3 Hari di Pulau Jeju, Ini Destinasi Top buat Keluarga yang Harus Dikunjungi
Posted by: Admin

Musim semi lalu,  redaksi Familygoers berada di Pulau Jeju  selama tiga hari.  Pulau ini  memiliki  destinasi wisata top  seperti pantai, gunung, hutan, taman dan alam unik yang pas buat keluarga. Kulinernya enak. Wisatawan Indonesia tak perlu visa, lho, ke Jeju.

Musim semi lalu,  redaksi Familygoers berada di Pulau Jeju  selama tiga hari.  Pulau ini  memiliki  destinasi wisata top  seperti pantai, gunung, hutan, taman dan alam unik yang pas buat keluarga. Kulinernya enak. Wisatawan Indonesia tak perlu visa, lho, ke Jeju.

Kami tiba di Pulau Jeju pukul 8 pagi, setelah terbang selama kurang lebih 1 jam dari Seoul. Langit mendung disertai angin membuat Mimin segera melapisi baju dengan jaket.

Jiyong, pria asli Jeju,  teman  yang menjemput di bandara langsung mengajak  kami,  Ikun dan Ebe ke perkebunan Canola. Dalam perjalanan,  kami  beruntung sesekali bisa melihat puncak Gunung Hallasan, gunung tertinggi di Korea Selatan, saat tidak berkabut.

Maklum, saat itu cuasa cukup ekstrem. Dalam sekejap, langit mendadak mendung, dingin, dan berkabut. Namun beberapa menit kemudian,  langit cerah bermatahari.

Selama tiga hari dua malam, di Jeju kami  tinggal di Hanok, rumah tradisonal Korea, yang semua aktivitas; tidur, minum atau makan di lakukan di atas lantai.

Kehadiran Jiyong dan Ebe, mahasiswa Seoul National University yang sedang libur kuliah sangat membantu kami. Keduanya pandai bahasa Inggris sehingga memudahkan kami mendapatkan banyak informasi.

Inilah 12 tempat wisata di Pulau Jeju  yang kami  kunjungi. Di antaranya ada yang sesuai dengan rencana, usulan Jiyong dan Ebe, tapi ada juga yang dipilih spontan.  Transportasi yang digunakan adalah mobil yang dikemudikan Jiyong.

Hari Pertama

Kebun Canola

Senang sekali bisa menyaksikan, hamparan canola, sejauh mata memandang, di bukit maupun lembah. Bisa menyentuh bunganya  yang kuning. Ini pertama kalinya kami  melihat bunga yang minyaknya suka kami gunakan untuk menggoreng, yang konon lebih sehat. Minyak canola diambil dari ekstrak bijinya.

Di udara bebas yang sejuk ini, kami melihat anak-anak  berjalan-jalan nyaman dan aman. Tapi dilarang menyentuh apa lagi memetik bunga.

Tempat duduk di lokasi sangat terbatas. Karena di kebun, sebaiknya menggunakan sepatu yang nyaman juga jaket atau sweater karena udara musim semi masih lumayan dingin,

Ada beberapa kebun canola di Jeju yang bisa dikunjungi antara lain di Seogwipo,  Mt. Sanbangsan, Seongsan Ilchulbong,  dan Seopjikoji.

Bijarim Forest

 

Hutan ini  memiliki 2800 pohon nutmeg yang berusia 500 – 800 tahun. Kami  menikmati pepohonan yang memiliki tinggi rata-rata 7 – 15 meter dengan diameter 50 – 110 cm dengan berjalanan kaki selama 45 menit,  di jalan bertanah merah yang membelah hutan.

Udaranya bersih!  Aroma tanah, daun segar, dan suara burung yang saling bersahutan membuat perjalanan tak terasa. Bahkan kami  melihat para orang tua membebaskan anaknya berjalan atau berlari.

Sandal, sepatu, dan pakaian yang nyaman sangat dibutuhkan untuk menyusuri hutan. Untuk jalan-jalan di hutan dikenakan tarif masuk 3000 won atau sama dengan Rp.360.000.

Warteg Stew

 

Jiyong semangat sekali mengajak makan siang yang menurutnya menyediakan makanan khas Pulau Jeju, macarel kimci stew. Restoran yang lupa namanya itu berupa rumah dengan meja-meja sederhana dan tempat duduk di lantai. Ya, semacam warteg lah. Tapi makananya sekelas bintang lima.

