Gerakan Menanam Pohon diiringi Musik Gamelan, Kearifan Lokal di Taman Nasional Bali Barat
Posted by: Sheika Rauf

Kebakaran hutan yang melanda sejumlah wilayah Indonesia belakangan ini membuat siapapun yang melihatnya miris. Ibu-ibu hamil, bayi, balita, orangtua dan masyarakat hingga hewan yang terkena dampak kebakaran di sana membuat saya ikutan sesak meskipun saya hanya melihat berita dari layar TV atau membaca timeline media sosial.

Ini membuat saya teringat pada trip terakhir kami di Bali, tepatnya di Taman Nasional Bali Barat. Saat itu masih pertengahan musim kemarau. Kami sengaja memilih menginap di dalam Hutan Taman Nasional Bali Barat. Hutan dalam bayangan kami adalah penuh dengan pepohonan hijau yang rimbun. Namun karena sedang musim kemarau Panjang, yang ada di hadapan kami adalah batang-batang pohon dan dedaunan yang sangat kering berwarna coklat keemasan. Sementara dedaunan hijau semakin sedikit tersisa.

Serasa musim gugur versi negara tropis

Melihat kondisi hutan yang sangat kering dan udara panas di sekitar kami, sempat terpikir bahwa hutan ini pasti sangat mudah terbakar dan api bisa menyebar cepat jika ada pemantik. Karena itu lah di hutan ini dilarang keras merokok atau menyalakan api dengan alasan apapun, dikhawatirkan api akan tertiup angin dan membakar kayu kemudian menjalar luas, seperti kebakaran hutan yang terjadi belakangan ini di sejumlah wilayah.

Pagi itu, saya, suami dan anak, beserta seorang teman ditemani tour guide dari Bajol Eco Lodge, tempat kami menginap, melakukan trekking di sekitar hutan. Taman Nasional Bali Barat ini memiliki luas sekitar 19.000 hektar. Tentu saja wilayah yang kami jajaki adalah sebagian sangat kecil dari luas keseluruhan lahan. Lodge kami memang berada di dalam hutan. Namun pemandangan hutan saat itu adalah batang dan dedaunan kering, nyaris semua dedaunan hijau berubah menjadi daun coklat keemasan yang kemudian merontokkan diri. Kondisi ini mirip musim gugur di negara empat musim, tetapi dengan udara yang panas dan sinar matahari yang menyengat.

Trekking di Taman Nasional Bali Barat

Trekking di Taman Nasional Bali Barat

Selain menjadi tempat tinggal ratusan jenis tumbuhan, Taman Nasional Bali Barat merupakan tempat tinggal berbagai hewan liar yang dibiarkan hidup berkeliaran tanpa campur tangan manusia, di antaranya rusa (menjangan), monyet hitam, burung-burung termasuk burung jarak bali yang hamper punah, tupai, sampai ular. Mereka makan dari hasil pencarian makanan secara mandiri di sekitar hutan. Menurut tour guide kami, para staff di penginapan ini dilarang memberi makan hewan liar. Namun karena ini musim kemarau, maka petugas menyediakan tempat-tempat berisi air yang diperuntukkan untuk rusa-rusa minum.

Rusa-rusa (menjangan) asik minum di wadah air yang disediakan staff hotel

Rusa ini akan kabur jika didekati.

Di hutan ini, selain bisa menghirup udara segar di setiap waktu, kami juga belajar tentang ekosistem hutan dan sesekali berpapasan dengan hewan liar yang melintas. Kami tidak dapat mendekat dan berinteraksi langsung dengan mereka karena liar nya. Kami harus tetap menjaga jarak dan tidak boleh menggannggu kehidupan para hewan liar ini. Setiap staff yang lalu lalang di sekitar hutan ini dibekali ketapel untuk menghalau hewan-hewan jika sampai membahayakan.

Dari perjalanan trekking ini, tour guide kami kemudian menawarkan ikut program gerakan menanam pohon, Endemic Tree Planting Program. Gerakan ini tentu saja bertujuan untuk menghijaukan dan melebatkan kembali hutan di Taman Nasional Bali Barat. Setiap tamu yang datang memang ditawarkan mengikuti program ini. Satu pohon dihargai 50 dollar AS atau sekitar 700 ribu rupiah. Harga ini merupakan ongkos ganti pembibitan dan perawatan tanaman hingga tumbuh besar. Setiap pohon kemudian dinamai sesuai dengan nama masing-masing yang ikut dalam progam ini. Sehingga, jika kami datang lagi ke tempat ini bertahun hingga berpuluh tahun kemudian, kami masih bisa menemukan pohon yang pernah kami tanam di hutan ini.

