Dari hostel gaya backpacker, sampai hotel rasa bintang lima, akomodasi mini girls trip di Jepang
Posted by: Fina Thorpe Willett

Mini girls trip to Japan adalah pengalaman saya mengajak 3 gadis kecil kami ke Jepang mengisi waktu liburan yang cukup singkat. Dalam waktu seminggu, kami berempat sukses menapak Tokyo, Hakone, Osaka dan Kyoto. Tapi yang buat saya lebih keren adalah pengalaman mereka berpindah akomodasi mulai dari apartemen AirBnB, budget backpacker room, dormitory style room hingga hotel bintang 5. Juga pengalaman terbang internasional, domestik, naik kereta dalam kota, antar kota, bis hingga merasakan mahalnya naik taksi di Jepang!

All girls trip selalu menyenangkan karena kami semua bisa dipastikan bareng-bareng ke mana saja. Mulai dari kamar hingga toilet, shopping section hingga pilihan kafe lucu. Tiga gadis kecil ini juga sukses membangun bonding dan ibunya senang karena seluruh keputusan mutlak di tangannya. Jujur saja, kalau travelling dengan suami/si bapak, ada momen-momen tidak sepakat dan harus ekstra tenggang rasa.. hahaha..

Tapi sesungguhnya, di perjalanan ini memang perlu mengasah tenggang rasa sedikit mengingat 3 malam pertama kami berbagi akomodasi dengan keluarga lain yaitu Rochelle (seorang ibu Filipina dengan 3 anak blasteran Prancisnya). Ketiga anak ini bersekolah bareng anak-anak saya, bahkan si kembar Ivano dan Ella pernah sekelas dengan si bungsu kami. Selain dua anak itu, ada juga Matteo yang hampir sepantaran Erina. Seru kan? Kita menamakan 3 hari pertama ini adalah playdate goes  International. hahahaha..

Untuk itu saya memberi kehormatan pada Rochelle untuk memilihkan akomodasi berdasarkan suburb yang kami sepakati. Berdasarkan pertimbangan akses transportasi dan keriaan anak, pilihan kami jatuh pada area Ueno atau Shinjuku. Rochelle memberi saya beberapa pilihan yang ‘kayaknya’ oke untuk rombongan kami. Berhubung ini playdate heboh pertama kami, maka saya kurang bawel dengan pemilihan akomodasi, alias kurang teliti.

Efeknya? Cukup besar. Keep on reading..

Akomodasi Pertama : AirBnB Style

Kami naik ekspres train dari bandara Narita ke stasiun Shinjuku yang luar biasa besar dan sibuk. Berbekal informasi dari airBnB, pemilik menuliskan bahwa apartemen dia bisa dijangkau dengan jalan kaki. Di peta juga ‘kayaknya’ dekat. Nyatanya? Cukup membuat anak-anak komplen karena jaraknya lebih jauh dari perkiraan. Hampir 2km! Untung saja saya membawa hanya 1 koper ukuran kabin untuk rombongan kami, sementara Rochelle membawa 2 koper beroda. Walhasil, Matteo, sebagai si sulung, didapuk menggeret koper sepanjang itu. Beberapa kali kami bergantian menggeret koper extra. Sementara Jasmine sudah mendapat tugas untuk membantu kami mengawasi para adik agar aman di perjalanan.

Masalah berikutnya, setelah kami tiba, adalah tatapan curiga dari penghuni lain. Unit yang kami sewa terletak di lantai 2. Selama saya dan Rochelle mencoba untuk mengurai detil informasi cara mengambil kunci dari safety box terkunci DI DALAM post box yang bergembok, anak-anak … being themselves. Saya pikir tatapan tersebut karena mereka berisik. Tapi kemudian Rochelle bilang diantara chatting dia dengan owner, ada pesan: ‘Kalau misalnya ada yang bertanya , bilang kalau kalian adalah kerabat saya yang sedang berkunjung ya!’

Haduh! Tandanya kami mendapat jenis airBnB ‘gelap’! Tahu kan, ada beberapa apartment yang telah menerapkan pelarangan penyewaan unit ke pihak ketiga versi airBnB, karena konon mengganggu penghuni permanen mereka dan mengancam keamanan karena terlalu banyak orang asing yang mendapat akses masuk. Apartemen yang ‘resmi’ tidak perlu kucing-kucingan begini.

