Familygoers poelang kampoeng, sehari merasakan kehidupan ala desa
Posted by: Ratih Janis

Sabtu 9 Desember lalu sesuai kesepakatan bersama, familygoers kumpul bareng untuk melihat dari dekat kehidupan masyarakat desa dan merasakan langsung bagaimana menjadi orang desa dalam Meet Up Familygoers edisi Poelang Kampoeng. Semua keluarga yang ikutan disarankan untuk berangkat paling lambat jam 06:30 dari Jakarta supaya jalanan masih lancar. Normalnya saat pagi hari perjalanan menuju HB Kampoeng Wisata Cinangneng, Bogor yang menjadi tempat meet up familygoers kali ini memakan waktu 1,5 jam atau bisa lebih cepat dengan catatan berangkat sesuai jadwal. Pagi itu cuaca cerah menemani perjalanan familygoers, saat melintasi jalan tol Gunung Gede-Pangrango bisa terlihat jelas karena langit tak berawan.

Familygoers yang poelang kampoeng (sumber foto: Deddy Mulyawan / familygoers)

Familygoers datang tidak bersamaan dan ada beberapa keluarga yang datang terlambat. Memang jika berangkat sudah lebih dari jam yang disarankan biasanya jalanan lebih padat karena masih banyak proyek pembangunan di sekitar rute menuju Cinangneng, Bogor. Namun karena kegiatan ada yang dilakukan berkelompok, keluarga yang datang lebih dulu bisa langsung memulai kegiatan sesuai jadwal yang telah ditentukan. Anak-anak pun masih sempat “pemanasan” dengan main petak-umpet dan lari-larian. Familygoers yang ikut serta dibagi menjadi empat kelompok yang masing-masing terdiri dari 15 orang dewasa dan anak-anak. Sebelum memulai kegiatan pemandu dari Kampoeng Wisata memberikan penjelasan singkat mengenai tempat itu dan aturan main di sana.

Suit Jepang sebelum mulai main petak umpet (sumber foto Deddy Mulyawan / familygoers)

Kegiatan di Kampoeng Wisata bertujuan untuk mengenalkan budaya dan cara hidup ala orang desa di Jawa Barat. Oleh karena itu tata cara berkomunikasi seperti layaknya orang Sunda turut diperkenalkan. Familygoers yang mengikuti kegiatan diminta untuk memanggil para pemandu yang wanita dengan sebutan “teteh” dan “mamang” untuk yang laki-laki. Kemudian mengucapkan “hatur nuhun” sebagai ucapan terima kasih setelah selesai melakukan setiap kegiatan. Peserta juga diminta untuk menjaga ketertiban dan selalu mengikuti petunjuk pemandu agar semua tetap nyaman, hari itu termasuk familygoers ada sekitar 600 orang yang melakukan kegiatan di Kampoeng Wisata. Terbayang ya ramainya, tapi karena semua pemandu sudah berpengalaman dan sehingga semua kegiatan berjalan lancar.

Pilihan aktivitas dilakukan sesuai dengan slot tempat dan waktu yang sudah disiapkan. Aktivitas terbagi dari dua sesi dimana sesi pertama adalah perkenalan seni budaya yang pastinya tidak berbasah-basahan dan dilakukan bergantian sesuai kelompok, dilanjutkan sesi kedua yang basah dan berlumpur setelah makan siang dilakukan bersama-sama semua familygoers. Tak hanya anak-anak yang antusias mencoba semua aktivitas tapi juga para orang tua yang ternyata banyak juga yang baru pertama kali melakukannya.

Sesi Pertama (4 kelompok bergantian)

Main gamelan; Gamelan adalah alat musik tradisional beberapa daerah di Indonesia, sangat indah alunan musiknya jika dimainkan secara berkelompok. Familygoers pun mencoba untuk memainkannya bersama-sama dengan mengikuti instruksi dari pemandu. Urutan nada yang diberikan cukup sederhana sehingga anak-anak termasuk balita yang sudah kenal dengan angka dan dapat mengikuti instruksi pun bisa ikut bermain gamelan. Latihan memainkan gamelan dilakukan satu kali dan selanjutnya “praktik” bermain gamelan. Hasilnya keren, serasa menjadi pemain gamelan profesional loh!

