Cinta dari Masyarakat New Zealand Pasca Teror di Masjid Christchurch. New Zealand Tetap Aman.
Posted by: Yanti Julianti

Masyarakat berdatangan memberikan dukungan

Saat peristiwa penembakan di Masjid Al Noor Christchurch saya sedang menjemput putra saya, Gavin, (12)  di sekolah untuk diantar ke masjid agar bisa melaksanakan salat Jumat dan setelah selesai akan saya antar kembali ke sekolah.

Saya sekeluarga hampir 2 tahun tinggal di Auckland, kota terbesar dan terpadat di utara New Zealand, salah satu negara teraman di dunia. Maka, peritiwa penembakan  tersebut membuat New Zealander, sebutan untuk mereka yang tinggal di New Zealand (penduduk lokal dan imigran dari berbagai warna kulit dan kepercayaan)  sangat terpukul,

Christchurch hari itu mencekam. Semua gedung dan sekolah dikunci. Tidak boleh ada yang meninggalkan gedung sampai polisi mengumumkan keadaan aman, di sore hari. Timeline Facebook, Twitter dan IG story penuh berita duka dan pencarian keluarga yang saat itu shalat di masjid tersebut. Dalam peristiwa itu ada orang Indonesia yang terluka,  1 meninggal dunia.

Saya memberi apresiasi sangat tinggi untuk para polisi yang berhasil menangkap pelaku segera setelah kejadian.

Beberapa saat setelah kejadian, saya mendengarkan Perdana Menteri New Zealand, Jacinda Arden, memberikan pernyataan di media bahwa pelaku, lelaki berkulit putih  non-muslim adalah teroris. Ia pun  mengumumkan 15 Maret 2019  adalah ‘NZ Darkest Day’.

Serentak, masyatakat New Zealand, berbondong-bondong  memberikan dukungan kepada saudara-saudara muslim. Dukungan mereka juga terasa di media sosial. Tak sedikit yang berlinang air mata. Karangan bunga berdatangan, memenuhi depan masjid.

Pemerintah kemudian mengumumkan menutup masjid dan Islamic Center dengan alasan keamanan, baru membukanya dua hari kemudian dengan penjagaan polisi bersenjata. Penduduk  berdatangan ke masjid,  menumpahkan simpati, memberikan pelukan kepada saudara muslim.  Mereka yang ingin tahu mengenai Islam,  dipersilakan masuk ke masjid untuk melihat apa saja yang dilakukan di masjid.

Saat National Scarf Day: Cinta yang kami terima membuat kami optimis dan tetap tersenyum. Saya no 4 dari kanan

Mereka tampak  khidmat menyaksikan kaum muslim yang sedang salat Jumat. Imbauan pemerintah New Zealand untuk memperlakukan para imigran dan muslim sebagai saudara, disambut tulus oleh masyarakat. Ini tampak dari poster-poster tentang tidak ada perbedaan antara imigran dan non-imigran yang tersebar  di seluruh kota. Slogan ‘They are Us, We are One’ tersebar di penjuru kota, terminak bus, stasiun kereta dan suburb center.

Perdana Menteri di dalam pidatonya tidak mau menyebut nama teroris. “Biarlah mereka  terkubur di antara berita  positif mengenai korban. Sebut dan ingat saja para korban penembakan dibanding menyebut dan memberitakan  nama  teroris, Give him nothing,” katanya.

Sungguh banyak cinta yang ditunjukkan masyarakat di NZ kepada kami. Alhamdulillah!

Jumat, 22 Maret, seluruh NZ memperingati seminggu kejadian. Hari itu ada gerakan ‘National Scarf Day, ungkapan dukungan untuk para wanita muslim yang menggunakan hijab. Maka hari, saya pun mengenakan scarf.  Seperti minggu lalu, saya pun menjemput Givan ke sekolah dan mengantanya ke masjid untuk salat Jumat. Kebetulan hari itu ia mau shalat Jumat di Masjid Ponsonby,  janjian dengan teman-teman Indonesia.

Dalam perjalanan saya melihat  para wanita dewasa memakai scarf. Pembawa acara di televisi, dan sosial media pun dipenuhi dengan foto-foto menggunakan scarf. Sementara siswa sekolah diimbau untuk meggunakan pakaian bebas dengan warna cerah untuk mendukung kampanye ‘Colour Your Day’ sebagai ungkapan cinta dan dukungan kepada semua yang terdampak atas kejadian seminggu sebelumnya.

