Familygoers walking tour, mengenal lebih dekat Kota Tua Jakarta
Posted by: Admin

Waktu menunjukkan pukul 7 pagi. Belum terlalu banyak orang dan matahari masih malu-malu memanasi lapangan fatahillah, tempat familygoers berkumpul Minggu pagi, 8 Oktober lalu. Group keluarga Ronal dan Nathalia datang pertama kali nya, menyusul kelompok keluarga Astrid, keluarga Dolly dan Mul. Sambil menunggu group keluarga lainnya datang, anak-anak bermain petak umpet, lari-larian di area sekitar meeting point, persis di sebelah Museum Fatahillah. Awalnya, anak-anak ini tampak malu-malu. Seperti halnya mesin mobil, mereka perlu dipanasin terlebih dahulu, saling observasi teman baru nya, lirik-lirikan, baru deh setelah itu rasanya dunia hanya milik mereka saja. Orangtua kemudian dilupakan.

Dapat teman-teman baru ! (sumber foto : Deddy Mulyawan / Familygoers)

Tak lama, Mochi dan Mita dari Jakarta Good Guide dan perwakilan dari Wisata Sekolah pun datang. Mita dan Mochi yang ceria, juga penuh semangat berkenalan dengan keluarga yang sudah datang. Semua berkumpul untuk mendengarkan sambutan dan perkenalan dari Familygoers, Jakarta Good Guide dan Wisata Sekolah, juga dijelaskan tentang rute-rute yang akan dilalui pada hari itu. Tak lupa ‘alat tempur’ pun disiapkan, air mineral, topi dan cream anti sinar UV  matahari (ini penting ! karena perawatan kulit mahal harganya !).

Mita dan Mochi dari Jakarta Good Guide memberikan sambutan (sumber foto : Deddy Mulyawan / Familygoers)

Gita dari Wisata Sekolah memberikan sambutan sebelum berangkat (sumber foto : Deddy Mulyawan / Familygoers)

Kami berangkat agak terlambat karena menunggu lima kelompok keluarga lainnya yang naik kereta menuju Stasiun Kota. Tim keluarga Asti, Lia, Lente, Fali dan Virny ingin memaksimalkan petualangan hari itu : tanpa membawa mobil menuju Kota Tua. Sayangnya jadwal kereta di akhir pekan tidak secepat di hari-hari biasa. Kereta banyak berhenti di setiap stasiun, ngetem agak lama dan frekuensi keberangkatannya lebih sedikit. Jadilah mereka datang terlambat dari waktu yang dijadwalkan pukul 7.30.

Tanpa menunggu lama lagi, begitu mereka datang, kami langsung berangkat. Eh tunggu ! Sebelumnya mari kita abadikan foto bersama sebelum wajah sudah berkeringat dan lepek. Mumpung masih fresh dan riasan masih OK ! Cheeeeeese……

Pose dulu doooong 🙂 (sumber foto : Deddy Mulyawan / Familygoers)

Kelompok walking tour dibagi dua, team Mita dan team Mochi. Keduanya sama serunya, sama narsisnya untuk berfoto di setiap sudut pemberhentian. Anak dan orang tua sama hebohnya. Tidak jarang pula, anak-anak mengeluh kepanasan. Terang saja, karena matahari di sekitar wilayah Kota Tua seperti ada tiga dan obral besar. Karena itulah, amat penting berangkat sepagi mungkin jika ingin walking tour mengelilingi Kota Tua, apalagi bersama anak-anak. Sekitar jam 7.00 – 7.30 adalah waktu ideal.

Mari kita mulai perjalanan 🙂 (sumber foto : Deddy Mulyawan / familygoers)

Team Mita berangkat lebih dulu (sumber foto : Deddy Mulyawan / familygoers)

Cuma mamah yang sadar kamera 😀 (sumber foto : Deddy Mulyawan /familygoers)

Team Mochi siap dengan pasukannya (sumber foto : Deddy Mulyawan / Familygoers)

Rute yang dipilih kali ini tentu saja rute yang bersahabat untuk anak-anak. Kami menyusuri kali besar di mana di sisi kiri nya masih terdapat bangunan-bangunan tua peninggalan jaman Belanda yang diperkirakan umurnya sudah ratusan tahun.