Ibu & anak kerjasama main gamelan (sumber foto: Deddy Mulyawan / familygoers)

Main gamelan berkelompok (sumber foto: Ratih Janis / familygoers)

Membuat minuman dan makanan tradisional; Siapa yang belum pernah mencoba minuman wedang jahe? Rasanya semua orang pernah mencicipi minuman yang satu ini, tapi bagaimana cara membuatnya itulah yang tidak semua orang tahu. Kali ini familygoers bisa secara langsung belajar bagaimana membuat minuman wedang jahe yang kalau belum diseduh bisa juga menjadi permen jahe. Untuk makanannya familygoers mencoba untuk membuat kue bugis, mulai dari mengolah adonan sampai mengukus kue. Wah rasanya enak sekali sampai mau nambah terus.

Balita yang sibuk juga ikutan bikin kue bugis (sumber foto: Deddy Mulyawan / familygoers)

Foto menggunakan pakaian ala desa; Sesi foto bersama adalah momen yang membuat familygoers tambah menghayati peran sebagai orang desa. Kampoeng Wisata memang menyediakan kostum berbagai ukuran dan warna lengkap dengan props yang terdiri dari hasil bumi serta lesung untuk menumbuk padi sesuai dengan tema kegiatan yang ala desa. Kostum yang digunakan berupa kebaya lengkap dengan kain dan selendang kepala untuk wanita. Sementara laki-laki memakai baju atasan dan celana, sarung yang diselempangkan di depan dada dan ikat kepala. Tak ketinggalan ada sebuah saung dan dua patung kerbau di sisi kiri dan kanan yang juga menjadi tempat favorit untuk berfoto.

Foto ala orang desa (sumber foto: Deddy Mulyawan / familygoers

Foto ala orang desa (sumber foto: Deddy Mulyawan / familygoers)

Foto ala orang desa (sumber foto: Deddy Mulyawan / familygoers)

Foto ala orang desa (sumber foto: Deddy Mulyawan / familygoers)

Membuat wayang dari batang & daun singkong; Siapa nyana bahan sederhana berupa batang dan daun singkong dapat dijadikan karya seni yang indah sekaligus mainan yang ramah lingkungan. Tidak terlalu sulit membuat wayang dari bahan alami ini, tapi untuk anak-anak masih membutuhkan sedikit bantuan agar tepat langkah-langkahnya. Anak-anak sangat senang ketika mereka berhasil membuat wayang dan banyak juga yang membawanya pulang sebagai kenang-kenangan.

Anak-anak mencoba mengikuti instruksi untuk membuat wayang (sumber foto: Deddy Mulyawan / familygoers)

Sesi pertama diakhiri dengan makan siang dengan menu khas Sunda yang pas dengan suasana. Anak-anak dengan menu: nasi putih, bakmi goreng, perkedel kentang, ayam goreng, sayur sop, buah, kerupuk, air mineral. Orang dewasa: nasi putih, tahu dan tempe goreng, ayam goreng, lalapan, ikan sin, sayur asem, sambal, buah, kerupuk, air mineral. Sayur sop dan sayur asemnya juara banget, familygoers makan dengan lahap. Setelah makan siang familygoers diajak untuk lanjut ke sesi kedua dengan terlebih dulu menuruni tangga-tangga, berjalan melewati sungai melalui Jembatan Pulang Kampung-ku, dan melewati sawah hingga sampai ke Desa Sukamakmur.