Tapi apa daya karena sudah bayar, sudah capek, sudah nggak bisa mikir, kami hanya meminta anak-anak untuk kerjasama dengan stay quiet. Alasannya, para nenek-nenek dan om yang lewat tadi, tidak suka anak berisik. Jangan sampai kita diusir, nanti mau tidur di mana? Sebelum kami mendapatkan aneka pertanyaan lebih lanjut, segera kami naik lift yang ukurannya pas untuk 8 orang, mencari unit kami yang ternyata di pojok dan rehat.

Suasana jalanan depan apartment

Salah satu alasan kami sepakat memilih apartemen ini adalah hanya dia yang menawarkan ruangan tatami khas Jepang dengan harga terjangkau dan lokasi strategis (yang terakhir ini … relatif jadinya!). Ruang tatami tersebut bisa disulap menjadi kamar tidur dengan menggelar set kasur tipis. Tarra.. jadi kamar tidur lesehan. Selain ruangan tatami, juga ada kamar utama dengan 3 tempat tidur single yang empuk banget, dapur simple, kamar mandi dan toilet terpisah (penting!) dan satu hal lagi: tidak ada TV tapi tersedia free pocket wifi! Siapa yang perlu TV kalau banyak teman bermain dan sebagian besar waktu berisi menjelajah kota? Plus kami berhemat dari kebutuhan menyewa pocket wifi yang cukup mahal itu.

Ruang Tatami Multifungsi

akhirnya ngebis aja ke shinjuku st untuk ke Park Hyatt dan Tokyo Metropolitan Building.

(saat tulisan ini diketik, apartemen airBnB tersebut sudah tidak lagi terdaftar.. mungkin akhirnya si pemilik diomelin para tetangga… hehehe).

Biaya: 90.000 Yen alias 45ribu Yen per keluarga untuk 3 malam.

Tokyo dari atas Park Hyatt

Akomodasi Kedua : Budget Backpacker Room 

Kali ini kami sudah berpisah dengan Rochelle dan ketiga anaknya dan terdapat perubahan rencana karena kedodolan saya membuat itinerary. Akhirnya in the last minute, for real, kami pindah ke penginapan ala kadarnya karena hanya untuk 1 malam saja, via booking dot kom. Penginapan ini terletak di ‘gang’ yang sangat bersih, 200 meter saja dari JR Okubo Station. Ini adalah backpacker hotel yang tidak punya kamar mandi di dalam kamar. Bertingkat 5, punya rooftop untuk nongkrong, mesin cuci koin, dapur umum dan tempat tidurnya single semua/bunkbed.

pilih mau toilet/kamar mandi mana

Jalan 3 menit aja ke JR Okubo station

Saat check in, kami dilayani langsung oleh pemiliknya yang half-korean! Saya tegur pake bahasa Korea dan anak-anak juga fasih ber-annyeong haseyo ke dia. Akhirnya kami, yang booking pake genius (fasilitas diskon dari booking.com untuk member langganan) dan hanya nginep satu malam, malah diupgrade dapet family room di lantai dasar (bukan di lantai 3 yang nggak ada lift!), free early check in dan free pocket wifi! Keceh!

Ruangan ini berisi 2 bunkbed (total 4 kasur), meja kecil, hairdryer, ketel air panas dan handuk kecil 4 buah. Bersih, cukup nyaman dan sinyal wifi kencang. haha.. kamar mandi dan toilet juga dekat. Anak-anak saya baru kali ini nginep di jenis akomodasi ‘asrama’ begini. Kirain mreka akan ngeluh ya.. ternyata doyan! hahaha.. untunglah.

Si kecil ‘inspeksi’ beberapa pilihan kamar mandi dan mencoba 2 toilet yang berbeda. Si tengah juga enjoy membantu saya mencuci pakaian sambil memandang Tokyo dari rooftop.

Di sepanjang jalan ada beberapa penginapan, restoran, convenient store 24 jam dan tentunya, stasiun kereta. Overall, okelah untuk last minute choice. Biaya permalam ber-4 : 10.000 yen.

Kalau mau tau akomodasi ini, bisa cek di sini .