Salah satu yang mencolok adalah Toko Merah dengan warnanya yang merah menyala paling menarik mata di antara bangunan-bangunan yang lain. Bangunan ini sudah ada sejak tahun 1730 dan digunakan sebagai tempat tinggal Gubernur Jendral Belanda pada masa itu. Seiring berjalannya waktu, Toko Merah sudah berganti-ganti kepemilikan dan sempat mengalami restorasi sekitar tahun 2012. Ketika kami mengintip ke dalam, gaya interior Toko Merah campuran antara Cina dan Eropa. Cantik sekali. Sayangnya waktu itu bangunan tutup dan memang tidak dibuka untuk umum, kecuali untuk waktu-waktu tertentu seperti pameran atau pertunjukkan. Begitulah secuplik cerita tentang Toko Merah yang diceritakan tour guide kami, Mita dan Mochi.

Krucils di depan Toko Merah (sumber foto : Sheika Rauf / familygoers)

Sementara Kali Besar nya sendiri ketika kami lewat sedang ditutup. Katanya Kali Besar sedang mengalami restorasi. Nantinya di sisi Kali ini akan dibuat sebuah trotoar besar untuk pejalan kaki. Jalan-jalan sepanjang Kali Besar pun nantinya akan nyaman. Semoga tidak ada pengendara motor dan pedagang kaki lima yang merusak fungsi trotoar, sehingga pejalan kaki pun bisa melengang aman dan nyaman.

Melewati Kali Besar saat car free day. Jadi pingin tidur-tiduran di jalan 😀 (sumber foto : Syaltout / familygoers)

Kapan lagi bisa pose begini ? 😀 (sumber foto : Deddy Mulyawan / familygoers)

Di ujung Kali, kami belok ke sebuah jembatan tua. Jembatan Kota Intan atau dikenal juga dengan Jembatan Ayam. Alasannya sederhana saja. Karena pada masa itu banyak sekali pedagang ayam di sekitar jembatan. “Berarti jembatannya lebih tua dari kakekku dong,” celetuk Raffa. Pastinya ! Bahkan jembatan ini sudah ada sejak tahun 1600an. Dulunya jembatan ini bisa terbuka dan tertutup jika ditarik tuasnya. Ini yang memungkinkan kapal-kapal di sungai bisa lewat. Anak-anakpun berebutan ingin memegang tuas yang sudah tidak berfungsi lagi. Mereka sibuk membayangkan jembatan terbuka dan tertutup sendiri. Namun, itu semua tinggal kenangan. Kini, Jembatan Merah ini hanya menjadi tujuan wisata saja, tanpa fungsi lain lagi.

Jembatan Kota Intan (sumber foto : Rimar Andhika / familygoers)

Jembatan Kota Intan tampak atas. Dulu jembatan ini bisa terbuka dan tertutup kembali jika ditarik tuasnya supaya kapal bisa lewat. (sumber foto : Rimar Andhika / familygoers)

Berebutan liat tuas, ingin ikut narik juga (sumber foto : Sheika Rauf/familygoers)

Selfie di depan Jembatan Kota Intan bersama Mita, sang tour guide (sumber foto : Sheika Rauf / familygoers)

Perjalanan selanjutnya adalah menuju titik awal kami memulai walking tour ini, Fatahillah Square. Di sini kami menjelajahi Museum Sejarah Jakarta atau yang lebih dikenal dengan Museum Fatahillah dan Museum Wayang, dilanjutkan dengan menonton pertunjukkan wayang. Meskipun sudah lelah kepanasan, dengan sisa-sisa tenaga dan mood nya, anak-anak masih bisa mendengarkan cerita Mita dan Mochi tentang sejarah Jakarta, sambil duduk di lantai. Entah apa perasaan mereka saat itu : lapar, ngantuk, haus, atau sedang serius menyimak ? :D. Yang jelas, di dalam museum, anak-anak bisa mendapat kesempatan ngadem dan duduk sebentar. Para  orangtua pun ikut meluruskan kaki dan badan di dalam museum Fatahillah.

Istirahat kaki sambil mendengarkan Mochi cerita (sumber foto : Sheika Rauf / familygoers)

“Jadi ini loh peta Kota Tua,” ujar Mochi, diikuti oleh pandangan mata anak-anak yang ingin mengamati (sumber foto : Deddy Mulyawan / Familygoers)

