali membawa baju ganti karena akan basah-basahan. Juga handuk dan perlengkapan mandi.

Selain itu,  sebaiknya  juga hati-hati menginjakkan kaki,  karena permukaan batu terjal dan agak licin. Jika ingin turun di tempat ini, anak-anak sebaiknya didampingi oleh orang dewasa.

Lima belas menit, sudah cukup untuk menikmati  aktivitas di Green Canyon yang areanta memiliki fasilitas cukup lengkap; tempat parkir, toilet, dan warung  yang menjual makanan.

 

Related Links


Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Admin