Akomodasi ketiga : Hotel Bintang Empat rasa bintang Lima

Osaka from our hotel window

Setelah 2 akomodasi yang seru di Tokyo, kami (akhirnya) menginap di akomodasi mainstream : hotel. Kali ini kami sudah pindah kota ke Osaka. Karena salah satu agenda utama ke Osaka adalah main-main di Universal Studio, saya sengaja milih hotel yang rekanan dengan Universal Studio Japan (USJ) demi beli tiket di tempat! Soalnya dengan 3 bocah begini yang harus saya ‘supervisi’ sendiri, berangkat pagi untuk ngantri tiket di USJ itu hampir setara dengan mission impossible. Mana tiket USJ nggak bisa beli online! However, yang bisa dibeli di hotel rekanan hanya tiket masuk, bukan express pass. Tapi no worries, express pass-nya juga bukan berarti unlimited ride sih.. hanya boleh pilih beberapa ride populer, dan itupun hanya boleh 1 kali. Jadi kali ini, saya nggak mau bayar harga tiket ekstra anyway. (info tiket USJ di sini )

Setelah browsing pilihan hotel via link yang disediakan USJ website (this one) kesimpulan pertama: MAHAL. Eh ya iyalah, ini Jepang! hahaha.. Dari semua pilihan, ada satu hotel yang harganya cukup wajar tapi bookingnya harus ke websitenya. Yang lebih menarik, konfirmasi booking saya terima tanpa saya perlu kasih nomor kartu kredit/membayar! Lokasinya memang tidak di kawasan resort USJ tapi jalan kaki dari Osaka Train Station.

Akhirnya, ngerasain kamar hotel juga. haha

Kami booking hotel ini sebelum berangkat ke Jepang, tapi…. beberapa hari sebelum berangkat ada kenalan baik yang sudah beberapa kali ke Osaka, menyatakan bahwa area favorit dia di Osaka namanya Namba. Aduh, saya jadi labil kan! Soalnya Namba dan Osaka Station keduanya mendapat review oke untuk lokasi strategis. Tapi kalo temen sendiri yang ‘promosi’ saya susah menolaknya!

Jadilah di malam sebelum kami berangkat ke Osaka, saya browsing lagi dan beruntung dapet harga diskon dari booking dot kom (-39%!), untuk hotel yang udah saya taksir berulang-ulang saat cek hotel via USJ tapi urung karena full book dan mahal (normal rate mulai dari 24ribu yen per malam). Mengingat dapet diskon besar, lokasi di Namba, bisa beli tiket USJ, berbintang pula, hotel awal nggak pegang data kartu kredit anyway, maka saat itu juga saya memutuskan ganti hotel. hahahaha.

Untuk anak-anak, nginep di hotel berbintang ini seperti oase di padang gurun. decent room, decent view, decent lobby, decent location, decent service dan untuk si bungsu it means: ada bath tub!

 

Di resepsionis, ketiga bocah ini langsung menerima children kit masing-masing berisi room slipper, penutup mata, handuk kecil dan mainan. Such a nice welcome! Hotel ini lucunya terasa Eropa banget di area lobby, ada Europe style chapel (like a real chapel!) dan interior batu, taman bunga plus patung-patung. Agak serem sih kalo malem2 ya.. haha..

Anyway, setelah 4 malam berada di Osaka, saya yakin keputusan saya pindah kawasan/pindah hotel, adalah keputusan yang tepat. Hotel ini, Monterey Grasmere, mewahnya beneran (ada kan hotel kece di reception doang, pas masuk kamar ternyata bangunan lama dan biasa banget) dan connected ke Osaka Namba Station. Ada supermarket di basement gedung, ada underground shopping yang panjaaaaang luar biasa, so helpful pas sempat hujan di luaran. Plus, di sebrang hotel adalah terminal bis. Very handy untuk ke bandara. If you have the budget, recommended.

 

Akomodasi ke empat : backpacker style, private room

Berbeda dengan hotel backpacker di Tokyo, di Osaka kami  menemukan Khaosan backpacker hotel yang masih di Namba dan dekat banget dengan hotel berbintang sebelumnya (beneran di Osaka, bukan di Bangkok, meski namanya Khaosan.. hahaha).