Di bawah museum Fatahillah, terdapat penjara bawah tanah yang terkesan menyeramkan. Bagaimana tidak ? Penjara ini begitu sempit, pengap dan gelap, namun di dalamnya memuat sekitar 50 tahanan dan dibiarkan begitu saja tanpa diberi makan dan minum, hingga akhirnya mereka mati tanpa melewati pengadilan. Penjara ini dibagi berdasarkan gender, ada penjara untuk perempuan, ada juga penjara untuk laki-laki. Konon katanya, di penjara inilah, Cut Nyak Dien dan Pangeran Diponegoro sempat merasakan tinggal di penjara bawah tanah museum Fatahillah ini. Di dalam penjara juga masih tertinggal bola-bola rantai sebagai pemberat kaki agar para tahanan tidak bisa kabur. Kondisinya seperti dibiarkan begitu saja sesuai dengan aslinya. Ngeri ? Anak-anak ini santai saja tuh ! 🙂

Anak-anak pun antusias masuk ke dalam penjara dan berpose (sumber foto : Deddy Mulyawan / familygoers)

Museum Fatahillah sebenarnya bukanlah tujuan akhir dari walking tour ini. Masih ada Museum Wayang yang akan dijelajahi. Keinginan besar, tenaga kurang. Begitulah kata-kata yang pas untuk menggambarkan kondisi familygoers saat itu. Matahari yang terik memang melelahkan walking tour ini. Perut pun sudah memanggil-manggil minta diisi. Akhirnya familygoers pun ada yang memilih untuk langsung makan, ada juga yang melawan rasa lelah dan masuk melihat pertunjukkan wayang di Museum Wayang. Walaupun kenyataannya, anak-anak sukses tertidur saat nonton wayang :D.

Biarpun begitu semuanya happy sudah diajak berjalan-jalan melewati bangunan-bangunan sejarah Kota Tua Jakarta. Pengalaman yang amat berharga untuk orangtua dan terutama anak-anak. “Kalau gak ikutan walking tour bareng familygoers, belum tentu kita jalan-jalan begini,” ujar salah satu familygoers.

Kalau begitu, sampai bertemu lagi di familygoers meet up selanjutnya yaa 🙂

 

Tips sukses walking tour mengajak anak di Kota Tua :

1. Berangkatlah sepagi mungkin. Paling lambat jam 8 pagi harus sudah mulai dan jam 10 sudah selesai, kalau tidak mau terjebak dalam sengatan matahari.
2. Pakai pakaian senyaman mungkin, kaos atau polo shirt berwarna cerah dengan celana pendek atau panjang
2. Gunakan alas kaki berupa sepatu atau sepatu sandal, supaya nyaman dipakai berjalan
3. Bawa payung, topi, dan sunglasses. Jangan lupa juga oleskan sunblock atau sunscreen sebelum berangkat.
4. Isilah tas punggung berisi baju ganti anak, popok (jika diperlukan), tissue basah, hand sanitizer, cemilan dan botol air minum, juga minuman kesukaan anak.
5. Bawa uang dan benda berharga secukupnya saja. Tempat ini akan ramai sekali orang-orang di akhir pekan. Kita tidak bisa membedakan mana orang baik dan tidak.
6. Sebaiknya tidak membawa stroller, namun jika perlu membawa stroller, bawalah stroller yang seringan mungkin karena infrastruktur di sekitar Kota Tua sebenarnya kurang mendukung untuk stroller.

 

 

 

 

 

 

Related Links


Share This | | |

2 responses to “Familygoers walking tour, mengenal lebih dekat Kota Tua Jakarta”

  1. […] Dari hasil survey inilah kemudian familygoers dan JGG memutuskan membuat rute sendiri yang lebih ramah anak untuk acara familygoers meet up yang pertama. Rute nya tidak sejauh dan sebanyak program reguler dari JGG. Kami hanya mengambil rute berkeliling Fatahillah Square menuju Jembatan Kota Intan dan berputar kembali ke Fatahillah Square, ditambah menjelajah museum Fatahillah dan museum Wayang. Itu saja sudah cukup mengenyangkan untuk anak-anak. Cerita lebih lengkap tentang familygoers meet up – family walking tour di Kota ini bisa disimak di sini. […]

  2. […] Dari hasil survey inilah kemudian familygoers dan JGG memutuskan membuat rute sendiri yang lebih ramah anak untuk acara familygoers meet up yang pertama. Rute nya tidak sejauh dan sebanyak program reguler dari JGG. Kami hanya mengambil rute berkeliling Fatahillah Square menuju Jembatan Kota Intan dan berputar kembali ke Fatahillah Square, ditambah menjelajah museum Fatahillah dan museum Wayang. Itu saja sudah cukup mengenyangkan untuk anak-anak. Cerita lebih lengkap tentang familygoers meet up – family walking tour di Kota ini bisa disimak di sini. […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Admin