Saat makan siang (sumber foto: Deddy Mulyawan / familygoers)

Turun tangga & bersipa menyebrangi jembatan (sumber foto: Ratih Janis / familygoers)

Sesi Kedua (seluruh familygoers bersama-sama)

Berkunjung ke desa penduduk; Sampai di Desa Sukamakmur familygoers bertemu penduduk dan melihat industri rumah tangga. Begitu sampai jalanan masuk desa agak sedikit terhambat rupanya ibu-ibu berkumpul di sebuah rumah yang menjual keset. Gimana tak menggoda, keset yang berkualitas bagus dijual dengan harga miring yaitu Rp 15.000,- untuk 2 buah. Anak-anak dan para bapak pun sibuk melihat dan memilih mainan, namun karena harus bergantian dengan rombongan lain maka belanjanya harus disudahi dulu dan familygoers pun meninggalkan desa dan menuju area sawah untuk foto bersama.

Keramaian saat antri masuk ke desa (sumber foto: Ratih Janis / familygoers)

Ini loh keset kece yang bikin ibu-ibu lama antri (sumber foto: Deddy Mulyawan / familygoers)

Menanam padi; Selanjutnya anak-anak mulai beraksi mencoba menanam padi dengan mengikuti petunjuk dari “mamang” dan “teteh” yaitu dengan cara tandur alias tanam mundur. Bibit padi ditanam pada lahan yang tersedia satu per satu dengan cara mundur, tentunya kalau maju bibit padinya malah bisa terinjak  ya kan? Ada rada geli, aneh tapi seru saat menyemplungkan kaki ke lumpur sawah. Banyak familygoers yang baru pertama kali nyemplung sawah, anak-anak dan beberapa orang tua ikut turun ke sawah. Lucunya bayi-bayi pun tak mau ketinggalan mau ikutan merasakan keseruan main di sawah.

Belajar menanam padi (sumber foto: Ratih Janis / familygoers)

Memandikan kerbau; Sudah terlanjur basah dan kotor setelah menanam pagi, sekalian deh dilanjut dengan memandikan kerbau. Ini dia sebenarnya yang paling ditunggu oleh anak-anak. Oh ya, ada kejutan saat kegiatan sedang berlangsung. Tim Indosiar datang meliput kegiatan familygoers di Kampoeng Wisata, sang reporter pun ikut serta dalam beberapa kegiatan bersama familygoers termasuk memandikan kerbau. Kedatangan Tim Indosiar ini membuat anak-anak semakin seru dan kegirangan. Beberapa anak dan perwakilan orangtua familygoers pun sempat di wawancara. Selesai wawancara dengan polosnya anak-anak berteriak kegirangan, “…yeay aku masuk tv!” kocak sekali melihat tingkah polah mereka.

Serunya memandikan kerbau (sumber foto: Ratih Janis / familygoers)

Wawancara Indosiar (sumber foto: Ratih Janis / familygoers)

Rangkaian kegiatan di Kampoeng Wisata pun selesai, setelah membersihkan diri dari lumpur ternyata anak-anak masih punya banyak energi untuk lanjut berenang. Para orang tua pun masih semangat untuk menemani anak-anak berenang, sementara familygoers yang tidak berenang saling bercengkrama dan memakan cemilan yang jauh-jauh dibawa oleh keluarga familygoers yang berasal dari Lampung. Sambil tim panitia alias seksi repot sekalian bagi-bagi voucher untuk familygoers yang sudah hadir. Poelang Kampoeng yang singkat namun menyisakan kisah yang seru. Selain mendapat pengalaman baru familygoers juga mendapat teman-teman baru dengan semangat yang sama untuk piknik asyik bersama keluarga. Terima kasih untuk kebersamaannya, sampai jumpa di familygoers meet up selanjutnya.

