Bertemu Heanyeo, penyelam perempuan tanpa tabung oksigen, di Pulau Jeju, Korea Selatan
Posted by: Ida Ahdiah

Bertemu  heanyeo, penyelam perempuan tanpa tabung oksigen,  di Pulau Jeju, membuat saya senang. Meskipun bekerja keras, perempuan para pencari hewan laut ini berdandan, lho.

Sejak lama saya sudah membaca tentang heannyeo,  penyelam perempuan hebat yang menjadi salah satu icon di Pulau Jeju, bahkan untuk menghormati profesi tersebut, didirikan Museum Heanyeo, yang menceritakan tentang kehidupan mereka.

Banyak yang menjulukinya,  Mermaid. Ingat mahluk separuh manusia yang cantik dan separuh ikan dalam cerita ‘The Little Mermaid’  karya Hans Christia Andersen?

Maka,  ketika mendarat di Pulau Jeju, yang pertama saya tanyakan kepada Jhiyong, teman baru yang menjemput saya dan teman-teman di Bandara adalah, “Di mana saya bisa bertemu dengan heanyeo sesungguhnya?”

“Nenek saya seorang heanyeo,” kata Jhi. Sayang neneknya yang sudah berusia 80 tahun tak bisa menemui kami karena sakit.

“Nenek teman saya, Mile, juga seorang Heanyeo. Ini, dia mengirimkan fotonya ke saya,” Ebee, mahasiswa S2 Enviromental Studies di Seoul National University, yang menemai kami jalan-jalan, menunjukkan foto seorang perempuan berbaju diving hitam sedang duduk di tepi pantai.

Tapi kami tak bisa  menemuinya, kami harus menyebrang pulau, sementara ombak sedang tidak bersahabat. Kami bisa pergi tapi bisa jadi tertahan dan tidak bisa pulang, padahal waktu kami di Jeju terbatas.

Saya dan Kang

Tapi, Jhiyong dan Mile memastikan jika saya bisa bertemu dengan heanyeo, karena di beberapa lokasi wisata mereka biasa menjual hasil tangkapannya berupa; Abalon, ketimun laut, dan jenis kerang lainnya

Mencicipi Abelon

Benar adanya, saya akhirnya ketemu, heanyeo, Kang Ong Rye (62), seusai saya menikmati pilar-pilar batu yang berjajar sepanjang Pantai Jisatgae. Pilar-pilar batu aneka bentuk tersebut  terbentuk dari lava yang dimuntahkan Gunung Hallasan.

Batu-batu tersebut bisa disaksikan dengan jelas setelah melewati tangga turun naik. Jumlah tangganya tidak terlalu banyak dan cukup aman, jadi anak-anak bisa diajak. Tapi kalau membawa bayi, ya, harus digendong tidak memakai stroller.

Siang itu, di bawah udara musim semi yang cukup mengigigilkan, Kang menjual ketimun laut dan abelon, di jalan keluar dari pantai. Warung jualannya sangat sederhana, tanpa dinding, tersedia dua meja kecil, dan sea food jualannya yang segar ia tempatkan di waskom.

“Pekerjaan ini sungguh tidak mudah, tapi saya harus menjalaninya untuk membantu kehidupan keluarga,” kata Kang yang baru 3 tahun ini menjadi heanyeo.

Menurutnya, tanpa kenal musim dan cuaca, asal sehat, ia menyelam pukul 8 pagi sampai pukul 1.00. Selama itu ia hanya bisa mengumpulkan 7 – 8 abelone, semacam kerang yang ia cungkil dengan pisau karena menempel ketat di karang.

Sashimi abelon

Abelone hasil tangkapannya ia jual 20.000 won per tiga biji. Sekitar 260 ribu rupiah. Dan siang itu saya pun mecicipi shasimi abelone tangkapannya.Karena lagi-lagi, kurang afdol kalau ke Jeju, tidak makan abelon. Anak-anak silakan saja kalau mau mencoba karena ini makanan segar.

Kalau digigit abelon terasa kres dan tidak liat. Segar dan manis karena baru ditangkap apalagi kalau dicocol dengan sausnya.

Mata Kang yang berbaju dan bertopi merah berbinar ketika saya mengacungkan jempol untuk abelon tangkapannya.