Tak berapa lama, pelayan membawa sepanci besar stew berkuah merah yang mengepul dengan aroma khas kimci membuat Mimin berselera. Potongan ikan makarelnya lembut, segar dan tidak amis. Kimcinya yang asam dan pedas membuat nafsu makan meningkat.

Beberapa keluarga dengan anak kecil tampak menikmati makanan di restoran tersebut. Karena memang menyediakan juga makanan yang tidak pedas.

Seopjikoji

Bagi penggemar drama Korea,  pemandangan di  Seopjikoji, tentu  sudah familiar.  Di sinilah  syuting antara lain  drakor  Gingko Bed,  The Uprising,  dan One Thousand and One Nights.  Namun untuk  bisa menikmati Seopjikoji   lengkap kami  harus berjalan kaki yang kadang mendaki. Bahkan perlu lebih mendaki kalau ingin melihat mercu suar. Beberapa tampak  ada yang naik kuda sewaan.

Sepanjang jalan kami  bisa melihat laut lepas di bawah sana (jurang) dan mendengar  dengan debur ombaknya. Di tepi jalan banyak batu karang berbagai ukuran disusun menyerupai patung-patung dalam beragam bentuk.

Di tengah udara yang cukup dingin, tak hentinya orang datang dan pergi ke tempat ini. Tak sedikit keluarga yang membawa anak-anak. Lagi-lagi untuk medan seperti ini diperlukan alas kaki yang nyaman. Juga jaket yang bisa menghangatkan badan dari sapuan angin laut di musim semi.

Kami  mengakhiri perjalanan di tempat ini dengan membeli  gurita segar, bakar. Rasanya kiyel-kiyel empuk dan enak dimakan dengan saus cabe.

Seogwipo Olle

Setelah menaruh barang di Hanok, Jiyong mengajak makan malam di  Pasar Seogwipo Olle. Jaraknya tidak jauh dari tempat  kami  menginap. Pasar ini semacam pasar malam yang menjual sayur mayur, buah-buahan, dan makanan Korea matang seperti kimbab, topoki, odeng, dan banyak lagi.

Aneka ukuran dan jenis jeruk berwarna oranye banyak dijual di pasar ini. Kebetukan saat itu memang sedang musim jeruk. Jeju terkenal sebagai penghasil jeruk.

Kami memutuskan untuk makan sashimi. Namun sebelum menikmatinya  kami harus memilih ikan utuh yang hendak kami santap, yang dijajakan di depan warung ikan. Kami memilih salmon, ekor kuning, dan udang. Setelah membayar kami diberi nomor. Mereka akan memanggil  jika ikan yang mereka iris sudah siap santap.

Kami menikmati sashimi  dengan duduk di bangku panjang, di tengah pasar. Di tengah teriakan para pedagang yang menjajakan dagangan kepada orang yang lalu lalang. Lepas senja itu, banyak lho, keluarga yang membawa anak makan malam di pasar ini.

Pasarnya bersih. Harganya juga murah. Dan seru karena banyak yang bisa dilihat dan dicicipi.

Hari Kedua

Panen Jeruk

 

Pohon jeruk sedang berbuah. Buahnya besar berwarna oranye. Tumbuh di halaman rumah atau di tepi jalan. Itulah pemandangan menyenangkan  sepanjang jalan yang pagi itu kami  lihat sekeluarnya dari Hanok.  Kami  ingin sekali memegang, kalau bisa memetiknya. Lha, masa turun dari mobil dan minta izin pemiliknya.

Tak disangka, impian menjadi kenyataan.

Ceritanya, tanpa sengaja kami  menengok ke kiri jalan dan melihat kebun jeruk yang pohonnya  berbuah lebat, menggiurkan. Ternyata itu milik  Citrus Research Institute RDA. Spontan saja Jiyong membelokkan mobil dan bicara dengan penjaganya, menjelaskan  jika kami ingin sekali memegang jeruk dan berfoto di sana.

Kami tertawa lebar ketika penjaga tersebut mengizinkan kami masuk ke kebunnya. Bahkan membolehkan kami mengambil jeruk yang berjatuhan di tanah. Tanpa membuang waktu kami pun jalan-jalan di kebuh jeruk. Kami semangat   memunguti jeruk besar-besar, yang tak bisa dikepal, mengumpulkannya dan membawanya pulang.

Kalau dihitung kami membawa sekitar 50 jeruk berbeda jenis, ada yang manis, asam, dan segar!

