Destinasi Keren di Singaraja, Bali yang Bisa Dinikmati Bersama Keluarga
Posted by: Ida Ahdiah

Me time di akhir tahun 2018, saya habiskan bersama seorang sahabat  di  Singaraja, Bali. Kami sukses menyaksikan  lumba-lumba melompat di  laut lepas,  melewati  jajaran penjor,  danau cantik, kebun bunga dan memetik anggur,  makan  laklak, sangit, dan  duren.

Waktu cerita akan ke Lovina,  melihat lumba-lumba, seorang teman yang pernah ke sana mengatakan agar saya jangan berharap terlalu banyak.  Sebab ia tak melihat seekor pun. Namanya juga binatang liar, mana bisa diatur.  Ini membuat semangat saya dan sahabat saya, Ikun  menciut.

Kami  yang sudah memesan tiket pesawat, hotel, dan menyewa mobil kembali gamang,  saat tiga hari  sebelum berangkat terjadi tsunami di Selat Sunda yang memakan ratusan korban dan menimbulkan kerusakan.  Duka kami tak terhingga buat mereka.

Sebaiknya jangan main dekat-dekat laut. Begitu kata beberapa teman. Hmmm…

Kami kembali semangat setelah membaca  prakiraan tinggi gelombang dari Badan Meteorologi, Klimatogi, dan Geofisika (BKMG)  yang tidak menyebut Lovina memiliki gelombang tinggi. Untuk memastikan saya pun menelepon hotel,  menanyakan situasi pantai  yang letaknya berada di belakang hotel. Pihak hotel menjawab aman dan aktivitas berperahu untuk melihat lumba-lumba dan snorkling bisa berlangsung!

Hari Pertama

Saya dan Ikun, sengaja mengambil pesawat pukul 5.00 pagi dari Bandar Soekarno Hatta ke Ngurah Rai, Denpasar,  mengingat perjalanan Denpasar – Singaraja  diperkirakan membutuhkan  waktu 2  – 3  jam lebih karena sedang musim liburan. Perjalanan pagi juga bisa memberi kami kesempatan mampir ke destintasi wisata di  sepanjang jalan yang kami lewati,

Tiba di Denpasar kami dijemput Pak Nyoman yang akan menemani selama liburan di Bali. Ternyata ia adalah driver jempolan karena bisa diajak  blusukan spontan  ke tempat – tempat tidak biasa di luar itinerary. Plus memberi kami informasi lengkap tentang  adat dan  budaya Bali yang membuat kami merasa perjalanan akhir tahun ini semakin lebih bermakna.

Restoran Ayam Betutut Khas Gilimanuk

Perut mulai terasa lapar. Petualangan kuliner pun dimulai, Kami  minta Pak Nyoman mengantar ke restoran  Ayam Betutu khas Gilimanuk, di Jalan Merdeka. Eh, tiba di sana pelayannya masih bersih-bersih. Warung baru buka pukul 10.00. Pak Nyoman usul untuk makan nasi campur Wardani yang juga tidak jauh dari bandara. Ternyata warungnya tutup. Karena masih dalam suasana Hari Raya  Galungan beberapa restoran masih tutup.

Setelah berputar-putar, akhirnya, kami kembali ke Ayam Betutu  yang sudah buka. Saya memesan nasi campur yang terdiri dari urab sate ayam,  ayam suwir, dan belut goreng yang renyah plus sambal. Ikun  memesan ayam betutu  kuah Gilimanuk dengan sayur daun gonde yang diberi sambal terasi. Daun gonde yang rasanya agak pahit ini berasal dari Tabanan, dan termasuk sayuran langka. Makanannya pedas semua tapi enak, yang membuat terus menyuap. Hahahah.

Sarapan kami sungguh besar. Tapi kata Pak Nyoman perjalanan tak hanya membutuhkan bahan bakar yang full tank,  tapi juga makan yang enak untuk menjaga mood. Baiklah.

Setengah jam kemudian kami mulai meninggalkan Denpasar dan menyusuri jalanan mulus yang tidak terlalu besar. Di kanan kiri jalan yang kami lewati berjajar  Penjor, tiang bambu melengkung yang dihiasi janur yang antara lain juga diberi kelapa dan umbi-umbian. Penjor  dipasang di depan rumah di Hari Raya Galungan hingga Hari  Kuningan yang saat itu akan jatuh pada tanggal 4 Januari 2019.

Pemasangan penjor merupakan ungkapan terima kasih masyarakat Hindu Bali kepada  Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan). “Bagian atas penjor yang melengkung ke bawah itu merupakan simbol bahwa kita harus menunduk, tidak sombong,”  jelas Pak Nyoman yang setiap perayaan membuat Penjor bersama istri dan kedua anaknya.

Pasar Bunga Mengwi 

Syukurlah jalanan tidak macet. Kami minta Pak Nyoman mengemudikan mobil pelan-pelan. Kami sedang tidak buru-buru,  tapi diam-diam sedang ‘berburu’,  siapa tahu menemukan hal-hal unik dan menarik di jalan yang kami lewati.

Menjelang tengah hari,  ketika mobil berhenti di lampu merah, Ikun  melihat bunga warna-warni dijajakan di Pasar Mengwi, Badung. Kami pun minta berhenti. Para pedagang yang mayoritas perempuan menjual bunga kertas warna-warni, bunga kenikir kuning menyala dan irisan pandan yang harum di dalam karung.

Bunga merupakan kelengkapan sembahyang umat Hindu.  Setiap pagi,  Pak Nyoman misalnya,  bersama keluarganya ia menyiapkan canang,  wadah yang disebut ceper,  berbentuk segi empat, berisi  aneka macam bunga, irisan tebu,  irisan daun pandan yang diperciki air wangi.  Canang diletakan di tempat sembahyang.

