Drama Traveling Bereng Keluarga Seperti Apa yang Paling Greget?
Posted by: Admin

Ternyata banyak yang mengalami drama seru saat bepergian bareng keluarga. Ada yang ketinggalan dompet, lupa bawa paspor, ketemu nenek-nenek tengah malam,  nginap di bandara yang salah,  dan banyak lagi. Ini beberapa cerita drama  diambil dari IG @familygoers. Beberapa di antaranya kami edit tanpa menghilangkan arti.

@dimimcy: “Zaman belum ada angkutan online kami mengandalkan bus Damri untuk pergi ke bandara. Kami dari Depok naik kereta ke Pasar Minggu, baru nyambung bus Damri dari Pasar Minggu ke Cengkareng. Sudah sampai stasiun Pasar Minggu, tinggal menyebarang jalan ke terminal, eh, hujan deras. Tidak mungkin menerobos hujan sambil membawa anak-anak dan koper yang soft cover semua. Dan hujan berhenti  dua jam sebelum flight. Biasanya Jakarta macet seusai hujan. Senewen, deh. Akhirnya sampai bandar 45 menit sebelum boarding. Untung masih bisa boarding pass. Jadilah kami lari-larian di bandara. Saya tak pernah melupakan kejadian tersebut.”

@wd_kurniati: “Sedang asyik liburan, tahu-tahu dapat SMS dari si Mbak kalau dia tidak bisa bekerja lagi. Dua hari sisa liburan malah pusing mikirin anak-anak, siapa yang akan menemani mereka di rumah. Pokoknya mood jadi rusak.”

@prithaastriadi: “Mudik tahun 2016 macet di tol dan saya  kebelet buang air kecil, sementara rest area masih jauh. Untungnya nemu WC umum dadakan yang dibuat oleh warga yang tinggal di pinggir tol. Saya pun melipir, eh, ditegur polisi karena tidak boleh berhenti. Langsung lah power emak-emaknya keluar dengan nyerocos saya bicara ke Pak Polisi seperti ini; saya sudah kebelet, Pak. Kalau ngompol gimana, coba. Blablabla…Pak Polisi dam terpaku, hahaha. Alhamdulillah WC-nya bersih. Pulang mudik langsung beli WC portbale yang berguna banget sampai sekarang. Perjalanan akan selalu aman sentosa tanpa perlu repot cari WC umum saat mendadak ingin buang air kecil.”

@deby_maulina: “Dalam perjalanan ke Swiss, kami tiba di sebuah stasiun kecil, di kaki Gunung Pilatus, pukul 12 malam. Keluar stasiun hujan deras turun. Kami pun menerobos hujan. Si Papa mendorong dua koper besar, di Abang mendorong 1 koper kecil  dan saya dorong stroller si Ade. Keluar stasiun bingung baca peta. Ketemulah kami dengan nenek-nenek yang berpakaian ala pekerja kantoran keluar dari sebuah gedung tua, Kalau di Jakarta kami pasti sudah lari karena takut ketemu hantu. Soalnya kami percaya hantu di Indonesia lebih seram dibanding hantu di luar negeri. Akhirnya kami beranikan diri mendekati nenek tersebut dan meminta petunjuk arah menuju hotel. Ia kemudian membawa kami melewati bawah jembatan, gedung tua dan akhirnya sampailah kami di hotel.”

@pieterika: “Sampai bandara Soekarno Hatta, dompet, identitas dan dolar ketinggalan di rumah, di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan.”

@adeniash: “Sengaja menginap di Bandara Kansai karena pesawatnya pagi, pukul 8.00. Ternyata setelah melihat tiket lagi ternyata berangkatnya dari Bandara Itami dan baru nyadar pukul 6.00!”

@sheikharauf: “Begitu tiba di bandara baru sadar kalau paspor tidak kebawa. Visa nempel di paspor. Akhirnya ikut penerbangan terakhir karena menunggu paspor minta diantar saudara. Sementara menunggu si anak kecil tak berhenti merengek dan berkata, jadi pergi nggak, sih…”

@Dwhitneykenny: “Drama mama-mama sok mau masak.  Pas travel ke Jepang, dibawalah semua perlengkapan masak saat, termasuk di antaranya slowcooker yang besar pun kami bawa. Bapaknya kasihan sampai harus nenteng koper berat. Eh, ternyata   akhirnya kami beli makanan siap saji….”

