Search:
Search:
Belajar ala Montessori Dan Homeschooling Dari Kehidupan Masyarakat Baduy
Posted by: Annisa Rahmania

Layaknya magnet, Baduy selalu punya daya tarik untuk dikunjungi, setidaknya bagi saya. Meski sudah mengunjunginya beberapa kali, saya tak pernah bosan. Selalu ada hal baru yang bisa dipetik dari setiap kunjungannya.

(Belajar) Hidup sederhana

Sejak dulu, masyarakat Baduy memiliki pedoman dalam menjalani kehidupannya. “Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang dirusak”. Gunung tak boleh dihancurkan, lembah tak boleh dirusak. Begitulah salah satu di antaranya.

Semua yang dilakukan dalam kehidupan ini  haruslah selaras dengan alam. Maka tak heran apabila pemukiman di sana, rumah tinggal dan leuit ‘lumbung padi’, dibuat hanya dari bahan-bahan yang berasal dari alam. Demikian pula dengan jembatan yang dibuat hanya dengan bambu dan ijuk. Penggunaan paku, semen, pasir, serta bahan bangunan lainnya adalah sesuatu yang dilarang.

Rumah-rumah di Kampung Baduy Luar (sumber foto : Annisa Rahmania/familygoers)

Jembatan di Baduy terbuat dari bambu dan ijuk (sumber foto : Annisa Rahmania/familygoers)

Selain bahan bangunan, penggunaan bahan kimia, seperti sabun, sampo, dan pasta gigi juga dilarang karena dapat mencemari lingkungan, terutama mencemari air sungai yang menjadi sumber penghidupan. Alih-alih menggunakan bahan kimia, mereka lagi-lagi menggunakan bahan-bahan alami untuk menjaga kebersihan tubuhnya. Misalnya, jeruk nipis digunakan untuk membersihkan badan dan rambut. Mereka juga suka mengunyah sirih dan pinang, yang manfaatnya sama seperti pasta gigi, yakni menjaga kebersihan dan kesehatan gigi dan mulut.

Di Baduy, listrik pun tidak tersedia karena penggunaan alat-alat elektronik juga tidak diperbolehkan. Penggunaan alat-alat tersebut dianggap tidak selaras dengan alam. Dengan demikian, mereka tetap memilih menggunakan kayu bakar dan tungku untuk memasak nasi dan lauk-pauk daripada menggunakan ricecooker.

Mereka tetap memilih menggunakan minyak dan sumbu dalam wadah bambu sebagai alat penerang di malam hari daripada menggunakan lampu. Mereka pun tetap memilih bersenda gurau dengan keluarga dan kerabat saat ada waktu luang daripada menghabiskan waktunya untuk bermain HP. Ironis sekali membayangkan masyarakat kota yang kelimpungan saat listrik dan internet padam. Padahal, bagi masyarakat Baduy, hidup tanpa listrik adalah hal yang biasa. Dengan kesederhanaannya, masyarakat Baduy hidup (lebih) bersahaja.

(Belajar) Montessori ala Baduy

Sering dengar istilah montesseri yang akhir-akhir ini menjadi tren di kalangan orang tua muda? Rupanya masyarakat Baduy sudah menerapkan gaya belajar serupa sejak dulu. Mohammad Zaini Alif, seorang dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) yang melakukan penelitian di Baduy Dalam, menemukan bahwa masyarakat Baduy tidak mengenal istilah bermain. Bagi mereka, bermain atau ulin dalam bahasa Sunda adalah kondisi menganggur, semacam tidak ada kerjaan. Kepala adat Baduy bahkan melarang anak-anaknya bermain karena kegiatan itu dianggap tidak bertujuan.

Anak-anak usia balita sudah boleh menggunakan golok (sumber foto : Annisa Rahmania/familygoers)

Masyarakat Baduy malah menanamkan konsep pagawean barudak, yakni pekerjaan anak-anak. Di sini anak-anak dituntut untuk melakukan kegiatan dengan memanfaatkan apa yang ada di alam untuk menghasilkan karya yang bermanfaat, seperti perangkap burung yang terbuat dari kayu dan tali.

Pagawean barudak menjadi proses bagi seorang anak untuk melatih kemampuan dan keterampilan diri, serta memahami alam sekitar. Zaini juga mencontohkan, sejak usia 2,5 tahun, anak lelaki Baduy sudah dibekali dengan golok. Mereka menggunakannya untuk membuat truk mainan dengan mencari material langsung ke hutan. Hingga saat usia 10 tahun, mereka sudah ahli menggunakan golok.

Tak heran, saat mengunjungi Baduy Dalam sepuluh tahun lalu, saya dibuat kaget dengan pemandangan anak laki-laki berusia 3 tahun sedang membawa golok. Ia menggunakan golok untuk membuat mobil-mobilan dari bambu, membantu kakek membuat somong, gelas dari bambu, bahkan menggunakannya untuk mengupas kulit pisang. Saat kembali bertemu dengannya beberapa waktu lalu, ia sudah piawai membantu ayahnya di hutan.