Pak Nyoman kemudian membeli sebuah canang dan diletakan di dasboard mobil. Sedangkan kami  membeli satu kilo pandan iris yang membuat mobil kami harum   sepanjang perjalanan.

Hari ini kami mendapat pengetahuan bahwa  bunga bukan saja indah  dilihat, tapi melengkapi ketaatan beribadah masyarakat Hindu Bali. Kami juga senang  menyaksikan para pedagang bunga perempuan berjualan dengan ceria, mendapat penghasilan.

Jika jalan bersama anak-anak, saya, sih, tak keberatan membawa mereka  singgah di pasar bunga sebentar untuk mengenalkan mereka tentang budaya setempat. Juga menyentuh beragam jenis bunga.

Baturiti Luwak Coffee 

”Pak Nyoman…Kami mulai ngantuk, nih. Bakal lewat tempat ngopi yang enak dengan rasanya  nendang tidak?

Ia pun langsung   menjawab, “Tenang…”

Beberapa saat kemudian Pak Nyoman membelokan mobil ke tempat parkir Baturiti Luwak Coffee  di Tabanan. Udara sejuk menerpa saat kami turun dan disambut hangat oleh  Sukma, remaja berkebaya yang memiliki senyum manis. Ia mengajak kami masuk dan mampir ke sebuah bangunan yang menempatkan aneka macam biji kopi dan dan kandang luwak. Ia menjelaskan tentang kopi luwak yang berasal dari kotoran luwak dan proses pengolahannya.

Di tempat itu, tampak seorang perempuan sedang menyangrai biji kopi, yang aromanya saja sudah membuat mata melek. Biji yang sudah matang kemudian ditumbuk pelan-pelan menggunakan alu.

Mata kami terbelalak ketika tiba di bangku yang berada di bibir tebing dengan pemandangan ke sawah yang berunda-undak di bawah sana. Langit biru, angin semilir,  dan aroma kopi, membuat kami tidak ‘berdaya’. Apalagi ketika Sukma datang membawa nampan dengan 10 gelas kecil berisi tester teh dan kopi. Di antaranya kopi jahe, kopi vanila,  teh manggis, dan teh rosela.

Kenikmatan semakin lengkap ketika pesanan kopi luwak dan teh manggis kami tiba ditemani satu piring ubi goreng. Rasanya pingin leyeh-leyeh lama, tapi tujuan perjalanan masih jauh. Akhirnya dengan berat hati kami meninggalkan tempat tersebut setelah membeli beberapa bungkus kopi luwak.

Tempatnya berada di kebun dan jalannya turun naik. Jadi pertimbangkan baik-baik jika membawa anak-anak. Apalagi di tempat ini juga tidak menjual makanan selain ubi goreng, kopi, dan teh.

Kebun Bunga Kenikir (Gratis)

Dalam perjalanan menuju Danau Buyan di Bedugul dengan cara yang berkelok, naik-turun, saya minta Pak Nyoman mematikan AC. Kami membuka kaca jendela, membiarkan udara segar Bedugul yang disebut sebagai Puncaknya Bali ini menerpa kulit. Dari jalan kami bisa melihat air danau yang kehijauan dan jajaran gunung.

Penduduk sekitar banyak yang berkebun bunga kenikir yang saat itu sedang berbunga, kuning menyala dan besar-besar. Kami pun meminta Pak Nyoman berhenti ketika melewati sepetak kebun kenikir. Kami ingin bermain-main sejenak di kebun bunga kenikir, yang tampak kontras dengan daunnya yang hijau dan langit biru di atasnya.  Bunga kenikir sedap dipandang, disentuh, tapi tak perlu dicium karena baunya wangur.

Tidak perlu membayar untuk bermain di kebun kenikir, cukup meminta izin pemiliknya.

“Bunga warna kuning wajib ada  di Hari Raya Kuningan, yang semua persembahan harus berwarna kuning termasuk baju dan beras juga harus kuning. Kuning adalah simbol matahari, yang sinarnya telah memberi kehidupan yang patut disyukuri,” jelas Pak Nyoman. Menurutnya menjelang Hari Raya Kuningan harga bunga kenikir bisa melonjak harganya.

Kebun kenikir aman untuk anak-anak. Yang perlu diperhatikan adalah saat melompati parit kecil yang membatasi jalan dan kebun.

Danau Buyan dan Tamblingan

 

Jalan yang kami lalui semakin menanjak. Namun tidak apa, karena di kiri jalan kami disuguhi pemandangan danau kembar, Danau Buyan dan Tamblingan dengan airnya yang kehijauan, dipagari perbukitan yang tambak kebiruan,  Indahnya. Namun danau yang kami kunjungi adalah Danau Tamblingan. Jalan menuju danau ini kecil dan gronjalan.  Akomodasinya juga masih minim. Bagi kami danau ini terlihat lebih cantik dilihat dari atas dibanding berada langsung di tepinya. Maka, kami pun tidak berlama-lama di tempat ini karena kami ingin menyimpan tenaga untuk besok hari, dolphin watching. Kami ingin segera tiba di Hotel Aneka Lovina. Hotel lama ini cukup bersih dengan halaman belakang pantai Lovina yang berpasir hitam.

Kami baru tiba di hotel ketika gelap sudah turun. Segera chek in dan pesan perahu untuk melihat lumba-lumba lanjut snorkling.