Sanghyowon Botaical Garden

Ini semacam Kebun Raya Bogor. Di situ terdapat aneka ragam koleksi tanaman dan pohon. Di musim semi segala macam bunga sedang mekar, termasuk sakura. Spot ini menjadi spot favorit pengunjung. Rasanya gimana gitu, ketika sedang duduk di bawah pohon sakura, ada angin lewat, meruntuhkan bunga sakura. Bunganya melayang-layang, mendarat di meja taman, di rambut, di tanah.

Tempat ini juga tampaknya menjadi favorit bagi sekolah. Kami  banyak bertemu dengan anak-anak usia TK berseragam yang datang bersama gurunya, berjalan atau berlarian riang. Lagi-lagi karena perlu berjalan kaki, dibututuhkan alas kaki yang nyaman. Untuk menikmati setiap sudut taman, jalannya tidak selalu datar, tapi juga naik dan turun.

Jusangjeolli 

Usai makan siang topoki, di sebuah warung sederhana, Jiyong melajukan mobilnya ke Jusangjeolli.  Setelah turun naik tangga di bawah terpaan angina pantai yang keras dan dingin, akhrnya kami  tiba di tebing buatan yang dibuat dari papan. Dari tempat itulah kami  bisa memandang lepas laut dengan  pilar-pilar batu yang berdiri kokoh.

Menurut cerita,  pilar batu itu terbentuk ketika Gunung Hallasan meletus ribuan tahun lalu. Lava yang mencair mengalir ke Laut Jungmun, Setelah dingin,  lava pecah dan membentuk rekahan batu heksagonal yang lumayan besar. Formasi batu di sepanjang pantai ini menjadi  daya tarik yang paling dicari.

Di tempat ini pulan  kami bertemu dengan  seorang Heanyeo, penyelam perempuan yang menyelam di kedalaman puluhan meter tanpa oksigen dan bisa bertahan dua menit di bawah laut. Mereka menyelam untuk mencari hewan laut. Salah satunya abelon. Mimin pun menikmati sashimi abelon segar, yang merupakan makanan yang harus dicoba saat wisata ke  Pulau Jeju.

Pantai Yongmeori

Pantai ini bukan pantai biasa, berupa hamparan pasir, melainkan tebih-tebing batu menjulang dengan bentuk dan tinggi berbeda. Tebing-tebing kecoklatan  yang berjajar sepanjang pantai memiliki guratan-guratan alami. Unik, antik, dan cantik.

Untuk menikmati pantai ini kami harus  berjalan di atas bebatuan yang datar dan menonjol di sana sini. Kadang melewati parit kecil. Untung  kami menggunakan sneaker, jadi kaki enak diajak melangkah.

Di sepanjang pantai kami bertemu dengan pemancing yang berhasil menangkap ikan dan  Heanyeo, yang menjual hasil tangkapannya. Sementara sela-sela batu karang lebat dengan kerang hidup. Kami  tak berani mencelupkan kaki di air laut yang tampak kebiruan. Udaranya menggigilkan.

Pantai ini merupakan salah satu destinasi favorit di Jeju. Namun bisa tutup jika cuaca jelek. Maka sebelum datang, pastikan dulu dibuka untuk umum atau tidak.

Hari Ketiga

Five Day Market

Ini adalah hari terakhir  kami  di Pulau Jeju untuk kembali ke Seoul. Menjelang siang, dalam perjalanan ke bandara, Jiyong mengajak mampir ke Five Day Market, pasar tradisonal yang mulai beroperasi  tahun 1906.

Luar biasa senangnya karena di pasar ini kami bisa menikmati Korea dan Jeju dalam waktu singkat. Di sana dijual  aneka makanan  khas Korea seperti ginseng segar, baju dengan pewarna dari kesemek khas Jeju, kue kering yang di antaranya mirip dengan kue Indonesia, aneka macam kimci, barang pecah belah, alat pertanian, sayuran, buah, biji-bijian,  dan tentu saja makanan matang.

Sebelum meninggalkan Jeju, kami  makan siang di warung, di tengah keramaian pasar. Menikmati topoki dan kimbab yang masih segar.  Bangku dan meja tempat makan tak pernah kosong. Silih berganti pelanggan datang. Makanannya memang enak.

NB: Toilet di Jeju bersih,  termasuk toilet di pasar!