Tempat ini hanya jalan kaki satu blok dari Grasmere. Meskipun terdiri dari banyak lantai, tapi nggak perlu sedih, ada lift ke lantai atas, dan kami beruntung dapat kamar girls dorm just for us, padahal bed-nya ada 6! Tahu kan kalo dorm hotel, bayarnya per orang atau family room skalian. Selain itu, di dalam kamar juga tersedia kamar mandi. Super deh!

kamar yang kami dapet (foto dari website)

Selain harganya ramah di kantong, fasilitas publik mereka juga oke. First, tiap lantai dibagi berdasarkan jenis kelamin. Jadi ada lantai ‘men rooms’ dan ‘women rooms’. Ada beberapa toilet di setiap lantainya. Laundry dan dapur ada di basement. Dapur umumnya punya 4 cooking station lengkap dengan sink, dan free hot drinks (kopi, teh, gula, etc). Ruang makan besar dan ada ruang rekreasi/nonton TV. Pengelolanya fasih berbahasa Inggris (ada yang ganteng! #eh) dan ada berbagai event macam free culture class (kaligrafi, sushi making, etc) atau mingle evening untuk sesama penghuni saling kenal.

Buat anak-anak, penginapan ini mungkin yang paling berkesan. They really enjoy their individual spacious wooden bunkbed yang dilengkapi meja dan lampu baca individual, matras yang lumayan nyaman dan mengobservasi aneka jenis traveller backpacker. Saat sarapan, memang hanya saya yang ‘ngangon’ bocah. Jadinya nggak diajak ngobrol hahaha.. soalnya mereka sibuk baca peta, itinerary, exchange info.. yah aktivitas khas backpackers lah ! Satu-satunya yang ngajak saya ngobrol adalah ibu-ibu yang saya tawari gorengan hasil beli di supermarket semalam, pelengkap sarapan.

Oh iya, di dapur ini, masing-masing bawa bekel. Ada yang masak. Tapi ada juga yang memanfaatkan meja ‘hibah’, hasil warisan penghuni yang sudah check out. Di hari terakhir, kami ikut meninggalkan makanan2 juga.. ikut berpartisipasi ceritanya. 😀

Downside tempat ini adalah tidak menyediakan handuk (tersedia rental saja, 100 yen/handuk), dinding tipis dan dominan pelancong muda/single. Jadinya mereka ngobrol kadang nggak tau waktu…

checked out. Koper biru kecil itu cukup untuk ber-4 lho.

Informasi Khaosan World Hotel cabang Namba ada di sini ya.

Trip Jepang ini jelas berkesan. Banyak pengalaman yang diperoleh anak-anak dengan hopping hotel begini. Mereka jadi lebih mandiri dengan barang masing-masing, menyadari trik hemat pakaian dan serunya bawa barang sedikit. hahaha.. Percaya nggak, untuk 4 badan ini, kami hingga akhir bertahan hanya dengan 1 cabin bag size kecil dan ‘beranak’ 1 shopping bag saja. Well, plus 1 tas punggung ala-ala davienne dan 1 backpack kecil bawaan si ibu. The girls learned that experience matter most, and when the shopping urge arise, we can carefully choose small in size but big in use.

Untuk akomodasi, memang kami dominan pakai booking dot com dibanding site lain. Kalau teman belum pernah coba, monggo dicoba pake link ini .

Selamat menjelajah bersama si kecil!

 

Related Links


Share This | | |

4 responses to “Dari hostel gaya backpacker, sampai hotel rasa bintang lima, akomodasi mini girls trip di Jepang”

  1. effri says:

    super duper cool and agree .. traveling bersama anak dan keluarga gak repot kog dan tidak perlu mahal..

  2. Ita says:

    Seru fin pengalamannya jadi ikutan ngebayangin di situ jugaa..pengalaman yang bener berharga dan ga akan dilupain anak-anak ya.