 

Familygoers walking tour, mengenal lebih dekat Kota Tua Jakarta
Posted by: Admin

Waktu menunjukkan pukul 7 pagi. Belum terlalu banyak orang dan matahari masih malu-malu memanasi lapangan fatahillah, tempat familygoers berkumpul Minggu pagi, 8 Oktober lalu. Group keluarga Ronal dan Nathalia datang pertama kali nya, menyusul kelompok keluarga Astrid, keluarga Dolly dan Mul. Sambil menunggu group keluarga lainnya datang, anak-anak bermain petak umpet, lari-larian di area sekitar meeting point, persis di sebelah Museum Fatahillah. Awalnya, anak-anak ini tampak malu-malu. Seperti halnya mesin mobil, mereka perlu dipanasin terlebih dahulu, saling observasi teman baru nya, lirik-lirikan, baru deh setelah itu rasanya dunia hanya milik mereka saja. Orangtua kemudian dilupakan.

Dapat teman-teman baru ! (sumber foto : Deddy Mulyawan / Familygoers)

Tak lama, Mochi dan Mita dari Jakarta Good Guide dan perwakilan dari Wisata Sekolah pun datang. Mita dan Mochi yang ceria, juga penuh semangat berkenalan dengan keluarga yang sudah datang. Semua berkumpul untuk mendengarkan sambutan dan perkenalan dari Familygoers, Jakarta Good Guide dan Wisata Sekolah, juga dijelaskan tentang rute-rute yang akan dilalui pada hari itu. Tak lupa ‘alat tempur’ pun disiapkan, air mineral, topi dan cream anti sinar UV  matahari (ini penting ! karena perawatan kulit mahal harganya !).

Mita dan Mochi dari Jakarta Good Guide memberikan sambutan (sumber foto : Deddy Mulyawan / Familygoers)

Gita dari Wisata Sekolah memberikan sambutan sebelum berangkat (sumber foto : Deddy Mulyawan / Familygoers)

Kami berangkat agak terlambat karena menunggu lima kelompok keluarga lainnya yang naik kereta menuju Stasiun Kota. Tim keluarga Asti, Lia, Lente, Fali dan Virny ingin memaksimalkan petualangan hari itu : tanpa membawa mobil menuju Kota Tua. Sayangnya jadwal kereta di akhir pekan tidak secepat di hari-hari biasa. Kereta banyak berhenti di setiap stasiun, ngetem agak lama dan frekuensi keberangkatannya lebih sedikit. Jadilah mereka datang terlambat dari waktu yang dijadwalkan pukul 7.30.

Tanpa menunggu lama lagi, begitu mereka datang, kami langsung berangkat. Eh tunggu ! Sebelumnya mari kita abadikan foto bersama sebelum wajah sudah berkeringat dan lepek. Mumpung masih fresh dan riasan masih OK ! Cheeeeeese……

Pose dulu doooong 🙂 (sumber foto : Deddy Mulyawan / Familygoers)

Kelompok walking tour dibagi dua, team Mita dan team Mochi. Keduanya sama serunya, sama narsisnya untuk berfoto di setiap sudut pemberhentian. Anak dan orang tua sama hebohnya. Tidak jarang pula, anak-anak mengeluh kepanasan. Terang saja, karena matahari di sekitar wilayah Kota Tua seperti ada tiga dan obral besar. Karena itulah, amat penting berangkat sepagi mungkin jika ingin walking tour mengelilingi Kota Tua, apalagi bersama anak-anak. Sekitar jam 7.00 – 7.30 adalah waktu ideal.

Mari kita mulai perjalanan 🙂 (sumber foto : Deddy Mulyawan / familygoers)

Team Mita berangkat lebih dulu (sumber foto : Deddy Mulyawan / familygoers)

Cuma mamah yang sadar kamera 😀 (sumber foto : Deddy Mulyawan /familygoers)

Team Mochi siap dengan pasukannya (sumber foto : Deddy Mulyawan / Familygoers)

Rute yang dipilih kali ini tentu saja rute yang bersahabat untuk anak-anak. Kami menyusuri kali besar di mana di sisi kiri nya masih terdapat bangunan-bangunan tua peninggalan jaman Belanda yang diperkirakan umurnya sudah ratusan tahun.

