Drama Anak Sakit saat Traveling ke Jepang
Posted by: Sheika Rauf

Orang tua mana sih yang gak sedih lihat anak sakit ? Apalagi kalau sakitnya pas traveling, sedihnya jadi double. Combo! Itu yang kami alami sewaktu trip ke Jepang lalu.

Di pagi hari saat hari H keberangkatan, anak saya, Zola mendadak demam tinggi. Semua sudah di-packed tinggal berangkat ke airport sore hari nya. Saya dan suami masih optimis kami bisa tetap berangkat dan menyemangati Zola untuk sembuh. Saya terus menerus memberikan asupan cairan dan tak lupa paracetamol. Menjelang sore, syukurlah demam Zola sudah turun, namun berganti mengeluh sakit gigi. Duh ! Ini sudah detik-detik keberangkatan. Sahabat saya menyarankan memberikan aloclaire gel untuk meredakan gusi bengkaknya. Ternyata, demam nya disebabkan oleh gigi yang mau tumbuh.

Setelah menimbang-nimbang, kami memutuskan untuk tetap berangkat dengan kondisi tubuh Zola yang masih agak sumeng. Ibu tega ? Terserah deh. Saat itu saya melihat anak saya juga bersemangat ingin tetap pergi. Saya juga sih :D. Penyebab demam nya pun sudah diketahui, karena sakit gusi. Di perjalanan menuju airport, saya sempatkan membeli aloclaire gel sesuai saran sahabat saya dan memberikannya kepada Zola ketika sudah sampai di airport. Dari situ sakitnya mulai berkurang. Bercampur rasa deg-degan dan perasaan bersalah, saya terus berdoa semoga semuanya diberi kelancaran, kesehatan dan keselamatan pada trip kali ini.

Begitu masuk pesawat besar, Zola mulai antusias. Yang dinanti-nanti pun tiba. Ini pertama kali nya lagi Zola betul-betul bisa tau rasanya naik pesawat jumbo ke luar negeri. Terakhir naik pesawat jenis Airbus ini sewaktu usia Zola masih sekitar 3 tahun saat kami mudik dari Paris ke Jakarta. Setelah itu, baru kali ini lagi kami naik pesawat besar ke luar negeri. Karena itu Zola sangat antusias, rasa sakit seperti lenyap. Meskipun begitu, saya tetap menyuruh Zola banyak istirahat dalam perjalanan, tidak usah nonton TV, karena perjalanan sesungguhnya masih panjang. Betul saja, Zola lebih banyak tidur sepanjang perjalanan.

Episode berikutnya adalah ketika kami tiba di bandara Haneda Tokyo. Saya agak ngeri dengan sensor suhu badan. Saya sempat mendengar, orang-orang dengan suhu badan tinggi dilarang memasuki Tokyo dan akan dikarantina di airport atau dipulangkan kembali. Sebenarnya, suhu badan Zola sudah kembali normal, tapi yah tetap saja hati ini dag dig dug. Alhamdulillah ternyata semua berjalan lancar. Kami melewati pengecekan imigrasi tanpa kendala. Zola pun semakin sumringah. Rasanya kurang dari 24 jam yang lalu, badannya demam tinggi, namun begitu sampai Haneda Airport di Jepang, ia melonjak kegirangan.

Sampai di Haneda Airport langsung sumringah

Keluar bintik-bintik di kulit

Saat itu sedang musim panas, cuaca memang lagi panas-panas nya. Terik ! Namun sejak kedatangan di airport Tokyo, lalu kami langsung menuju Kyoto dan kemudian ke Osaka, semua nya Alhamdulillah baik-baik saja. Tak ada keluhan dari Zola. Anak ini malah menikmati perjalanan pertama kali ke luar negeri, sejak kepulangan kami dari Paris empat tahun sebelumnya. Saya berusaha untuk selalu memenuhi asupan cairan kami semua di bawah sinar matahari mentereng begini supaya tidak ada yang dehidrasi.