Heanyeo di Tebing Jusangjeolli

Saya juga bertemu dengan heanyeo yang lain saat berkunjung ke Tebing Jusangjeolli atau  disebut juga dragon head, yang terbentuk dari lava gunung merapi. Waktu jalan-jalan menyusuri pantai yang bening dengan gerombolan remis yang berdenyut-denyut hidup, menempel di bebatuan (saya tak sabar menyentuhnya dan mencoba mengambilnya tapi sumpah susah sekali)  saya melihat mereka menjual hasil tangkannya, duduk di kaki tebing.

Penampilan mereka tampak mencolok; bajunya touch of red, ember merah, bertopi, dengan glove kuning terang. Wajah mereka cerah dengan ulasan lipstick merah. Semangat terpancar dari wajah mereka.

Heanyeo di Dragon Head

Meski kata Mile, risiko mereka di dalam laut sangat tinggi.

“Saya selalu mengkhawatirkan Nenek saya karena ada juga yang meninggal juga,”  kata Mile. Menurut Mile,  Mereka juga berisiko kehilangan pendengaran.

Namun bagi  Jhiyong dan Mile neneknya adalah perempuan kuat dan hebat. Mereka belum  menyerah di usia menjelang 80 tahun!

Oh, ya, heanyeo yang saya temui rata -rata berusia di atas 50 tahun. Saat menyelam atau saat berjualan hasil tangkapannya para heanyeo selalu berusaha berdandan.

Sup abalon

Malamnya, Jhi, mengajak kami makan malam sup sea food dengan abalone, di sebuah warung sederhana yang laku luar biasa. Di warung kecil itu  kami harus mengantre 10 menit untuk mendapatkan kursi. Tak lama setelah  kami duduk, sup yang masih mengepul dengan aroma segar sea food pun dihidangkan. Tampak abalone yang sudah pecah dengan dagingnya yang segar, mengintai.

Rasanya lembut dan gurih, beda dengan shasimi abalone yang saya santap sebelumnya. Apalagi sup itu dimakan di bawah udara dingin.

Saya berterima kasih kepada Jhi yang telah mengenalkan saya pada keistimewaan Jeju; heanyeo dan abalone, yang mungkin akan sulit saya temukan tanpanya. 



Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Ida Ahdiah

 

Bertemu Heanyeo, penyelam perempuan tanpa tabung oksigen, di Pulau Jeju, Korea Selatan
Posted by: Ida Ahdiah

Bertemu  heanyeo, penyelam perempuan tanpa tabung oksigen,  di Pulau Jeju, membuat saya senang. Meskipun bekerja keras, perempuan para pencari hewan laut ini berdandan, lho.

Sejak lama saya sudah membaca tentang heannyeo,  penyelam perempuan hebat yang menjadi salah satu icon di Pulau Jeju, bahkan untuk menghormati profesi tersebut, didirikan Museum Heanyeo, yang menceritakan tentang kehidupan mereka.

Banyak yang menjulukinya,  Mermaid. Ingat mahluk separuh manusia yang cantik dan separuh ikan dalam cerita ‘The Little Mermaid’  karya Hans Christia Andersen?

Maka,  ketika mendarat di Pulau Jeju, yang pertama saya tanyakan kepada Jhiyong, teman baru yang menjemput saya dan teman-teman di Bandara adalah, “Di mana saya bisa bertemu dengan heanyeo sesungguhnya?”

“Nenek saya seorang heanyeo,” kata Jhi. Sayang neneknya yang sudah berusia 80 tahun tak bisa menemui kami karena sakit.

“Nenek teman saya, Mile, juga seorang Heanyeo. Ini, dia mengirimkan fotonya ke saya,” Ebee, mahasiswa S2 Enviromental Studies di Seoul National University, yang menemai kami jalan-jalan, menunjukkan foto seorang perempuan berbaju diving hitam sedang duduk di tepi pantai.

Tapi kami tak bisa  menemuinya, kami harus menyebrang pulau, sementara ombak sedang tidak bersahabat. Kami bisa pergi tapi bisa jadi tertahan dan tidak bisa pulang, padahal waktu kami di Jeju terbatas.