 

 

Share This | | |

One response to “Familygoers poelang kampoeng, sehari merasakan kehidupan ala desa”

  1. Thanks for your personal marvelous posting!
    I truly enjoyed reading it, you are a great author.I will ensure that I bookmark your blog and will come
    back very soon. I want to encourage you to ultimately continue your great posts, have a nice day!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Ratih Janis

 

Familygoers poelang kampoeng, sehari merasakan kehidupan ala desa
Posted by: Ratih Janis

Sabtu 9 Desember lalu sesuai kesepakatan bersama, familygoers kumpul bareng untuk melihat dari dekat kehidupan masyarakat desa dan merasakan langsung bagaimana menjadi orang desa dalam Meet Up Familygoers edisi Poelang Kampoeng. Semua keluarga yang ikutan disarankan untuk berangkat paling lambat jam 06:30 dari Jakarta supaya jalanan masih lancar. Normalnya saat pagi hari perjalanan menuju HB Kampoeng Wisata Cinangneng, Bogor yang menjadi tempat meet up familygoers kali ini memakan waktu 1,5 jam atau bisa lebih cepat dengan catatan berangkat sesuai jadwal. Pagi itu cuaca cerah menemani perjalanan familygoers, saat melintasi jalan tol Gunung Gede-Pangrango bisa terlihat jelas karena langit tak berawan.

Familygoers yang poelang kampoeng (sumber foto: Deddy Mulyawan / familygoers)

Familygoers datang tidak bersamaan dan ada beberapa keluarga yang datang terlambat. Memang jika berangkat sudah lebih dari jam yang disarankan biasanya jalanan lebih padat karena masih banyak proyek pembangunan di sekitar rute menuju Cinangneng, Bogor. Namun karena kegiatan ada yang dilakukan berkelompok, keluarga yang datang lebih dulu bisa langsung memulai kegiatan sesuai jadwal yang telah ditentukan. Anak-anak pun masih sempat “pemanasan” dengan main petak-umpet dan lari-larian. Familygoers yang ikut serta dibagi menjadi empat kelompok yang masing-masing terdiri dari 15 orang dewasa dan anak-anak. Sebelum memulai kegiatan pemandu dari Kampoeng Wisata memberikan penjelasan singkat mengenai tempat itu dan aturan main di sana.

Suit Jepang sebelum mulai main petak umpet (sumber foto Deddy Mulyawan / familygoers)

Kegiatan di Kampoeng Wisata bertujuan untuk mengenalkan budaya dan cara hidup ala orang desa di Jawa Barat. Oleh karena itu tata cara berkomunikasi seperti layaknya orang Sunda turut diperkenalkan. Familygoers yang mengikuti kegiatan diminta untuk memanggil para pemandu yang wanita dengan sebutan “teteh” dan “mamang” untuk yang laki-laki. Kemudian mengucapkan “hatur nuhun” sebagai ucapan terima kasih setelah selesai melakukan setiap kegiatan. Peserta juga diminta untuk menjaga ketertiban dan selalu mengikuti petunjuk pemandu agar semua tetap nyaman, hari itu termasuk familygoers ada sekitar 600 orang yang melakukan kegiatan di Kampoeng Wisata. Terbayang ya ramainya, tapi karena semua pemandu sudah berpengalaman dan sehingga semua kegiatan berjalan lancar.

Pilihan aktivitas dilakukan sesuai dengan slot tempat dan waktu yang sudah disiapkan. Aktivitas terbagi dari dua sesi dimana sesi pertama adalah perkenalan seni budaya yang pastinya tidak berbasah-basahan dan dilakukan bergantian sesuai kelompok, dilanjutkan sesi kedua yang basah dan berlumpur setelah makan siang dilakukan bersama-sama semua familygoers. Tak hanya anak-anak yang antusias mencoba semua aktivitas tapi juga para orang tua yang ternyata banyak juga yang baru pertama kali melakukannya.

Sesi Pertama (4 kelompok bergantian)

Main gamelan; Gamelan adalah alat musik tradisional beberapa daerah di Indonesia, sangat indah alunan musiknya jika dimainkan secara berkelompok. Familygoers pun mencoba untuk memainkannya bersama-sama dengan mengikuti instruksi dari pemandu. Urutan nada yang diberikan cukup sederhana sehingga anak-anak termasuk balita yang sudah kenal dengan angka dan dapat mengikuti instruksi pun bisa ikut bermain gamelan. Latihan memainkan gamelan dilakukan satu kali dan selanjutnya “praktik” bermain gamelan. Hasilnya keren, serasa menjadi pemain gamelan profesional loh!