Di depan bekas reruntuhan serangan bom atom Hiroshima

Tokyo Trick Art Museum

Miyajima Island

Episode lain muncul saat badan Zola mulai menghangat lagi di Osaka. Saat itu kami cukup lama di Osaka, 5 hari 4 malam. Ada kesempatan mengeksplor kota lain di Nara dan Iga Ueno, sebuah perkampungan ninja yang letaknya sekitar dua jam dengan kereta dari Osaka. Namun di antara 5 hari itu, setelah demam sumem dengan suhu tubuh sekitar 37,5 di kulit Zola muncul bintik-bintik yang saya khawatirkan cacar. Saya berusaha untuk tidak panik dan membawa Zola ke apotek terdekat.

Fushimi Inari Shrine – Kyoto

Nishiki Food Market – Kyoto

Osaka City

Untuk di negara maju para apoteker di apotek ini cukup bisa diandalkan untuk pertolongan pertama. Saya berkonsultasi dengan bahasa inggris campur bahasa isyarat karena bahasa inggris para apoteker ini seadanya. Pokoknya saya berusaha menyampaikan maksud saya dan membuat mereka mengerti. Tak lama, mereka memberikan salep yang semua petunjuknya berbahasa Jepang. Mereka pun menjelaskan dengan bahasa Jepang campur isyarat yang saya tangkap kira-kira maksudnya “oleskan dua kali sehari, pagi dan malam”. Itu saja. Selebihnya tentang keterangan obat itu saya tak mengerti sama sekali.

Sebelum mengoleskan salep, saya bertanya dulu di group whatsapp yang berisi para emak-emak hebat dengan berbagai profesi dan selalu sigap menjawab persoalan rumah tangga. “Shei, gw pernah kaya begitu waktu tinggal di Jepang. Olesin aja salepnya. Nanti bintik nya cepet kering dan menghitam. Setelah itu, gak akan berbekas sama sekali,” jawab salah satu teman di situ. Lega, saya pun langsung mengoleskan salep di atas bibir zola, telapak tangan dan beberapa bagian tubuh yang lain. Benar saja, bintik seperti cacar itu pun tak berapa lama kempis, mengering, menghitam lalu menghilang tanpa jejak dalam satu sampai dua hari.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Hiroshima lalu ke Tokyo sebelum kembali ke Jakarta. Alhamdulillah, Zola sudah kembali pulih dan benar-benar sehat, kami pun tetap bisa mengeksplor kota-kota di Jepang yang kami singgahi : Kyoto, Osaka, Nara, Iga Uneo, Hiroshima dan Tokyo. Semoga kami bisa mengeksplorasi lagi ke kota-kota lainnnya di Jepang lain waktu tanpa drama yang berarti. 🙂

 

Jika anak tiba-tiba sakit saat traveling :

  1. Hindari panik, terutama jika sedang berada di negara maju. Tenang saja, SOP mereka tentang kesehatan sudah jauh lebih maju.
  2. Datangi apotek terdekat, sebelum ke UGD. Kalau sekiranya si anak masih dalam kondisi sadar penuh, masih bisa berjalan, masih bisa makan dan minum, konsultasi dengan apoteker sebenarnya sudah cukup. Anak harus segera dibawa ke UGD jika memang kondisi nya benar-benar gawat darurat, seperti muntah-muntah terus menerus, hilang kesadaran atau kehilangan banyak darah.
  3. Kenali perilaku anak sehari-hari. Apakah sangat berbeda saat dia sakit dan sehat. Saat itu, saya mengamati perilaku Zola sebelum berangkat ke Jepang. Zola masih bisa diberi makanan, minuman dan diajak ngobrol. Selain itu, suhu badan juga sudah menurun saat tiba waktu keberangkatan. Karena itu saya juga berani memutuskan untuk jadi berangkat ke Jepang.

 

 



Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Sheika Rauf
Ibu dari si bocah petualang Zola, yang hobi traveling dan menulis. Selama saya masih mampu, saya akan mengajak anak saya melihat dunia ini lebih luas lagi.