“Besok, pukul setengah  enam sudah kumpul di pantai. Mudah-mudahan tidak hujan. Kalau hujan perjalanan dibatalkan,” kata Kadek, staf hotel, yang membuat kami berdoa agar besok hujan tidak turun. Karena akan lanjut snorkling kami memesan sarapan di boks agar bisa sarapan di perahu.

Hari Kedua

Dolphin Watching dan Snorkling (Tarif Rp. 250.000 per orang)

“Kami jadi melihat dolphin  atau tidak,” tanya saya pada seorang staf hotel saat melihat langit mendung.

“Jadi, Ibu sudah ditunggu oleh Pak Gede,” jawabnya. Pak Gede adalah pemilik perahu  yang menyediakan  fasilitas  perlengkapan snorkling dan jaket pelampung.

Maka, pagi itu berbekal dua kotak berisi sarapan yang terdiri dari dua butir telur, dua tangkup roti, croissan,  mentega kami pun naik perahu milik Pak Gede. Kami kenakan pelampung.  Kami pun sudah siap dengan pakaian  untuk snorkling dan basah-bahasan. Perjalanan melihat lumba-lumba diperkirakan sekitar 2 jam dan snorkling satu jam.

“Mendung begini, lumba-lumbanya bakal muncul tidak?” Tanya saya pada Pak Gede, yang saya yakin selalu mendapat pertanyaan itu dari penumpangnya.

Pak Gede angkat bahu dan menjawab diplomatis, “Mudah-mudahan hari ini Ibu beruntung…”

Duh, lantas ngapain naik perahu,  diayun-ayun ombak karena anginnya cukup besar kalau tidak bisa melihat lumba-lum  ba. Saya menggerutu. Tapi di hati saja.

Tapi Ikun menghibur, “Ya, kalau tidak lihat lumba-lumba kita bisa snorkling melihat ikan-ikan. Tempat snorklingnya bagus, kan, Pak.”

Pak Gede menjawab, lagi-lagi diplomatis, “Lihat saja nanti…”

Setengah jam berperahu kami bertemu dengan puluhan perahu warna-warna yang ditumpangi laki-laki perempuan, tua-muda, termasuk anak-anak, wisatawan lokal dan asing. Semuanya ingin melihat lumba-lumba.

“Lihat ke sebelah kanan,” teriak pak Gede.

Dan, di antara perahu kami melihat tiga ekor lumba-lumba melompat lompat cepat berulang. Sebagian penonton bersorak-sorak menyambut. Beberapa kali ikan berukuran besar itu melompat, di tempat yang tak diduga, seolah mengajak kami bermain.  Lumba-lumba kembali sembunyi cukup lama, lalu muncul sekejap. Begitu berulang-ulang hingga akirnya ia tidak muncul lagi.

Saya tidak berhasil mengabadikannya. Remakan video hanya memperlihatkan gerakan ekornya.  Tak apa,  kami merasa tidak sia-sia bangun pagi dan diayun-ayun ombak dan bisa menyaksikan lumba-lumba.

Saya melihat beberapa orangtua membawa anak melihat lumba-lumba. Mereka memakai jaket untuk mengusir angin laut dan juga mengenakan pelampung.

Snorkling

 

Byurrr…Saat saya menempelam wajah ke permukaan air, segera saya acungkan kedua jempol. Di bawah sana  segerombolan ikan warna-warni  muncul dari sela-sela karang, melewati  bintang laut, dan  menghampiri tangan saya  yang memegang roti tawar sisa sarapan. Ikan-ikan itu merubungi saya! Saya biarkan mereka makan dengan lahap dan kembali menjauh ketika roti habis.

Di atas laut yang tenang,  menyaksikan makhluk laut warna-warna, rasanya  senang sekali. Jika saja tidak kedinginnan, rasanya ingin saya berlama-lama.

Saya tidak melihat anak-anak snorkling. Tapi beberapa di antaranya tampak duduk di perahu menunggu dan melihat orang dewasa snorkling. 

 

Main di Kebun Anggur (Gratis)

Sejak tiba di Lovina, saya melihat banyak kebun anggur di samping atau belakang rumah. Yang membuat mata tergoda karena pohonnya yang merambat sedang berbuah. Buahnya  bergelantungan menggemaskan.  Di tepi jalan juga banyak dijual anggur. Karena penasaran kami turun dan mencicipi beberapa biji. Rasanya lumayan manis. Harganya Rp. 13.000 per kg.

Tapi kami ingin sekali memetik anggur sendiri. Dari informasi yang kami peroleh, di Singaraja memang ada wisata kebun anggur, tapi jaraknya lumayan jauh dari tempat kami tinggal. Sementara kami melihat banyak kebun anggur, meski tidak dijadikan tempat wisata.

Akhirnya, Pak Nyoman berjanji akan membawa kami ke kebun anggur dan bisa memetik, meski ia tidak yakin, di mana kebun anggur yang membolehkan pendatang memetik anggur.

Setelah bertanya beberapa kali, Pak Nyoman membelokkan mobil, keluar dari jalan raya, Benar saja, kebun anggur semakin banyak.  Kami akhirnya menemukan para pemetik anggur di sebuah kebun. Mereka mengizinkan kami untuk  turut memetik, meski tidak mudah.  Ternyata ada teknik khusus memetik dan memilih anggur yang bagus. Dengan menggunakan gunting mereka memetik anggur yang kualitasnya bagus dan membuang buahnya yang busuk, mengumpulkannya dalam sebuah kotak plastik.

Kami tidak tahan untuk memegang anggur yang bergelantungan. Mereka membolehkah kami mencicipi anggur segar yang baru dipetik.  Sebelum meninggalkan kebun, kami membeli 1 kg anggur seharga Rp. 10.000!