 

 

 

 

 

 



Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Admin




3 Hari di Pulau Jeju, Ini Destinasi Top buat Keluarga yang Harus Dikunjungi
Posted by: Admin

Musim semi lalu,  redaksi Familygoers berada di Pulau Jeju  selama tiga hari.  Pulau ini  memiliki  destinasi wisata top  seperti pantai, gunung, hutan, taman dan alam unik yang pas buat keluarga. Kulinernya enak. Wisatawan Indonesia tak perlu visa, lho, ke Jeju.

Musim semi lalu,  redaksi Familygoers berada di Pulau Jeju  selama tiga hari.  Pulau ini  memiliki  destinasi wisata top  seperti pantai, gunung, hutan, taman dan alam unik yang pas buat keluarga. Kulinernya enak. Wisatawan Indonesia tak perlu visa, lho, ke Jeju.

Kami tiba di Pulau Jeju pukul 8 pagi, setelah terbang selama kurang lebih 1 jam dari Seoul. Langit mendung disertai angin membuat Mimin segera melapisi baju dengan jaket.

Jiyong, pria asli Jeju,  teman  yang menjemput di bandara langsung mengajak  kami,  Ikun dan Ebe ke perkebunan Canola. Dalam perjalanan,  kami  beruntung sesekali bisa melihat puncak Gunung Hallasan, gunung tertinggi di Korea Selatan, saat tidak berkabut.

Maklum, saat itu cuasa cukup ekstrem. Dalam sekejap, langit mendadak mendung, dingin, dan berkabut. Namun beberapa menit kemudian,  langit cerah bermatahari.

Selama tiga hari dua malam, di Jeju kami  tinggal di Hanok, rumah tradisonal Korea, yang semua aktivitas; tidur, minum atau makan di lakukan di atas lantai.

Kehadiran Jiyong dan Ebe, mahasiswa Seoul National University yang sedang libur kuliah sangat membantu kami. Keduanya pandai bahasa Inggris sehingga memudahkan kami mendapatkan banyak informasi.

Inilah 12 tempat wisata di Pulau Jeju  yang kami  kunjungi. Di antaranya ada yang sesuai dengan rencana, usulan Jiyong dan Ebe, tapi ada juga yang dipilih spontan.  Transportasi yang digunakan adalah mobil yang dikemudikan Jiyong.

Hari Pertama

Kebun Canola

Senang sekali bisa menyaksikan, hamparan canola, sejauh mata memandang, di bukit maupun lembah. Bisa menyentuh bunganya  yang kuning. Ini pertama kalinya kami  melihat bunga yang minyaknya suka kami gunakan untuk menggoreng, yang konon lebih sehat. Minyak canola diambil dari ekstrak bijinya.

Di udara bebas yang sejuk ini, kami melihat anak-anak  berjalan-jalan nyaman dan aman. Tapi dilarang menyentuh apa lagi memetik bunga.

Tempat duduk di lokasi sangat terbatas. Karena di kebun, sebaiknya menggunakan sepatu yang nyaman juga jaket atau sweater karena udara musim semi masih lumayan dingin,

Ada beberapa kebun canola di Jeju yang bisa dikunjungi antara lain di Seogwipo,  Mt. Sanbangsan, Seongsan Ilchulbong,  dan Seopjikoji.

Bijarim Forest

 

Hutan ini  memiliki 2800 pohon nutmeg yang berusia 500 – 800 tahun. Kami  menikmati pepohonan yang memiliki tinggi rata-rata 7 – 15 meter dengan diameter 50 – 110 cm dengan berjalanan kaki selama 45 menit,  di jalan bertanah merah yang membelah hutan.

Udaranya bersih!  Aroma tanah, daun segar, dan suara burung yang saling bersahutan membuat perjalanan tak terasa. Bahkan kami  melihat para orang tua membebaskan anaknya berjalan atau berlari.

Sandal, sepatu, dan pakaian yang nyaman sangat dibutuhkan untuk menyusuri hutan. Untuk jalan-jalan di hutan dikenakan tarif masuk 3000 won atau sama dengan Rp.360.000.

Warteg Stew

 

Jiyong semangat sekali mengajak makan siang yang menurutnya menyediakan makanan khas Pulau Jeju, macarel kimci stew. Restoran yang lupa namanya itu berupa rumah dengan meja-meja sederhana dan tempat duduk di lantai. Ya, semacam warteg lah. Tapi makananya sekelas bintang lima.