  3. Marlia Ulfah says:

    Mbak itu hotel di khaosan namba ada private bath room nya ? Nggak gabung dengan tamu lain ? Type kamarnya apa ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Fina Thorpe Willett
Proud mum of JED with almost 12 years as trailing spouse who can't sit still. hahaha.. Co-author Wander Woman and Meniti Cahaya (both by Gramedia) - monggo dibeli! Also freelancer as content producer for sites, magazines and social media, love to share about Indonesia to the international community - particularly through my homemade meals :)

 

Dari hostel gaya backpacker, sampai hotel rasa bintang lima, akomodasi mini girls trip di Jepang
Posted by: Fina Thorpe Willett

Mini girls trip to Japan adalah pengalaman saya mengajak 3 gadis kecil kami ke Jepang mengisi waktu liburan yang cukup singkat. Dalam waktu seminggu, kami berempat sukses menapak Tokyo, Hakone, Osaka dan Kyoto. Tapi yang buat saya lebih keren adalah pengalaman mereka berpindah akomodasi mulai dari apartemen AirBnB, budget backpacker room, dormitory style room hingga hotel bintang 5. Juga pengalaman terbang internasional, domestik, naik kereta dalam kota, antar kota, bis hingga merasakan mahalnya naik taksi di Jepang!

All girls trip selalu menyenangkan karena kami semua bisa dipastikan bareng-bareng ke mana saja. Mulai dari kamar hingga toilet, shopping section hingga pilihan kafe lucu. Tiga gadis kecil ini juga sukses membangun bonding dan ibunya senang karena seluruh keputusan mutlak di tangannya. Jujur saja, kalau travelling dengan suami/si bapak, ada momen-momen tidak sepakat dan harus ekstra tenggang rasa.. hahaha..

Tapi sesungguhnya, di perjalanan ini memang perlu mengasah tenggang rasa sedikit mengingat 3 malam pertama kami berbagi akomodasi dengan keluarga lain yaitu Rochelle (seorang ibu Filipina dengan 3 anak blasteran Prancisnya). Ketiga anak ini bersekolah bareng anak-anak saya, bahkan si kembar Ivano dan Ella pernah sekelas dengan si bungsu kami. Selain dua anak itu, ada juga Matteo yang hampir sepantaran Erina. Seru kan? Kita menamakan 3 hari pertama ini adalah playdate goes  International. hahahaha..

Untuk itu saya memberi kehormatan pada Rochelle untuk memilihkan akomodasi berdasarkan suburb yang kami sepakati. Berdasarkan pertimbangan akses transportasi dan keriaan anak, pilihan kami jatuh pada area Ueno atau Shinjuku. Rochelle memberi saya beberapa pilihan yang ‘kayaknya’ oke untuk rombongan kami. Berhubung ini playdate heboh pertama kami, maka saya kurang bawel dengan pemilihan akomodasi, alias kurang teliti.

Efeknya? Cukup besar. Keep on reading..

Akomodasi Pertama : AirBnB Style

Kami naik ekspres train dari bandara Narita ke stasiun Shinjuku yang luar biasa besar dan sibuk. Berbekal informasi dari airBnB, pemilik menuliskan bahwa apartemen dia bisa dijangkau dengan jalan kaki. Di peta juga ‘kayaknya’ dekat. Nyatanya? Cukup membuat anak-anak komplen karena jaraknya lebih jauh dari perkiraan. Hampir 2km! Untung saja saya membawa hanya 1 koper ukuran kabin untuk rombongan kami, sementara Rochelle membawa 2 koper beroda. Walhasil, Matteo, sebagai si sulung, didapuk menggeret koper sepanjang itu. Beberapa kali kami bergantian menggeret koper extra. Sementara Jasmine sudah mendapat tugas untuk membantu kami mengawasi para adik agar aman di perjalanan.

Masalah berikutnya, setelah kami tiba, adalah tatapan curiga dari penghuni lain. Unit yang kami sewa terletak di lantai 2. Selama saya dan Rochelle mencoba untuk mengurai detil informasi cara mengambil kunci dari safety box terkunci DI DALAM post box yang bergembok, anak-anak … being themselves. Saya pikir tatapan tersebut karena mereka berisik. Tapi kemudian Rochelle bilang diantara chatting dia dengan owner, ada pesan: ‘Kalau misalnya ada yang bertanya , bilang kalau kalian adalah kerabat saya yang sedang berkunjung ya!’

Haduh! Tandanya kami mendapat jenis airBnB ‘gelap’! Tahu kan, ada beberapa apartment yang telah menerapkan pelarangan penyewaan unit ke pihak ketiga versi airBnB, karena konon mengganggu penghuni permanen mereka dan mengancam keamanan karena terlalu banyak orang asing yang mendapat akses masuk. Apartemen yang ‘resmi’ tidak perlu kucing-kucingan begini.