Anak-anak tentu senang dibawa jalan-jalan ke kebun anggur, meski untuk bisa memegangnya harus digendong karena cukup tinggi. Hanya saja, namanya kebun banyak serangga.

Nasi Campur Jukut Undis (Rp 97.000 bertiga)

Usai melihat lumba-lumba, snorkling, dan memetik anggur, saat makan siang pun tiba.  Kami meminta Pak Nyoman  mencari warung nasi campur khas Buleleng yang ada jukut undisnya. Setelah berputar-putar akhirnya kami mampir di sebuah warung sederhana dan memesan nasi campur dengan lauk  abon ayam, ayam suwir pedan, dan semangkuk sup jukut undis, Sup ini terbuat dari kacang hitam yang disebut gude. Sup berwarna hitam ini dimakan dengan menuangkannya ke nasi atau dimakan terpisah. Rasanya segar dan gurih. Proses pembuatan gude cukup lama kacang kering harus direndam dan direbus lama agar empuk.

Saya dan Ikun menghabiskan 2 mangkuk jukut undis!

Makanan ini tidak cocok buat anak atau orang dewasa yang tidak suka pedas karena lauk pauk nasi campur pedas semua, termasuk jukut undis.

Air Terjun Sekumpul

“Ada air terjun. Bagus sekali. Namanya Air Terjun Sekumpul karena jumlahnya 7 buah. Di musim hujan seperti sekarang warna air terjun bisa berbeda, ada yang jernih dan ada yang kecoklatan. Rugi kalau Ibu tidak ke sana.” Pak Nyoman berpromosi.

Membayangkan kesegarannya, setelah makan siang, kami meluncur ke Sekumpul. Di sepanjang jalan yang semakin ke luar kota,  kami tak ingin kehilangan momen. Maka ketika melihat perempuan menjajakan kue di pinggir jalan segera kami minta berhenti.

“Itu pedagangkue  jajanan Bali,” kata Pak Nyoman.

Di warung itu dijual kue  sangit dan klepon.  Kue sangit  yang dibungkus daun pisang, berisi lembaran tipis yang terbuat dari beras berisi parutan kelapa dan gula aren. Rasanya manis dan gurih. Kami juga mencicipi klepon berbentuk bulan sabit,  tapi rasanya tidak seenak klepon di Jakarta.

Hari   itu kami senang karena menemukan sayur khas Singaraja, buangit. Bahan dasar sayur bening ini adalah daun  buangit yang tumbuh liar di pesawahan.  Rasanya agak kepahit-pahitan dan enak disantap selagi hangat. Saya cukup suka daun ini. Menurut Pak Nyoman, buangit dipercaya bisa mendinginkan panas dalam.

Pak Nyoman semakin mengenal ‘gaya’ kami traveling yang suka singgah,  di tempat yang tak direncanakan.  Maka kami bertanya-tanya ketika seusai menyelesaikan sebuah tanjakan, Pak Nyoman balik arah. Gara-gara ia  melihat pedagang laklak, jajanan khas Bali. Ia ingin kami melihat proses pembuatan dan mencicipnya selagi hangat.

Di warung kecil itu, seorang perempuan muda sedang menuangkan adonan berwarna hijau ke loyang yang berlubang bundar di atas tungku dengan panas kayu bakar. Aroma gurih pun tercium.  Kue mirip serabi ini kemudian diberi kelapa parut dengan gula merah. Hmmm,  rasanya gurih  dan manis, dengan aroma pandan yang terasa, dan enak dimakan hangat.

Jalanan   menuju Air Terjun Sekumpul semakin mendaki. Udara semakin segar. Dan yang membuat mata terbuka dan mulut bergerak-gerak adalah karena di kanan-kiri jalan kami melihat pohon duren sedang berbuah. Buahnya ada yang kecil dan ada yang besar seperti montong.

Warung-warung kecil di tepi jalan menjajakan duren, satu dua biji. Kata Pak Nyoman duren jatuhan dari kebun.  Kami pun sering berpapasan dengan mobil yang memuat duren. Memang sedang musim duren. Tapi kami menunda keinginan makan duren karena perut  masih kenyang. Nanti saja makannya dalam perjalanan pulang.

Akhirnya  perjalanan  kami naik mobil berakhir, karena untuk ke air terjun sekumpul kami harus berjalan kaki. Ya, paling-paling cuma 500 meter. Naik ojek juga bisa. Begitu kata Pak Nyoman.

Di cuaca mendung, kami menapaki  jalan  kecil, naik turun yang rapih. Kanan dan kiri jalan diapit pepohonan, lagi-lagi pohon duren yang sedang berbuah, kopi, dan coklat. Kami berpapasan dengan sungai kecil berair jernih  tempat penduduk setempat mencuci baju. Di jalan yang kami lewati ada warung-warung kecil yang menjual minuman, pisang goreng, dan sebuah restoran milik guest house.

Dua puluh menit berjalan turun-naik, suara air terjun belum juga terdengar.  Sementara langit semakin mendung. Akhirnya kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Tak terbayang harus basah kehujanan.

Dua puluh menit turun naik lumayan membuat kami berkeringat. Kami pun mampir di sebuah warung kopi yang menyediakan kopi luwak. Dan Pak Nyoman berinisiatif mencari duren. Kami pesan duren lokal, bukan duren montong yang sudah dibudidayakan.

Dan di hari ketiga, menjelang sore, perjalanan kami  tutup dengan makan duren ukuran sedang seharga Rp. 20.000, tapi rasanya legit abis diselingi minum kopi pahit dan teh manggis.