Endemic Tree Planting

Endemic Tree Planting

Foto bareng di depan pohon kami. Sampai bertemu lagi suatu hari nanti

Saya perhatikan sudah puluhan papan nama dari berbagai negara yang meramaikan area Endemic Tree Planting Program ini. Berarti ada puluhan pohon yang telah ditanam untuk tetap menghijaukan area hingga puluhan tahun yang akan datang. Zola, anak saya, pun sangat antusias mengikuti program ini. Itu artinya dia bisa belajar menanam pohon : mencangkul tanah, memasukkan bibit tanaman dan menyirami nya. Proses yang kelihatannya sederhana namun memiliki dampak luar biasa bagi alam.

Ada hal unik ketika kami memulai penanaman ini. Musik gamelan mengiringi sejak kedatangan kami sekeluarga hingga proses penanaman selesai. “Ini bagian dari kearifan lokal masyarakat Bali,” menurut Bli Wayan ketika ditanta mengapa perlu ada musik gamelan mengiringi penanaman ini.

Masyarakat Hindu Bali mengenal prinsip Trihitakarana, tiga cara mencari kebahagiaan dengan tiga unsur : hubungan baik manusia dengan Tuhan, hubungan baik dengan manusia dengan manusia, dan hubungan baik manusia dengan alam. “Endemic Tree Planting ini merupakan salah satu bentuk hubungan baik kami dengan alam. Makanya perlu adanya ritual tabuh gamelan untuk menambah semarak kebahagiaan,” jelas Bli Wayan.

Seandainya saja kearifan lokal masyarakat Bali ini dimiliki juga dan dipraktekan oleh seluruh masyarakat Indonesia, kebakaran hutan akibat keserakahan manusia mungkin bisa dicegah. Semoga saja partisipasi kami dalam Endemic Tree Planting ini bisa membawa sedikit manfaat untuk Taman Nasional Bali Barat dan memberikan pelajaran untuk kami semua, terutama Zola, agar selalu berusaha menjaga kelestarian alam untuk keberlangsungan hidup di masa yang akan datang.

 



Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Sheika Rauf
Ibu dari si bocah petualang Zola, yang hobi traveling dan menulis. Selama saya masih mampu, saya akan mengajak anak saya melihat dunia ini lebih luas lagi.

 

Gerakan Menanam Pohon diiringi Musik Gamelan, Kearifan Lokal di Taman Nasional Bali Barat
Posted by: Sheika Rauf

Kebakaran hutan yang melanda sejumlah wilayah Indonesia belakangan ini membuat siapapun yang melihatnya miris. Ibu-ibu hamil, bayi, balita, orangtua dan masyarakat hingga hewan yang terkena dampak kebakaran di sana membuat saya ikutan sesak meskipun saya hanya melihat berita dari layar TV atau membaca timeline media sosial.

Ini membuat saya teringat pada trip terakhir kami di Bali, tepatnya di Taman Nasional Bali Barat. Saat itu masih pertengahan musim kemarau. Kami sengaja memilih menginap di dalam Hutan Taman Nasional Bali Barat. Hutan dalam bayangan kami adalah penuh dengan pepohonan hijau yang rimbun. Namun karena sedang musim kemarau Panjang, yang ada di hadapan kami adalah batang-batang pohon dan dedaunan yang sangat kering berwarna coklat keemasan. Sementara dedaunan hijau semakin sedikit tersisa.

Serasa musim gugur versi negara tropis

Melihat kondisi hutan yang sangat kering dan udara panas di sekitar kami, sempat terpikir bahwa hutan ini pasti sangat mudah terbakar dan api bisa menyebar cepat jika ada pemantik. Karena itu lah di hutan ini dilarang keras merokok atau menyalakan api dengan alasan apapun, dikhawatirkan api akan tertiup angin dan membakar kayu kemudian menjalar luas, seperti kebakaran hutan yang terjadi belakangan ini di sejumlah wilayah.

Pagi itu, saya, suami dan anak, beserta seorang teman ditemani tour guide dari Bajol Eco Lodge, tempat kami menginap, melakukan trekking di sekitar hutan. Taman Nasional Bali Barat ini memiliki luas sekitar 19.000 hektar. Tentu saja wilayah yang kami jajaki adalah sebagian sangat kecil dari luas keseluruhan lahan. Lodge kami memang berada di dalam hutan. Namun pemandangan hutan saat itu adalah batang dan dedaunan kering, nyaris semua dedaunan hijau berubah menjadi daun coklat keemasan yang kemudian merontokkan diri. Kondisi ini mirip musim gugur di negara empat musim, tetapi dengan udara yang panas dan sinar matahari yang menyengat.