Tapi apa daya karena sudah bayar, sudah capek, sudah nggak bisa mikir, kami hanya meminta anak-anak untuk kerjasama dengan stay quiet. Alasannya, para nenek-nenek dan om yang lewat tadi, tidak suka anak berisik. Jangan sampai kita diusir, nanti mau tidur di mana? Sebelum kami mendapatkan aneka pertanyaan lebih lanjut, segera kami naik lift yang ukurannya pas untuk 8 orang, mencari unit kami yang ternyata di pojok dan rehat.

Suasana jalanan depan apartment

Salah satu alasan kami sepakat memilih apartemen ini adalah hanya dia yang menawarkan ruangan tatami khas Jepang dengan harga terjangkau dan lokasi strategis (yang terakhir ini … relatif jadinya!). Ruang tatami tersebut bisa disulap menjadi kamar tidur dengan menggelar set kasur tipis. Tarra.. jadi kamar tidur lesehan. Selain ruangan tatami, juga ada kamar utama dengan 3 tempat tidur single yang empuk banget, dapur simple, kamar mandi dan toilet terpisah (penting!) dan satu hal lagi: tidak ada TV tapi tersedia free pocket wifi! Siapa yang perlu TV kalau banyak teman bermain dan sebagian besar waktu berisi menjelajah kota? Plus kami berhemat dari kebutuhan menyewa pocket wifi yang cukup mahal itu.

Ruang Tatami Multifungsi

akhirnya ngebis aja ke shinjuku st untuk ke Park Hyatt dan Tokyo Metropolitan Building.

(saat tulisan ini diketik, apartemen airBnB tersebut sudah tidak lagi terdaftar.. mungkin akhirnya si pemilik diomelin para tetangga… hehehe).

Biaya: 90.000 Yen alias 45ribu Yen per keluarga untuk 3 malam.

Tokyo dari atas Park Hyatt

Akomodasi Kedua : Budget Backpacker Room 

Kali ini kami sudah berpisah dengan Rochelle dan ketiga anaknya dan terdapat perubahan rencana karena kedodolan saya membuat itinerary. Akhirnya in the last minute, for real, kami pindah ke penginapan ala kadarnya karena hanya untuk 1 malam saja, via booking dot kom. Penginapan ini terletak di ‘gang’ yang sangat bersih, 200 meter saja dari JR Okubo Station. Ini adalah backpacker hotel yang tidak punya kamar mandi di dalam kamar. Bertingkat 5, punya rooftop untuk nongkrong, mesin cuci koin, dapur umum dan tempat tidurnya single semua/bunkbed.

pilih mau toilet/kamar mandi mana

Jalan 3 menit aja ke JR Okubo station

Saat check in, kami dilayani langsung oleh pemiliknya yang half-korean! Saya tegur pake bahasa Korea dan anak-anak juga fasih ber-annyeong haseyo ke dia. Akhirnya kami, yang booking pake genius (fasilitas diskon dari booking.com untuk member langganan) dan hanya nginep satu malam, malah diupgrade dapet family room di lantai dasar (bukan di lantai 3 yang nggak ada lift!), free early check in dan free pocket wifi! Keceh!

Ruangan ini berisi 2 bunkbed (total 4 kasur), meja kecil, hairdryer, ketel air panas dan handuk kecil 4 buah. Bersih, cukup nyaman dan sinyal wifi kencang. haha.. kamar mandi dan toilet juga dekat. Anak-anak saya baru kali ini nginep di jenis akomodasi ‘asrama’ begini. Kirain mreka akan ngeluh ya.. ternyata doyan! hahaha.. untunglah.

Si kecil ‘inspeksi’ beberapa pilihan kamar mandi dan mencoba 2 toilet yang berbeda. Si tengah juga enjoy membantu saya mencuci pakaian sambil memandang Tokyo dari rooftop.

Di sepanjang jalan ada beberapa penginapan, restoran, convenient store 24 jam dan tentunya, stasiun kereta. Overall, okelah untuk last minute choice. Biaya permalam ber-4 : 10.000 yen.

Kalau mau tau akomodasi ini, bisa cek di sini .