Baca juga:

Destinasi Bali Bersama Anak

Related Links


Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Ida Ahdiah

 

Destinasi Keren di Singaraja, Bali yang Bisa Dinikmati Bersama Keluarga
Posted by: Ida Ahdiah

Me time di akhir tahun 2018, saya habiskan bersama seorang sahabat  di  Singaraja, Bali. Kami sukses menyaksikan  lumba-lumba melompat di  laut lepas,  melewati  jajaran penjor,  danau cantik, kebun bunga dan memetik anggur,  makan  laklak, sangit, dan  duren.

Waktu cerita akan ke Lovina,  melihat lumba-lumba, seorang teman yang pernah ke sana mengatakan agar saya jangan berharap terlalu banyak.  Sebab ia tak melihat seekor pun. Namanya juga binatang liar, mana bisa diatur.  Ini membuat semangat saya dan sahabat saya, Ikun  menciut.

Kami  yang sudah memesan tiket pesawat, hotel, dan menyewa mobil kembali gamang,  saat tiga hari  sebelum berangkat terjadi tsunami di Selat Sunda yang memakan ratusan korban dan menimbulkan kerusakan.  Duka kami tak terhingga buat mereka.

Sebaiknya jangan main dekat-dekat laut. Begitu kata beberapa teman. Hmmm…

Kami kembali semangat setelah membaca  prakiraan tinggi gelombang dari Badan Meteorologi, Klimatogi, dan Geofisika (BKMG)  yang tidak menyebut Lovina memiliki gelombang tinggi. Untuk memastikan saya pun menelepon hotel,  menanyakan situasi pantai  yang letaknya berada di belakang hotel. Pihak hotel menjawab aman dan aktivitas berperahu untuk melihat lumba-lumba dan snorkling bisa berlangsung!

Hari Pertama

Saya dan Ikun, sengaja mengambil pesawat pukul 5.00 pagi dari Bandar Soekarno Hatta ke Ngurah Rai, Denpasar,  mengingat perjalanan Denpasar – Singaraja  diperkirakan membutuhkan  waktu 2  – 3  jam lebih karena sedang musim liburan. Perjalanan pagi juga bisa memberi kami kesempatan mampir ke destintasi wisata di  sepanjang jalan yang kami lewati,

Tiba di Denpasar kami dijemput Pak Nyoman yang akan menemani selama liburan di Bali. Ternyata ia adalah driver jempolan karena bisa diajak  blusukan spontan  ke tempat – tempat tidak biasa di luar itinerary. Plus memberi kami informasi lengkap tentang  adat dan  budaya Bali yang membuat kami merasa perjalanan akhir tahun ini semakin lebih bermakna.

Restoran Ayam Betutut Khas Gilimanuk

Perut mulai terasa lapar. Petualangan kuliner pun dimulai, Kami  minta Pak Nyoman mengantar ke restoran  Ayam Betutu khas Gilimanuk, di Jalan Merdeka. Eh, tiba di sana pelayannya masih bersih-bersih. Warung baru buka pukul 10.00. Pak Nyoman usul untuk makan nasi campur Wardani yang juga tidak jauh dari bandara. Ternyata warungnya tutup. Karena masih dalam suasana Hari Raya  Galungan beberapa restoran masih tutup.

Setelah berputar-putar, akhirnya, kami kembali ke Ayam Betutu  yang sudah buka. Saya memesan nasi campur yang terdiri dari urab sate ayam,  ayam suwir, dan belut goreng yang renyah plus sambal. Ikun  memesan ayam betutu  kuah Gilimanuk dengan sayur daun gonde yang diberi sambal terasi. Daun gonde yang rasanya agak pahit ini berasal dari Tabanan, dan termasuk sayuran langka. Makanannya pedas semua tapi enak, yang membuat terus menyuap. Hahahah.

Sarapan kami sungguh besar. Tapi kata Pak Nyoman perjalanan tak hanya membutuhkan bahan bakar yang full tank,  tapi juga makan yang enak untuk menjaga mood. Baiklah.

Setengah jam kemudian kami mulai meninggalkan Denpasar dan menyusuri jalanan mulus yang tidak terlalu besar. Di kanan kiri jalan yang kami lewati berjajar  Penjor, tiang bambu melengkung yang dihiasi janur yang antara lain juga diberi kelapa dan umbi-umbian. Penjor  dipasang di depan rumah di Hari Raya Galungan hingga Hari  Kuningan yang saat itu akan jatuh pada tanggal 4 Januari 2019.

Pemasangan penjor merupakan ungkapan terima kasih masyarakat Hindu Bali kepada  Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan). “Bagian atas penjor yang melengkung ke bawah itu merupakan simbol bahwa kita harus menunduk, tidak sombong,”  jelas Pak Nyoman yang setiap perayaan membuat Penjor bersama istri dan kedua anaknya.

Pasar Bunga Mengwi 

Syukurlah jalanan tidak macet. Kami minta Pak Nyoman mengemudikan mobil pelan-pelan. Kami sedang tidak buru-buru,  tapi diam-diam sedang ‘berburu’,  siapa tahu menemukan hal-hal unik dan menarik di jalan yang kami lewati.

Menjelang tengah hari,  ketika mobil berhenti di lampu merah, Ikun  melihat bunga warna-warni dijajakan di Pasar Mengwi, Badung. Kami pun minta berhenti. Para pedagang yang mayoritas perempuan menjual bunga kertas warna-warni, bunga kenikir kuning menyala dan irisan pandan yang harum di dalam karung.

Bunga merupakan kelengkapan sembahyang umat Hindu.  Setiap pagi,  Pak Nyoman misalnya,  bersama keluarganya ia menyiapkan canang,  wadah yang disebut ceper,  berbentuk segi empat, berisi  aneka macam bunga, irisan tebu,  irisan daun pandan yang diperciki air wangi.  Canang diletakan di tempat sembahyang.