Salah satu yang mencolok adalah Toko Merah dengan warnanya yang merah menyala paling menarik mata di antara bangunan-bangunan yang lain. Bangunan ini sudah ada sejak tahun 1730 dan digunakan sebagai tempat tinggal Gubernur Jendral Belanda pada masa itu. Seiring berjalannya waktu, Toko Merah sudah berganti-ganti kepemilikan dan sempat mengalami restorasi sekitar tahun 2012. Ketika kami mengintip ke dalam, gaya interior Toko Merah campuran antara Cina dan Eropa. Cantik sekali. Sayangnya waktu itu bangunan tutup dan memang tidak dibuka untuk umum, kecuali untuk waktu-waktu tertentu seperti pameran atau pertunjukkan. Begitulah secuplik cerita tentang Toko Merah yang diceritakan tour guide kami, Mita dan Mochi.

Krucils di depan Toko Merah (sumber foto : Sheika Rauf / familygoers)

Sementara Kali Besar nya sendiri ketika kami lewat sedang ditutup. Katanya Kali Besar sedang mengalami restorasi. Nantinya di sisi Kali ini akan dibuat sebuah trotoar besar untuk pejalan kaki. Jalan-jalan sepanjang Kali Besar pun nantinya akan nyaman. Semoga tidak ada pengendara motor dan pedagang kaki lima yang merusak fungsi trotoar, sehingga pejalan kaki pun bisa melengang aman dan nyaman.

Melewati Kali Besar saat car free day. Jadi pingin tidur-tiduran di jalan 😀 (sumber foto : Syaltout / familygoers)

Kapan lagi bisa pose begini ? 😀 (sumber foto : Deddy Mulyawan / familygoers)

Di ujung Kali, kami belok ke sebuah jembatan tua. Jembatan Kota Intan atau dikenal juga dengan Jembatan Ayam. Alasannya sederhana saja. Karena pada masa itu banyak sekali pedagang ayam di sekitar jembatan. “Berarti jembatannya lebih tua dari kakekku dong,” celetuk Raffa. Pastinya ! Bahkan jembatan ini sudah ada sejak tahun 1600an. Dulunya jembatan ini bisa terbuka dan tertutup jika ditarik tuasnya. Ini yang memungkinkan kapal-kapal di sungai bisa lewat. Anak-anakpun berebutan ingin memegang tuas yang sudah tidak berfungsi lagi. Mereka sibuk membayangkan jembatan terbuka dan tertutup sendiri. Namun, itu semua tinggal kenangan. Kini, Jembatan Merah ini hanya menjadi tujuan wisata saja, tanpa fungsi lain lagi.

Jembatan Kota Intan (sumber foto : Rimar Andhika / familygoers)

Jembatan Kota Intan tampak atas. Dulu jembatan ini bisa terbuka dan tertutup kembali jika ditarik tuasnya supaya kapal bisa lewat. (sumber foto : Rimar Andhika / familygoers)

Berebutan liat tuas, ingin ikut narik juga (sumber foto : Sheika Rauf/familygoers)

Selfie di depan Jembatan Kota Intan bersama Mita, sang tour guide (sumber foto : Sheika Rauf / familygoers)

Perjalanan selanjutnya adalah menuju titik awal kami memulai walking tour ini, Fatahillah Square. Di sini kami menjelajahi Museum Sejarah Jakarta atau yang lebih dikenal dengan Museum Fatahillah dan Museum Wayang, dilanjutkan dengan menonton pertunjukkan wayang. Meskipun sudah lelah kepanasan, dengan sisa-sisa tenaga dan mood nya, anak-anak masih bisa mendengarkan cerita Mita dan Mochi tentang sejarah Jakarta, sambil duduk di lantai. Entah apa perasaan mereka saat itu : lapar, ngantuk, haus, atau sedang serius menyimak ? :D. Yang jelas, di dalam museum, anak-anak bisa mendapat kesempatan ngadem dan duduk sebentar. Para  orangtua pun ikut meluruskan kaki dan badan di dalam museum Fatahillah.

Istirahat kaki sambil mendengarkan Mochi cerita (sumber foto : Sheika Rauf / familygoers)

“Jadi ini loh peta Kota Tua,” ujar Mochi, diikuti oleh pandangan mata anak-anak yang ingin mengamati (sumber foto : Deddy Mulyawan / Familygoers)