Selain itu juga ada  ‘one minute silence’ diseluruh negeri pada jam kejadian penembakan, 15 Maret 2019.

Suami mendapat ucapan simpati dan pelukan dari pelanggan cafe kami

Kebetulan kami mengoperasikan cafe di  tempat yang mayoritas ditinggali oleh penduduk lokal. Kami terharu sekali menerima ucapan simpati dan pelukan dari para pelanggan saat mengetahui kami muslim. Sore harinya, saya ikut Vigil remembrance the victim di Auckland Domain yang dipenuhi masyarakat setempat memakai kerudung.

Yang mengejutkan sekaligus membuat  saya terharu adalah  untuk pertama kalinya sidang parlemen diawali oleh pembacaan doa dalam Bahasa Arab yang kemudian diterjemahkan ke Bahasa Inggris.

Perdana Menteri NZ mengucapkan Assalamualikum  saat mengawali pidatonya, Subhanallah. Shalat Jumat pertama setelah kejadian di Christchurch, dilaksanakan di taman, karena masjid belum bisa digunakan. Salat Jumat berlangsung damai disaksikan oleh ratusan orang.  Adzan untuk pertama kalinya dikumandangkan di muka umum dan disiarkan secara nasional di TV dan radio.

Saya merinding mendengar suara adzan di seluruh negeri. Sungguh, begitu banyak cinta diberikan New Zealander kepada kami para pendatang dan minoritas di negeri mereka. Love is in the air..

Sampai saat tulisan ini ditulis pun, masih banyak berita mengenai anti-racism dan anti-Islamphobia di media-media.

Bagi saya, New Zealand masih merupakan tempat yang aman untuk ditinggali siapa saja, termasuk  kaum muslim minoritas seperti kami. Anak-anak masih bisa melakukan kegiatan  seperti biasa, tidak merasa takut dan terancam. Semoga kedamaian ini akan terus berlangsung dan menjadi contoh bagi negara  lain.

With love from down under…



Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Yanti Julianti

 

Cinta dari Masyarakat New Zealand Pasca Teror di Masjid Christchurch. New Zealand Tetap Aman.
Posted by: Yanti Julianti

Masyarakat berdatangan memberikan dukungan

Saat peristiwa penembakan di Masjid Al Noor Christchurch saya sedang menjemput putra saya, Gavin, (12)  di sekolah untuk diantar ke masjid agar bisa melaksanakan salat Jumat dan setelah selesai akan saya antar kembali ke sekolah.

Saya sekeluarga hampir 2 tahun tinggal di Auckland, kota terbesar dan terpadat di utara New Zealand, salah satu negara teraman di dunia. Maka, peritiwa penembakan  tersebut membuat New Zealander, sebutan untuk mereka yang tinggal di New Zealand (penduduk lokal dan imigran dari berbagai warna kulit dan kepercayaan)  sangat terpukul,

Christchurch hari itu mencekam. Semua gedung dan sekolah dikunci. Tidak boleh ada yang meninggalkan gedung sampai polisi mengumumkan keadaan aman, di sore hari. Timeline Facebook, Twitter dan IG story penuh berita duka dan pencarian keluarga yang saat itu shalat di masjid tersebut. Dalam peristiwa itu ada orang Indonesia yang terluka,  1 meninggal dunia.

Saya memberi apresiasi sangat tinggi untuk para polisi yang berhasil menangkap pelaku segera setelah kejadian.

Beberapa saat setelah kejadian, saya mendengarkan Perdana Menteri New Zealand, Jacinda Arden, memberikan pernyataan di media bahwa pelaku, lelaki berkulit putih  non-muslim adalah teroris. Ia pun  mengumumkan 15 Maret 2019  adalah ‘NZ Darkest Day’.

Serentak, masyatakat New Zealand, berbondong-bondong  memberikan dukungan kepada saudara-saudara muslim. Dukungan mereka juga terasa di media sosial. Tak sedikit yang berlinang air mata. Karangan bunga berdatangan, memenuhi depan masjid.