Pak Nyoman kemudian membeli sebuah canang dan diletakan di dasboard mobil. Sedangkan kami  membeli satu kilo pandan iris yang membuat mobil kami harum   sepanjang perjalanan.

Hari ini kami mendapat pengetahuan bahwa  bunga bukan saja indah  dilihat, tapi melengkapi ketaatan beribadah masyarakat Hindu Bali. Kami juga senang  menyaksikan para pedagang bunga perempuan berjualan dengan ceria, mendapat penghasilan.

Jika jalan bersama anak-anak, saya, sih, tak keberatan membawa mereka  singgah di pasar bunga sebentar untuk mengenalkan mereka tentang budaya setempat. Juga menyentuh beragam jenis bunga.

Baturiti Luwak Coffee 

”Pak Nyoman…Kami mulai ngantuk, nih. Bakal lewat tempat ngopi yang enak dengan rasanya  nendang tidak?

Ia pun langsung   menjawab, “Tenang…”

Beberapa saat kemudian Pak Nyoman membelokan mobil ke tempat parkir Baturiti Luwak Coffee  di Tabanan. Udara sejuk menerpa saat kami turun dan disambut hangat oleh  Sukma, remaja berkebaya yang memiliki senyum manis. Ia mengajak kami masuk dan mampir ke sebuah bangunan yang menempatkan aneka macam biji kopi dan dan kandang luwak. Ia menjelaskan tentang kopi luwak yang berasal dari kotoran luwak dan proses pengolahannya.

Di tempat itu, tampak seorang perempuan sedang menyangrai biji kopi, yang aromanya saja sudah membuat mata melek. Biji yang sudah matang kemudian ditumbuk pelan-pelan menggunakan alu.

Mata kami terbelalak ketika tiba di bangku yang berada di bibir tebing dengan pemandangan ke sawah yang berunda-undak di bawah sana. Langit biru, angin semilir,  dan aroma kopi, membuat kami tidak ‘berdaya’. Apalagi ketika Sukma datang membawa nampan dengan 10 gelas kecil berisi tester teh dan kopi. Di antaranya kopi jahe, kopi vanila,  teh manggis, dan teh rosela.

Kenikmatan semakin lengkap ketika pesanan kopi luwak dan teh manggis kami tiba ditemani satu piring ubi goreng. Rasanya pingin leyeh-leyeh lama, tapi tujuan perjalanan masih jauh. Akhirnya dengan berat hati kami meninggalkan tempat tersebut setelah membeli beberapa bungkus kopi luwak.

Tempatnya berada di kebun dan jalannya turun naik. Jadi pertimbangkan baik-baik jika membawa anak-anak. Apalagi di tempat ini juga tidak menjual makanan selain ubi goreng, kopi, dan teh.

Kebun Bunga Kenikir (Gratis)

Dalam perjalanan menuju Danau Buyan di Bedugul dengan cara yang berkelok, naik-turun, saya minta Pak Nyoman mematikan AC. Kami membuka kaca jendela, membiarkan udara segar Bedugul yang disebut sebagai Puncaknya Bali ini menerpa kulit. Dari jalan kami bisa melihat air danau yang kehijauan dan jajaran gunung.

Penduduk sekitar banyak yang berkebun bunga kenikir yang saat itu sedang berbunga, kuning menyala dan besar-besar. Kami pun meminta Pak Nyoman berhenti ketika melewati sepetak kebun kenikir. Kami ingin bermain-main sejenak di kebun bunga kenikir, yang tampak kontras dengan daunnya yang hijau dan langit biru di atasnya.  Bunga kenikir sedap dipandang, disentuh, tapi tak perlu dicium karena baunya wangur.

Tidak perlu membayar untuk bermain di kebun kenikir, cukup meminta izin pemiliknya.

“Bunga warna kuning wajib ada  di Hari Raya Kuningan, yang semua persembahan harus berwarna kuning termasuk baju dan beras juga harus kuning. Kuning adalah simbol matahari, yang sinarnya telah memberi kehidupan yang patut disyukuri,” jelas Pak Nyoman. Menurutnya menjelang Hari Raya Kuningan harga bunga kenikir bisa melonjak harganya.

Kebun kenikir aman untuk anak-anak. Yang perlu diperhatikan adalah saat melompati parit kecil yang membatasi jalan dan kebun.

Danau Buyan dan Tamblingan

 

Jalan yang kami lalui semakin menanjak. Namun tidak apa, karena di kiri jalan kami disuguhi pemandangan danau kembar, Danau Buyan dan Tamblingan dengan airnya yang kehijauan, dipagari perbukitan yang tambak kebiruan,  Indahnya. Namun danau yang kami kunjungi adalah Danau Tamblingan. Jalan menuju danau ini kecil dan gronjalan.  Akomodasinya juga masih minim. Bagi kami danau ini terlihat lebih cantik dilihat dari atas dibanding berada langsung di tepinya. Maka, kami pun tidak berlama-lama di tempat ini karena kami ingin menyimpan tenaga untuk besok hari, dolphin watching. Kami ingin segera tiba di Hotel Aneka Lovina. Hotel lama ini cukup bersih dengan halaman belakang pantai Lovina yang berpasir hitam.

Kami baru tiba di hotel ketika gelap sudah turun. Segera chek in dan pesan perahu untuk melihat lumba-lumba lanjut snorkling.