Di bawah museum Fatahillah, terdapat penjara bawah tanah yang terkesan menyeramkan. Bagaimana tidak ? Penjara ini begitu sempit, pengap dan gelap, namun di dalamnya memuat sekitar 50 tahanan dan dibiarkan begitu saja tanpa diberi makan dan minum, hingga akhirnya mereka mati tanpa melewati pengadilan. Penjara ini dibagi berdasarkan gender, ada penjara untuk perempuan, ada juga penjara untuk laki-laki. Konon katanya, di penjara inilah, Cut Nyak Dien dan Pangeran Diponegoro sempat merasakan tinggal di penjara bawah tanah museum Fatahillah ini. Di dalam penjara juga masih tertinggal bola-bola rantai sebagai pemberat kaki agar para tahanan tidak bisa kabur. Kondisinya seperti dibiarkan begitu saja sesuai dengan aslinya. Ngeri ? Anak-anak ini santai saja tuh ! 🙂

Anak-anak pun antusias masuk ke dalam penjara dan berpose (sumber foto : Deddy Mulyawan / familygoers)

Museum Fatahillah sebenarnya bukanlah tujuan akhir dari walking tour ini. Masih ada Museum Wayang yang akan dijelajahi. Keinginan besar, tenaga kurang. Begitulah kata-kata yang pas untuk menggambarkan kondisi familygoers saat itu. Matahari yang terik memang melelahkan walking tour ini. Perut pun sudah memanggil-manggil minta diisi. Akhirnya familygoers pun ada yang memilih untuk langsung makan, ada juga yang melawan rasa lelah dan masuk melihat pertunjukkan wayang di Museum Wayang. Walaupun kenyataannya, anak-anak sukses tertidur saat nonton wayang :D.

Biarpun begitu semuanya happy sudah diajak berjalan-jalan melewati bangunan-bangunan sejarah Kota Tua Jakarta. Pengalaman yang amat berharga untuk orangtua dan terutama anak-anak. “Kalau gak ikutan walking tour bareng familygoers, belum tentu kita jalan-jalan begini,” ujar salah satu familygoers.

Kalau begitu, sampai bertemu lagi di familygoers meet up selanjutnya yaa 🙂

 

Tips sukses walking tour mengajak anak di Kota Tua :

1. Berangkatlah sepagi mungkin. Paling lambat jam 8 pagi harus sudah mulai dan jam 10 sudah selesai, kalau tidak mau terjebak dalam sengatan matahari.
2. Pakai pakaian senyaman mungkin, kaos atau polo shirt berwarna cerah dengan celana pendek atau panjang
2. Gunakan alas kaki berupa sepatu atau sepatu sandal, supaya nyaman dipakai berjalan
3. Bawa payung, topi, dan sunglasses. Jangan lupa juga oleskan sunblock atau sunscreen sebelum berangkat.
4. Isilah tas punggung berisi baju ganti anak, popok (jika diperlukan), tissue basah, hand sanitizer, cemilan dan botol air minum, juga minuman kesukaan anak.
5. Bawa uang dan benda berharga secukupnya saja. Tempat ini akan ramai sekali orang-orang di akhir pekan. Kita tidak bisa membedakan mana orang baik dan tidak.
6. Sebaiknya tidak membawa stroller, namun jika perlu membawa stroller, bawalah stroller yang seringan mungkin karena infrastruktur di sekitar Kota Tua sebenarnya kurang mendukung untuk stroller.

 

 

 

 

 

 

Related Links


Share This | | |

2 responses to “Familygoers walking tour, mengenal lebih dekat Kota Tua Jakarta”

  1. […] Dari hasil survey inilah kemudian familygoers dan JGG memutuskan membuat rute sendiri yang lebih ramah anak untuk acara familygoers meet up yang pertama. Rute nya tidak sejauh dan sebanyak program reguler dari JGG. Kami hanya mengambil rute berkeliling Fatahillah Square menuju Jembatan Kota Intan dan berputar kembali ke Fatahillah Square, ditambah menjelajah museum Fatahillah dan museum Wayang. Itu saja sudah cukup mengenyangkan untuk anak-anak. Cerita lebih lengkap tentang familygoers meet up – family walking tour di Kota ini bisa disimak di sini. […]

  2. […] Dari hasil survey inilah kemudian familygoers dan JGG memutuskan membuat rute sendiri yang lebih ramah anak untuk acara familygoers meet up yang pertama. Rute nya tidak sejauh dan sebanyak program reguler dari JGG. Kami hanya mengambil rute berkeliling Fatahillah Square menuju Jembatan Kota Intan dan berputar kembali ke Fatahillah Square, ditambah menjelajah museum Fatahillah dan museum Wayang. Itu saja sudah cukup mengenyangkan untuk anak-anak. Cerita lebih lengkap tentang familygoers meet up – family walking tour di Kota ini bisa disimak di sini. […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Admin