Tak berapa lama, pelayan membawa sepanci besar stew berkuah merah yang mengepul dengan aroma khas kimci membuat Mimin berselera. Potongan ikan makarelnya lembut, segar dan tidak amis. Kimcinya yang asam dan pedas membuat nafsu makan meningkat.

Beberapa keluarga dengan anak kecil tampak menikmati makanan di restoran tersebut. Karena memang menyediakan juga makanan yang tidak pedas.

Seopjikoji

Bagi penggemar drama Korea,  pemandangan di  Seopjikoji, tentu  sudah familiar.  Di sinilah  syuting antara lain  drakor  Gingko Bed,  The Uprising,  dan One Thousand and One Nights.  Namun untuk  bisa menikmati Seopjikoji   lengkap kami  harus berjalan kaki yang kadang mendaki. Bahkan perlu lebih mendaki kalau ingin melihat mercu suar. Beberapa tampak  ada yang naik kuda sewaan.

Sepanjang jalan kami  bisa melihat laut lepas di bawah sana (jurang) dan mendengar  dengan debur ombaknya. Di tepi jalan banyak batu karang berbagai ukuran disusun menyerupai patung-patung dalam beragam bentuk.

Di tengah udara yang cukup dingin, tak hentinya orang datang dan pergi ke tempat ini. Tak sedikit keluarga yang membawa anak-anak. Lagi-lagi untuk medan seperti ini diperlukan alas kaki yang nyaman. Juga jaket yang bisa menghangatkan badan dari sapuan angin laut di musim semi.

Kami  mengakhiri perjalanan di tempat ini dengan membeli  gurita segar, bakar. Rasanya kiyel-kiyel empuk dan enak dimakan dengan saus cabe.

Seogwipo Olle

Setelah menaruh barang di Hanok, Jiyong mengajak makan malam di  Pasar Seogwipo Olle. Jaraknya tidak jauh dari tempat  kami  menginap. Pasar ini semacam pasar malam yang menjual sayur mayur, buah-buahan, dan makanan Korea matang seperti kimbab, topoki, odeng, dan banyak lagi.

Aneka ukuran dan jenis jeruk berwarna oranye banyak dijual di pasar ini. Kebetukan saat itu memang sedang musim jeruk. Jeju terkenal sebagai penghasil jeruk.

Kami memutuskan untuk makan sashimi. Namun sebelum menikmatinya  kami harus memilih ikan utuh yang hendak kami santap, yang dijajakan di depan warung ikan. Kami memilih salmon, ekor kuning, dan udang. Setelah membayar kami diberi nomor. Mereka akan memanggil  jika ikan yang mereka iris sudah siap santap.

Kami menikmati sashimi  dengan duduk di bangku panjang, di tengah pasar. Di tengah teriakan para pedagang yang menjajakan dagangan kepada orang yang lalu lalang. Lepas senja itu, banyak lho, keluarga yang membawa anak makan malam di pasar ini.

Pasarnya bersih. Harganya juga murah. Dan seru karena banyak yang bisa dilihat dan dicicipi.

Hari Kedua

Panen Jeruk

 

Pohon jeruk sedang berbuah. Buahnya besar berwarna oranye. Tumbuh di halaman rumah atau di tepi jalan. Itulah pemandangan menyenangkan  sepanjang jalan yang pagi itu kami  lihat sekeluarnya dari Hanok.  Kami  ingin sekali memegang, kalau bisa memetiknya. Lha, masa turun dari mobil dan minta izin pemiliknya.

Tak disangka, impian menjadi kenyataan.

Ceritanya, tanpa sengaja kami  menengok ke kiri jalan dan melihat kebun jeruk yang pohonnya  berbuah lebat, menggiurkan. Ternyata itu milik  Citrus Research Institute RDA. Spontan saja Jiyong membelokkan mobil dan bicara dengan penjaganya, menjelaskan  jika kami ingin sekali memegang jeruk dan berfoto di sana.

Kami tertawa lebar ketika penjaga tersebut mengizinkan kami masuk ke kebunnya. Bahkan membolehkan kami mengambil jeruk yang berjatuhan di tanah. Tanpa membuang waktu kami pun jalan-jalan di kebuh jeruk. Kami semangat   memunguti jeruk besar-besar, yang tak bisa dikepal, mengumpulkannya dan membawanya pulang.

Kalau dihitung kami membawa sekitar 50 jeruk berbeda jenis, ada yang manis, asam, dan segar!