“Besok, pukul setengah  enam sudah kumpul di pantai. Mudah-mudahan tidak hujan. Kalau hujan perjalanan dibatalkan,” kata Kadek, staf hotel, yang membuat kami berdoa agar besok hujan tidak turun. Karena akan lanjut snorkling kami memesan sarapan di boks agar bisa sarapan di perahu.

Hari Kedua

Dolphin Watching dan Snorkling (Tarif Rp. 250.000 per orang)

“Kami jadi melihat dolphin  atau tidak,” tanya saya pada seorang staf hotel saat melihat langit mendung.

“Jadi, Ibu sudah ditunggu oleh Pak Gede,” jawabnya. Pak Gede adalah pemilik perahu  yang menyediakan  fasilitas  perlengkapan snorkling dan jaket pelampung.

Maka, pagi itu berbekal dua kotak berisi sarapan yang terdiri dari dua butir telur, dua tangkup roti, croissan,  mentega kami pun naik perahu milik Pak Gede. Kami kenakan pelampung.  Kami pun sudah siap dengan pakaian  untuk snorkling dan basah-bahasan. Perjalanan melihat lumba-lumba diperkirakan sekitar 2 jam dan snorkling satu jam.

“Mendung begini, lumba-lumbanya bakal muncul tidak?” Tanya saya pada Pak Gede, yang saya yakin selalu mendapat pertanyaan itu dari penumpangnya.

Pak Gede angkat bahu dan menjawab diplomatis, “Mudah-mudahan hari ini Ibu beruntung…”

Duh, lantas ngapain naik perahu,  diayun-ayun ombak karena anginnya cukup besar kalau tidak bisa melihat lumba-lum  ba. Saya menggerutu. Tapi di hati saja.

Tapi Ikun menghibur, “Ya, kalau tidak lihat lumba-lumba kita bisa snorkling melihat ikan-ikan. Tempat snorklingnya bagus, kan, Pak.”

Pak Gede menjawab, lagi-lagi diplomatis, “Lihat saja nanti…”

Setengah jam berperahu kami bertemu dengan puluhan perahu warna-warna yang ditumpangi laki-laki perempuan, tua-muda, termasuk anak-anak, wisatawan lokal dan asing. Semuanya ingin melihat lumba-lumba.

“Lihat ke sebelah kanan,” teriak pak Gede.

Dan, di antara perahu kami melihat tiga ekor lumba-lumba melompat lompat cepat berulang. Sebagian penonton bersorak-sorak menyambut. Beberapa kali ikan berukuran besar itu melompat, di tempat yang tak diduga, seolah mengajak kami bermain.  Lumba-lumba kembali sembunyi cukup lama, lalu muncul sekejap. Begitu berulang-ulang hingga akirnya ia tidak muncul lagi.

Saya tidak berhasil mengabadikannya. Remakan video hanya memperlihatkan gerakan ekornya.  Tak apa,  kami merasa tidak sia-sia bangun pagi dan diayun-ayun ombak dan bisa menyaksikan lumba-lumba.

Saya melihat beberapa orangtua membawa anak melihat lumba-lumba. Mereka memakai jaket untuk mengusir angin laut dan juga mengenakan pelampung.

Snorkling

 

Byurrr…Saat saya menempelam wajah ke permukaan air, segera saya acungkan kedua jempol. Di bawah sana  segerombolan ikan warna-warni  muncul dari sela-sela karang, melewati  bintang laut, dan  menghampiri tangan saya  yang memegang roti tawar sisa sarapan. Ikan-ikan itu merubungi saya! Saya biarkan mereka makan dengan lahap dan kembali menjauh ketika roti habis.

Di atas laut yang tenang,  menyaksikan makhluk laut warna-warna, rasanya  senang sekali. Jika saja tidak kedinginnan, rasanya ingin saya berlama-lama.

Saya tidak melihat anak-anak snorkling. Tapi beberapa di antaranya tampak duduk di perahu menunggu dan melihat orang dewasa snorkling. 

 

Main di Kebun Anggur (Gratis)

Sejak tiba di Lovina, saya melihat banyak kebun anggur di samping atau belakang rumah. Yang membuat mata tergoda karena pohonnya yang merambat sedang berbuah. Buahnya  bergelantungan menggemaskan.  Di tepi jalan juga banyak dijual anggur. Karena penasaran kami turun dan mencicipi beberapa biji. Rasanya lumayan manis. Harganya Rp. 13.000 per kg.

Tapi kami ingin sekali memetik anggur sendiri. Dari informasi yang kami peroleh, di Singaraja memang ada wisata kebun anggur, tapi jaraknya lumayan jauh dari tempat kami tinggal. Sementara kami melihat banyak kebun anggur, meski tidak dijadikan tempat wisata.

Akhirnya, Pak Nyoman berjanji akan membawa kami ke kebun anggur dan bisa memetik, meski ia tidak yakin, di mana kebun anggur yang membolehkan pendatang memetik anggur.

Setelah bertanya beberapa kali, Pak Nyoman membelokkan mobil, keluar dari jalan raya, Benar saja, kebun anggur semakin banyak.  Kami akhirnya menemukan para pemetik anggur di sebuah kebun. Mereka mengizinkan kami untuk  turut memetik, meski tidak mudah.  Ternyata ada teknik khusus memetik dan memilih anggur yang bagus. Dengan menggunakan gunting mereka memetik anggur yang kualitasnya bagus dan membuang buahnya yang busuk, mengumpulkannya dalam sebuah kotak plastik.

Kami tidak tahan untuk memegang anggur yang bergelantungan. Mereka membolehkah kami mencicipi anggur segar yang baru dipetik.  Sebelum meninggalkan kebun, kami membeli 1 kg anggur seharga Rp. 10.000!