Saya dan Kang

Tapi, Jhiyong dan Mile memastikan jika saya bisa bertemu dengan heanyeo, karena di beberapa lokasi wisata mereka biasa menjual hasil tangkapannya berupa; Abalon, ketimun laut, dan jenis kerang lainnya

Mencicipi Abelon

Benar adanya, saya akhirnya ketemu, heanyeo, Kang Ong Rye (62), seusai saya menikmati pilar-pilar batu yang berjajar sepanjang Pantai Jisatgae. Pilar-pilar batu aneka bentuk tersebut  terbentuk dari lava yang dimuntahkan Gunung Hallasan.

Batu-batu tersebut bisa disaksikan dengan jelas setelah melewati tangga turun naik. Jumlah tangganya tidak terlalu banyak dan cukup aman, jadi anak-anak bisa diajak. Tapi kalau membawa bayi, ya, harus digendong tidak memakai stroller.

Siang itu, di bawah udara musim semi yang cukup mengigigilkan, Kang menjual ketimun laut dan abelon, di jalan keluar dari pantai. Warung jualannya sangat sederhana, tanpa dinding, tersedia dua meja kecil, dan sea food jualannya yang segar ia tempatkan di waskom.

“Pekerjaan ini sungguh tidak mudah, tapi saya harus menjalaninya untuk membantu kehidupan keluarga,” kata Kang yang baru 3 tahun ini menjadi heanyeo.

Menurutnya, tanpa kenal musim dan cuaca, asal sehat, ia menyelam pukul 8 pagi sampai pukul 1.00. Selama itu ia hanya bisa mengumpulkan 7 – 8 abelone, semacam kerang yang ia cungkil dengan pisau karena menempel ketat di karang.

Sashimi abelon

Abelone hasil tangkapannya ia jual 20.000 won per tiga biji. Sekitar 260 ribu rupiah. Dan siang itu saya pun mecicipi shasimi abelone tangkapannya.Karena lagi-lagi, kurang afdol kalau ke Jeju, tidak makan abelon. Anak-anak silakan saja kalau mau mencoba karena ini makanan segar.

Kalau digigit abelon terasa kres dan tidak liat. Segar dan manis karena baru ditangkap apalagi kalau dicocol dengan sausnya.

Mata Kang yang berbaju dan bertopi merah berbinar ketika saya mengacungkan jempol untuk abelon tangkapannya.

Heanyeo di Tebing Jusangjeolli

Saya juga bertemu dengan heanyeo yang lain saat berkunjung ke Tebing Jusangjeolli atau  disebut juga dragon head, yang terbentuk dari lava gunung merapi. Waktu jalan-jalan menyusuri pantai yang bening dengan gerombolan remis yang berdenyut-denyut hidup, menempel di bebatuan (saya tak sabar menyentuhnya dan mencoba mengambilnya tapi sumpah susah sekali)  saya melihat mereka menjual hasil tangkannya, duduk di kaki tebing.

Penampilan mereka tampak mencolok; bajunya touch of red, ember merah, bertopi, dengan glove kuning terang. Wajah mereka cerah dengan ulasan lipstick merah. Semangat terpancar dari wajah mereka.

Heanyeo di Dragon Head

Meski kata Mile, risiko mereka di dalam laut sangat tinggi.

“Saya selalu mengkhawatirkan Nenek saya karena ada juga yang meninggal juga,”  kata Mile. Menurut Mile,  Mereka juga berisiko kehilangan pendengaran.

Namun bagi  Jhiyong dan Mile neneknya adalah perempuan kuat dan hebat. Mereka belum  menyerah di usia menjelang 80 tahun!

Oh, ya, heanyeo yang saya temui rata -rata berusia di atas 50 tahun. Saat menyelam atau saat berjualan hasil tangkapannya para heanyeo selalu berusaha berdandan.

Sup abalon

Malamnya, Jhi, mengajak kami makan malam sup sea food dengan abalone, di sebuah warung sederhana yang laku luar biasa. Di warung kecil itu  kami harus mengantre 10 menit untuk mendapatkan kursi. Tak lama setelah  kami duduk, sup yang masih mengepul dengan aroma segar sea food pun dihidangkan. Tampak abalone yang sudah pecah dengan dagingnya yang segar, mengintai.

Rasanya lembut dan gurih, beda dengan shasimi abalone yang saya santap sebelumnya. Apalagi sup itu dimakan di bawah udara dingin.

Saya berterima kasih kepada Jhi yang telah mengenalkan saya pada keistimewaan Jeju; heanyeo dan abalone, yang mungkin akan sulit saya temukan tanpanya. 



Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Ida Ahdiah