Sanghyowon Botaical Garden

Ini semacam Kebun Raya Bogor. Di situ terdapat aneka ragam koleksi tanaman dan pohon. Di musim semi segala macam bunga sedang mekar, termasuk sakura. Spot ini menjadi spot favorit pengunjung. Rasanya gimana gitu, ketika sedang duduk di bawah pohon sakura, ada angin lewat, meruntuhkan bunga sakura. Bunganya melayang-layang, mendarat di meja taman, di rambut, di tanah.

Tempat ini juga tampaknya menjadi favorit bagi sekolah. Kami  banyak bertemu dengan anak-anak usia TK berseragam yang datang bersama gurunya, berjalan atau berlarian riang. Lagi-lagi karena perlu berjalan kaki, dibututuhkan alas kaki yang nyaman. Untuk menikmati setiap sudut taman, jalannya tidak selalu datar, tapi juga naik dan turun.

Jusangjeolli 

Usai makan siang topoki, di sebuah warung sederhana, Jiyong melajukan mobilnya ke Jusangjeolli.  Setelah turun naik tangga di bawah terpaan angina pantai yang keras dan dingin, akhrnya kami  tiba di tebing buatan yang dibuat dari papan. Dari tempat itulah kami  bisa memandang lepas laut dengan  pilar-pilar batu yang berdiri kokoh.

Menurut cerita,  pilar batu itu terbentuk ketika Gunung Hallasan meletus ribuan tahun lalu. Lava yang mencair mengalir ke Laut Jungmun, Setelah dingin,  lava pecah dan membentuk rekahan batu heksagonal yang lumayan besar. Formasi batu di sepanjang pantai ini menjadi  daya tarik yang paling dicari.

Di tempat ini pulan  kami bertemu dengan  seorang Heanyeo, penyelam perempuan yang menyelam di kedalaman puluhan meter tanpa oksigen dan bisa bertahan dua menit di bawah laut. Mereka menyelam untuk mencari hewan laut. Salah satunya abelon. Mimin pun menikmati sashimi abelon segar, yang merupakan makanan yang harus dicoba saat wisata ke  Pulau Jeju.

Pantai Yongmeori

Pantai ini bukan pantai biasa, berupa hamparan pasir, melainkan tebih-tebing batu menjulang dengan bentuk dan tinggi berbeda. Tebing-tebing kecoklatan  yang berjajar sepanjang pantai memiliki guratan-guratan alami. Unik, antik, dan cantik.

Untuk menikmati pantai ini kami harus  berjalan di atas bebatuan yang datar dan menonjol di sana sini. Kadang melewati parit kecil. Untung  kami menggunakan sneaker, jadi kaki enak diajak melangkah.

Di sepanjang pantai kami bertemu dengan pemancing yang berhasil menangkap ikan dan  Heanyeo, yang menjual hasil tangkapannya. Sementara sela-sela batu karang lebat dengan kerang hidup. Kami  tak berani mencelupkan kaki di air laut yang tampak kebiruan. Udaranya menggigilkan.

Pantai ini merupakan salah satu destinasi favorit di Jeju. Namun bisa tutup jika cuaca jelek. Maka sebelum datang, pastikan dulu dibuka untuk umum atau tidak.

Hari Ketiga

Five Day Market

Ini adalah hari terakhir  kami  di Pulau Jeju untuk kembali ke Seoul. Menjelang siang, dalam perjalanan ke bandara, Jiyong mengajak mampir ke Five Day Market, pasar tradisonal yang mulai beroperasi  tahun 1906.

Luar biasa senangnya karena di pasar ini kami bisa menikmati Korea dan Jeju dalam waktu singkat. Di sana dijual  aneka makanan  khas Korea seperti ginseng segar, baju dengan pewarna dari kesemek khas Jeju, kue kering yang di antaranya mirip dengan kue Indonesia, aneka macam kimci, barang pecah belah, alat pertanian, sayuran, buah, biji-bijian,  dan tentu saja makanan matang.

Sebelum meninggalkan Jeju, kami  makan siang di warung, di tengah keramaian pasar. Menikmati topoki dan kimbab yang masih segar.  Bangku dan meja tempat makan tak pernah kosong. Silih berganti pelanggan datang. Makanannya memang enak.

NB: Toilet di Jeju bersih,  termasuk toilet di pasar!

 

 

 

 

 

 



Share This | | |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Admin