 

Drama Anak Sakit saat Traveling ke Jepang
Posted by: Sheika Rauf

Orang tua mana sih yang gak sedih lihat anak sakit ? Apalagi kalau sakitnya pas traveling, sedihnya jadi double. Combo! Itu yang kami alami sewaktu trip ke Jepang lalu.

Di pagi hari saat hari H keberangkatan, anak saya, Zola mendadak demam tinggi. Semua sudah di-packed tinggal berangkat ke airport sore hari nya. Saya dan suami masih optimis kami bisa tetap berangkat dan menyemangati Zola untuk sembuh. Saya terus menerus memberikan asupan cairan dan tak lupa paracetamol. Menjelang sore, syukurlah demam Zola sudah turun, namun berganti mengeluh sakit gigi. Duh ! Ini sudah detik-detik keberangkatan. Sahabat saya menyarankan memberikan aloclaire gel untuk meredakan gusi bengkaknya. Ternyata, demam nya disebabkan oleh gigi yang mau tumbuh.

Setelah menimbang-nimbang, kami memutuskan untuk tetap berangkat dengan kondisi tubuh Zola yang masih agak sumeng. Ibu tega ? Terserah deh. Saat itu saya melihat anak saya juga bersemangat ingin tetap pergi. Saya juga sih :D. Penyebab demam nya pun sudah diketahui, karena sakit gusi. Di perjalanan menuju airport, saya sempatkan membeli aloclaire gel sesuai saran sahabat saya dan memberikannya kepada Zola ketika sudah sampai di airport. Dari situ sakitnya mulai berkurang. Bercampur rasa deg-degan dan perasaan bersalah, saya terus berdoa semoga semuanya diberi kelancaran, kesehatan dan keselamatan pada trip kali ini.

Begitu masuk pesawat besar, Zola mulai antusias. Yang dinanti-nanti pun tiba. Ini pertama kali nya lagi Zola betul-betul bisa tau rasanya naik pesawat jumbo ke luar negeri. Terakhir naik pesawat jenis Airbus ini sewaktu usia Zola masih sekitar 3 tahun saat kami mudik dari Paris ke Jakarta. Setelah itu, baru kali ini lagi kami naik pesawat besar ke luar negeri. Karena itu Zola sangat antusias, rasa sakit seperti lenyap. Meskipun begitu, saya tetap menyuruh Zola banyak istirahat dalam perjalanan, tidak usah nonton TV, karena perjalanan sesungguhnya masih panjang. Betul saja, Zola lebih banyak tidur sepanjang perjalanan.

Episode berikutnya adalah ketika kami tiba di bandara Haneda Tokyo. Saya agak ngeri dengan sensor suhu badan. Saya sempat mendengar, orang-orang dengan suhu badan tinggi dilarang memasuki Tokyo dan akan dikarantina di airport atau dipulangkan kembali. Sebenarnya, suhu badan Zola sudah kembali normal, tapi yah tetap saja hati ini dag dig dug. Alhamdulillah ternyata semua berjalan lancar. Kami melewati pengecekan imigrasi tanpa kendala. Zola pun semakin sumringah. Rasanya kurang dari 24 jam yang lalu, badannya demam tinggi, namun begitu sampai Haneda Airport di Jepang, ia melonjak kegirangan.

Sampai di Haneda Airport langsung sumringah

Keluar bintik-bintik di kulit

Saat itu sedang musim panas, cuaca memang lagi panas-panas nya. Terik ! Namun sejak kedatangan di airport Tokyo, lalu kami langsung menuju Kyoto dan kemudian ke Osaka, semua nya Alhamdulillah baik-baik saja. Tak ada keluhan dari Zola. Anak ini malah menikmati perjalanan pertama kali ke luar negeri, sejak kepulangan kami dari Paris empat tahun sebelumnya. Saya berusaha untuk selalu memenuhi asupan cairan kami semua di bawah sinar matahari mentereng begini supaya tidak ada yang dehidrasi.