Pemerintah kemudian mengumumkan menutup masjid dan Islamic Center dengan alasan keamanan, baru membukanya dua hari kemudian dengan penjagaan polisi bersenjata. Penduduk  berdatangan ke masjid,  menumpahkan simpati, memberikan pelukan kepada saudara muslim.  Mereka yang ingin tahu mengenai Islam,  dipersilakan masuk ke masjid untuk melihat apa saja yang dilakukan di masjid.

Saat National Scarf Day: Cinta yang kami terima membuat kami optimis dan tetap tersenyum. Saya no 4 dari kanan

Mereka tampak  khidmat menyaksikan kaum muslim yang sedang salat Jumat. Imbauan pemerintah New Zealand untuk memperlakukan para imigran dan muslim sebagai saudara, disambut tulus oleh masyarakat. Ini tampak dari poster-poster tentang tidak ada perbedaan antara imigran dan non-imigran yang tersebar  di seluruh kota. Slogan ‘They are Us, We are One’ tersebar di penjuru kota, terminak bus, stasiun kereta dan suburb center.

Perdana Menteri di dalam pidatonya tidak mau menyebut nama teroris. “Biarlah mereka  terkubur di antara berita  positif mengenai korban. Sebut dan ingat saja para korban penembakan dibanding menyebut dan memberitakan  nama  teroris, Give him nothing,” katanya.

Sungguh banyak cinta yang ditunjukkan masyarakat di NZ kepada kami. Alhamdulillah!

Jumat, 22 Maret, seluruh NZ memperingati seminggu kejadian. Hari itu ada gerakan ‘National Scarf Day, ungkapan dukungan untuk para wanita muslim yang menggunakan hijab. Maka hari, saya pun mengenakan scarf.  Seperti minggu lalu, saya pun menjemput Givan ke sekolah dan mengantanya ke masjid untuk salat Jumat. Kebetulan hari itu ia mau shalat Jumat di Masjid Ponsonby,  janjian dengan teman-teman Indonesia.

Dalam perjalanan saya melihat  para wanita dewasa memakai scarf. Pembawa acara di televisi, dan sosial media pun dipenuhi dengan foto-foto menggunakan scarf. Sementara siswa sekolah diimbau untuk meggunakan pakaian bebas dengan warna cerah untuk mendukung kampanye ‘Colour Your Day’ sebagai ungkapan cinta dan dukungan kepada semua yang terdampak atas kejadian seminggu sebelumnya.

Selain itu juga ada  ‘one minute silence’ diseluruh negeri pada jam kejadian penembakan, 15 Maret 2019.

Suami mendapat ucapan simpati dan pelukan dari pelanggan cafe kami

Kebetulan kami mengoperasikan cafe di  tempat yang mayoritas ditinggali oleh penduduk lokal. Kami terharu sekali menerima ucapan simpati dan pelukan dari para pelanggan saat mengetahui kami muslim. Sore harinya, saya ikut Vigil remembrance the victim di Auckland Domain yang dipenuhi masyarakat setempat memakai kerudung.

Yang mengejutkan sekaligus membuat  saya terharu adalah  untuk pertama kalinya sidang parlemen diawali oleh pembacaan doa dalam Bahasa Arab yang kemudian diterjemahkan ke Bahasa Inggris.

Perdana Menteri NZ mengucapkan Assalamualikum  saat mengawali pidatonya, Subhanallah. Shalat Jumat pertama setelah kejadian di Christchurch, dilaksanakan di taman, karena masjid belum bisa digunakan. Salat Jumat berlangsung damai disaksikan oleh ratusan orang.  Adzan untuk pertama kalinya dikumandangkan di muka umum dan disiarkan secara nasional di TV dan radio.

Saya merinding mendengar suara adzan di seluruh negeri. Sungguh, begitu banyak cinta diberikan New Zealander kepada kami para pendatang dan minoritas di negeri mereka. Love is in the air..

Sampai saat tulisan ini ditulis pun, masih banyak berita mengenai anti-racism dan anti-Islamphobia di media-media.

Bagi saya, New Zealand masih merupakan tempat yang aman untuk ditinggali siapa saja, termasuk  kaum muslim minoritas seperti kami. Anak-anak masih bisa melakukan kegiatan  seperti biasa, tidak merasa takut dan terancam. Semoga kedamaian ini akan terus berlangsung dan menjadi contoh bagi negara  lain.

With love from down under…



Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Yanti Julianti