Ibu & anak kerjasama main gamelan (sumber foto: Deddy Mulyawan / familygoers)

Main gamelan berkelompok (sumber foto: Ratih Janis / familygoers)

Membuat minuman dan makanan tradisional; Siapa yang belum pernah mencoba minuman wedang jahe? Rasanya semua orang pernah mencicipi minuman yang satu ini, tapi bagaimana cara membuatnya itulah yang tidak semua orang tahu. Kali ini familygoers bisa secara langsung belajar bagaimana membuat minuman wedang jahe yang kalau belum diseduh bisa juga menjadi permen jahe. Untuk makanannya familygoers mencoba untuk membuat kue bugis, mulai dari mengolah adonan sampai mengukus kue. Wah rasanya enak sekali sampai mau nambah terus.

Balita yang sibuk juga ikutan bikin kue bugis (sumber foto: Deddy Mulyawan / familygoers)

Foto menggunakan pakaian ala desa; Sesi foto bersama adalah momen yang membuat familygoers tambah menghayati peran sebagai orang desa. Kampoeng Wisata memang menyediakan kostum berbagai ukuran dan warna lengkap dengan props yang terdiri dari hasil bumi serta lesung untuk menumbuk padi sesuai dengan tema kegiatan yang ala desa. Kostum yang digunakan berupa kebaya lengkap dengan kain dan selendang kepala untuk wanita. Sementara laki-laki memakai baju atasan dan celana, sarung yang diselempangkan di depan dada dan ikat kepala. Tak ketinggalan ada sebuah saung dan dua patung kerbau di sisi kiri dan kanan yang juga menjadi tempat favorit untuk berfoto.

Foto ala orang desa (sumber foto: Deddy Mulyawan / familygoers

Foto ala orang desa (sumber foto: Deddy Mulyawan / familygoers)

Foto ala orang desa (sumber foto: Deddy Mulyawan / familygoers)

Foto ala orang desa (sumber foto: Deddy Mulyawan / familygoers)

Membuat wayang dari batang & daun singkong; Siapa nyana bahan sederhana berupa batang dan daun singkong dapat dijadikan karya seni yang indah sekaligus mainan yang ramah lingkungan. Tidak terlalu sulit membuat wayang dari bahan alami ini, tapi untuk anak-anak masih membutuhkan sedikit bantuan agar tepat langkah-langkahnya. Anak-anak sangat senang ketika mereka berhasil membuat wayang dan banyak juga yang membawanya pulang sebagai kenang-kenangan.

Anak-anak mencoba mengikuti instruksi untuk membuat wayang (sumber foto: Deddy Mulyawan / familygoers)

Sesi pertama diakhiri dengan makan siang dengan menu khas Sunda yang pas dengan suasana. Anak-anak dengan menu: nasi putih, bakmi goreng, perkedel kentang, ayam goreng, sayur sop, buah, kerupuk, air mineral. Orang dewasa: nasi putih, tahu dan tempe goreng, ayam goreng, lalapan, ikan sin, sayur asem, sambal, buah, kerupuk, air mineral. Sayur sop dan sayur asemnya juara banget, familygoers makan dengan lahap. Setelah makan siang familygoers diajak untuk lanjut ke sesi kedua dengan terlebih dulu menuruni tangga-tangga, berjalan melewati sungai melalui Jembatan Pulang Kampung-ku, dan melewati sawah hingga sampai ke Desa Sukamakmur.