 (Belajar) Homeschooling ala Baduy

Seperti halnya bahan bangunan, bahan kimia, dan juga alat-alat elektronik, bersekolah juga terlarang bagi masyarakat Baduy. Bersekolah adalah sebuah modernisasi. Namun, tidak demikian dengan pendapat Mulyono Nasinah, alias Kang Mul, pemuda Baduy Luar yang nyeleneh.

Bagi Kang Mul, tidak sekolah berarti tidak belajar. Kang Mul yang telah menyelesaikan paket kesetaraan A, B, C kini melanjutkan studinya di Universitas Terbuka, Serang. Bisa ke jenjang pendidikan setinggi itu bagi seorang pemuda Baduy sungguh tak mudah. Teguran lisan sudah ia dapatkan dari tetua adat. Namun, ia sadar betul bahwa hidup secara tradisional di zaman modern tidak mudah. Justru dengan belajarlah adat dan budaya Baduy bisa bertahan.

Selain kuliah, Kang Mul juga aktif di kegiatan Baduy Membaca. Ia mengajarkan baca, tulis, hitung (calistung) kepada anak-anak Baduy. Kegiatan belajar dilakukan di rumah atau di tepi sungai. Tindakan Kang Mul mendapat respons positif dari banyak kalangan sehingga banyak dari mereka yang mendonasikan bahan-bahan ajar, seperti buku dan alat tulis. Bagi anak-anak Baduy, bisa membaca adalah pengalaman yang luar biasa.

Anak-anak Baduy belajar di tepi sungai (Sumber foto : Mulayono Nasinah)

Anak Baduy Luar menggunakan lilin untuk belajar  (Sumber foto : Mulyono Nasinah)

Kang Mul yang melek teknologi juga memanfaatkan gawai dengan bijak. Ia menggunakan sosial media untuk menjual hasil hutan dan hasil tenun masyarakat Baduy. Dengan kemampuannya menggunakan teknologi, banyak masyarakat Baduy yang terbantu. “Teknologi tidak akan merusak adat dan budaya. Malahan, teknologi yang akan memperkenalkan adat kepada dunia.”, tulisnya di Instagram.



Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Annisa Rahmania

 
Search:
Search:

Belajar ala Montessori Dan Homeschooling Dari Kehidupan Masyarakat Baduy
Posted by: Annisa Rahmania

Layaknya magnet, Baduy selalu punya daya tarik untuk dikunjungi, setidaknya bagi saya. Meski sudah mengunjunginya beberapa kali, saya tak pernah bosan. Selalu ada hal baru yang bisa dipetik dari setiap kunjungannya.

(Belajar) Hidup sederhana

Sejak dulu, masyarakat Baduy memiliki pedoman dalam menjalani kehidupannya. “Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang dirusak”. Gunung tak boleh dihancurkan, lembah tak boleh dirusak. Begitulah salah satu di antaranya.

Semua yang dilakukan dalam kehidupan ini  haruslah selaras dengan alam. Maka tak heran apabila pemukiman di sana, rumah tinggal dan leuit ‘lumbung padi’, dibuat hanya dari bahan-bahan yang berasal dari alam. Demikian pula dengan jembatan yang dibuat hanya dengan bambu dan ijuk. Penggunaan paku, semen, pasir, serta bahan bangunan lainnya adalah sesuatu yang dilarang.

Rumah-rumah di Kampung Baduy Luar (sumber foto : Annisa Rahmania/familygoers)

Jembatan di Baduy terbuat dari bambu dan ijuk (sumber foto : Annisa Rahmania/familygoers)

Selain bahan bangunan, penggunaan bahan kimia, seperti sabun, sampo, dan pasta gigi juga dilarang karena dapat mencemari lingkungan, terutama mencemari air sungai yang menjadi sumber penghidupan. Alih-alih menggunakan bahan kimia, mereka lagi-lagi menggunakan bahan-bahan alami untuk menjaga kebersihan tubuhnya. Misalnya, jeruk nipis digunakan untuk membersihkan badan dan rambut. Mereka juga suka mengunyah sirih dan pinang, yang manfaatnya sama seperti pasta gigi, yakni menjaga kebersihan dan kesehatan gigi dan mulut.

Di Baduy, listrik pun tidak tersedia karena penggunaan alat-alat elektronik juga tidak diperbolehkan. Penggunaan alat-alat tersebut dianggap tidak selaras dengan alam. Dengan demikian, mereka tetap memilih menggunakan kayu bakar dan tungku untuk memasak nasi dan lauk-pauk daripada menggunakan ricecooker.