 

 

 

Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Admin




Drama Traveling Bereng Keluarga Seperti Apa yang Paling Greget?
Posted by: Admin

Ternyata banyak yang mengalami drama seru saat bepergian bareng keluarga. Ada yang ketinggalan dompet, lupa bawa paspor, ketemu nenek-nenek tengah malam,  nginap di bandara yang salah,  dan banyak lagi. Ini beberapa cerita drama  diambil dari IG @familygoers. Beberapa di antaranya kami edit tanpa menghilangkan arti.

@dimimcy: “Zaman belum ada angkutan online kami mengandalkan bus Damri untuk pergi ke bandara. Kami dari Depok naik kereta ke Pasar Minggu, baru nyambung bus Damri dari Pasar Minggu ke Cengkareng. Sudah sampai stasiun Pasar Minggu, tinggal menyebarang jalan ke terminal, eh, hujan deras. Tidak mungkin menerobos hujan sambil membawa anak-anak dan koper yang soft cover semua. Dan hujan berhenti  dua jam sebelum flight. Biasanya Jakarta macet seusai hujan. Senewen, deh. Akhirnya sampai bandar 45 menit sebelum boarding. Untung masih bisa boarding pass. Jadilah kami lari-larian di bandara. Saya tak pernah melupakan kejadian tersebut.”

@wd_kurniati: “Sedang asyik liburan, tahu-tahu dapat SMS dari si Mbak kalau dia tidak bisa bekerja lagi. Dua hari sisa liburan malah pusing mikirin anak-anak, siapa yang akan menemani mereka di rumah. Pokoknya mood jadi rusak.”

@prithaastriadi: “Mudik tahun 2016 macet di tol dan saya  kebelet buang air kecil, sementara rest area masih jauh. Untungnya nemu WC umum dadakan yang dibuat oleh warga yang tinggal di pinggir tol. Saya pun melipir, eh, ditegur polisi karena tidak boleh berhenti. Langsung lah power emak-emaknya keluar dengan nyerocos saya bicara ke Pak Polisi seperti ini; saya sudah kebelet, Pak. Kalau ngompol gimana, coba. Blablabla…Pak Polisi dam terpaku, hahaha. Alhamdulillah WC-nya bersih. Pulang mudik langsung beli WC portbale yang berguna banget sampai sekarang. Perjalanan akan selalu aman sentosa tanpa perlu repot cari WC umum saat mendadak ingin buang air kecil.”

@deby_maulina: “Dalam perjalanan ke Swiss, kami tiba di sebuah stasiun kecil, di kaki Gunung Pilatus, pukul 12 malam. Keluar stasiun hujan deras turun. Kami pun menerobos hujan. Si Papa mendorong dua koper besar, di Abang mendorong 1 koper kecil  dan saya dorong stroller si Ade. Keluar stasiun bingung baca peta. Ketemulah kami dengan nenek-nenek yang berpakaian ala pekerja kantoran keluar dari sebuah gedung tua, Kalau di Jakarta kami pasti sudah lari karena takut ketemu hantu. Soalnya kami percaya hantu di Indonesia lebih seram dibanding hantu di luar negeri. Akhirnya kami beranikan diri mendekati nenek tersebut dan meminta petunjuk arah menuju hotel. Ia kemudian membawa kami melewati bawah jembatan, gedung tua dan akhirnya sampailah kami di hotel.”

@pieterika: “Sampai bandara Soekarno Hatta, dompet, identitas dan dolar ketinggalan di rumah, di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan.”

@adeniash: “Sengaja menginap di Bandara Kansai karena pesawatnya pagi, pukul 8.00. Ternyata setelah melihat tiket lagi ternyata berangkatnya dari Bandara Itami dan baru nyadar pukul 6.00!”

@sheikharauf: “Begitu tiba di bandara baru sadar kalau paspor tidak kebawa. Visa nempel di paspor. Akhirnya ikut penerbangan terakhir karena menunggu paspor minta diantar saudara. Sementara menunggu si anak kecil tak berhenti merengek dan berkata, jadi pergi nggak, sih…”

@Dwhitneykenny: “Drama mama-mama sok mau masak.  Pas travel ke Jepang, dibawalah semua perlengkapan masak saat, termasuk di antaranya slowcooker yang besar pun kami bawa. Bapaknya kasihan sampai harus nenteng koper berat. Eh, ternyata   akhirnya kami beli makanan siap saji….”

 

 

 

Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Admin