Trekking di Taman Nasional Bali Barat

Trekking di Taman Nasional Bali Barat

Selain menjadi tempat tinggal ratusan jenis tumbuhan, Taman Nasional Bali Barat merupakan tempat tinggal berbagai hewan liar yang dibiarkan hidup berkeliaran tanpa campur tangan manusia, di antaranya rusa (menjangan), monyet hitam, burung-burung termasuk burung jarak bali yang hamper punah, tupai, sampai ular. Mereka makan dari hasil pencarian makanan secara mandiri di sekitar hutan. Menurut tour guide kami, para staff di penginapan ini dilarang memberi makan hewan liar. Namun karena ini musim kemarau, maka petugas menyediakan tempat-tempat berisi air yang diperuntukkan untuk rusa-rusa minum.

Rusa-rusa (menjangan) asik minum di wadah air yang disediakan staff hotel

Rusa ini akan kabur jika didekati.

Di hutan ini, selain bisa menghirup udara segar di setiap waktu, kami juga belajar tentang ekosistem hutan dan sesekali berpapasan dengan hewan liar yang melintas. Kami tidak dapat mendekat dan berinteraksi langsung dengan mereka karena liar nya. Kami harus tetap menjaga jarak dan tidak boleh menggannggu kehidupan para hewan liar ini. Setiap staff yang lalu lalang di sekitar hutan ini dibekali ketapel untuk menghalau hewan-hewan jika sampai membahayakan.

Dari perjalanan trekking ini, tour guide kami kemudian menawarkan ikut program gerakan menanam pohon, Endemic Tree Planting Program. Gerakan ini tentu saja bertujuan untuk menghijaukan dan melebatkan kembali hutan di Taman Nasional Bali Barat. Setiap tamu yang datang memang ditawarkan mengikuti program ini. Satu pohon dihargai 50 dollar AS atau sekitar 700 ribu rupiah. Harga ini merupakan ongkos ganti pembibitan dan perawatan tanaman hingga tumbuh besar. Setiap pohon kemudian dinamai sesuai dengan nama masing-masing yang ikut dalam progam ini. Sehingga, jika kami datang lagi ke tempat ini bertahun hingga berpuluh tahun kemudian, kami masih bisa menemukan pohon yang pernah kami tanam di hutan ini.

Endemic Tree Planting

Endemic Tree Planting

Foto bareng di depan pohon kami. Sampai bertemu lagi suatu hari nanti

Saya perhatikan sudah puluhan papan nama dari berbagai negara yang meramaikan area Endemic Tree Planting Program ini. Berarti ada puluhan pohon yang telah ditanam untuk tetap menghijaukan area hingga puluhan tahun yang akan datang. Zola, anak saya, pun sangat antusias mengikuti program ini. Itu artinya dia bisa belajar menanam pohon : mencangkul tanah, memasukkan bibit tanaman dan menyirami nya. Proses yang kelihatannya sederhana namun memiliki dampak luar biasa bagi alam.

Ada hal unik ketika kami memulai penanaman ini. Musik gamelan mengiringi sejak kedatangan kami sekeluarga hingga proses penanaman selesai. “Ini bagian dari kearifan lokal masyarakat Bali,” menurut Bli Wayan ketika ditanta mengapa perlu ada musik gamelan mengiringi penanaman ini.

Masyarakat Hindu Bali mengenal prinsip Trihitakarana, tiga cara mencari kebahagiaan dengan tiga unsur : hubungan baik manusia dengan Tuhan, hubungan baik dengan manusia dengan manusia, dan hubungan baik manusia dengan alam. “Endemic Tree Planting ini merupakan salah satu bentuk hubungan baik kami dengan alam. Makanya perlu adanya ritual tabuh gamelan untuk menambah semarak kebahagiaan,” jelas Bli Wayan.

Seandainya saja kearifan lokal masyarakat Bali ini dimiliki juga dan dipraktekan oleh seluruh masyarakat Indonesia, kebakaran hutan akibat keserakahan manusia mungkin bisa dicegah. Semoga saja partisipasi kami dalam Endemic Tree Planting ini bisa membawa sedikit manfaat untuk Taman Nasional Bali Barat dan memberikan pelajaran untuk kami semua, terutama Zola, agar selalu berusaha menjaga kelestarian alam untuk keberlangsungan hidup di masa yang akan datang.

 



Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Sheika Rauf


Ibu dari si bocah petualang Zola, yang hobi traveling dan menulis. Selama saya masih mampu, saya akan mengajak anak saya melihat dunia ini lebih luas lagi.