Akomodasi ketiga : Hotel Bintang Empat rasa bintang Lima

Osaka from our hotel window

Setelah 2 akomodasi yang seru di Tokyo, kami (akhirnya) menginap di akomodasi mainstream : hotel. Kali ini kami sudah pindah kota ke Osaka. Karena salah satu agenda utama ke Osaka adalah main-main di Universal Studio, saya sengaja milih hotel yang rekanan dengan Universal Studio Japan (USJ) demi beli tiket di tempat! Soalnya dengan 3 bocah begini yang harus saya ‘supervisi’ sendiri, berangkat pagi untuk ngantri tiket di USJ itu hampir setara dengan mission impossible. Mana tiket USJ nggak bisa beli online! However, yang bisa dibeli di hotel rekanan hanya tiket masuk, bukan express pass. Tapi no worries, express pass-nya juga bukan berarti unlimited ride sih.. hanya boleh pilih beberapa ride populer, dan itupun hanya boleh 1 kali. Jadi kali ini, saya nggak mau bayar harga tiket ekstra anyway. (info tiket USJ di sini )

Setelah browsing pilihan hotel via link yang disediakan USJ website (this one) kesimpulan pertama: MAHAL. Eh ya iyalah, ini Jepang! hahaha.. Dari semua pilihan, ada satu hotel yang harganya cukup wajar tapi bookingnya harus ke websitenya. Yang lebih menarik, konfirmasi booking saya terima tanpa saya perlu kasih nomor kartu kredit/membayar! Lokasinya memang tidak di kawasan resort USJ tapi jalan kaki dari Osaka Train Station.

Akhirnya, ngerasain kamar hotel juga. haha

Kami booking hotel ini sebelum berangkat ke Jepang, tapi…. beberapa hari sebelum berangkat ada kenalan baik yang sudah beberapa kali ke Osaka, menyatakan bahwa area favorit dia di Osaka namanya Namba. Aduh, saya jadi labil kan! Soalnya Namba dan Osaka Station keduanya mendapat review oke untuk lokasi strategis. Tapi kalo temen sendiri yang ‘promosi’ saya susah menolaknya!

Jadilah di malam sebelum kami berangkat ke Osaka, saya browsing lagi dan beruntung dapet harga diskon dari booking dot kom (-39%!), untuk hotel yang udah saya taksir berulang-ulang saat cek hotel via USJ tapi urung karena full book dan mahal (normal rate mulai dari 24ribu yen per malam). Mengingat dapet diskon besar, lokasi di Namba, bisa beli tiket USJ, berbintang pula, hotel awal nggak pegang data kartu kredit anyway, maka saat itu juga saya memutuskan ganti hotel. hahahaha.

Untuk anak-anak, nginep di hotel berbintang ini seperti oase di padang gurun. decent room, decent view, decent lobby, decent location, decent service dan untuk si bungsu it means: ada bath tub!

 

Di resepsionis, ketiga bocah ini langsung menerima children kit masing-masing berisi room slipper, penutup mata, handuk kecil dan mainan. Such a nice welcome! Hotel ini lucunya terasa Eropa banget di area lobby, ada Europe style chapel (like a real chapel!) dan interior batu, taman bunga plus patung-patung. Agak serem sih kalo malem2 ya.. haha..

Anyway, setelah 4 malam berada di Osaka, saya yakin keputusan saya pindah kawasan/pindah hotel, adalah keputusan yang tepat. Hotel ini, Monterey Grasmere, mewahnya beneran (ada kan hotel kece di reception doang, pas masuk kamar ternyata bangunan lama dan biasa banget) dan connected ke Osaka Namba Station. Ada supermarket di basement gedung, ada underground shopping yang panjaaaaang luar biasa, so helpful pas sempat hujan di luaran. Plus, di sebrang hotel adalah terminal bis. Very handy untuk ke bandara. If you have the budget, recommended.

 

Akomodasi ke empat : backpacker style, private room

Berbeda dengan hotel backpacker di Tokyo, di Osaka kami  menemukan Khaosan backpacker hotel yang masih di Namba dan dekat banget dengan hotel berbintang sebelumnya (beneran di Osaka, bukan di Bangkok, meski namanya Khaosan.. hahaha).