Mereka tetap memilih menggunakan minyak dan sumbu dalam wadah bambu sebagai alat penerang di malam hari daripada menggunakan lampu. Mereka pun tetap memilih bersenda gurau dengan keluarga dan kerabat saat ada waktu luang daripada menghabiskan waktunya untuk bermain HP. Ironis sekali membayangkan masyarakat kota yang kelimpungan saat listrik dan internet padam. Padahal, bagi masyarakat Baduy, hidup tanpa listrik adalah hal yang biasa. Dengan kesederhanaannya, masyarakat Baduy hidup (lebih) bersahaja.

(Belajar) Montessori ala Baduy

Sering dengar istilah montesseri yang akhir-akhir ini menjadi tren di kalangan orang tua muda? Rupanya masyarakat Baduy sudah menerapkan gaya belajar serupa sejak dulu. Mohammad Zaini Alif, seorang dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) yang melakukan penelitian di Baduy Dalam, menemukan bahwa masyarakat Baduy tidak mengenal istilah bermain. Bagi mereka, bermain atau ulin dalam bahasa Sunda adalah kondisi menganggur, semacam tidak ada kerjaan. Kepala adat Baduy bahkan melarang anak-anaknya bermain karena kegiatan itu dianggap tidak bertujuan.

Anak-anak usia balita sudah boleh menggunakan golok (sumber foto : Annisa Rahmania/familygoers)

Masyarakat Baduy malah menanamkan konsep pagawean barudak, yakni pekerjaan anak-anak. Di sini anak-anak dituntut untuk melakukan kegiatan dengan memanfaatkan apa yang ada di alam untuk menghasilkan karya yang bermanfaat, seperti perangkap burung yang terbuat dari kayu dan tali.

Pagawean barudak menjadi proses bagi seorang anak untuk melatih kemampuan dan keterampilan diri, serta memahami alam sekitar. Zaini juga mencontohkan, sejak usia 2,5 tahun, anak lelaki Baduy sudah dibekali dengan golok. Mereka menggunakannya untuk membuat truk mainan dengan mencari material langsung ke hutan. Hingga saat usia 10 tahun, mereka sudah ahli menggunakan golok.

Tak heran, saat mengunjungi Baduy Dalam sepuluh tahun lalu, saya dibuat kaget dengan pemandangan anak laki-laki berusia 3 tahun sedang membawa golok. Ia menggunakan golok untuk membuat mobil-mobilan dari bambu, membantu kakek membuat somong, gelas dari bambu, bahkan menggunakannya untuk mengupas kulit pisang. Saat kembali bertemu dengannya beberapa waktu lalu, ia sudah piawai membantu ayahnya di hutan.

 (Belajar) Homeschooling ala Baduy

Seperti halnya bahan bangunan, bahan kimia, dan juga alat-alat elektronik, bersekolah juga terlarang bagi masyarakat Baduy. Bersekolah adalah sebuah modernisasi. Namun, tidak demikian dengan pendapat Mulyono Nasinah, alias Kang Mul, pemuda Baduy Luar yang nyeleneh.

Bagi Kang Mul, tidak sekolah berarti tidak belajar. Kang Mul yang telah menyelesaikan paket kesetaraan A, B, C kini melanjutkan studinya di Universitas Terbuka, Serang. Bisa ke jenjang pendidikan setinggi itu bagi seorang pemuda Baduy sungguh tak mudah. Teguran lisan sudah ia dapatkan dari tetua adat. Namun, ia sadar betul bahwa hidup secara tradisional di zaman modern tidak mudah. Justru dengan belajarlah adat dan budaya Baduy bisa bertahan.

Selain kuliah, Kang Mul juga aktif di kegiatan Baduy Membaca. Ia mengajarkan baca, tulis, hitung (calistung) kepada anak-anak Baduy. Kegiatan belajar dilakukan di rumah atau di tepi sungai. Tindakan Kang Mul mendapat respons positif dari banyak kalangan sehingga banyak dari mereka yang mendonasikan bahan-bahan ajar, seperti buku dan alat tulis. Bagi anak-anak Baduy, bisa membaca adalah pengalaman yang luar biasa.

Anak-anak Baduy belajar di tepi sungai (Sumber foto : Mulayono Nasinah)

Anak Baduy Luar menggunakan lilin untuk belajar  (Sumber foto : Mulyono Nasinah)

Kang Mul yang melek teknologi juga memanfaatkan gawai dengan bijak. Ia menggunakan sosial media untuk menjual hasil hutan dan hasil tenun masyarakat Baduy. Dengan kemampuannya menggunakan teknologi, banyak masyarakat Baduy yang terbantu. “Teknologi tidak akan merusak adat dan budaya. Malahan, teknologi yang akan memperkenalkan adat kepada dunia.”, tulisnya di Instagram.



Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Annisa Rahmania