Di depan bekas reruntuhan serangan bom atom Hiroshima

Tokyo Trick Art Museum

Miyajima Island

Episode lain muncul saat badan Zola mulai menghangat lagi di Osaka. Saat itu kami cukup lama di Osaka, 5 hari 4 malam. Ada kesempatan mengeksplor kota lain di Nara dan Iga Ueno, sebuah perkampungan ninja yang letaknya sekitar dua jam dengan kereta dari Osaka. Namun di antara 5 hari itu, setelah demam sumem dengan suhu tubuh sekitar 37,5 di kulit Zola muncul bintik-bintik yang saya khawatirkan cacar. Saya berusaha untuk tidak panik dan membawa Zola ke apotek terdekat.

Fushimi Inari Shrine – Kyoto

Nishiki Food Market – Kyoto

Osaka City

Untuk di negara maju para apoteker di apotek ini cukup bisa diandalkan untuk pertolongan pertama. Saya berkonsultasi dengan bahasa inggris campur bahasa isyarat karena bahasa inggris para apoteker ini seadanya. Pokoknya saya berusaha menyampaikan maksud saya dan membuat mereka mengerti. Tak lama, mereka memberikan salep yang semua petunjuknya berbahasa Jepang. Mereka pun menjelaskan dengan bahasa Jepang campur isyarat yang saya tangkap kira-kira maksudnya “oleskan dua kali sehari, pagi dan malam”. Itu saja. Selebihnya tentang keterangan obat itu saya tak mengerti sama sekali.

Sebelum mengoleskan salep, saya bertanya dulu di group whatsapp yang berisi para emak-emak hebat dengan berbagai profesi dan selalu sigap menjawab persoalan rumah tangga. “Shei, gw pernah kaya begitu waktu tinggal di Jepang. Olesin aja salepnya. Nanti bintik nya cepet kering dan menghitam. Setelah itu, gak akan berbekas sama sekali,” jawab salah satu teman di situ. Lega, saya pun langsung mengoleskan salep di atas bibir zola, telapak tangan dan beberapa bagian tubuh yang lain. Benar saja, bintik seperti cacar itu pun tak berapa lama kempis, mengering, menghitam lalu menghilang tanpa jejak dalam satu sampai dua hari.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Hiroshima lalu ke Tokyo sebelum kembali ke Jakarta. Alhamdulillah, Zola sudah kembali pulih dan benar-benar sehat, kami pun tetap bisa mengeksplor kota-kota di Jepang yang kami singgahi : Kyoto, Osaka, Nara, Iga Uneo, Hiroshima dan Tokyo. Semoga kami bisa mengeksplorasi lagi ke kota-kota lainnnya di Jepang lain waktu tanpa drama yang berarti. 🙂

 

Jika anak tiba-tiba sakit saat traveling :

  1. Hindari panik, terutama jika sedang berada di negara maju. Tenang saja, SOP mereka tentang kesehatan sudah jauh lebih maju.
  2. Datangi apotek terdekat, sebelum ke UGD. Kalau sekiranya si anak masih dalam kondisi sadar penuh, masih bisa berjalan, masih bisa makan dan minum, konsultasi dengan apoteker sebenarnya sudah cukup. Anak harus segera dibawa ke UGD jika memang kondisi nya benar-benar gawat darurat, seperti muntah-muntah terus menerus, hilang kesadaran atau kehilangan banyak darah.
  3. Kenali perilaku anak sehari-hari. Apakah sangat berbeda saat dia sakit dan sehat. Saat itu, saya mengamati perilaku Zola sebelum berangkat ke Jepang. Zola masih bisa diberi makanan, minuman dan diajak ngobrol. Selain itu, suhu badan juga sudah menurun saat tiba waktu keberangkatan. Karena itu saya juga berani memutuskan untuk jadi berangkat ke Jepang.

 

 



Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Sheika Rauf


Ibu dari si bocah petualang Zola, yang hobi traveling dan menulis. Selama saya masih mampu, saya akan mengajak anak saya melihat dunia ini lebih luas lagi.