Tempat ini hanya jalan kaki satu blok dari Grasmere. Meskipun terdiri dari banyak lantai, tapi nggak perlu sedih, ada lift ke lantai atas, dan kami beruntung dapat kamar girls dorm just for us, padahal bed-nya ada 6! Tahu kan kalo dorm hotel, bayarnya per orang atau family room skalian. Selain itu, di dalam kamar juga tersedia kamar mandi. Super deh!

kamar yang kami dapet (foto dari website)

Selain harganya ramah di kantong, fasilitas publik mereka juga oke. First, tiap lantai dibagi berdasarkan jenis kelamin. Jadi ada lantai ‘men rooms’ dan ‘women rooms’. Ada beberapa toilet di setiap lantainya. Laundry dan dapur ada di basement. Dapur umumnya punya 4 cooking station lengkap dengan sink, dan free hot drinks (kopi, teh, gula, etc). Ruang makan besar dan ada ruang rekreasi/nonton TV. Pengelolanya fasih berbahasa Inggris (ada yang ganteng! #eh) dan ada berbagai event macam free culture class (kaligrafi, sushi making, etc) atau mingle evening untuk sesama penghuni saling kenal.

Buat anak-anak, penginapan ini mungkin yang paling berkesan. They really enjoy their individual spacious wooden bunkbed yang dilengkapi meja dan lampu baca individual, matras yang lumayan nyaman dan mengobservasi aneka jenis traveller backpacker. Saat sarapan, memang hanya saya yang ‘ngangon’ bocah. Jadinya nggak diajak ngobrol hahaha.. soalnya mereka sibuk baca peta, itinerary, exchange info.. yah aktivitas khas backpackers lah ! Satu-satunya yang ngajak saya ngobrol adalah ibu-ibu yang saya tawari gorengan hasil beli di supermarket semalam, pelengkap sarapan.

Oh iya, di dapur ini, masing-masing bawa bekel. Ada yang masak. Tapi ada juga yang memanfaatkan meja ‘hibah’, hasil warisan penghuni yang sudah check out. Di hari terakhir, kami ikut meninggalkan makanan2 juga.. ikut berpartisipasi ceritanya. 😀

Downside tempat ini adalah tidak menyediakan handuk (tersedia rental saja, 100 yen/handuk), dinding tipis dan dominan pelancong muda/single. Jadinya mereka ngobrol kadang nggak tau waktu…

checked out. Koper biru kecil itu cukup untuk ber-4 lho.

Informasi Khaosan World Hotel cabang Namba ada di sini ya.

Trip Jepang ini jelas berkesan. Banyak pengalaman yang diperoleh anak-anak dengan hopping hotel begini. Mereka jadi lebih mandiri dengan barang masing-masing, menyadari trik hemat pakaian dan serunya bawa barang sedikit. hahaha.. Percaya nggak, untuk 4 badan ini, kami hingga akhir bertahan hanya dengan 1 cabin bag size kecil dan ‘beranak’ 1 shopping bag saja. Well, plus 1 tas punggung ala-ala davienne dan 1 backpack kecil bawaan si ibu. The girls learned that experience matter most, and when the shopping urge arise, we can carefully choose small in size but big in use.

Untuk akomodasi, memang kami dominan pakai booking dot com dibanding site lain. Kalau teman belum pernah coba, monggo dicoba pake link ini .

Selamat menjelajah bersama si kecil!

 

Related Links


Share This | | |

4 responses to “Dari hostel gaya backpacker, sampai hotel rasa bintang lima, akomodasi mini girls trip di Jepang”

  1. effri says:

    super duper cool and agree .. traveling bersama anak dan keluarga gak repot kog dan tidak perlu mahal..

  2. Ita says:

    Seru fin pengalamannya jadi ikutan ngebayangin di situ jugaa..pengalaman yang bener berharga dan ga akan dilupain anak-anak ya.

  3. Marlia Ulfah says:

    Mbak itu hotel di khaosan namba ada private bath room nya ? Nggak gabung dengan tamu lain ? Type kamarnya apa ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Fina Thorpe Willett


Proud mum of JED with almost 12 years as trailing spouse who can't sit still. hahaha.. Co-author Wander Woman and Meniti Cahaya (both by Gramedia) - monggo dibeli! Also freelancer as content producer for sites, magazines and social media, love to share about Indonesia to the international community - particularly through my homemade meals :)