Anak-anak tentu senang dibawa jalan-jalan ke kebun anggur, meski untuk bisa memegangnya harus digendong karena cukup tinggi. Hanya saja, namanya kebun banyak serangga.

Nasi Campur Jukut Undis (Rp 97.000 bertiga)

Usai melihat lumba-lumba, snorkling, dan memetik anggur, saat makan siang pun tiba.  Kami meminta Pak Nyoman  mencari warung nasi campur khas Buleleng yang ada jukut undisnya. Setelah berputar-putar akhirnya kami mampir di sebuah warung sederhana dan memesan nasi campur dengan lauk  abon ayam, ayam suwir pedan, dan semangkuk sup jukut undis, Sup ini terbuat dari kacang hitam yang disebut gude. Sup berwarna hitam ini dimakan dengan menuangkannya ke nasi atau dimakan terpisah. Rasanya segar dan gurih. Proses pembuatan gude cukup lama kacang kering harus direndam dan direbus lama agar empuk.

Saya dan Ikun menghabiskan 2 mangkuk jukut undis!

Makanan ini tidak cocok buat anak atau orang dewasa yang tidak suka pedas karena lauk pauk nasi campur pedas semua, termasuk jukut undis.

Air Terjun Sekumpul

“Ada air terjun. Bagus sekali. Namanya Air Terjun Sekumpul karena jumlahnya 7 buah. Di musim hujan seperti sekarang warna air terjun bisa berbeda, ada yang jernih dan ada yang kecoklatan. Rugi kalau Ibu tidak ke sana.” Pak Nyoman berpromosi.

Membayangkan kesegarannya, setelah makan siang, kami meluncur ke Sekumpul. Di sepanjang jalan yang semakin ke luar kota,  kami tak ingin kehilangan momen. Maka ketika melihat perempuan menjajakan kue di pinggir jalan segera kami minta berhenti.

“Itu pedagangkue  jajanan Bali,” kata Pak Nyoman.

Di warung itu dijual kue  sangit dan klepon.  Kue sangit  yang dibungkus daun pisang, berisi lembaran tipis yang terbuat dari beras berisi parutan kelapa dan gula aren. Rasanya manis dan gurih. Kami juga mencicipi klepon berbentuk bulan sabit,  tapi rasanya tidak seenak klepon di Jakarta.

Hari   itu kami senang karena menemukan sayur khas Singaraja, buangit. Bahan dasar sayur bening ini adalah daun  buangit yang tumbuh liar di pesawahan.  Rasanya agak kepahit-pahitan dan enak disantap selagi hangat. Saya cukup suka daun ini. Menurut Pak Nyoman, buangit dipercaya bisa mendinginkan panas dalam.

Pak Nyoman semakin mengenal ‘gaya’ kami traveling yang suka singgah,  di tempat yang tak direncanakan.  Maka kami bertanya-tanya ketika seusai menyelesaikan sebuah tanjakan, Pak Nyoman balik arah. Gara-gara ia  melihat pedagang laklak, jajanan khas Bali. Ia ingin kami melihat proses pembuatan dan mencicipnya selagi hangat.

Di warung kecil itu, seorang perempuan muda sedang menuangkan adonan berwarna hijau ke loyang yang berlubang bundar di atas tungku dengan panas kayu bakar. Aroma gurih pun tercium.  Kue mirip serabi ini kemudian diberi kelapa parut dengan gula merah. Hmmm,  rasanya gurih  dan manis, dengan aroma pandan yang terasa, dan enak dimakan hangat.

Jalanan   menuju Air Terjun Sekumpul semakin mendaki. Udara semakin segar. Dan yang membuat mata terbuka dan mulut bergerak-gerak adalah karena di kanan-kiri jalan kami melihat pohon duren sedang berbuah. Buahnya ada yang kecil dan ada yang besar seperti montong.

Warung-warung kecil di tepi jalan menjajakan duren, satu dua biji. Kata Pak Nyoman duren jatuhan dari kebun.  Kami pun sering berpapasan dengan mobil yang memuat duren. Memang sedang musim duren. Tapi kami menunda keinginan makan duren karena perut  masih kenyang. Nanti saja makannya dalam perjalanan pulang.

Akhirnya  perjalanan  kami naik mobil berakhir, karena untuk ke air terjun sekumpul kami harus berjalan kaki. Ya, paling-paling cuma 500 meter. Naik ojek juga bisa. Begitu kata Pak Nyoman.

Di cuaca mendung, kami menapaki  jalan  kecil, naik turun yang rapih. Kanan dan kiri jalan diapit pepohonan, lagi-lagi pohon duren yang sedang berbuah, kopi, dan coklat. Kami berpapasan dengan sungai kecil berair jernih  tempat penduduk setempat mencuci baju. Di jalan yang kami lewati ada warung-warung kecil yang menjual minuman, pisang goreng, dan sebuah restoran milik guest house.

Dua puluh menit berjalan turun-naik, suara air terjun belum juga terdengar.  Sementara langit semakin mendung. Akhirnya kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Tak terbayang harus basah kehujanan.

Dua puluh menit turun naik lumayan membuat kami berkeringat. Kami pun mampir di sebuah warung kopi yang menyediakan kopi luwak. Dan Pak Nyoman berinisiatif mencari duren. Kami pesan duren lokal, bukan duren montong yang sudah dibudidayakan.

Dan di hari ketiga, menjelang sore, perjalanan kami  tutup dengan makan duren ukuran sedang seharga Rp. 20.000, tapi rasanya legit abis diselingi minum kopi pahit dan teh manggis.

Baca juga:

Destinasi Bali Bersama Anak

Related Links


Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Ida Ahdiah