Saat makan siang (sumber foto: Deddy Mulyawan / familygoers)

Turun tangga & bersipa menyebrangi jembatan (sumber foto: Ratih Janis / familygoers)

Sesi Kedua (seluruh familygoers bersama-sama)

Berkunjung ke desa penduduk; Sampai di Desa Sukamakmur familygoers bertemu penduduk dan melihat industri rumah tangga. Begitu sampai jalanan masuk desa agak sedikit terhambat rupanya ibu-ibu berkumpul di sebuah rumah yang menjual keset. Gimana tak menggoda, keset yang berkualitas bagus dijual dengan harga miring yaitu Rp 15.000,- untuk 2 buah. Anak-anak dan para bapak pun sibuk melihat dan memilih mainan, namun karena harus bergantian dengan rombongan lain maka belanjanya harus disudahi dulu dan familygoers pun meninggalkan desa dan menuju area sawah untuk foto bersama.

Keramaian saat antri masuk ke desa (sumber foto: Ratih Janis / familygoers)

Ini loh keset kece yang bikin ibu-ibu lama antri (sumber foto: Deddy Mulyawan / familygoers)

Menanam padi; Selanjutnya anak-anak mulai beraksi mencoba menanam padi dengan mengikuti petunjuk dari “mamang” dan “teteh” yaitu dengan cara tandur alias tanam mundur. Bibit padi ditanam pada lahan yang tersedia satu per satu dengan cara mundur, tentunya kalau maju bibit padinya malah bisa terinjak  ya kan? Ada rada geli, aneh tapi seru saat menyemplungkan kaki ke lumpur sawah. Banyak familygoers yang baru pertama kali nyemplung sawah, anak-anak dan beberapa orang tua ikut turun ke sawah. Lucunya bayi-bayi pun tak mau ketinggalan mau ikutan merasakan keseruan main di sawah.

Belajar menanam padi (sumber foto: Ratih Janis / familygoers)

Memandikan kerbau; Sudah terlanjur basah dan kotor setelah menanam pagi, sekalian deh dilanjut dengan memandikan kerbau. Ini dia sebenarnya yang paling ditunggu oleh anak-anak. Oh ya, ada kejutan saat kegiatan sedang berlangsung. Tim Indosiar datang meliput kegiatan familygoers di Kampoeng Wisata, sang reporter pun ikut serta dalam beberapa kegiatan bersama familygoers termasuk memandikan kerbau. Kedatangan Tim Indosiar ini membuat anak-anak semakin seru dan kegirangan. Beberapa anak dan perwakilan orangtua familygoers pun sempat di wawancara. Selesai wawancara dengan polosnya anak-anak berteriak kegirangan, “…yeay aku masuk tv!” kocak sekali melihat tingkah polah mereka.

Serunya memandikan kerbau (sumber foto: Ratih Janis / familygoers)

Wawancara Indosiar (sumber foto: Ratih Janis / familygoers)

Rangkaian kegiatan di Kampoeng Wisata pun selesai, setelah membersihkan diri dari lumpur ternyata anak-anak masih punya banyak energi untuk lanjut berenang. Para orang tua pun masih semangat untuk menemani anak-anak berenang, sementara familygoers yang tidak berenang saling bercengkrama dan memakan cemilan yang jauh-jauh dibawa oleh keluarga familygoers yang berasal dari Lampung. Sambil tim panitia alias seksi repot sekalian bagi-bagi voucher untuk familygoers yang sudah hadir. Poelang Kampoeng yang singkat namun menyisakan kisah yang seru. Selain mendapat pengalaman baru familygoers juga mendapat teman-teman baru dengan semangat yang sama untuk piknik asyik bersama keluarga. Terima kasih untuk kebersamaannya, sampai jumpa di familygoers meet up selanjutnya.

 

 

Share This | | |

One response to “Familygoers poelang kampoeng, sehari merasakan kehidupan ala desa”

  1. Thanks for your personal marvelous posting!
    I truly enjoyed reading it, you are a great author.I will ensure that I bookmark your blog and will come
    back very soon. I want to encourage you to ultimately continue your great posts, have a nice day!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Ratih Janis